
Aira di bawa keruangan yang sama dengan Alia. Saat itu keluarga mereka semakin rame berkumpul.
Ada Heru dan juga istrinya begitupun anak-anak mereka.
Keluarga yang selalu hangat tersebut datang dan berkumpul untuk memberi support dan dukungan untuk saudara dan keponakannya.
Heru dan istrinya masing-masing menggendong bayi dan menimangnya.
Canda tawa bahagia pun terdengar memenuhi seisi ruangan tersebut.
Membuat Aldi dan Aira tersenyum.
"Assalammualaikum, "ucap Aldi ketika mereka masuk ke ruangan tersebut.
"Waa'laikum salam, " sahut mereka dengan berbahagia.
Perhatian mereka pun tertuju pada Aira yang di dorong masuk ke dalam ruangan beserta tempat tidurnya.
"Alhamdulliah, akhirnya kita kembali kumpul." Heru.
Alia tersenyum melihat Bundanya yang sudah terlihat segar.
Suster meletakan tempat tidur Aira di samping tempat tidur Alia hanya di batasi oleh nakas saja.
Mereka pun menghampiri Aira.
"Aira selamat ya atas kelahiran cucu dan juga anaknya, "ucap Tari sambil menyodorkan seorang bayi laki-laki.
"Bagaimana keadaan kamu Aira? " tanya Heru.
"Baik Mas. "
Aira menyambut bahagia bayi tersebut.
"Terima kasih Mbak, "ucap Aira.
"Sepertinya keluarga kita kekurangan warga perempuan ya. Tapi Alhamdulilah semua selamat dan sehat. " Heru.
"Tenang saja Mas. Ntar kalau anak-anak kita nikah, juga dapat menantu perempuan. "
"Iya keponakan kita yang perempuan justru sudah kamu jadikan menantu. Ngak berkembang jadi nya keluarga ini hanya memiliki satu putri yaitu Alia, " canda Heru.
"Ops, dari pada di ambil orang lain. He he he. " Tari.
Aira dan Aldi bergantian mencium bayi tersebut.
Romeo menghampiri mereka.
"Eh Di. Si Doni juga di karunia cucu kembar cewek tuh. Sudah anak loh aja di jodohin dengan cucu Doni ya. Biar loh berbesan sama keponakan loh Alita. He he. "
"Biar Alita dan Bagas ngak manggil loh ayah lagi, tapi besan ha ha ha. " Romeo'.
Aira tersenyum," Alhamdulilah."
"Serius loh Rom? padahal gue mau jodohin Arsyad sama Dinda. Masak mau jodohin lagi anak gue yang bungsu sama cucunya. Apa kata dunia ha ha," kelakar Aldi.
"Biasa aja keles, Keluarga kita kan keluarga 69. bolak-balik sama saja ujung-ujungnya kesitu-situ juga. " Romeo.
"Ada-ada aja loh Rom. Biar saja lah. Mereka maunya gimana. Seperti Abang sama Alia kan pernah kita jodohin eh tahu-tahu berjodoh. "
"Iya Nih Papa. berhasrat banget pingin jadiin om Doni besannya. Emang kenapa sih?" tanya Ghael.
"Ya karna Papa sama Om Doni sahabat kental, klop dari remaja sampai sekarang." Romeo.
"Tapi kan ngak mesti di jodohin juga kan Pa. "Ghael
"Iya, terserah kalian saja, " sahut Romeo setengah ngambek.
"Sudah ah. Ribut saja saja soal perjodohan"
"Anaknya saja masih bayi-bayi. " Heru.
Aira hanya tersenyum mendengar pedebatan keduanya, ia pun kembali menimang bayi yang ada di gendongannya.
"Sayang anak Bunda. Maaf ya Bunda baru bisa gendong dan timang kamu sekarang,"
Aira pun tersenyum sambil memeluk dan mencium bayi tampan tersebut.
