Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Pedekate


__ADS_3

Alia bekerja di sebuah firma hukum milik Hilman salah seorang pengacara ayahnya.


Saat ini ia menjadi asisten dari pengacara terkenal Hilman paris, selain karna Hilman sahabat ayahnya, Hilman juga membentuk lembaga hukum untuk membantu seorang yang bersangkut dengan masalah hukum, namun tak mempunyai biaya untuk menyewa jasa pengacara.


Dengan bekerja dan turut di setiap persidangan para seniornya, setidak nya Alia mendapat pengalaman dan ilmu langsung di meja persidangan.


Alia memang selalu sibuk, sehingga jarang punya waktu untuk berkumpul dengan teman sebayanya.


Waktunya kebanyakan di habiskan di ruang sidang, bertemu klayen atau pun memeriksa berkas perkara klien.


Waktu makan siang tiba, Aira selalu mendapat makan siang dari rumanhya yang di antar oleh pak Adi sebagai sopir pribadinya.


Karna makan siang sudah tersedia, ia pun memutuskan membeli makanan ringan untuk dirinya dan rekan-rekan, kebetulan hari ini tak ada jadwal persidangan.


Alia sudah berada di supermarket, tepatnya di rak snack dan di dalam keranjangnya sudah ada cemilan berupa coklat import dengan harga yang lumayan fantastis untuk sebuah makan ringan.


Ketika tengah asik memilih beberapa makanan ringan, seseorang berada di sampingnya kemudian berdehem hingga mengalihkan pandangan Alia.


Hm,


Deg


Jantung keduanya memompa lebih kencang ketika kedua netra mereka tanpa sengaja bertentangan.


Alia seketika tersenyum ketika melihat siapa yang tersenyum meliriknya.


"Hai," sapa Bagas.


"Hai juga, kamu cowok kemaren yang menabrak mobil ku ya?" Tanya Alia dengan senyum malu-malunya.


"Iya, kamu tinggal di daerah sini?" Tanya Bagas.


"Ngak aku bekerja di kantor Hilman Paris," jawab Alia.


"Ehm, kantor pengacara itu?"tanya Bagas mempertegas.


"Hm"Alia mengangguk.


"Kamu pengacara?" Bagas.


"Hm, aku cuma jadi asisten om Hilman saja," Alia.


"Oh, bukannya asisten pengacara itu juga pengacara?" Tanya Bagas.


"Ehm aku belum dapat SK dan belum pernah bersolo karier, sebagai pengacara," jawab Alia.


"Oh Begitu," sahut Bagas


Keduanya tersenyum, entah apa lagi yang akan menjadi topik pembicaraan.


Sejenak hening


"Bagas!" Seru Nina.


Tiba-tiba suara tersebut memecah kebisuan di antara mereka.


Keduanya pun menoleh ke arah asal suara.


"Iya Bu sebentar!" sahut Bagas.

__ADS_1


Alia kembali tertunduk, entah kenapa ia jadi grogi karna Bagas terus menatapnya, membuatnya tertunduk malu.


" Oh iya boleh kenalan ngak? tanya Bagas yang kembali memecah keheningan mereka, ia pun mengulurkan tangan.


"Alia," Alia tak menjabat tangan Bagas ia hanya menakup kedua telapak tangannya di dada.


"Bagaskara," Bagas.


Mereka pun saling melempar senyum.


"Lain kali kita ngobrol lagi Ya, nanti aku datang ke kantor kamu," ucap Bagas memberanikan diri meski detak jantungnya berdetak kencang saat itu.


Hm


Alia memberi isyarat dengan tersenyum.


"Bye"ucap Bagas kembali tersenyum.


" Bye," Alia tersenyum malu.


Bagas memutar tubuhnya berjalan cepat menemui Nina, namun ia kembali menoleh ke belakang dan melihat Alia yang juga tengah menoleh ke arahnya, mereka pun saling melempar senyum dari jarak yang cukup jauh, sejenak pandangan Bagas kembali terkunci seolah enggan beranjak untuk menatap wanita yang menyerupai bidadari tersebut.


"Bagas!"seru Nina yang membuat Bagas terhenyak, tubuhnya kembali berhadapan dengan Nina.


"Bagas siapa gadis itu?"tanya Nina penasaran ia pun melihat ke arah Alia.


"Biasa Bu, calon mantu," ucap Bagas sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal, ia pun tersenyum simpul ke arah Nina.


"Ih calon mantu apanya? dia pacar kamu?"tanya Nina mendelik.


"Bukan tapi calon istri," sahutnya asal


"Calon istri? yakin banget."


"Iya Bagas akan cari kerjaan Bu," sahut Bagas.


"Sudah belum belanjanya?"tanya Bagas.


