Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Nekad


__ADS_3

Di dalam mobil,


"Abang mau bawa Aira kemana?" tanya Aira sambil melihat pemandangan ke luar jendela.


Aira coba membendung air matanya, meski ia mencoba untuk menghibur diri, nyatanya ia selalu teringat kenangan bersama Aldi.


Bulir bening pun menetes perlahan di pipinya.


"Kita kebengkel dulu, sambil nunggu Dasty pulang dari kerja," sahut Doni tanpa melihat kearah Aira.


"Memangnya kenapa bang?"


"Aira, abang tak punya pilihan lain, Abang harus pastikan kamu dalam keadaan aman, kalau kamu di rumah kamu sendiri, abang ngak bisa menjamin keselamatan kamu."sahut Doni.


"Tapi ngak perlu repot bang, Aira bisa jaga diri sendiri."


"Iya tapi Aldi yang meminta abang untuk menjaga kamu, mengertilah Aira, saat ini Aldi berada di posisi yang sulit."


Aira mengalihkan pandanganya ke Doni.


"Justru Aira sangat mengerti mas Aldi, Aira ngak mau mas Aldi kehilangan ibunya hanya karna mempertahankan Aira, lagi pula benar juga kata mama Rita, lelaki seperti mas Aldi bisa dapat wanita yang lebih baik dari pada Aira, Aira hanya bisa menyusahkanya saja, dan Aira ngak mau menyusahkan abang lagi, " ucap Aira tanpa jeda, kata-katanya pun terbata-bata.


Doni melihat mata Aira yang semakin basah, meski beberapa kali Aira menghapus air matanya, tetap saja pipinya tak pernah kering.


Karna merasa iba, Doni merentangkan tangannya menjangkau kepala Aira dan mengusapnya dengan lembut, ia menarik nafas panjang,


Kasihan Aira, kenapa dia selalu mendapatkan masalah yang berat, padahal ia sendiri belum terlalu dewasa untuk berfikir dalam menyelesaikan masalahnya.


***


Tari membuka kotak persegi empat yang berisi nasi padang.


"Rom, makan dulu ya," ucap Tari sambil meyodorkan nasi ke Romeo.


"Nanti saja Tar, tanggung," ucap Romeo tanpa menoleh kearah Tari.


Romeo masih sibuk dengan pekerjaanya.


"Ya, udah gue suapin aja ya Rom," ucap Tari sambil menyendok nasi ke mulut Romeo.


Dengan terpaksa Romeo membuka mulutnya.


"Rom, kapan lo mau ketemu nyokap gue Rom?"tanya Tari sambil menyuapkan nasi kemulut Romeo.


"Eh emang mau ngapain ketemu nyokap loh Tar?"


"Katanya loh mau kawinin gue, lupa ya loh," mulut Tari jadi mengkerucut.


"Yaelah, kayak kucing aja lo, baru pacaran beberapa hari, udah minta kawin aja," cetus Romeo sambil tertawa kecil.


"Kalau kelamaan, ntar gue di ambil orang loh Rom, apalagi tante Rita mau jodohin gue sama Heru,"


"Emangnya lo ngak bisa nolak apa, lagian tante Rita itu siapanya elo sih?" tanya Romeo.


"Tante Rita itu saudara tirinya nyokap gue, mamanya nyokap gue, kawin sama bokapnya tante Rita." papar Tari.


"Tapi kenapa dia harus menjodohkan kamu sama Heru?"


"Gue sendiri ngak tahu alasannya kenapa tante Rita menjodohkan gue sama Heru, tante Rita selalu mengungit hutang budi yang ia lakukan untuk nyokap gue Rom, dan sebagai balasannya gue harus mau di jodohkan dengan Heru, lo bayangin aja kalau gue mantan pacar Aldi, tapi menikah dengan kakaknya, Heru, apa ngak risih rasanya setiap hari akan bertemu Aldi dan Aira." Tari.


"Jadi cuma itu alasanya, lo ngak mau di jodohkan sama Heru?" tanya Romeo sambil melanjutkan perkerjaanya.


"Ngak bukan itu alasan terbesar gue menolak perjodohan itu, gue cinta sama loh Rom, gue juga ngak tahu sejak kapan perasaan itu tumbuh, dan gue juga cuma mau nikah sama loh," ucap Tari dengan mata yang berkaca-kaca.


Romeo menjadi terharu dengan pernyataan Tari, meski pun pada awalnya dia sendiri tak menyukai Tari, tapi melihat ketulusanya, Romeo berusaha untuk membuka hatinya dan menerima dengan tulus.


