Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Bagaimana Akhirnya.


__ADS_3

Ghael menyusun pakaianya di dalam koper, meski hari ini hari sabtu, ia harus berangkat ke luar kota guna mengawasi pemasangan mesin produksi perusahaan Aldi.


Alia berada di meja riasnya hanya melirik lewat pantulan cermin ke arah Ghael.


Tiga koper penuh Ghael bereskan pakaiannya, rencananya ia akan menyimpan koper tersebut di rumah Suci agar kelak Suci bisa mengirim barang-barangnya setelah ia sampai di Singapura.


Tiga hari berlalu sejak Ghael memberi waktu untuk Alia berfikir, itu bearti empat hari lagi ia akan berangkat, waktu begitu mendesak karna ia akan pergi keluar kota selama tiga hari, dan hanya satu malam saja ia akan menginap di kamar ini lagi sebelum ia berangkat ke Singapura.


Tiga hari, tapi Alia belum memberi keputusan, atau memang keputusannya sudah bulat.


Padahal hari ini ia bisa ikut menemani Ghael keluar kota, tapi nyatanya Alia lebih memilih berdiam diri di rumah.


Kecewa, sedih, perasaan tersebut sudah tak mampu di bendung oleh Ghael,namun ia hanya bisa mengadukan hal tersebut pada Tuhanya di setiap sujud malamnya.


Ghael berharap pintu hati Alia terbuka sebelum dia benar-benar pergi ke Singapura.


Makanya di hari terakhir, sebelum hari keberangkatannya ia masih memberi kesempatan pada Alia untuk terakhir kalinya.


Ghael berharap kepergianya keluar kota selama beberapa hari ini,bisa membuat Alia berpikir lagi.


Dua koper sudah siap, kebetulan saat itu Aldi sedang mengantar Aira bekerja, jadi ia lebih leluasa untuk membawa koper-koper tersebut tanpa di intrograsi terlebih dahulu.


"Selesai juga." Ghael.


Ghael siap berangkat, "Alia Abang pergi dulu, jaga diri kamu, Assalammualaikum," ucap Ghael di ambang pintu.


"Waalaikum sallam," sahut Alia yang hanya melirik ke arah Ghael.


Tak ada kecupan apa lagi pelukan hangat mengiringi kepergiannya.


Bola mata Ghael memerah menahan perasaan sedihnya.


Ia pun mendorong koper-koper tersebut menuju ke mobil, kemudian memasukkanya kedalam bagasi mobilnya.


Beruntung ketika Aldi tiba, Ghael sudah selesai menyimpan koper-kopernya hingga Aldi tak melihat jika ia membawa hampir semua pakaiannya.


Aldi menghampiri Ghael.


"Bang! Abang pergi sendiri?"tanya Aldi.


"Iya Yah,"jawabnya singkat karna ia tahu pertanyaan Aldi selanjutnya.


"Kenapa ngak bawa Alia?"tanya Aldi, ia pun turun dari mobil.


"Ngak apa Yah, kasihan Alia pasti dia lelah, Alia sedikit stress memikirkan kasus hukum yang menimpa klienya jadi biar saja dia beristirahat."Ghael.


"Tapi Bang, Kamu kan beberapa hari lagi berangkat ke Singapura, harusnya weekend seperti ini kesempatan bagi kalian untuk menghabiskan waktu bersama, gimana sih!"dengus Aldi.


"Iya Yah mungkin lain kali, Abang berangkat dulu Ya,"ucap Ghael sambil menyalami Aldi.


"Iya Bang hati-hati Ya Bang."Aldi.


"Iya Yah."Ghael masuk mobil kemudian berlalu dari tempat tersebut.


Aldi menatap heran kepergian Ghael.


"Heran, biasanya pengantin baru seperti mereka masih lengket-lengketnya, aku saja pengantin usang masih lengket ngak mau jauh dari istri ku,"guman Aldi seraya menggelengkan kepalanya.


***

__ADS_1


Matahari bersinar cerah pagi ini.


Waktu menunjukan pukul tujuh pagi, tapi kedua insan yang tidur dalam satu kamar tersebut, belum juga terbangun padahal rencananya pukul delapan pagi mereka harus berangkat.


Edo menunggu dengan gelisah," Apa dosisnya berlebihan ya sampai sekarang mereka belum bangun juga?" gumannya.


Edo terus mengawasi gerakan keduanya dan memang ternyata tak ada pergerakan yang terjadi di atas ranjang.


Mereka berdua memang tidur pulas sepanjang malam.


***


Alita meliukkan tubuhnya, matanya masih begitu berat ia meraba-raba bantal guling dengan mata yang terpejam, dan tanpa sadar tanganya menyentuh dada bidang Bagas.


Ehm


Ia pun meraba-raba dada Bagas dengan mata yang tertutup ketika menyadari hal yang terasa aneh, ia pun mencoba membuka matanya dan betapa kagetnya ia ketika melihat Bagas tertidur di sampingnya.


Karna syok Alita secara spontan menarik tanganya yang tanpa sengaja memeluk Bagas tersebut, hingga membuat Bagas juga tersadar.


"Akhhh!!!"


Teriak Alita ia pun bangkit, sementara pak Yanto dan Edo yang mengawasi keduanya tertawa.


"Yes berhasil!"Edo.


Bagas secara spontan juga bamgkit karna mendengar teriakan Alita.


"Ada apa?"tanya Bagas kaget, ia pun mengucek-ngucek matanya.


