Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Calon Imamku


__ADS_3

Bagas berhenti ketika Ghael menghadangnya.


"Ada apa?"tanya Bagas.


"Aku peringatkan pada mu Gas,jauhin Alia!" seru Ghael sambil menolak pelan Bagas.


"Apa urusannya dengan kamu! aku dan Alia sudah resmi pacaran, kami juga saling mencintai,"papar Bagas.


"Apa? Aku ngak salah dengar?"tanya Ghael yang tak percaya.


"Aku dan Alia pacaran, karna kami saling mencintai!"ucap Bagas tegas.


Ghael terdiam sedikit syok, karna ia tahu jika Alia bukan gadis yang dengan mudah menerima seorang pria bahkan mereka sering shearing dan bercerita tentang beberapa orang menyatakan cinta kepadanya namun selalu ia tolak, Alia cering curhat di telpon ketika Ghael berada di luar negri.


Bagas menghidupkan mesin motornya dan melaju meninggalkan Ghael yang terdiam.


Ghael menatap kepergian Bagas selama beberapa saat.


"Apa benar yang di katakan Bagas, semudah itu kah Alia menerima cintanya?"


Ghael masuk kedalam mobilnya, ia kembali binggung.


"Apa aku tanya langsung ya pada Alia?"


"Ah sebaiknya jangan, sebenarnya Alia bebas menentukan pilihannya, aku saja yang tak berani mengutarakannya, karna terlalu takut jika ia akan menjauhiku, tapi jika tak ku katakan bagaimana dia bisa tahu tentang perasaanku terhadapnya."


Ghael semakin dilema, ia pun kembali menemui Alia untuk memastikan keadaanya, sekaligus mencoba menggungkapkan perasaannya.


Ghael menuju rumah Alia, ia masih ragu untuk menyatakaan perasaannya.


Sesampainya di rumah tersebut, rumah masih terlihat sepi, ini merupakan kesempatan baginya untuk menyatakan perasaanya.


Ghael menuju kamar Alia.


Tok..tok..tok..


Ia langsung mengetuk pintu kamar Alia.


Tak lama kemudian Alia membukakan pintu.


"Eh Abang, dari mana Bang?"tanya Alia ia pun keluar dari kamarnya.


"Ngak dari mana-mana, dari tadi nungguin kamu pulang," dengus Ghael mereka pun duduk di sofa bersebelahan.


"Kok nungguin Alia pulang sih Bang?"dengus Alia


"Habis mau nunggu siapa lagi, Abangkan ngak punya teman di sini Alia."Ghael.

__ADS_1


"Loh kenapa ngak ajak Alita, dia kan calon istri Abang?" sahut Alia.


"Hm Alia jika Abang boleh jujur, Abang ngak cinta sama Alita dan Abang juga berencana membatalkan perjodohan dengannya, tapi AbangĀ  bingung bagaimana cara mengutarakannya pada orang tua Abang, Alia."Ghael.


Alia menatap kearah wajah Ghael.


"Hm tapi kenapa Bang?apa sudah ada wanita lain yang mengisi hati Abang?"tanya Alia sambil menatapnya dengan lekat.


Ghael mengangguk.


Alia menghempas napas beratnya, ia juga binggung harus bagaimana.


"Alita dan orang tuanya pasti kecewa Bang, tapi jika memang begitu, lebih baik perjodohan itu ngak usah di lanjutin dari pada akhirnya nanti justru menjadi penyesalan, aku akan kasi pengertian ke Alita Bang, biar dia ngak berharap terlalu jauh,"ucap Alia sedih.


Ia merasa sedih dengan pemaparan Ghael, karna ia sendiri tahu perasaan Alita pada Ghael, meski begitu ia juga harus berkata jujur pada Alita dari pada Ghael melanjutkan perjodohan tersebut dengan terpaksa.


Ghael menatap ke arah Alia," Kamu sendiri dengan Bagas sudah sampai dimana hubungan kalian?"tanya Ghael seraya melirik ke arah Alia.


"Ehm, aku sama Bagas sudah jadian kok Bang, tapi jangan bilang sama Ayah Bunda dulu yah, untuk sementara Alia rahasiain dulu, sampai Bagas punya kerjaan tetap ," papar Alia dengan bahagia.


"Kamu yakin sama Bagas? kamu kan belum kenal benar siapa dia? kenapa kamu berani menerima dia sebagai pacar kamu?"


"Hm Alia yakin kok Bang, sepertinya Bagas sudah berubah, bukannya jika kita cinta sama orang, kita harus bisa menerima kekurangan dan kelebihannya Bang?"


