Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Bertemu Empat mata


__ADS_3

"Ngak Aira, bagaimana mungkin mas bisa membiar kamu bertemu dengan anaknya Retno itu, "tolak Aldi.


"Tapi mas, cuma itu satu-satunya cara agar mas Edo mencabut tuntutanya," tukas Aira dengan nada tinggi.


"Tapi bagaimana kalau dia berbuat jahat terhadap kamu, lagi pula kenapa Edo meminta kamu untuk bertemu dengannya secara empat mata?" dengus Aldi dengan kesal.


"Entalah Mas, mas Edo bilang, jika Aira bisa membukti kan ucapan Aira itu benar, dan menunjukan beberapa korban kebejatan Retno, maka mas Edo janji akan mencabut tuntutanya, dan akan memberi saksi yang akan meringankan Aira di pengadilan nanti," papar Aira.


"Apa tak bisa dengan cara lain?" tanya Aldi dengan suara beratnya.


"Cuma itu yang mas Edo usulkan Mas, dan Aira tak punya pilihan lain." sahut Aira, mereka bersitegang.


Mendengar hal itu Aldi menjambak kasar rambutnya, rambut yang tertata rapi terdebut, menjadi acak-acakan tapi tak sedikit pun memudarkan ketampanannya.


Aldi mendengus, suara helaan nafasnya terdengar di indra pendengar Aira, begitu pun degup jantung Aldi terdengar lirih di telinga Aira.


"Tapi cuma itu satu-satunya cara, Aira yakin mas Edo tak kan berbuat jahat pada Aira, karna Aira sudah mengenal mas Edo sejak kecil." papar Aira kembali menyakinkan Aldi.


"Apa kamu pikir seseorang tak bisa berubah Aira, apalagi kamu sudah di tuduh membunuh ayahnya, mas yakin pasti ada maksud tersembunyi di balik ini semua," dengus Aldi.


Tanganya mengepal erat, ia begitu kesal terhadap Edo, jika ia ingin membantu Aira , kenapa mereka harus bertemu secara empat mata, apa yang di inginkan Edo terhadap Aira?


"Tapi Mas itulah satu-satunya cara agar Aira tak berada di penjara dalam waktu yang lama, Aira harus membuktikan sendiri jika pak Retno itu seorang fedofil, ia menyenangi anak di bawah umur."


"Mas! Aira harus buktikan ke Mas Edo jika Aira dan teman-teman Aira adalahlah korban kebusukan bapaknya,"cecar Aira.


Aira mendengus dengan emosi yang meluap luap mengingat perbuatan terkutuk Retno yang sudah menghancurkan masa depan beberapa gadis teman sebayanya, sekarang Aira sendiri tak tahu bagaimana nasib teman-temanya tersebut.


Aldi merasa serba salah, bagaimana mungkin ia membiarkan istrinya pergi bersama lelaki yang tak di kenalnya, apalagi jika lelaki tersebut adalah anak dari manusia sebejat Retno.


Tapi hanya Edo harapan satu-satunya bagi Aira, untuk bebas selain dengan hasil autopsi yang masih menunggu hasilnya.

__ADS_1


Aldi memeras otaknya, ia harus berfikir lebih keras agar bisa memikir cara terbaik untuk menyelesaikan perdebatan tersebut.


"Ok sayang, kita hubungi Edo, kamu boleh menemui dia, dengan catatan bertemu di tempat yang terbuka, seperti cafe atau restoran, dengan demikian akan kami mudah mengawasi kamu, pasang alat perekam pada handphone kamu, dan handphone tersebut harus selalu terhubung dengan mas, supaya mas Aldi bisa mendengar apa yang Edo katakan pada kamu, selain itu mas Aldi akan menyuruh beberapa orang bodyguard untuk melindungi kamu dari jauh,mas akan mengikuti dan mengawasi kamu selalu," usul Aldi.


Aira menggangguk pelan, ia pun memahami dan menyetujui usul Aldi tersebut.


"Iya mas, dengan begitu mas Aldi tak perlu khawatir, sahut Aira.


"Tetap saja khawatir sayang," ucapnya dengan mata yang berembun menatap Aia.


Tatapan matanya yang teduh mengisyaratkan rasa yang tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.


Aira tersenyum kemudian menjatuhkan tubuhnya dalam dekapan sang suami.


Dengan perasaan terdalamnya, Aldi kembali merangkul istrinya, dan mencium pucuk kepala sang istri.


