
Heru membopong tubuh Aldi menuju kamar, saat itu Aldi masih mengigau menyebut-nyebut nama Aira," Aira tega sekali kamu Aira, apa kurang nya mas Aldi sama kamu Aira," ucapnya sambil menangis menggigil.
Heru meletakan tubuh Aldi di atas tempat tidur, setelah melihat keadaanya cukup tenang, ia pun meninggalkannya sendiri.
Heru merasa sedih melihat adiknya nya terlihat terpukul atas berita larinya Aira bersama Romeo.
***
Aira terbangun saat merasa perutnya terasa lapar, Aira membuka jendela kamarnya dan melihat beberapa orang gadis dan ibu-ibu mandi ke sungai.
Aira pun menghirup udara segar yang berada di daerah pegunungan itu, ia menghela dengan panjang dan membuangnya dengan perlahan setelah merasa kucup rilex, ia keluar dari kamarnya dan menuju kamar Romeo.
Aira menghampiri Romeo yang masih tertidur.
"Bang, bangun bang," ucap Aira sambil mengguncang tubuh Romeo.
Setelah beberapa kali mengguncang tubuh Romeo, Romeo pun mulai bereaksi dan menerjab-nerjabkan matanya.
Saat membuka matanya, ia melihat Aira berada di sampingnya.
"Eh Aira, baru aja buka mata, eh udah lihat bidadari aja, serasa berada di surga aja nih," ucapnya sambil tersenyum menggoda Aira.
"Belum mandi aja cantik," tambahnya sambil mencolek dagu Aira, sembari bangkit.
Aira hanya tersenyum simpul.
"Udah gombalnya bang? Aira lapar, ayo kita cari sarapan, karna Aira ngak bakalan kenyang hanya dengan makan rayuan gombal dari abang." degus Aira.
Romeo tersenyum mendengar kata-kata Aira, kemudian ia bangkit dan meregangkan tubuhnya.
"Kamu mau sarapan apa sayang?" tanya Romeo.
"Pingin makan yang seger bang, buah-buahan musim panas, seperti nanas, mangga muda, atau jambu Air," ucapnya sambil menelan salivanya.
"Hah masih pagi, makan yang begituan, nanti sakit perut, udah kita cari sarapan aja tapi sebelum itu kita mandi aja dulu."
"Mandi di sungai yuk Aira, kayaknya banyak orang yang mandi di sungai tuh," ucapnya sambil melihat keluar jendela.
"Ngak mau ah, Aira takut ada buaya," cetus Aira.
"Ngapain takut buaya, buayanya sudah ada di sini loh," sahut Romeo sambil nyengir.
"Iya, tapi yang di depan Aira ini buaya darat, ngak menakutkan sama sekali,bikin kesal aja, Aira takut nya sama buaya muara."
"Ah ngak lah kan ada abang."
" Eh Aira kira-kira kalau buaya ketemu buaya apa jadinya ya?" tanya Romeo iseng, mereka pun berjalan beriringan.
"Berantem bang," sahut Aira dengan nada malas.
"Salah, kalau buaya ketemu buaya, ya mereka kawin, kalau positif ketemu negatip mereka ngapain?" tanya Romeo lagi.
"Ngak tahu bang," sahut Aira datar, ia malas meladeni Romeo.
"Kalau positif ketemu negatif ya nempel seperti abang sama kamu," paparnya sambil memeluk Aira dari belakang.
"Ish apaan sih abang nih." Aira menolak tubuh Romeo yang memeluknya.
"Kan cuma memperagakan, gitu aja marah, eh Aira kalau buaya dia berhubungan dengan lawan jenis nya gimana ya?" tanya Romeo, ia pun diam sejenak dengan dengan jari tunjuk mengarah ke samping keningnya.
"Jangan di bayangin bang, masih pagi udah ngeres aja," ucap Aira sambil menepuk jidat Romeo.
