
Matahari bersinar cerah, secerah wajah Aldi di pagi ini.
Mereka baru saja menuntaskan mandi bersamanya, sekalian menuntaskan hasrat mereka, meski harus melakukanya di kamar mandi dengan gerakan seadanya.
"Mas, biar Aira bantu pakai bajunya," ucap Aira yang memasukan botol infus kedalam lengan kemeja Aldi, kemudian ia menarik selangnya dan kembali menggantung nya pada tongkat besi.
setelah itu Aira menggancingkan kemeja Aldi satu persatu, senyum Aldi kembali terukir di wajah pucat Aldi.
"Terima kasih ya sayang atas service dadakanya," bisik Aldi kemudian menggigit pelan bibir Aira.
Aira tersenyum simpul," Pantesan aja pagi-pagi ngajak mandi bareng, ngak tahunya minta service," dengus Aira.
"Alah, kamu juga semangat kan, sampai melengkuh-lengkuh, " sahut Aldi sambil mencolet hidung Aira.
Aira hanya melempar senyum sekilas.
"Ngomongin apaan sih mereka,"dengus Heru dengan ngenes, karna tanpa sengaja mendengar mereka.
Setelah membantu Aldi menggenakan pakaianya, Mereka membawa Aldi ke sebuah ruangan untuk melakukan endoskopi pada bagian lambungnya.
"Mas, bagaimana lambungnya? masih sakit?"tanya Aira.
"Masih sayang, nanti saat endoskopi, kamu harus tetap bersama mas Aldi ya, sayang, nanti mas Aldi di anastesi, takut saat mas Aldi pingsan, eh malah ngak bangun-bangun lagi untuk selama-lamanya," ucap Aldi sambil menggenggam erat tangan Aira.
"Ih ngak usah ngomong gitu ah, Aira ngak akan pernah sanggup kehilangan mas Aldi," sahut Aira sambil menyandarkan kepalanya pada dada bidang sang suami.
Heru mengurus segala keperluan admistrasinya, setelah beberapa saat menunggu, Aldi pun di persilah kan masuk.
Aldi di suruh untuk berbaring di atas tempat tidur, sementara seorang dokter menjelaskan bagaimana prosedur melakukan endoskopi.
Aldi menarik nafas, ia merasa takut, karna bagian perutnya ada yang di sayat.
Dokter berserta assisiten perawatnya mempersiapkan segala sesuatu nya sebelum menyuntikan obat bius kepada pasien.
"Sayang, mas takut," ucap Aldi kepada Aira.
"Ih Mas Aldi cemen banget sih, tenang aja Aira akan setia menunggu mas Aldi sampai mas Aldi siuman," ucap Aira.
"Tapi sebelum mas Aldi pingsan cium dulu ya." pintanya sambil cengegesan.
"Ish, malu tau, ada dokter dan perawat," tolak Aira.
"Ngak apa juga, mereka juga masih sibuk," pinta Aldi dengan sedikit memaksa.
Aira mulai meragu, ia melihat kearah dokter dan perawat yang sedang membelakangi mereka tersebut.
Aira pun buru buru mencium bibir Aldi, tapi siapa sangka kejadian itu tertangkap mata oleh dokter, dan membuatnya berdehem.
"Ehm, sudah siap?"tanya dokter ketus.
Seketika wajah Aira memerah, karna kepergok kedua orang petugas kesehatan tersebut.
Aira menarik wajahnya, ia begitu malu, hingga tak mampu menggangkat wajahnya yang memerah, sementara Aldi ia terlihat cuek.
Suster tersebut menyuntikan obat bius pada selang infus Aldi, saat itu Aira merasa Aldi menggenggam erat tanganya, dan dalam beberapa saat genggaman tanggan tersebut melemah seiring mata Aldi yang tertutup.
Aira di minta untuk keluar dari ruangan tersebut, karna mereka akan melakukan penyayatan pada bagian perut Aldi.
__ADS_1
Setelah mengusap rambut Aldi, ia pun keluar dari ruangan tersebut, disana sudah ada Tari dan Heru, menunggu kabar dari Aira.
Seperti biasa, Tari dan Heru selalu terlihat acu, entah apa yang membuat mereka seperti orang yang tak saling mengenal, meski Aira tahu keduanya saling menyayangi sebagai saudara.
"Bagaimana keadaan Aldi, Aira?" tanya Heru.
"Sedang dalam pemeriksaan Mas, Aira ngak sanggup melihatnya, jadi Aira memilih menunggu di luar."
"Ya sudah, mas Heru saja ya, yang masuk?"
"Iya Mas, silahkan saja."
Aira melihat punggung Heru yang perlahan masuk keruang pemeriksaan tersebut, kemudian ia melirik kearah Tari yang terlihat manyun.
"Mbak kenapa sih? asem banget mukanya"tanya Aira.
"Gue kesel sama Romeo, bisa bisanya dia bilang kalau dia ngak cemburu dengan Sandy, kelihatan banget dia ngak sayang sama gue," hiks, tuturnya dengan sedih.
"Sabar saja mbak, Aira rasa bang Romeo bukan ngak cemburu, tapi di tutupinya saja," sahut Aira.
