Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
CEO itu ternyata


__ADS_3

Sebelumnya,


Alia berada di kamarnya sedang berias diri, menutupi matanya yang sembab akibat menangis, meski keadaannya tak cukup baik, namun hari ini ia harus ke kantor karna ada agenda persidangan.


Setelah selesai ia pun menarik tasnya untuk keluar dari ruangan tersebut.


Langkahnya terhenti ketika ia mendengar suara panggilan dari telponnya.


Alia merogoh tas dan meraih telpon tersebut dan menatap layar handphonenya.


"Bagas,"gunannya lirih.


Jari lentik Alia menyapu layar smartphone nya tersebut keatas agar bisa tersambung.


Di layar smartphone-nya menampilkan sosok Bagas yang terlihat ganteng dengan stelan jasnya.


Alia tersenyum, begitupun Bagas.


Hai Alia, " sapa Bagas.


"Hai Gas, hari terlihat berbeda, "ucap Alia tersenyum sambil mendaratkan bokongnya di atas tempat tidur.


"Hari ini aku mulai bekerja menggantikan posisi ayah ku sebagai CEO di perusahaanya Alia," tutur Bagas.


Alia tersenyum tipis.


"Syukurlah Gas, semoga kamu sukses seperti ayah mu," ucap Alia dengan berbinar.


Keduanya pun saling menatap dengan mata yang berembun, sejenak mereka terdiam larut dalam perasaan masing-masing.


"Alia," suara Bagas lirih, sambil menatap Alia dengan tatapan berembunnya.


Perlahan bulir bening menetes di sudut netra Bagas.


Ehm, Alia berguman ia pun mengalihkan pandanganya karna tak mampu melihat Bagas yang terlihat sedih.


"Alia, aku masih kangen sama kamu, bisa kah kita bertemu nanti sore?" Bagas.


"Ehm tapi nanti sore aku pasti di jemput abang." Alia.


"Sekali ini saja Alia, sebentar saja," pinta Bagas dengan sedikit memelas.


Alia berpikir sejenak kemudian mengganggukkan kepalanya," Iya Gas nanti aku hubungi lagi," Alia.


"Terima kasih sayang," ucap Bagas.


Alia tersenyum kecut, "Kita sudah putus Gas," sahut Alia.


"Ehm, memang, tapi rasa itu tak mudah hilang begitu saja, kalau begitu sampai jumpa nanti sore Alia."Bagas.


Ehm,


Alia menutup telponnya.


"Huh, aku harus bagaimana menghadapi Bagas, " Alia mendengus ia pun keluar dari kamar dan menuju meja makan, di sana sudah ada Ghael yang menunggunya, ia rela bangun lebih pagi agar dapat mengantar Alia ke kantor.


Selamat pagi Bunda," ucap Alia datar, ia pun mencium pipi Aira.


"Pagi, sayang." Aira.


Begitupun dengan Aldi, setelah mencium pipi Aldi, ia kembali duduk.


Ghael hanya tersenyum kecut melihat perubahan drastis Alia terhadapnya, Alia berubah jadi sosok yang dingin, padahal dulu mereka begitu akrab.


Setelah sarapan mereka masuk ke dalam mobil.


"Bang, Hari ini aku ada persidangan, nanti sore Abang ngak usah jemput aku, biasanya aku dan tim pulang bersama."Alia memberi alasan.


Ghael melirik ke arah Alia beberapa saat.


"Emangnya persidangan sampai sore?"tanya Ghael curiga.


Alia melirik sinis ke arah Ghael.


"Abang, Abang tuh belum jadi suami aku tapi sudah ngatur-ngatur hidup aku! pokoknya nanti sore ngak usah jemput!" bentak Alia.


Ghael terhenyak, ia tak pernah melihat Alia semarah itu, hingga membentaknya.


Mereka terdiam seribu bahasa.


Setelah sampai Alia membuka pintu mobilnya dengan kencang.


Bruk...pintu mobil di hempas Alia, sekali lagi Ghael syok.


Ghael menoleh ke arah Alia yang masuk ke dalam kantornya.


"Alia benar-benar berubah, ia tak seperti Alia yang ku kenal dulu," guman Ghael kecewa.


Setelah mengantar Alia Ghael langsung menuju kantornya.


***


Alita melihat kearah suara langkah kaki di hadapannya, seketika tubuhnya memaku beberapa saat.