Aldi meraih bayi lelaki tersebut, saat kelahirannya Aldi hanya melihatnya sekilas saja. Karna saat itu ia lebih nengkhawatirkan keadaan istrinya.
"Wah, putra kita tampan ya Bun seperti ayah. cup cup cup." Aldi mencium dan memeluknya dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
Ha ha ha, tiba-tiba terdengar tawa kecil dari Tari dan Romeo.
"Ye salah! Yang kalian gendong itu cucu kalian!" seru Tari.
"Hah masa'?" tapi Kok mirip gue? "Aldi.
"Ya iyalah ada mirip loh, kan cucu loh juga Di," sahut Tari.
Aira dan Aldi pun saling memandang dan tersenyum.
"Oh jadi ini cucu kita Bun. pantes wajahnya mirip banget sama Ayah, Bun. "Aldi.
"Ih Ngaku-ngaku loh Di. Masa made in sendiri ngak kenal, " cetus Tari.
Alia dan Ghael saling memandang dan tersenyum, begitupun yang lainya.
Mereka mentertawai keduanya yang tak mengenali mana putra mereka.
Tari meraih bayi laki-laki yang di gendong oleh Ghael, kemudian menyodorkan kepada Aira.
"Nah ini baru putra kalian," ucap Tari.
"Serius Mbak, Ini putra kami? " tanya Aira sambil menyambut bayi tersebut.
Bayi itu pun menangis di gendong Aira, mungkin karna ia tahu sedang berada dalam dekapan ibu kandungnya.
"Cup, cup Sayang. Maaf ya Bunda baru bisa memeluk kamu, "tutur Aira haru.
Aira meneluk dan mencium putranya tersebut. Sementara Aldi tetap menggendong cucu mereka.
"Lihat Yah. Mereka berdua mirip ya Yah, " ucap Aira dengan senyum bahagianya menyandingkan keduanya.
"Iya Bun." Ayah jadi ngak bisa bedain. Seperti kembar." Aldi.
"Iya Yah. mau di kasi tanda saja biar ngak ke tukar, " cetus Aira.
"Hooh Bun, kalau masih bayi gini mirip Yah." Aldi.
"Iya Kami juga sulit membedakannya. Untung saja ada gelang di tangan keduanya. "Tari.
Ghael dan Alia tersenyum.
"Kalau Abang sih kenal sama buatan sendiri Yah! " sahut Ghael sambil tertawa.
"Ehm, enak saja.Kalau gue pikun ngak mungkin jadi nih bayi " Aldi.
"Ya iyalah, kan lubangnyanya tetap sama ngak pindah-pindah, jadi meski loh pikun ngak akan nyasar. Ngak ada istilah salah lobang kan ha ha ha, " sebegitu senangnya Tari menyahut Aldi dengan tawa renyahnya.
"Anjrit! udah tua aja pikiran loh masih mesum aja Tar. Ngak malu apa sama anak cucu, '" dengus Aldi.
"Ngak lah cucu gue masih kecil ha ha,," Tari.
"Ehm, Mama!" seru Ghael sambil tersenyum.
"Maaf Bang. Mama khilaf. Kalau sudah ngumpul ya ada aja yang jadi bahan ejekan. Kalau gitu ngak seru." Tari.
"Ngak segitunya juga keles, gue terus yang kena,"sungut Aldi.
"Ya loh kan bungsu. Wajar dong. " Tari.
"Ah sudalah. Debat terus. Kasihan yang bayi ngak bisa tidur gara-gara nenek kakeknya ribut." Heru.
Mereka pun kembali tenang karna melihat kedua bayi tersebut tidur dengan lelap.
Aldi memindahkan cucunya untuk tidur di samping Alia.
"Di, ntar lagi kita ke kamar depan ya. lihatin cucuk perempuan kita, "Romeo.
