
Sudah seminggu Aira di rawat di rumah sakit jiwa, tatapan mata Aira tak lagi kosong seperti sebelum nya, Aira sudah bisa merespon dengan menoleh saat di panggil namanya, semua memang butuh proses, apalagi ini kedua kalinya Aira mengalami depresi seperti ini.
"Kak Igun, aku titip Aira ya, hari ini akan ada rapat dengan pengacara dan LPAI, " ujar Aldi seraya mendorong kursi roda Aira.
"Sampai di mana kasus Aira, Di?" tanya Igun yang berjalan beriringan denganya.
"Kami mengajukan ke kejaksaan untuk menunda sidang sampai Autopsi telah di lakukan dan mendapatkan bukti baru " papar Aldi.
"Bagus kalau begitu." guman Igun.
"Tapi masih ada kendala Kak, pihak korban menolak untuk melakukan outopsi terutama istri korban, kami harus melakukan sidang kembali, agar jaksa memberi kuasa ke pihak ke penyidik merujuk kedokteran forensik, untuk bisa melakukan autopsi meski tanpa persetujuan keluarga korban, dan hal ini yang akan kami bahas dengan pengacara Aira.
"Saya dan advokad juga akan meminta koordinasi dari pihak LPAI agar mengusut tentang kekerasan yang dialami Aira nantinya setelah Aira sembuh Aira juga akan di visum agar bisa melaporkan balik kekerasan yang di alami istri saya sebelum penusukan tersebut terjadi,"papar Aldi.
"Jika memang hasil autopsi menyatakan kematian Retno bukan karna dari tusuk yang di lakukan Aira, maka kami akan melaporkan kasus baru, karna menurut pengakuan ayah Aira sendiri, Retno mempunyai banyak istri siri dan mereka semua adalah para gadis muda yang seusia Aira dan bahkan lebih muda dari Aira, dan menurut Ayah Aira sendiri jika Retno pernah beberapa kali mencabuli gadis di bawah umur, tapi kasus tersebut tertutupi sempurna oleh Retno karna kekuasan dan pengaruh yang ia miliki."
Igun menggangguk pelan, sambil mendengar dengan seksama penuturan Aldi.
"Kalau begitu bagus Di, cari saja gadis yang menjadi korban Retno, kemudian minta mereka jadi saksi," usul Igun.
"Iya Kak, tapi tak semudah itu, meminta para korban untuk menjadi saksi, selain akan membuka aib mereka sendiri, korban akan mendapat tekanan dari keluarga pelaku," imbuh Aldi.
"Maka dari itu kami minta LPAI untuk membujuk para korban dengan cara pendekatan dan penyuluhan agar mereka berani memberi kesaksianya tentang kebejatan Retno."Aldi.
"Iya korban seperti itu pasti menderita trauma mental, jika butuh pisikiolog untuk membantu mengobati rasa trauma pada mereka, Kakak bersedia Aldi, selain memulihkan rasa kepercayaan diri para korban, mungkin kesaksian mereka bisa meringgankan tuntutan Aira di pengadilan," Papar Igun.
Terima kasih kak, sekali lagi saya titip Aira ya," ucap Aldi.
Aldi berjongkok di hadapan Aira, Aira mas Aldi pergi sebentar ya, kamu bersama kak Igun dulu ya," ucap Aldi sambil mencium kening Aira.
Setelah beberapa saat mendaratkan kecupan di kening Aira, Aldi pun berdiri dan hendak melangkah meninggalkan Aira, tapi langkahnya tertahan saat ia merasa tanggan kirinya seperti di tarik seseorang, dan Aldi melihat ternyata Aira lah yang menarik tanganya tersebut.
__ADS_1
Aldi berhenti dan kembali berjongkok menghadap Aira, "Mas hanya pergi sebentar sayang, kamu di sini ya, secepatnya mas Aldi akan pulang, Mas Aldi akan berusaha semaksimal mungkin agar kamu terbebas dari segala tuntutan, agar kita bisa bersama selamanya sayang," ucap Aldi sambil memeluk Aira.
Karna Aira belum bisa bicara, Aira meneteskan air matanya di pelukan Aldi.
"Kamu ngak usah takut sayang, mas Aldi akan upayakan semua yang terbaik untuk kamu,"ucap Aldi sambil mencium pucuk kepala Aira, ia pun menghapus titik Air mata di pipi Aira.
Aira menatap Aldi dengan tatapan yang sendu, sorot matanya seperti menggambarkan ketakutan dan keresahan dalam diri Aira, meski berat meninggalkan Aira, tapi ia harus berusaha untuk mengupayakan pembelaan terhadap Aira bukan hanya berdiam diri saja.