"Hehe, Abang kan cuma mancing, siapa tahu Aira Terpancing, namanya juga usaha," gumannya sambil teetawa terkekeh
Aira mengkerutkan bibirnya dan menatap Romeo dengan sinis, kemudian berlalu.
"Aira ganti baju dulu bang, kita cari makan di luar aja," ucap Aira sembari melangkah menuju kamarnya.
Romeo membuka pintu rumah mereka, dan melihat beberapa orang gadis belia yang hanya memakai kemban menuju sungai untuk mandi.
Jiwa keisengan Romeo pun memberontak untuk menggoda mereka.
"Hai para gadis, rame nih mau kemana?" tanya Romeo menggoda mereka.
Para gadis itu pun menghentikan langkahnya.
"Mau mandi di sungai bang," sahut salah seorang mereka dengan malu-malu.
"Oh, mau mandi, kirain mau nonton konser," cetusnya sambil tersenyum.
"Ah abang bisa aja, mandi yuk bang," ajak mereka pada Romeo.
"Hah ngajak abang mandi, ngak ah takut nanti di keroyok rame-rame, mana kuat," cetusnya lagi sambil nyengir.
"Ya udah bang, kita mandi dulu," ucap salah seorang dari mereka.
__ADS_1
"Iya hati-hati ada buaya,"
"Ngak ada buaya bang, disini, " sahut mereka sambil berlalu.
"Ada nanti abang yang jadi buayanya."
"Eh tapi tunggu dulu, kirim salam ya sama bapak nya!" teriak Romeo, karna mereka sudah sedikit jauh.
"Bapak siapa bang?" tanya salah seorang dari mereka.
"Bapak kamu, bilangin ntar malam abang kerumah," tambah Romeo.
"Kerumah, mau ngapain bang?" tanya seorang gadis yang sudah merasa geer.
"Mau pinjam duit," cetus Romeo ia pun cekikikkan.
"Pinjam duit yah, abang kiraiin mau melamar, " sahut seorang di antara mereka dengan nada kecewa.
"Melamar apa nya abang udah punya istri kok," ucapnya nyengir.
"Udah punya istri kok godain anak gadis orang bang, ngak marah ya bang, istrinya?" tanya mereka lagi.
"Ngak istri abang budek, ngak dengar dia, udah kalian mandi, nanti terlambat sekolahnya,"Romeo.
"Abis abang duluan, yang goda, jadinya kita tergoda deh," ucap mereka cekikikan secara serempak, mereka pun berlalu dari Romeo.
Aira tersenyum dan tertawa kecil mendengar ocehan Romeo, sejenak Aira melupakan kesedihanya.
Kehadiran Romeo memang selalu jadi penghibur hatinya.
Aira pun keluar dari kamar dengan perasaan yang lebih baik dari sebelum nya.
"Ayo bang kita pergi," ajak Aira, dengan terus saja berlalu.
"Tunggu abang Aira." ucap Romeo sambil memakai sendalnya.
Romeo pun berjalan lebuh cepat menyusul Aira, saat berpapasan dengan Aira, Romeo merentangkan tangganya untuk merangkul bahu Aira, mereka pun berjalan beriringan,
Untuk menuju parkir mobil yang berada di depan rumah pak Bayu.
Sesampainya di depan rumah pak Bayu, mereka bertemu dengan Anggi.
"Hai Rom," sapa Anggi.
"Hai," sapa Romeo datar.
"Kita mau cari makan di pasar terdekat," sahut Romeo lagi.
"Aku ikut boleh?" tanya Anggi lagi.
Aira dan Romeo saling memandang sejenak.
"Boleh," ucap Romeo setengah terpaksa.
Karna merasa di ijinkan ikut, Anggi pun ikut membuka pintu belakang mobil.
Beberapa saat kemudian, mereka bertolak menuju pasar terdekat.
Karna kehadiran Anggi diantara mereka, Romeo dan Aira menjadi canggung untuk ngobrol, sepanjang perjalanan mereka hanya diam, melihat keadaan hening, Anggi pun memulai obrolan,
"Mau cari makanan apa Rom?" tanya Anggi.
