
Arsyad dan Nisa saling berhadapan satu sama lainnya. Setelah beberapa ritual sebelum pertunangan yang telah di lakukan, kini saatnya mereka berdua saling menyematkan cincin.
Arsyad membuka kotak cincin berwarna merah terbuat dari lapisan bludru.
Aldi sekeluarga terlihat bahagia, melihat Arsyad yang tumbuh dewasa, tak terasa waktu berlalu. Setiap harinya kebahagian selalu menghampiri keluarga mereka.
Keduanya saling melempar senyum bahagia dengan wajah yang merona.
Arsyad kemudian menarik telapak tangan Nisa dan mulai menyematkan cincin di jari manis Nisa.
"Nisa cincin ini aku sematkan sebagai pengikat sementara di antara kita. Aku harap kau tak akan melapasnya dan menggantinya dengan cincin yang lain sampai aku menggantinya dengan cincin pernikahan kita."
"In sya Allah Shad, " ucap Nisa tersenym.
Kini giliran Nisa yang menyematkan cincin tunangan mereka ke jari manis Arsyad.
"Aku berharap kamu tak akan lupa dengan janji kamu Syad. Jika suatu saat kamu ragu tentang hubungan kita, Aku persilahkan kamu untuk melepasnya. Dan aku akan selalu menanti keputusan kamu."Nisa pun menyematkan cincin tersebut ke jari manis Arsyad.
"Aku janji tak akan mengecewakan kamu," ucap Arsyad seraya mencium punggung tangan Nisa.
Aira tersenyum seraya berbisik ke telinga Aldi.
"Si Adek udah mulai bucin Yah."Aira.
"Hm, Sepertinya," Guman Aldi.
Setelah bertukar cincin, mereka pun menggelar doa bersama untuk keselamatan Arsyad dan Nisa yang masing-masing akan menempuh jalan berbeda setelah ini.
Selesai acara, keluarga tersebut pun berkumpul untuk merencanakan hubungan putra putri mereka selanjutnya.
Dari pihak Nisa sendiri di wakili oleh pamannya.
"Jadi setelah Arsyad benar-benar lulus dari kuliahnya. Barulah pernikahan kita bicarakan lagi. Dari sini kita bisa melihat kesetian dari masing-masing mereka. Bertunangan selama lima tahun dan tak akan bertemu kembali selama itu, apakah hubungan itu bisa bertahan? Karna saya tak ingin Nisa di sia-siakan. Saya yang akan menjaga Nisa di pondok pesantren tersebut." Paman Nisa.
"Bagaimana Dek? Kamu setuju ngak. Jika selama lima tahun ini kamu ngak boleh bertemu secara tatap muka. Hanya boleh lewat sambungan telpon saja." Aldi.
"Iya Yah, Tak masalah." Arsyad.
Mereka pun tersenyum dengan keputusan Arsyad.
Setelah perbincangan resmi tersebut, Arsyad membawa Nisa ke balkon rumahnya. Di sana mereka bicara secara empat mata.
"Nis, setelah lima tahun nanti, apa yang terjadi dengan dunia ini?" tanya Arsyad.
Nisa tersenyum." Yang jelas bumi masih berputar. Bumi juga masih berotasi pada sumbunya."
"Aku juga tahu itu. Maksud ku bagaimana kita bertemu nanti, setelah lima tahun berpisah.Apa kau tak rindu pada ku?"
"E-hm. Rindu sudah pasti Syad. Paman ku benar, jika memang kita berjodoh sepanjang apa pun rentang waktu yang memisahkan kita pasti bertemu."
"Kamu benar Nisa. Untuk sementara kita saling percaya dan menjaga saja. Aku percaya kamu akan jaga diri kamu untuk aku syad."
"Aku juga percaya kau akan kembali untuk ku Syad, "ucap Nisa.
__ADS_1
Hm. Arsyad menggangguk.Keduanya pun saling melempar senyum, saling percaya tentang cinta mereka. Nisa dan Arsyad menatap langit malam dengan taburan bintang yang cerah. Secerah masa depan yang mereka dambakan.
***
Beberapa hari kemudian.
Arsyad mengepack barang-barang yang akan di bawanya. Karna hari ini Arsyad akan berangkat untuk melanjutkan study nya ke negri kincir angin.
Begitupun Nisa. Karna mereka telah tamat sekolah, Nisa memutuskan untuk belajar dan mengabdi di pondok presantren.
Mereka memutuskan untuk mengejar cita-cita masing-masing sebelum menglangkah ke arah hubungan yang lebih serius.
Keduanya keluar dari kamar hampir bersamaan.
Arsyad tersenyum ke arah Nisa seraya menarik kopernya.
Begitupun Nisa.
Hari ini adalah hari terakhir mereka bertemu, jika Tuhan mengijinkan mereka akan di pertemukan lima tahun lagi. Dalam ikatan suci pernikahan.
Nisa tampak cantik dengan balutan busa muslim syar'inya.
Keduanya hanya bisa saling melempar senyum. Hari ini Nisa akan keluar dari rumah tersebut dan berniat untuk hijrah.