"Sudah, ayo kita ke kasir" sahut Nina, Bagas membantu ibunya mendorong trolley hingga menuju meja kasir.


Ketika hendak mengantri di kasir Bagas melihat Alia yang berada beberapa antrian di depannya.


Bagas berinsiatif untuk menunggu Alia di depan lobi supermarket, sementara Nina mendorong trolley belanjaannya ke kasir.


Setelah membayar belanjaannya Alia keluar dari supermarket tersebut, saat hendak menuju lobi ia di kagetkan dengan seseorang yang memanggilnya di depan pintu masuk.


"Alia!"panggil Bagas


"Bagas!" Alia berhenti karna Bagas menghampirinya.


"Mau aku antar?"tanya Bagas.


"Ah ngak usah, tuh kantor ku di seberang," tunjuk Alia.


" Ngak apa Yuk, aku temani nyebrang," tawar Bagas.


Alia pun mengangguk.


Mereka berjalan beriringan menuju jalan raya

__ADS_1


Seperti polisi lalu lintas Bagas menahan tangannya agar kendaraan yang lalu lalang menurunkan kecepatan mereka ketika keduanya menyeberang.


"Alhamdullilah selamat," ucap Alia ketika berada di seberang jalan.


"Terima kasih ya," Alia.


"Kembali kasih,"sahut Bagas seraya tersenyum manis, hingga memperlihatkan dua ginsulnya yang membuatnya semakin menawan.


Senyuman itu mampu menyihir seorang gadis cantik seperti Alia.


Sejenak keduanya terpaku saling tersenyum malu-malu.


Mungkin Bagas bukan pria paling tampan yang pernah ia temui, tapi Bagas adalah pria pertama yang membuatnya jatuh hati.


Entah apa yang membuat Bagas terlihat istimewa, pria tampan yang berambut cepak, dengan satu telinga yang memakai tindikan yang membuat penampilannya semakin kece, kulitnya putih dengan hidung mancung dan bola mata kecoklatan dengan mata yang seditikit sipit.


"Aku masuk dulu ya," ucap Alia.


"Silahkan," ucap Bagas tersenyum kembali.


Ada rasa tak biasa di hatinya, biasanya Bagas tak pernah mengobral senyumnya seperti ini, jarang sekali bicara lembut pada seseorang dan yang terpenting kali ini ia seperti punya keberanian dan rasa percaya diri untuk mendekati gadis itu.


Bagas kembali menyebrang dengan hati yang riang, mulutnya bersiul bertanda ia sedang bersuka cita, hidupnya yang dulu terasa suram perlahan menjadi berwarna, kini benih cinta mulai tumbuh di hatinya yang gersang, Bagas selalu dingin terhadap wanita,ia bahkan pernah bersumpah untuk tak menikah se umur hidupnya.


Ia sendiri membenci kehidupannya dan menyesali kelahirannya di dunia ini, hanya ibunnya yang membuat Bagas berpikir seribu kali untuk menjadi anak nakal dan brengsek.


Nina selesai membayar belanjaan mereka.


Bagas dengan wajah yang ceria menghampiri ibunya yang tengah menenteng beberapa kantong belanjaan dan mengambil alihnya.


Nina tersenyum," Rupanya anak ku ini sedang jatuh cinta Ya," goda Nina.


Bagas tersenyum simpul.


"Ya Tuhan semoga saja dengan Bagas jatuh cinta, ia bisa merubah sikapnya, lebih memikirkan masa depannya dan tak lagi bergaul dengan anak-anak yang tak benar," guman Nina.


***


Alia masuk ke kantornya seraya tersenyum, baru kali ini ada seorang pria yang membuatnya grogi.


"Alia kamu kenapa senyum-senyum? mentang-mentang di antar cowok ganteng nyebrang?"tanya seorang senior sekaligus rekannya.


"Ngak Kok, nih Aku punya snack biar ngak gabut," ucap Alia sembari membagi makanan kecil kepada rekannya.


Alia duduk di meja kerjanya kembali, ia sudah tak sabar bercerita pada sahabatnya Alita.


✉Alita baru saja aku bertemu dengan cowok yang kemaren menabrak mobil kita.


Trut..pesan masuk beberapa detik kemudiab.


✉ Cie-Cie, seneng pasti tuh, udah kenalan belum. Alita.


✉ Sudah, namanya Bagaskara, dengan emogi tersenyum lebar.


✉ Trus pasti kalian lagi pe-de-ka-te kan?


✉Hm, dia bilang nanti mau menemui aku lagi.


✉ so sweat, Dah semoga lancar ya Alia sayang 😘.

__ADS_1


Alia tersenyum menutup layar hand phonenya, telapak tanganya terasa dingin dengan jantung yang berdetak berirama.


Ya Tuhan apa aku sedang jatuh cinta?


__ADS_2