"Iya. sekalian kita bawa anak cucu kita ke sana Rom, ngapelin cucunya Doni." cetus Aldi.
Mereka pun tertawa.
"Itung-itung nostalgia Di. Udah lama pensiun jadi playboy. Sepertinya keplayboyan kita harus di wariskan ke anak cucu biar lestari," tambah Romeo.
"Betul itu!"sahut Aldi.
"Astaga! Amit-amit cucu gue "Tari
"Hah, gitu ya kalau punya kakek mantan playboy. kecil-kecil sudah di ajari ngapelin bayi perempuan," dengus Aira.
He he mereka berdua tertawa.
__ADS_1
Di saat keduanya sedang bercanda seseorang datang membuka pintu.
Perhatian mereka oun tertuju pada Arsyad.
"Assalammualaikum," sapa Arsyad.
"Eh Dedek sudah pulang? " tanya Aira yang menyapa Arsyad.
Arsyad tiba langsung memeluk dan mencium Aira.
"Iya , kenapa sih baru bilang kalau Kakak dan Bunda sudah melahir kan. aku kan jadi khawatir." Arsyad.
"Kami ngak mau ganggu pertandingan kamu Nak, nanti kamu bisa ngak konsentrasi bertandingnya. bagaimana pertandingan nya Dek? tanya Aldi.
"Alhamdulilah Yah. Team, aku dapat juara satu. " Arsyad.
"Alhamdulilah,"
mereka semua menyambut bahagia kabar dari Arsyad tersebut.
"Mana adek Arsyad Bunda? " tanya Arsyad.
"Ini !"Aira menujuk dengan mencium bayinya.
"Hai Dedek," sapa Arsyad sambil mencium pipi bayi tersebut.
"Sekarang Dedek ngak jadi bungsu lagi, sudah ada adiknya, " ucap Aira sambil mencuim pipi Arsyad.
"Iya Jadi ngak di panggil Dedek Dong. Panggil abang sekarang. " Arsyad.
"Ehm, Dedek juga sekarang di panggil Om," sahut Alia.
Arsyad menoleh ke arah Alia.
"Eh iya aku jadi lupa kalau aku juga punya keponakan. " Arsyad.
Arsyad pun menghampiri Alia.
"Selamat ya kak, sekarang sudah punya debay. Dede jadi ngak bisa manja lagi sama Kakak. "
Arsyad memeluk dan mencium Alia.
Kemudian ia memeluk Ghael.
"Selamat juga ya Bang udah jadi ayah. " Arsyad.
"Iya terima kasih." Ghael.
Arsyad pun mencium pipi keponakannya.
Kreak... pintu kembali berbunyi dan kali ini mereka di kejutkan dengan kedatangan kedua orang.
"Assalammualaikum, "ucap Arsel anak bungsu Romeo dan Tari.
"Waalaikum sallam," ucap keduanya menjawab.
Mereka sedikit syok melihat gadis cantik yang di bawa oleh Arsel.
"Dinda? " tanya Tari.
Dinda hanya tersenyum.
"Ehm, Iya Ma. Kenalin pacar aku Dinda." Arsel.
Seketika mereka semua kaget dengan berita yang di bawa oleh Arsel.
Dinda tersenyum kearah semua orang yang menatapnya aneh.
Begitupun dengan Arsyad yang langsung menundukan wajahnya karna kecewa.
"Jadi kalian punya hubungan? " tanya Tari syok.
Padahal Aldi dan Doni juga sudah berencana menjodohkan Arsyad dan Dinda.
"Iya Ma, kami pacaran, tapi kami bisa Kok jaga diri baik-baik, "ucap Arsel yakin.
Dinda hanya tersenyum.
Aldi juga tersenyum sambil melirik ke arah Arsyad yang terlihat kecewa.
Bersambung dulu ya reader.
__ADS_1
Dukung author dong.
Dengan like, rate lima, vote saran dan komentarnya. Terima kasih.