"Tapi Alia, Apa kamu ngak merasa apa jika selama ini aku punya perasaan khusus terhadap kamu," ucap Ghael seraya meraih tangan Alia.


"Maksud Abang?"tanya Alia seraya menatap Ghael dengan bola mata yang berpendar.


"Iya Alia aku sudah lama mencintaimu, tapi aku ngak berani mengatakannya," ucap Ghael.


Alia semakin syok, karna ia tak pernah menyangka hal itu, Ghael memang selalu melindunginya ketika mereka bersekolah sebelum ia pindah, tapi Alia tak memiliki perasaan lebih terhadapnya, karna menganggapnya saudara.


"Alia, aku janji akan membahagiakan kamu, berilah Abang kesempatan Alia, kita mulai dari awal lagi hubungan kita, " ucap Ghael sambil menggenggam erat tangan tangan Alia.


" Hah! tapi itu ngak mungkin Bang! kita itu bersaudara walau ngak bersaudara kandung, Apa jadinya jika kita menjalin hubungan sementara Abang sudah di jodohkan sebelumnya dengan Alita Bang, apa kata Lita dan keluarganya!"


Alia mengatur napasnya yang sedang memburu, karna ia sendiri benar-benar syok.


"Kalau Abang ngak suka sama Alita, silahkan cari wanita lain Bang, jangan Alia, karna persahabatan Ayah, om doni dan papa Abang yang akan jadi taruhannya," ucap Alia ia pun pergi dan masuk ke kamarnya.


Ghael menatap kepergian Alia, ia pun menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa.


"Huh sudah ku duga, pasti begini akhirnya," ujarnya seraya menghempaskan napas beratnya.


***


Aira dan Aldi baru saja tiba di rumah mereka, keduanya naik menuju kamar dengan bergandeng mesra.

__ADS_1


Melihat Ghael yang sendirian di kursi, mereka pun menghampirinya.


"Abang! kapan datangnya, kok sendirian di sini? Alia mana?"tanya Aira yang duduk berhadapan dengan Ghael.


"Ngak kok Aunty tadi baru saja dia masuk ke kamar, aku juga sudah ingin pulang."


"Oh gitu." Aira.


" Bang, besok Abang mulai bekerja, uncle akan perkenalkan Abang kepada seluh staf dan direksi sebagai salah satu perusahaan uncle."Aldi.


"Iya uncle,terima kasih," Ghael.


***


Sementara di kamar Alia menangis, ia merasa sedih tentang nasib sahabatnya, satu sisi ia sedang bahagia bersama Bagas, satu sementara ia juga menghawatirkan perasaan Alita.


"Ya Tuhan bagaimana perasaan Alita jika Abang tak mencintainya, tapi malah memiliki perasaan terhadap ku hiks, apa yang harus ku katakan padanya?"


"Bagaimana cara ku mengatakannya agar tak menyakiti Alita?"


"Tapi jika aku tak jujur dari sekarang, justru kasihan sama Alita dan Abang."


Alia mondar-mandir di dalam kamarnya, ia sendiri binggung bagaimana cara mengatakan kepada Alita tentang perasaan Ghael terhadapnya, agar Alita dan keluarga tak terlalu berharap.


Baru saja hendak menelpon Alita, Alia sudah mendapat panggilan dari Bagas.


"Hallo sayang,"sapa Alia yang langsung menjawab sambungan telponya.


"Hallo sayang, suara kamu kok parau habis nangis ya?"tanya Bagas.


" Ehm ngak kok, ada apa kamu telpon aku, ngak mungkin kangen kan?" Alia.


"Kangen sih selalu sayang, tapi aku punya berita baik," ucap Bagas menggantung.


"Berita baik apa?" tanya Alia penasaran.


"Ehm, besok aku mendapat panggilan untuk interview, doain ya semoga aku lulus dan dapat di terima kerja." Bagas.


"Ehm, Alhamdullilah, iya pasti aku doakan yang terbaik untuk kamu selalu." Alia.


"Ehm kalau gitu, aku kemasjid dulu ya, sudah azan, "ucap Bagas memang saat itu terdengar suara azan hingga ke sambung telpon mereka.


Alia tersenyum, "Hm hati-hati ya calon imamku "Alia.


"Ehm, terima kasih atas doanya calon istri ku, i love you." Bagas.


"Love you too," ucap Alia sambil menutup sambungan hand phonenya.

__ADS_1


Alia tersenyum kembali sejenak ia melupakan masalahnya.


__ADS_2