"Kalau udah jodoh ngak lari kemana kok Tar, kita selesain kuliah dulu lah, lagian kalau kita kawin, lo mau gue kasih makan apa, lihat aja kerjaan gue seperti ini,"


"Ngak apa kok Rom, gue juga bisa bekerja setelah pulang kuliah, kita sama-sama menyelesaikan kuliah kita Rom," ucap Tari sambil memeluk Romeo dari belakang.


"Please Rom, jangan biarkan gue menikah dengan Heru, kalau perlu kita kawin lari saja Rom, lagi pula gue juga ngak tahu siapa bokap gue sebenarnya, setelah kita menikah, kita balik lagi kesini, jadi ngak ada alasan untuk tante Rita memaksakan perjodohan itu, lo mau kan Rom?" tanya Tari sambil menyandarkan kepalanya di bahu Romeo.


Romeo memutar tubuhnya,


"Kalau menikah jujur aja gue belum siap, tapi jika untuk mengikat loh dengan cara tunangan gue bisa lakukan itu, nyokap gue juga ngak setuju dengan hubungan kita, dia masih tetap dengan pendirianya, menjodohkan gue dengan anak ustad Ramly."


Mata Tari berkaca-kaca, "Gue jadi semakin takut kehilangan loh Rom," ucap Tari, ia kembali memeluk Romeo.


Romeo pun membalas pelukan Tari dan untuk sejenak mereka saling menikmati kehangatan itu.


"Aira," ucap Romeo yang melihat Aira dan Doni yang perlahan menghampiri mereka.

__ADS_1


Mendengar Romeo menyebut nama Aira, Tari langsung melepas pelukanya dan menatap mata Romeo, yang menatap kearah depan dengan lurus.


Tari memutar tubuhnya untuk melihat apa yang dilihat oleh Romeo.


"Aira," guman Tari, raut wajahnya pun berubah, Tari kembali memandangi Romeo dan tatapan matanya tetap mengarah lurus kedepan.


Kenapa Doni membawa Aira kemari, awas saja jika dia berniat merebut Romeo dari gue, kali ini gue ngak akan tinggal diam.


Tari menatap tajam kearah Aira.


Melihat keduanya semakin mendekat, Romeo pun berdiri, raut wajahnya berubah ceria, namun seketika menjadi binggung melihat mata Aira yang terlihat sembab dan memerah.


Doni menarik tangan Aira agar selalu berada di dekatnya.


"Don, kenapa Aira ada di sini ?" tanya Romeo heran.


Setelah memandangi wajah Doni sesaat, Romeo kembali melihat ke arah Aira yang hanya menunduk.


"Ceritanya panjang,"


"Sini Aira, " Doni mengarahkan Aira agar duduk di sampingnya.


Mereka berdua pun duduk di sebuah kursi panjang yang terbuat dari stanlessteell.


Tari menatap Aira semakin tajam, ia semakin tak senang dengan kehadiranya.


Tari pun merangkul lengan Romeo sambil menatap tajam kearah Aira yang tetap tertunduk.


Romeo duduk di samping Doni sementara Tari duduk disisi lain Romeo.


Doni menceritakan semua yang di ceritakan Aldi kepadanya, sementara Aira tak membuka suara sedikit pun, ia hanya tertunduk sambil sesekali menghapus Air matanya.


Doni terus melanjutkan ceritanya, sambil berdiskusi dengan Romeo tentang penyelesaian masalah Aira.


Aira menyandarkan tubuhnya pada sandaran yang ada di belakangnya, tatapan matanya jauh menerawang kedepan,ia sendiri tak mendengarkan apa yang di bicarakan Doni, meski Doni berada di sampingnya. namun lamunannya buyar, ketika ia merasa seseorang menyentuh tangganya dan menggenggam erat tanganya.


Aira melihat siapa yang menyentuh tangannnya tersebut, dan pandangang mata Aira tertuju pada Romeo yang tengah menatapnya sendu.


Romeo menggenggam lembut tangan Aira, sembari membisikan isyarat hatinya.


Aira tak membalas tapi juga tak menepis sentuhan tersebut, ia sendiri tak tahu apa maksud Romeo, mungkin saja Romeo hanya menyampaikan rasa simpatynya atas masalah yang di tengah hadapi nya saat ini


"Jadi menurut gue, sebaiknya Aira tinggal di kosan Dasty, dengan begitu ia akan aman, sampai menunggu Aldi pulang," tutur Doni sambil melirik ke arah Romeo.


"Kalau gitu gue titip Aira disini sama kalian berdua ya, gue jemput Dasty dulu, ntar kita sama-sama kekos-an Dasty kali saja masih ada kamar kosong untuk Aira."


Doni beranjak dari kursinya, seketika itu Romeo melepaskan genggaman tanganya pada Aira.


