Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Menjemput Nisa


__ADS_3

Setelah dari makam Arsyad langsung mengantar Nisa pulang.


"Nisa kamu pulang se-sore ini, ngak di marahin tante sama om kamu? " tanya Arsyad yang sedikit khawatir.


Waktu sudah menunjukan pukul tiga sore saat itu.


"Ngak, aku sudah biasa di marahi kok.Apa yang aku lakukan selalu salah. "


"Kalau gitu , besok biar aku jemput kamu ya? Biar aku yang ijin sama om dan tante kamu. Kalau perlu sekalian saja aku undang mereka. " Arsyad.


Nisa melirik Arsyad sekilas kemudian tersenyum simpul.


"Ehm nekad banget mau ajak aku ke acara rumah kamu? Belum terntu juga aku di ijinin. " Nisa.


"Kamu tenang saja Nisa, aku akan berusaha agar kamu dapat ijin untuk pergi besok. "


"Hm, yakin banget, 'sahut Nisa sambil tersenyum.


Mereka pun tiba tepat di depan rumah nando.


Nisa membuka seat beltnya.


"Aku turun duluan Syad. Terima kasih karna sudah menemani aku hari ini, " ucap Nisa.


"Kembali kasih," sahut Arsyad.


"Eh Nisa aktifkan terus handphone kamu nanti aku telpon kamu."


"Hm iya. Aku turun dulu. "


Nisa pun membuka pagar rumahnya, untung saja Om dan tantenya belum pulang dari kantor mereka.


Gladis menatap sinis ketika melihat Nisa yang baru tiba dengan mata yang sembab habis menangis.


"Dari mana loh? pulang sesore ini?! " tanya Gladis dengan sinis.


"Dari makam orang tua gue," sahut Nisa singkat.


Nisa pun menuju kamarnya.


"Nisa tunggu! "


Nisa berhenti. "Siapa yang mengantar loh pakai mobil mewah tadi? "tanya Gladis.


"Oh dia hanya teman, "sahut Nisa ia pun kembali menuju kamarnya.


"Ngak mungkin, itu pasti mobil om-om tajir kan? loh pasti jadi simpanan om-om tajir.ya? hayo ngaku loh! " tuduh Gladis.


Nisa melirik ke arah Gladis yang memandangnya rendah.


"Kalau ngomong Hati-hati kamu,"sahut Nisa ketus.


"Oh sudah berani ya kamu?!Sekarang juga kamu strika pakaian aku, dan beresin kamar aku! "titah Gladis.


"Iya aku simpan tas dulu," ucap Nisa, ia pun kembali ke kamarnya.


Setelah menyimpan tas dan mengganti pakaiannya Nisa kembali menemui Gladis.


Memang tugasnya untuk menyetrika pakaian seluruh orang di rumah tersebut.


Tubuh Nisa masih merasa lemas, ia juga merasa lelah tapi seterikaan setumpuk sudah di depan mata.


Nisa membawa seterikaan di kamarnya.


Ketika tengah menyetrika, handphonenya berbunyi dan panggilan tersebut dari Arsyad.


Arsyad melakukan panggilan video call.


Sambil menyetrika mereka pun ngobrol, meski Nisa lebih fokus dengan kerjaannya dan Arsyad hanya melihat Nisa dari sambungan Video call-nya.


"Nisa kamu menyerika sebanyak itu? " tanya Arsyad melihat setumpuk pakaian di atas meja Nisa.


Nisa menggangguk lirih.


"Kamu bicara saja Syad aku nyimak saja," ucap Nisa.


"Kamu kerja saja, biar aku lihat wajah kamu," balas Arsyad.


Nisa tersenyum seraya melirik ke arah layar smartphone-nya.

__ADS_1


"Nah kalau senyum gitukan manis," goda Arsyad.


Nisa pun kembali tersenyum.


Tiba-tiba terdengar suara teriakan Mala dari luar ruangan.


"Nisa! Nisa! "


"Ehm suara siapa Nisa?" tanya Arsyad.


"Syad aku matiin video call kita dulu ya. Aku takut jika tante ku tahu aku punya smart phones nanti bisa di sita lagi olehnya. "


"Ngak usah di matiin, sembunyikan saja, biar aku bisa dengar semua apa yang di katakan oleh tante mu. "


Hm. Nisa menyembunyikan ponsel pintarnya di bagian yang sedikit tersembunyi.


"Nisa! "teriak Mala semakin nyaring, karna Nisa tak menyahut seruannya.


Bruk ...pintu kamar Nisa di dobrak meski pintu tersebut tak terkunci.


"Ada apa Tante? " tanya Nisa kaget.


"Dari mana saja kamu?! kata Gladis kamu baru saja pulang di antar oleh seseorang dengan mobil mewah?!" tanya Mala sambil menyilangkan lengannya di dada.


"Ehm, iya dia teman ku."


"Hah! Ngak mungkin! pasti kamu di antar om-om tajir kan?! sudah pandai jual diri kamu hah?! " tanya Mala sambil menjambak rambut Nisa.


"Ampun tante hiks hiks hiks.Sumpah dia teman ku! dia emang punya mobil mewah itu," ucap Nisa sambil menangis berusaha melepaskan cengraman tangannya.


"Dasal ja*lang masih kecil sudah mau jadi pe*lacur kamu! "


"Ampun Tante! aku tak serendah itu! dia memang hanya teman hiks hiks hiks , lepaskan Tante Sakit! " Annisa menahan napasnya merasakan sakit dari cengraman Mala yang menjambak rambutnya.


"Hiks hiks sakit !"keluh Nisa,ia pun berlutut sambil menangis.