Aldi menggenggam erat tangan Aira sebelum dia beranjak dari tempatnya.
***
Romeo memesan hand bouket bunga mawar merah , rencananya ia dan Doni akan mengunjungi Aira nanti siang untuk memberi dukungan moril kepada Aira.
Setelah selesai ia pun bergegas pergi meninggalkan tokoh bunga tersebut, bungga mawar merah, ia sengaja memilih warna merah, karna menurutnya warna merah adalah lambang dari keberanian, dan Aira harus berani menghadapi masalah nya kini.
Saat melintasi jalan raya menuju rumah sakit, Romeo melewati rumah Tari, tiba-tiba ia teringat akan Tari, sejak lari bersama Aira, Romeo tak pernah sekali pun menemui Tari, padahal ia merasa Tari pasti akan merasa kecewa atas sikafnya.
Romeo perlahan memasuki halaman rumah Tari, dan di lihatnya Tari sedang menyiram bunga di halaman rumahnya.
Kaget bercampur senang reaksi Tari saat melihat mobil Romeo memasuki halam rumahnya, ia pun melepaskan selang air yang di gunakanya untuk menyiram tanaman.
Tari membersihkan dan merapikan penampilanya, meski kecewa terhadap Romeo, tapi entah mengapa di lubuk hatinya terdalam, ia masih mengharapkan cinta Romeo.
Rasa Rindu kembali menyeruak saat melihat pria yang ia cintai keluar dari mobil, apalagi pria tersebut membawa seikat bouqet indah.
Senyum langsung menggembang di wajah Tari, tak perduli seperti apapun Romeo dan sebesar apapun kesalahannya, nyatanya hal yang tak pernah bisa ia pungkiri, adalah ia tak bisa melupakan perasaanya terhadap Romeo.
"Hai Tar," sapa Romeo sambil menyerahkan buqet tersebut kepada Tari.
Dengan seluruh rasa dan perasaan bahagianya saat itu, ia menyabut uluran bouqet tersebut dari tangan Romeo.
__ADS_1
"Terima kasih Rom," ucapnya sambil menghirup aroma mawar yang ternyata tak wangi tersebut.
Mawar yang awalnya untuk di berikan pada Aira tersebut, di berikan Romeo pada Tari sebagai ungkapan perminta maafanya, namun sepertinya di salah artikan oleh Tari.
"Masuk Rom," ajak Tari, ia pun berjalan menuju teras dan duduk di kursi dari ayaman rotan yang ada di terasnya tersebut.
Romeo duduk bersebelahan denganya dengan meja kecil yang juga terbuat dari bahan ayaman dari rotan tersebut.
"Aku bikin minum dulu ya Rom," ucap Tari sabil beranjak dari tempat duduknya.
"Ngak usah Tar,aku ngak lama kok, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan pada kamu," sela Romeo.
Tari pun duduk kembali.
"Ada apa Rom?" tanya Tari sambil menatap wajah Romeo.
"Aku minta maaf Tar, atas kejadian kemaren, aku membawa Aira tanpa memberi kabar kepada mu," ucap Romeo tanpa basa-basi, karna Romeo type orang yang tak suka basa-basi.
"Oh masalah itu, ya sudahlah Rom, aku juga sudah tahu semuanya dari Doni, ucap Tari datar.
Hati Tari terasa sakit saat Romeo mengungkit luka itu kembali, wajah Tari seketika berubah menjadi mengkerucut.
"Maaf Tar, karna seharusnya aku tak menerima cinta kamu, padahal saat itu aku sendiri belum bisa membuka hatiku untuk siapa pun, termasuk kamu" ungkap Romeo.
Ucapan Romeo sontak semakin menyakiti perasaan Tari, bulir bening perlahan menetas tanpa mampu di tahan olehnya.
Sekali lagi maaf Tar, semoga loh bahagia bersama Heru, ucap Romeo kembali, ia pun meninggalkan Tari dengan perasaan hancur.
Titik air mata mengalir dari sudut netra Tari, sepertinya Romeo hanya bayangan semu, yang tak mungkin di milikinya, Tari berlari menuju kamar, perasaannya begitu sakit, karna cintanya kita tak berbalas.
Hah, sampai di sini dulu ya reader, tetap dukung author, ya dengan like, komen, hadoh dan vote, apalah aku tanpa kalian semua, esh jangan beranjak dulu ya, satu jam lagi author akan up lagi, Ins sya Allah.
__ADS_1