"Aira, abang tinggal dulu ya," ucap Doni dan hanya di jawab anggukan oleh Aira.


Kini tinggal mereka bertiga, suasana menjadi hening sepeninggalan Doni.


Romeo juga tak tahu harus berkata apa, ingin bicara atau sekedar menyapa Aira, ia takut akan membuat Tari cemburu, sedangkan Tari tanganya tetap merangkul lengan Romeo sambil menatap mengawasi Aira.


Sekian puluh menit mereka bertiga habiskan dalam keheningan.


"Gue lanjutin kerja saja, "ucap Romeo sambil beranjak,sementara Tari terus membuntuti Romeo.


Romeo tetap melanjutkan pekerjaanya, tak sedikit pun suara keluar dari mulut mereka bertiga.


Aira masih tetap diam, pandangan matanya pun lurus di hadapan.


Hingga kembalinya Doni dan Dasty.


Doni dan Dasty turun dari mobil menghapiri mereka.


"Aira ayo kita pergi," ajak Doni.


Aira yang tadinya hanya menunduk menatap layar handphonenya, kini menoleh kerah Doni.


Lagi-lagi Aira mendapatkan sorot mata tajam dari seorang perempuan yang takut kekasihnya di rebut olehnya.


Seperti Tari, Dasty pun merasa kehadiran Aira hanya menjadi parasit dalam hubungan kisah asmara mereka, padahal dalam hati Aira tak sedikit pun ia bermaksud ingin merebut Doni ataupun Romeo, hatinya sudah tertambat pada cinta Aldi, dan perasaan itu semakin kuat, ketika ia mengandung benih cintanya bersama Aldi, meski Aira sendiri tak menyadarinya.


Mereka pergi berempat, Doni dan Dasty duduk di depan, Aira, Tari dan Romeo.


Tari memang sengaja berada di antara Aira dan Romeo.


Aira merasa berada di antara orang asing, karna kedua pasangan tersebut, mereka hanya bicara dengan pasangannya masing-masing, meski merasa sendiri, tapi Aira lebih nyaman seperti ini, ia memang membutuhkan kesendiran dari pada banyak pertanyaan yang membuatnya merasa semakin terbebani.


Mereka pun sampai, Dasty dan Doni langsung menuju pemilik kos an yang tinggal di samping kosannya, mereka langsung menggukapan keinginan mereka untuk menyewa satu kamar kosong untuk Aira.

__ADS_1


Mereka pun menuju kamar kos Aira, Romeo dan Tari hanya menunggu di luar, karna tempat tersebut tak bisa di masuki secara beramai-ramai.


Setelah deal dan membayar Dp mereka memutuskan untuk pulang, mengingat waktu hampir magrib.


Dasty tak mengijinkan Doni untuk mengantar Aira, jadi dengan terpaksa Romeo dan Tari yang mengantar Aira, Tari juga tak mengijinkan Romeo hanya berduan dengan Aira di dalam mobil, mereka pun sepakat setelah mengantar Aira, Romeo pun mengantar Tari kembali, meski ia harus memutar jalan kembali.


Aira masuk ke dalam rumahnya yang sepi dan tak berpenghuni.


Karna permintaan Doni kepadanya, Aira pun langsung menuju kamar dan mengepak pakaian.


Setelah memasukan pakaianya ke koper agar siap untuk pindah besok pagi.


Aira kembali merasa perutnya bergejolak, ia pun langsung menuju kamar mandi dan memuntahkan sesuatu dari dalam perutnya, karna seharian ia tak makan, ia hanya memuntahkan air.


"Pasti maagku kambuh lagi," gumanyan.


Aira menuju dapur untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan. Setelah melihat tak ada apa pun yang bisa di makan, ia mengorder makanan melalului pelayanan pengantaran makanan.


Aira meremas bagian perutnya yang terasa pedih, tubuhnya pun terasa hangat.


Aira menunggu pengantaran makanan untuknya, ia tinggal sendiri di rumah itu, sementara Ia tak tahu keberadaan ayahnya di mana.


Tapi Aira juga tak peduli dengan ayahnya, ia mengira ayahnya pasti sedang berjudi di luar, karna ia yang melarang ayahnya membawa teman-temanya kemari.


Terdengar suara ketukan pintu, Aira mengira seseorang yang akan mengantarkan makanan padanya, tanpa canggung ia pun membuka pintu tersebut.


Aira kaget karna melihat seorang yang berada di hadapanya kini, secepat mungkin ia mencoba menutup pintu, tapi terhalang oleh tangan kekar seorang pria.


"Mau apa kemari?" tanya Aira ketakutan.


Aira pun berjalan mundur untuk menghindari pria yang menatapnya dengan mesum.