Nisa juga menghibahkan dan mewakafkan semua aset milik orang tua, untuk pembangunan masjid dan pembangunan pondok pesantren hanya menyisakan sedikit untuknya.
Keduanya melangkah dengan hati yang mantap, untuk mengejar cita-cita, sebagai bakti untuk kedua orang tua.
Sementara Nisa, karna orang tuanya sudah meninggal, ia hanya bisa berbakti dengan memperbanyak amal-amal baiknya.
Keduanya langsung menghampiri Nisa.
Nisa menghampiri Aira, sebelum ia berangkat.
Dengan penuh haru ia menghambur memeluk Aira.Begituh pun Aira, hari ini ia harus melepas Arsyad dan Nisa sekaligus, merestui mereka demi cita-cinta yang telah mereka rancang.
"Bunda! Hiks hiks. Terima kasih karna sudah membantu Nisa selama ini. Maaf jika Nisa sering merepotkan.Nisa pamit," ucap Nisa seraya menangis memeluk Aira.
"Sama-sama nak. Jaga diri kamu baik-baik ya," Ucap Aira.Ia sudah tak bisa berkata-kata sedih, haru, dan bangga terhadap pilihan mereka masing-masing.
"Iya Bunda. In shaa Allah Bunda."
Keduanya pun saling mengurai pelukannya.
Nisa pun mendekat kearah Aldi yang juga terihat sedih. Nisa memeluk Aldi dan menangis dalam dekapan hangatnya. Selama beberapa bulan tinggal di rumah tersebut ia bisa merasa hangatnya kasih sayang dari seorang ayah. Aldi adalah sosok hangat yang mengayominya. Nisa kembali menangis menghambur memeluk " Ayah, Nisa pamit terima kasih telah sudi menerima Nisa di sini.Terima kasih atas bantuannya, hiks hiks." Nisa.
"Iya Nak. Jaga dirimu baik-baik."Aldi.
Setelah mengurai pelukannya Nisa pun menghampiri Alia dan Ghael.
"Kak Nisa pamit, terima kasih atas semuanya. Semoga Tuhan membalas semua kebaikan kakak dan keluarga."
"Aamiin." Alia. Mereka pun saling berpelukan dan menitikan airmata haru.
__ADS_1
Nisa menarik kopernya menghampiri Arsyad yang menitikan air mata harunya. Lima tahun kedepan mereka baru bisa bertemu kembali.
"Terima kasih Syad. Terima kasih karna telah menolong ku.Hampir saja aku melakukan dosa yang sangat besar, yakni dengan mencelakai diri sendiri.Terima kasih karna menyimpan nama ku di hati mu. Aku akan terus menunggu mu untuk menjemputku." Nisa
"Aku pasti datang menjemput kamu, terkecuali aku mati." Arsyad.
"Aku pamit, sampai jumpa lagi, "ucapNisa sambil menarik kopernya.
Nisa melangkah meninggalkan tempat tersebut dengan bulir air mata yang menetes pada setiap jalan yang ia lalui.
Mobil pamannya sudah menunggu di luar.
Mereka pun mengantar kepergian Nisa hingga ia memasuki mobilnya.
Dari dalam mobil Nisa melambaikan tanganya ke luar jendela mobil.
Mereka pun membalas lambaian tangan Nisa.
Yang paling terlihat sedih adalah Arsyad.
Arsyad memeluk Aira dari belakang menutupi kesedihannya.
Setelah kepergian Nisa dari rumah itu.
Mereka pun bersiap mengantar Arsyad ke bandara.
***
Sepanjang Jalan Arsyad memeluk Aira. Ia pasti akan merindukan kasih sayang dan kehangatan keluarganya setelah berada jauh di negri orang. Meski selama beberapa bulan sekali Arsyad akan pulang
"Dek jaga diri baik-baik ya di negri orang Dek, jangan lupa ibadahnya.Kamu harus sering-sering telpon Bunda Dek."
"Iya Bun. Doain Arsyad ya Bun. Semoga Arsyad bisa dengan cepat menyelesikan.sekolah Arsyad. Jadi kita bisa berkumpul lagi."
"Tentu saja Nak. Doa ibu akan selalu yang terbaik untuk anaknya."Aira.
Sesmpainya di bandara Arsyad kembali berpamitan.
"Bunda Arsyad pergi." Arsyad memeluk dan mencium Aira melepaskan rasa haru perpisahan mereka.
Aira pun memeluk haru putranya tersebut. Sebenarnya sedih melepas Arsyad pergi.Namun, ia harus terlihat kuat. Agar Arsyad juga kuat. Ini semua demi citanya.
Begitupun Aldi yang letih menahan rasa harunya melepas putra kesayangannya.
Meski sedih Arsyad mantap melangkah menuju pesawat yang akan membawanya ketempat tujuan.
***
Nisa sampai di pondok pesantren. Sesampainya di sana ia, mengganti pakainya dengan pakaian yang lebih syar'i serta menggunakan cadar.
"Bismillah hijrah." Nisa.
Bersambung guys. Aduh akan kah pernikahan terjadi setelah lima tahun berpisah. Hm.gimana nasib Dinda dan siapa jodohnya? Episode selanjutnya.
__ADS_1