"Doa kan Aira mas, agar Aira bisa mengungkap kebenaran kepada mas Edo, Aira tak ingin di penjara Mas, Aira takut jika harus berpisah dari mas Aldi," ucapnya lirih.


Mereka pun semakin mempererat pelukanya, sejurus kemudian melepaskanya dan saling melempar senyum penuh arti.


***


Aldi sudah menyiapkan rencana untuk pertemuan Aira dan Edo, beberapa bodyguar telah di tugaskan untuk mengawasi dan melindungi Aira.


Alat pelacak pun di sisipkan pada pakaian dalam istrinya.


Dengan handphone dalam keadaan terhubung dengan Aldi. Setelah semua sudah siap, Aldi mengantar Aira di tempat mereka janjian untuk bertemu, yaitu di sebuah cafe yang terletat di daerah strategis, selain itu cafe tersebut juga ramai pengunjung, sehingga Aldi bisa dengan lega melepas pertemuan istrinya dengan seorang pria dari masa lalu Aira.


Mereka sudah berada di depan parkiran cafe tersebut dan disana sudah tampak pria yang menggunakan jaket hoodie berwarna hitam dengan celana pendek yang membuat penampilan pria tersebut tampak casual.


Aldi memakir kan mobilnya di tempat yang bisa mengawasi pergerakan sang istri.

__ADS_1


"Mas Aira turun dulu ya," ucap Aira sambil meraih tangan sang suami dan mencium punggung tangan Aldi


"Hari-hati sayang," sahut Aldi ia pun mendaratkan kecupan di bibir istrinya.


Dengan berat hati Aldi harus melepaskan Aira pergi sendiri menemui Edo.


Jantung Aira berdetak kencang, setapak demi setapak ia mengayunkan langkahnya membuatnya semakin mendekat, ada rasa ketakutan dalam hatinya, tapi ia harus berani, ini semua bukan hanya tentang dirinya, tapi juga tentang teman-teman sebayanya.


Aira harus mengungkap kebenaran yang selamai ini meresahkanya, saat itu ketidak berdayaan, ketakutan dan kekhawatiran berhasil membungkam mulutnya, sehingga ia membiarkan korban dari Retno terus berjatuhan.


Dulu ia hanyalah gadis lugu yang tak punya kekuatan untuk menolak tirani yang semakin mengukuhkan ketidak adilan dari para korban Retno, tapi kini ia merasa ia adalah wanita dewasa yang punya segalanya, ia punya kekuatan, keberanian dan kepercayaan diri, semua itu ia dapatkan dari orang-orang terdekat yang mengajarinya arti cinta, kasih sayang, dan pengorbanan dan hal itulah membuat Aira merasa ia tak sendiri, ia mampu menaklukan ketakutan yang ada pada dirinya, ia harus mampu melawan rasa traumanya untuk bisa keluar dari peliknya masalah yang selama ini ia hindari.


Selangkah lagi tubuhnya akan berada tepat di belakang Edo, ia pun melangkah dengan hati yang mantap.


Edo merasakan kehadiran seseorang yang berada di belakangnya, ia pun memutar badan dan menoleh kearah seorang gadis yang dulu pernah dekat di hatinya.


Tatapan Aira masih datar, begitupun Edo, untuk beberapa saat keadaan menjadi hening dan mereka memilih untuk tak saling menyapa.


Edo melihat perubahan drastis terjadi pada mantan gadisnya tersebut, ia memperhatikan Aira dari atas sampai bawah dan itu membuat Aira menjadi risih hinga mengeluarkan suara deheman.


"Hem, boleh aku duduk?" tanya Aira memecah kebisuan mereka.


"Iiyaa, silahkan saja,"ucap Edo gelagapan, ia begitu pangling melihat metamoforsa yang terjadi pafa Aira setelah dua tahun ia tinggalnkan.


Aira duduk dengan anggun sambil menyilangkan kedua kakinya dan berlagak seperti wanita dewasa.


"Apa yang mas inginkan?" kata-kata tersebut keluar secara spontan saat melihat Edo yang terus menatapnya.


Edo semakin intenz menatap mata Aira, meski terlihat tenang, tapi Edo menangkap ada rasa kekhawatiran pada mimik wajah Aira meski pun berusaha berusaha sembunyikannya.


Bersambung lagi, jika berkenan dukung Author dengan like. komen dan votenya ya.

__ADS_1


__ADS_2