Ehm, Tari melirik kearah Aira sambil menyeritkan dahinya.
"Masak sih? tapi kan gue juga pingin di bujuk dan di rayu sama dia, kalau dia diam mana gue tahu perasaanya."
"Mbak ikutin cara Aira saja, kita lihat reaksi bang Romeo selanjutnya."
"Maksud kamu?" tanya Tari.
"Maksud Aira, kalau memang bang Romeo bilang ngak cemburu sama si Sandy, ya udah mbak Tari panas-panasin aja bang Romeonya.
"Ehm, tapi gue takut Aira, gimana kalau Romeo menganggap gue selingkuh, trus dia malah dan menceraikan gue gimana? "
"Ngak lah mbak, Aira yakin bang Romeo bukan type seperti itu."
"Ehm, gimana ya?"Tari ragu.
"Esh, masih ragu, mbak belum pernah merasakan bahagianya di cemburui oleh pasangan kita mbak, habis cemburu-cemburuan, trus kangen-kangenan, mantap banget mbak, itu salah satu bumbu rumah tangga yang membuat ikatan cinta kita semakin erat sama pasangan hidup kita, mbak, percaya deh," papar Aira.
"Yakin loh?"
"Yakin," ucap Aira sambil mengacungkan jepolnya.
Kurang lebih satu jam, pemeriksaan Aldi pun selesai.
Heru keluar dari ruangan tersebut dengan wajah yang ceria.
"Syukurlah Aira, Aldi baik-baik saja," ucap Heru.
"Alhamdullilah Mas,"Aira menakup telapak tangan pada wajahnya.
Dalam keadaan setengah sadar Aldi di bawa kembali menuju ruang perawatan.
"Mbak karna hasil peneriksaan pasien baik-baik saja, besok pasien di ijin kan untuk pulang," ucap perawat tersebut kepada Aira.
"Iya mbak terima kasih," sahut Aira sambil menakup kedua tangan ke dadanya.
Aira merasa senang karna tak ada seseatu yang membahayakan suaminya.
__ADS_1
Romeo mendatangi rumah sakit, selain untuk melihat keadaan Aldi, ia juga bermaksud menjemput istrinya.
Romeo membuka pintu ruang perawatan Aldi dan melihat mereka tengah berkumpul di tempat tidur Aldi.
"Eh abang, baru pulang?" tanya Aira basa-basi.
"Iya, gimana keadaan Aldi?"tanya Romeo.
"Alhamdullilah, besok sudah boleh pulang," sahut Aira.
"Oh syukurlah,"ucap.Romeo yang melirik ke arah Tari yang terlihat acu terhadapnya.
Karna merasa kehadirannya tak dianggap, Romeo beralih duduk sendiri di sofa, sementara Tari tersenyum simpul, karna dirinya berhasil mencueki suaminya, meski ia merasa berat untuk melakukan itu.
Sore harinya mereka di kejutkan dengan kedatangan seseorang di kamar Aldi.
Seorang pria tampan, tinggi, berkaca mata dan memakai jas putih, dan dapat di pastikan dia lah lelaki yang bernama Sandy.
"Permisi!"ucap Sandy ketika berada di depan pintu.
Sontak mereka semua menoleh kearahnya.
Eh, Sandy! mari masuk, "Tari menghampiri Sandy seraya mempersilahkanya masuk.
Sementara wajah Romeo seketika berubah melihat Tari yang lebih perhatian terhadap Sandy.
Tari berjalan beriringan dengan Sandy dan menuntunnya mendekati Aldi.
"Ehm, San, perkenalkan ini adek gue, dan ini istrinya, "ucap Tari sambil melirik kearah Romeo.
"Oh, aku pikir, yang cewek ini, adek kamu, tapi kok umur kalian sama?" tanya Sandy heran setelah melihat data pasien yang ada di tempat tidur Aldi.
"Oh, aku sama Aldi cuma beda tiga bulan, karna kami saudara satu ayah, beda ibu," papar Tari.
Aira menaikan alisnya seraya tersenyum simpul kearah Tari, sesekali ia melihat wajah Romeo yang terlihat kesal.
Begitupun Aldi, ia tersenyum sumbang melihat Tari yang bersikap demikian terhadap lelaki asing di hadapan suaminya.
Setengah jam Sandy berada di sana dan ngobrol santai bersama mereka, kemudian ia melirik jam tanganya, seraya pamit.
"Tari gue cabut dulu ya."
"Hah, kok cepat banget San?"
"Ehm, gue ada praktek mandiri, lain kali kita bertemu lagi, kamu udah save nomor aku kan?"tanya Sandy.
"Oh udah dong, kapan-kapan kita ngobrol lagi," ucap Tari, seraya beriringan berjalan mengantar Sandy hingga ke muka pintu.
Romeo mendengus, matanya tajam melihat kearah Tari.
Dengan santainya, Tari menghampiri Romeo.
"Kita pulang yuk Rom," ajak Tari sambil menjangkau tas selempangnya yang ada di sofa.
Romeo pun bangkit, tanpa bicara sedikit pun ia pergi meninggalkan tempat tersebut.
Bersambung, dukung author terus ya.
__ADS_1