
Aldi mendekati Aira, nafasnya terlihat lemah dan teratur, tanpa sadar air mata menetes di pipinya saat melihat wajah Aira.
Perasaan bersalah mulai menghinggapi Aldi,baru sehari Aira di rumah ini, tapi ia tak bisa melindungi Aira dari cedera.
Meski ia mengutuk perbuatanya karna telah lari bersama pria lain, tapi sejujurnya Aldi tak bisa untuk membencinya.
Aldi mendekat ia merebahkan tubuhnya untuk berbaring di samping Aira, detak jantung Aira bahkan terdengar lirih di telinganya, saat itu wajah Aira terlihat tenang.
Aldi mengusap lembut kening Aira yang terasa hangat, harus nya ia dan Aira tengah berbahagia saat ini, Aldi teringat akan janjina pada Aira, bahwa ia tak kan meninggalkanya dalam keadaan apapun.
Aldi mendekapnya nya dan mencium Aira berulang kali, ia pun menyapu lembut kening Aira.
Aldi tidur dalam keadaan memeluk Aira, sesekali ia menciumnya, namun tak sedikit pun Aira bereaksi.
Aira terbangun saat merasa ada yang menindih tubuhnya, setelah membuka matanya, pandanganya beralih pada sosok Aldi yang ada di hadapanya.
Aira merasakan hanganya dari sapuan lembut nafas Aldi, ia begitu rindu untuk merasakan saat-saat ini.
Aira menggeser sedikit tubuhnya, ia tak ingin saat bangun, Aldi kembali bersikaf dingin padanya karna tanpa sengaja mereka bersentuhan.
Saat Aira menggeser sedikit tubuhnya, Aldi malah terbangun dan mulai membuka matanya.
Aldi melihat tanganya merangkul tubuh Aira, Aldi pun menarik tangannya seraya menjauh, ia pun bangkit dan langsung menuju kamar mandi.
Entah apa yang ada di hatinya, saat Aira terbangun, justru rasa iba dan kasih sayang yang semalam ia rasakan kini menghilang.
Ia kembali teringat dengan pengkhiatan Aira terhadapnya, ia masih belum bisa menepiskan rasa ego dan angkuhnya sebelum Aira meminta maaf padanya.
Aira sendiri sudah merasa kecewa terhadap Aldi, ia juga merasa jika kehadiranya di rumah itu hanya karna anak yang ada di dalam rahimnya, dan setelah anak itu lahir, ia dan Aldi tak ada hubungan apapun.
Dingin dan sunyi, suasana yang terasa di kamar tersebut, bahkan tak ada satu pun dari mereka yang mampu mengucapkan sepatah katapun, keduanya sama-sama terbawa suasana hati, apalagi Aira yang kini perasaanya semakin sensitif saat mengetahui Aldi pergi bersama wanita lain, sedangkan Aldi, ia ingin mendengarkan Aira mengucapkan perminta maafanya terlebih dahulu.
__ADS_1
Setelah memakai pakaian kerjanya, Aldi langsung meninggalkan Aira yang menatapnya dingin.
Aldi turun menuju meja makan untuk sarapan, di sana sudah ada Heru yang tengah menyerup secangkir minuman hangatnya.
"Di gue mau ngomong sama lo," Heru.
"Ngomong aja," sahut Aldi datar.
"Kamu gimana sih Di, masak kamu terima gitu aja perjodohan kamu dan Laura, kamu ngak mikir apa perasaan Aira?"
"Emangnya Aira mikir perasaan gue saat dia lari bersama Romeo, dia pikir gue ngak sakit hati apa? atau memang sebelum ini mereka sudah merencanakannya, atau mereka menggambil kesempatan yang ada."
"Lo pikir gue ngak sakit apa, membayangkan dia bersama laki-laki lain selama berhari-hari, tinggal bersama dan mengaku sebagai pasangan suami istri, hati gue sakit, gue kayak ngak ada harga diri di mata dia, dan sampai sekarang tak ada kata perminta maaf atau apapun dari dia mas," ujar Aldi dengan kecewa.
"Iya mas Heru ngerti Di, tapi bukan begitu caranya, kamu itu suaminya harusnya kamu cari tahu alasan kenapa Aira lari dari rumah, mungkin saja Aira punya alasan tertentu hingga dia pergi bersama Romeo, lagi pula, Aira itu masih remaja, belum dewasa, pikirannya masih pendek dan hanya mengandalkan emosi sesaat saja, kamu coba dekati dia dan bicarakan masalah kalian secara baik-baik."
Aldi menarik nafas panjangnya", Lo aja tanya ke dia kenapa dia lari bersama mantan kekasih nya itu," cetus Aldi.
Aldi hanya diam, sulit baginya menjelaskan secara terperinci kepada Heru.
"Lagi pula, kalau gue yang tanya ke Aira,rasanya ngak pantes, kamu dong yang tanya ke dia," sambung Heru.
Aldi hanya diam, ia pun menghabiskan sarapanya.
Mbok Jum terlihat membawa nampan berisi mangkok dan susu.
"Mbok Jum mau kemana?" tanya Aldi.
"Mau ngantar sarapan ke non Aira mas," sahutnya sambil berlalu.
"Tolong jagain Aira, kalau terjadi sesuatu langsung telpon Aldi mbok."
__ADS_1
"Iya Den, " sahut mbok jum.
Setelah selesai sarapan Aldi dan Heru langsung menuju tempat kerja mereka masing-masing.
"Mas aku ada meeting di luar kota, sekalian peninjauan lahan untuk pembuatan pabrik kita yang baru." ujar Aldi yang berjalan beriringan dengan Heru.
"Iya Di, mas juga ada meeting dengan perusahaan jasa konstruksi untuk pembangunan pabrik kita yang baru itu, kita bagi tugas aja dulu, biar cepat selesai masalah ini, maklum saja pihak pemda sudah memberi peringatan agar pabrik tersebut harus segera pindahkan secepat mungkin, karna beberapa warga yang komplen dengan masalah limbahnya." Heru.
"Aku ngak ngerti kenapa karyawan kita bisa seceroboh itu, ini masalah besar loh, kalau mereka sampai demo dan menuntut pabrik kita di tutup, kita bisa mengalami kerugian mas, bahkan mungkin pabrik kita bisa gulung tikar mas," papar Aldi.
"Mas yakin tindakan ini di sabotase Di, mereka sengaja merusak pipa pembuangan kita, " sahut Heru.
"Ya sudalah nanti kita bahas lagi," ucap Aldi sambil berjalan menuju mobilnya.
Begitu pun Heru yang langsung menuju mobilnya.
***
Sore harinya Aira hendak mandi, ia pun melepas selang infusnya sendiri.
Kepalaya terasa pusing saat ia bangkit dari tempat tidur, seketika Aira tumbang di lantai.
Mbok Jum dan bidan Wati masuk ke kamar Aira, mereka kaget melihat Aira yang tergelatak si lantai.
"Non Aira."
Ups, crazy up author nih, ceritanya makin seru nih reader jangan lupa dukungan nya ya, like, komen sebanyak2 vote dan bunga juga boleh dan yang tak kalah seru nih, reperensi baru nih novel keren karya pinkanmiliar.
__ADS_1
Auw keren bgt nih yakin ngak mau mampir?