Mala melepaskan cengramannya.


"Orang tua kamu saja baru mati Nisa! sekarang kamu mau bikin kita semua malu karna kelakuan bejad kamu? !"


Hiks hiks, Nisa masih merintih merasakan perih di bagian kepalanya.


Hiks hiks hiks, Nisa hanya bisa menangis pasrah.


Mala keluar dari kamar Nisa kemudian kembali menutup pintu dan menguncinya, tinggalah Nisa menangis meringkuk.


Arsyad mendengar semua apa yang terjadi pada Nisa, ia pun sudah merekam semua perlakuan Mala pada Annisa.


Nisa masih menangis tergugu di salah satu sudut tempat tidurnya.


Beberapa saat kemudian ia menghampiri handphonenya dan mematikan sambungan telpon dari Arsyad, setelah itu Nisa menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur dan kembali menangis sampai ia lelah dan tertidur dengan sendirinya.


Arsyad terlentang menatap langit-langit rumahnya.


'Apa yang harus ku lakukan untuk mengeluarkan Nisa dari rumah itu?' batinya.


***


Keesokan harinya Arsyad sudah berada di depan rumah Nando. Ia sengaja membawa mobil mewahnya yang kemaren.


Tok tok tok


Pintu di buka oleh seseorang.


"Arsyad," sapa Gladis, yang ternyata teman satu kelas dengan Arsyad.Ia sedikit syok melihat Bagas


"Mari masuk." Gladis memperlebar daun pintu.


Arsyad tersenyum ke arah Gladis dan langsung masuk.


Gladis sudah ge-er duluan. Ia mengira jika Arsyad datang untuk mengunjunginya.


"Silahkan duduk Syad, "ucap Gladis dengan jantung yang berdebar-debar.


Arsyad pun duduk di sofa yang berada di ruang tamu.


"Sebentar ya Syad, aku bikin minum dulu," ucap Gladis.


"Hm iya."

__ADS_1


Arsyad duduk sambil melihat-lihat keadaan sekelilingnya, ia pun meraih ponsel pintarnya kemudian mengirim pesan ke Nisa.


📩 from Arsyad.


Nisa aku ada di rumah tante kamu. Kamu bersiap saja.


Nisa hanya membaca tanpa membalas pesan dari Arsyad.


***


Gladis menghampiri Mala.


"Mami, aku mau kenalkan pacar aku sama Mami. Dia itu anak pengusaha terkenal bernama Reynadi, Mamanya salah satu inspektur polisi. Dan kakaknya pengacara hebat. Dia juga atlet basket berbakat Mami. "


"Hah! Pak Reynaldi pengusaha pengolahan kayu yang terkenal itu? " tanya Mala meyakinkan.


"Iya siapa lagi. Ayo Mami aku perkenalkan mumpung orangnya ada." Gladis pun menarik tangan Mala untuk menemui Arsyad.


"Hai Syad, perkenalkan ini mami aku, "ucap Gladis.


Mala heran melihat Arsyad.


"Kamu?! "tanya Mala.


"Ehm, tante saya Arsyad, karna Gladis teman sekelas saya bermaksud mengundang tante pada acara aqiqah adik dan keponakan saya,"ucap Arsyad sambil menyodorkan undangan.


Mala meraih undangan tersebut, matanya membulat sempurna melihat nama dan foto Aldi yang tertera di undangan, Ia pun menatap Arsyad langsung.


Nando keluar.Melihat Arsyad, seketika emosinya naik.


"Kamu?! " bentak Nando.


"Papi tahan dulu, dia itu putranya pak Reynaldi Alfian, pengusaha yang mensuport proyek kita," bisik Mala.


Ehm, Nando terdiam.


"Ehm iya, saya anaknya pak Reynaldi .Om, saya boleh ijin membawa Nisa untuk menghadiri acara aqiqah di rumah saya?"


Gladis kaget, karna ke datangan Arsyad bukan untuk menjemputnya melainkan menjemput Nisa. Bola matanya pun membulat dan melotot.


Nando dan Mala saling melempar pandangan.


Mereka jadi dilema, apakah harus mengizinkan Nisa atau tidak.


Jika ia menolak, ia yakut jika Arsyad akan melapor kepada ayahnya.


Setelah menimbang nimbang mereka pun Membiarkan Nisa untuk ikut bersama Arsyad.


***


Arsyad akhirnya berhasil membawa Nisa dengan ijin Nando dan Mala. Mereka langsung menuju mobil mewah yang terparkir di depan rumah mereka.


Mereka menatap kepergian Nisa dan Arsyad.


Mala semakin emosi.


"Huh! kenapa anak itu selalu beruntung. " Mala.


Gladis merasa kecewa, ia pun menyunggingkan senyum tipis.


"Gladis, kenapa Nisa bisa dekat dengan anaknya pak Reynaldi, padahalkan mereka tak satu sekolah! Harusnya kamu yang bisa dekat-dekat dengan Arsyad, percuma dong Mami sekolahkan kamu di sekolah mahal tapi ngak bisa dapat cowok tajir seperti Arsyad. " Mala.


"Ehm, aku juga ngak tahu Mami, jika Nisa punya hubungan khusus sama Arsyad. Padahal dari dulu Arsyad itu incaran ku," dengus Gladis.


"Ehm tak boleh di biarkan, Mami akan. cari cara untuk memisahkan mereka. "


"Ehm, maksud Mami apa? "tanya Gladis binggung.


Mala menyunggingkan senyum tipisnya.


"Lihat saja Nanti. "


Bersambung.


Mohon dukungannya.


Like


saran

__ADS_1


komentar dan hadiahnya


__ADS_2