"Tenanglah Aira, aku tak kan berbuat kasar padamu," ucapnya sambil mendekati Aira perlahan dengan senyum menyeringai.


Aira semakin ketakutan.


"Mau apa kau?" tanya Aira kembali dengan gemetar.


"Aku semakin pernasaran terhadapmu sayang, kau makin cantik dan menggemas kan saja, ayolah Aira layani aku sekali saja, dan aku janji tak akan mengganggu mu lagi," ucap Pria itu sambil menggigit bibirnya, ia semakin berhasrat karna melihat wajah dan bentuk tubuh Aira yang semakin menarik, apalagi kulit putih Aira yang terlihat mulus dan kencang, sungguh menggugah seleranyanya.


Aira menelan salivanya, tubuhnya gemetaran.


Pria tersebut tak sabar, ia pun kemudian berjalan cepat menuju Aira, Aira mencoba berlari tapi tangganya berhasil di tangkap oleh Pak Retno.


"Lepaskan!" teriak Aira meronta.


Pak Retno langsung membungkam mutut Aira dan mengunci tanganya agar tak bergerak, kemudian menyeret tubuh Aira membawanya masuk ke sebuah ruangan.


Aira berusaha meronta dan berteriak tapi Retno semakin kuat membungkam mulut Aira, setelah sampai di kamar, Retno langsung menghempaskan tubuh Aira di atas tempat tidurnya.


"Ak," Aira berteriak.


"Tolong! "pekiknya kembali, tapi tak ada seseorang pun yang bisa mendengarnya.


Aira menangis meringkuk melihat Pak Retno melepaskan pakaianya, pria tersebut semakin bergairah melihat mangsanya yang tak berdaya.


Aira berada di dalam cengramanya sekarang, meski memberontok sekeras apa pun ia tak kan mampu mendorong tubuh besar dan kekar tersebut.


Si tua Retno semakin bergairah melihat Aira yang meliuk-liukan tubuh nya karna berusaha meronta-ronda, kaki menindih p*h*Aira agar tak bisa lari, ia pun mencoba mencumbui bibir Aira, tapi selalu di tepis oleh Aira.


***


Romeo merasa gelisah, ia pun memutar kembali mobilnya untuk menemui Aira kembali, setelah mengantarkan Tari.


Aira sudah tak berdaya, keringat mengucur di sekujur tubuhnya, tubuhnya menjadi lemas tak bertenaga, meski begitu ia tak mau menyerah, lebih baik ia mati dari pada harus melayani situa Retno, dengan tenaga yang masih tersisa, Aira coba mencari sesuatu yang bisa di gunakanya untuk senjata, Aira meraba raba sesuatu yang ada di atas nakasnya.


Retno sudah tak mampu lagi menahan gejolak harasratnya, puas mencumbui bagian tubuh Aira, ia pun menegakkan tubuhnya agar bisa membuka segitiga pengaman Aira, ia mencoba menarik segi tiga tersebut dengan cara merobeknya, tapi kemudian matanya membelalak ketika merasakan sesuatu menusuk perutnya.


Cengraman Retno perlahan mengendor, ia menyuntuh pisau dapur yang di tusukan Aira ke perutnya.


Melihat tubuh Retno yang tumbang bersimbah darah pada bagian perutnya, Aira menjadi gemetaran, ia panik dan ketakutan sendiri melihat darah yang mengucur dari perut Retno, percikanya pun menodai baju dan tangan Aira sendiri.


Aira semakin gugup, ia tak menyangka jika ia bisa melakukan hal nekat seperti itu, sementara Retno tumbang di atas tempat tidurnya.


Aira panik dan berlari, ia meraih tasnya kemudian membuka pintu kamar yang sudah di kunci oleh Retno.


Aira berlari dan membuka pintu rumah dan menjadi kaget ketika mendapati Romeo ada di depan pintu rumahnya.


Sampai di sini dulu ya gaes, jangan lupa like, komen, bunga' voteny, biar author semangat, satu lagi yg spesial dari author untuk kamu, author akan rekomendasikan novel yg bagus untuk mu, siapa tahu kamu suka.


__ADS_1


Semua wanita menginginkan sebuah cinta dan kesetiaan,. Namun semua itu tidak berlaku untuk sosok wanita bernama Jessica, ia lebih suka menjadi duri dari pada harus menjadi bunga mawarnya. Ia tak pernah menyesal menjadi orang ketiga dalam sebuah rumah tangga yang utuh.


Jessica mempunyai alasan di balik semua tindakannya. Apa kira-kira alasan Jessica melakukan semua ini? Yang penasaran langsung saja ikutin novel ketiga othor dengan judul 'Jerat Cinta Jessica'


__ADS_2