"Bapak! kenapa tidur di sini?!"tanya Alia dengan emosi.


Bagas pun menarik selimut untuk menutup dadanya yang indah, sementara Alita menatapnya dengan lekat.


"Ehm, ehm, kenapa aku bisa tidur di sini Alita?"tanya binggung sambil mengacak-acak rambutnya.


Alita menelan salivanya melihat Bagas yang hanya memakai celana pendek, ia pun curiga Bagas melakukan sesuatu yang tak senonoh.


Sementara dari luar Pak Yanto dan Edi menghampiri kamar mereka berdua, karna mendengar teriakan Alita.


Tok tok tok.


Suara pintu di gedor beberapa kali.


"Alita kamu kenapa?!" tanya Edo dari luar.


Keduanya pun binggung, Bagas menempelkan jari telunjuk ke bibirnya agar Alita tak kembali berteriak.


Suasana terasa mencengkam, mereka berdua masih sama-sama binggung.


Edo pun bereaksi dan pura-pura mendobrak pintu yang tak terkunci tersebut.


Duar.. pintu terbuka mereka pun masuk dan menemukan keduanya yang terlihat binggung.


Alita gemetaran, seketika ia merasa takut.


"Kalian?! Kenapa kalian bisa tidur sekamar seperti ini!"teriak Edo pura-pura marah.


Alita menangis," Hiks hiks ngak tahu Pak! saya juga ngak tahu kenapa pak Bagas tidur di sini, hiks hiks." Alita menangis tergugu.

__ADS_1


Edo memulai aktingnya melirik tajam ke arah Bagas.


Suasana terasa mencengkam saat itu, Jantung Bagas berdetak tak karuan ketika melihat tatapan curiga Edo.


Sementara pak Yanto yang tak pandai berakting itu langsung keluar kamar dan menjauhi, ia sudah tak tahan untuk tertawa.


"Ck ck ck Sialan pak Edo, pintar sekali dia akting, persi seperti akting Reza Rahadian dalam film Ainun & Habibie."


Ck ck ck, ia kembali tertawa melihat wajah bego Bagas yang melongo karna binggung.


"Rasain loh, siapa suruh susah move-on, di kerjain loh sama pak Edo, Bagas emang nasib loh punya bapak gila kayak pak Edo."pak Yanto


***


"Tapi Yah, a-aku juga ngak tahu kenapa aku bisa tidur di sini," jawab Bagas gugup.


Pak Yanto kembali setelah puas tertawa, ia penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Bagaimana mungkin kamu ngak tahu Gas! pintu kamar kalian itu di kunci!Apa yang kamu lakukan?!" teriak Edo masih dengan sandiwaranya.


"Ehm pak Edo, sebaiknya jangan keras-keras pak, jika warga kampung sini tahu akan kejadian ini, mereka bisa marah dan membakar pak Bagas hidup-hidup," ucap Pak Yanto sesuai skenario yang di rancang oleh pak gubernur yang kocak tersebut.


Bagas semakin terpaku, tubuhnya ikut bergetar.


Sementara Alita menangis meringkuk.


"Masih ngak mau ngaku kamu Gas?!" ucapnya lirih tapi penuh penekanan.


"Bukan ngak mau ngaku Yah, tapi aku memang merasa ngak melakukanya," sahut Bagas semakin gemetaran, tak pernah sedikit pun terlintas di benaknya untuk menodai seorang gadis, Bagas sangat menjaga diri karna ia tak ingin berlaku bejad seperti ayah biologisnya.


"Ehm Baiklah," ia pun melirik kearah Alita yang masih menangis meringkuk menutupi wajahnya.


Edo menghampiri Alita, "Alita sayang, kamu jangan sedih ya, belum tentu juga Bagas melakukan tindakan asusila kepada kamu, sekarang kamu periksa ke kamar mandi bagaimana keadaan kamu," tuturnya pura-pura membujuk.


Alita menggangguk ia pun menggeser posisinya, saat itu baru terlihat noda seperti bercak darah di atas sprey.


"Tunggu ini!" tunjuk Edo kearah bercak noda tersebut, ketika Alita menggeser duduknya.


Tatapan Bagas dan Alita langsung tertuju pada bercak yang ada di sprey tersebut.


Alita syok, ia pun melirik ke arah bagian bawa tubuhnya dan melihat celana piyamanya yang juga terdapat noda yang sama.


"Kamu datang bulan Alita?"tanya Edo bersandiwara.


"Ngak Pak! Hiks hiks hiks, "seketika Alita gemetar ia pun menangis sejadi-jadinya.


Sementara itu Bagas masih melongo melihat bercak yang mirip bercak darah tersebut berkali-kali ia menelan ludahnya, tak percaya tapi ini terjadi.


Bagas menarik napas panjang, kemudian menghembuskanya dengan berat, ia pun menjambak rambutnya kemudian mengusap wajahnya dengan kasar.


Tatapan Edo kembali mengintimidasi Bagas, membuat Bagas semakin gelisah tak karuan.


"Kamu harus tanggung jawab Gas! Nikahin Alia!"Bentak Edo.


Bola mata Bagas membulat sempurna, beberapa kali ia menelan salivanya.


"Tapi Yah aku_"


Bersambung, masih penasaran?! up lagi ngak nih! mana semangatnya! komen dong!!!!10 komen author up lagi, author juga butuh semangat guys

__ADS_1


__ADS_2