__ADS_1


Astaga! apakah CEO baru yang di maksud pak Yanto itu Bagas.


Alia tercengang beberapa saat antara syok dan kagum melihat penampilan Bagas saat itu.


Beberapa kali ia mengedipkan matanya hanya untuk memastikan jika CEO tampan yang ada di hadapannya adalah Bagas.


Alia pun menelan ludahnya untuk menguasai diri dan pikirannya.


Mereka perlahan masuk kedalam ruangan namun Bagas tak memperhatikan wanita yang tengah berdiri di depan meja kerjanya, saat itu ia juga masih diliputi kesedihan.


Edo dan keduanya menghampiri Alita yang terdiam karna grogi.


"Bagas perkenalkan sekertaris kamu, dia_"


Bagas pun menoleh ke arah Alita yang mengulum senyumnya.


"Kamu?" tanya Bagas sedikit syok.


Alita tertunduk.


Edo dan pak Yanto saling memandang.


"Jadi kalian sudah saling kenal?"tanya Edo senang.


Keduanya diam dengan pikiran masing-masing.


"Kalau begitu bagus. " Edo


"Thalita, dia Bagas dan sejak hari ini dia yang akan menggantikan posisi saya sebagai CEO di perusahaan ini."Edo.


"Saya minta kerja samanya antara kamu dan Yanto dalam membimbing Bagas, semoga kedepannya perusahaan ini semakin maju dan berjaya," ucap Edo.


"Siap Pak!" jawab Alita tersenyum kemudian tertunduk.


Bagas masih terdiam dengan wajah dingin dan datarnya.


"Gas, silahkan kamu duduk di kursi kebesaran mu dan rasakan sensasinya," ucap Edo dengan maksud bercanda dengan Bagas, agar ia tak menjadi tegang.


Bagas pun melangkah mendekati kursinya kemudian duduk.


"Ah mantap! gimana Gas, sudah merasakan sensasi jadi seorang CEO?"tanya Edo, tepat ketika Bagas baru saja mendaratkan bokongnya pada kursi empuk tersebut.


"Biasa saja Yah," jawab Bagas datar.


Alita senyum-senyum sendiri, ia tak pernah menyangka akan bertemu Bagas di sini, dan nantinya tentu saja mereka akan bertemu setiap harinya.


Ya ampun mimpi apa gue semalam bertemu Bagas di sini, permisi ya Alia dari pada Bagas nganggur mending sama gue, iya kan? he he sekenan loh juga ngak apa apa he he abisnya mau di buang juga sayang he he.


Alita tersenyum simpul berusaha menahan tawa karna suara batinnya.


Alita yang melamun tersadar," Ehm Iya Pak,"


"Berikut dengan proposal yang sudah kamu buat kemaren, bawa sekalian di sini biar Bagas pelajari," Edo.


"Baik Pak! kalau gitu saya permisi dulu," jawab Alita.


Alita melangkah dengan anggun keluar dari ruangan tersebut.


Setelah melirik sebentar ke arah Alita, Edo kembali menepuk pundak Bagas yang terlihat melamun.


"Gas sebelumnya kamu sudah kenal sama Thalita?" tanya Edo.


"Belum Yah, aku hanya tahu jika dia sahabatnya Alia," sahut Bagas datar.


"Ehm,.kalau begitu menurut pepatah Gas, tak ada rotan, akar pun jadi." cetus Edo.


Bagas melirik ke arah Edo dengan menyeritkan keningnya, "Maksudnya?"


"Hm, maksudnya tak ada Alia,Thalita pun jadi, lihatlah gadis itu cantik pintar dan ceria, karyawan sini banyak yang menyukainya Gas, termasuk Ayah," ucap Edo sambil menarik turunkan satu Alisnya.


Edo bermaksud bercanda pada Bagas agar ia tak terlalu larut dalam kesedihannya.


"Dasar Buaya!" dengus Bagas kesal.


"He he, itu karna kamu belum pernah merasa lubang buaya Gas, nanti kalau kamu sudah merasa lubang buaya, bisa-bisa kamu lebih buaya dari pada Ayah!" ucap Edo dengan tawa terkekeh.


Bagas hanya melirik dengan dingin kearah Edo.


Beberapa saat kemudian Alita kembali masuk mengantar berkas-berkas yang di minta oleh Edo.


"Permisi Pak! ini berkasnya." Alita.


"Ehm taruh di meja sofa, " titah Edo.


Alita pun menaruh berkas tersebut di atas meja Sofa, setelah itu ia tetap berdiri di sana sambil menunggu perintah selanjutnya.


"Ayo Pak CEO, kita ke sofa, karna tak mungkin kita semua berdiri sementara anda duduk dengan nyaman." Edo.


Bagas pun bangkit dan berjalan menuju sofa begitupun pak Yanto.


Ketiganya duduk di sofa, sementara Alia masih berdiri menunggu perintah.


"Thalita! kamu duduk di samping Bagas, jelaskan padanya tentak proyek yang saat ini kita tangani." titah Edo.

__ADS_1


Deg,


Kenapa harus gue?


"Siap Pak!"Alita.


Alita duduk di samping Bagas, dengan jantung yang berdetak tak karuan.


Telapak tangannya terasa dingin seketika.


Ehm, Alita berdehem dan mengambil nafas, tanganya membuka lembaran sebuah proposal.


Bismillahirahmani Rahim.


Alita membuka beberapa lembar.


"Ini adalah proyek ki_" Alita.


"Thalita!" Edo mengintrupsi.


Alita menoleh ke arah Edo.


"Iya Pak, ada apa?"tanya Alita serius.


Edo tersenyum," Bagas masih jomblo loh," cetus Edo tiba-tiba.


Semua yang ada di sana langsung menoleh ke arah Edo termasuk Bagas dan pak Yanto.


Deg,


Hah, apa maksudnya pak Edo bilang seperti itu, huh bikin aku tambah grogi saja.


Alita tersenyum seraya melirik ke arah Bagas.


"Iya Pak, sudah tahu," sahut Alita malu-malu.


Sementara Bagas menatap sinis ke arah Edo.


Edo pun tertawa kecil.


Ha ha ha.


"Ya sudah lanjutkan Thalita!"


Aduh sampai dimana tadi, bikin gue makin grogi aja nih.


Alita pun menjelaskan proyek baru mereka kepada Bagas, Bagas pun menyimak dengan antusias.


Edo tersenyum melihat Alita yang terlihat kikuk di hadapan Bagas, sementara Bagas masih memasang mode seriusnya.


***


Alia keluar dari kantor,.ia pun mengedarkan pandanganya ke sekeliling.


Abang ngak jemput.


Alia menelpon Bagas seperti yang mereka janji kan.


Belum tersambung, Bagas sudah keluar dari dalam mobil barunya.


"Bagas," ucap Alia lirih.


"Hey Alia," sapa Bagas seraya tersenyum dan menyodorkan sekuntum mawar merah ke Alia.


"Bagas kamu_?"pertanyaan menggantung seraya meraih bunga mawar tersebut.


"Iya Alia, Ayah ku membelikan ku mobil, katanya seorang CEO harus pakai mobil mewah biar ngak kalah sama karyawannya," papar Bagas.


"Ehm, syukurlah Gas, aku senang jika kamu seperti ini," ucap Alia seraya tersenyum tipis.


"Alia, ini semua aku lakukan juga karna kamu, aku ngak akan menyerah untuk dapatkan kamu, lihatlah sekarang aku punya kedudukan tertinggi di perusahaan ku,aku juga punya mobil yang mewah, aku bisa bersain dengan Ghael, Alia. Katakan pada orang tua mu Alia, jika aku juga mampu memberikan apa yang bisa Ghael berikan untuk mu Alia," papar Bagsx


Alia syok,karna Bagas masih tak mengerti alasan penolakan orang tuanya terhadap dirinya.


"Aku sendiri yang akan datang melamar dan meminta mu, pada ayahmu Alia,"ucap Bagas bersungguh-sungguh.


"Tapi Gas, dalam beberapa hari lagi, aku dan Ghael bertunangan." Alia.


"Secepat itu?" tanya Bagas.


Ketika sedang ngobrol mereka di kejutkan suara dari arah belakang.


"Alia!" seru Ghael yang datang tiba-tiba.


Keduanya pun menoleh ke arah datangnya suara.


Ghael terlihat emosi menghampiri mereka.


"Jadi karna ini kamu ngak mau aku jemput?!"tanya Ghael.


"Ehm Bang_" Alia tak melanjutkan kata-katanya karna kaget.


Bruk... satu pukulan Ghael menghantam ke wajah Bagas.

__ADS_1


Bersambung guys,


__ADS_2