Romeo melirik ke arah Anggi sejenak kemudian kearah Aira kembali.
"Kamu mau makan apa sayang?" tanya Romeo kepada Aira.
Aira yang tadinya melihat keluar jendela mobil, kini mengalihkan pandangannya kearah Romeo.
"Aira ingin makan ayam bakar madu bang," ucapnya sambil mengusap perutnya.
"Oh. ayam bakar madu?jadi kamu maunya di bakar apa di madu sih sayang?" tanya Romeo dengan maksud bercanda.
"Ngak dua-duanya, dibakar ngak enak, apalagi di madu", cetus Aira.
"Kalau aku mau kok di madu, " cetus Anggi memotong obrolan mereka.
"Asalkan bersikaf adil saja," tambah nya lagi.
Romeo dan Aira saling memandang, Romeo merasa tak nyaman dengan ucapan dari Anggi, ia pun mengalih kan pembicaraanya pada Aira.
"Tenang aja sayang, kalau bersama abang, kamu ngak akan pernah abang madu kok, dan abang ngak kan pernah menduakan cinta kamu, sayang" ucap Romeo sambil meraih tanggan Aira dan menciumnya.
Melihat semua itu, Anggi mengkerutkan wajahnya dan bibirnya, ada perasaan tak suka di hatinya saat itu, sepanjang perjalanan pun ia hanya diam.
"Sayang kalau anak kita lahir, mau kita di panggil apa ya? mama- papa, ayah-bunda, atau papi-mami?" tanya Romeo kepada Aira, ia pun mengelus perut Aira.
__ADS_1
"Terserah apa saja bang, yang penting anaknya sehat dan selamat," sahut Aira.
"Pasti selamatlah, abang akan selalu menjaga kamu,"ucap Romeo secara sengaja, ia ingin agar Anggi mendengar ucapannya, dan tak ingin ada yang mengganggu hubunganya dengan Aira.
Anggi serasa di acukan, ia pun merasa menyesal telah ikut dengan mereka.
***
Aldi, Heru dan Doni mendatangi rumah keluarga Romeo.
Melihat kedatangan Aldi, ibunda Aldi langsung menghambur memeluk Aldi.dan menangis, "Maafkan mama ya Aldi, karna mama ngak bisa mendidik Romeo dengan benar ,hingga ia membawa kabur istri Kamu," ucap Suci yang menangis terisak sambil memeluk Aldi.
Aldi hanya bisa memeluk wanita yang menangis memeluknya tersebut, ia hanya bisa meneteskan air matanya.
"Mama tak mengerti kenapa semua ini bisa terjadi, kenapa Romeo bisa senekad itu, padahal kalian sudah bersahabat sejak lama, mama ngak habis pikir Aldi, bener-benar ngak habis pikir, wanita seperti apa yang di inginkan Romeo sebenarnya," ucap Suci terbata-bata karna menangis segegukan, mereka pun saling melepaskan pelukan.
Aldi mencoba untuk bersifat tegar, ia pun duduk di samping Heru.
"Jadi bagaimana apa sudah ada kabar tentang keberadaan mereka?" tanya Hadi lagi.
Seseorang bertubuh besar, berkulit hitam dan sangar pun berdiri.
"Kami sudah mendapatkan informasi terkini, katanya didesa gerundi semalam ada pasangan muda yang bertamu di kampung tersebut, dan mengaku sebagai pasangan suami istri, mereka tinggal bersama di sebuah rumah kontrakan milik kepala desa tersebut," papar Pria tersebut.
"Tinggal bersama dan menggakui sebagai pasangan suami istri ? gila apa yang telah mereka lakukan," guman pak Hadi.
Mendengar penuturan dari lelaki tersebut, hati Aldi semakin sakit, ia memalingkan mukanya kearah lain, sambil menahan air mata yang sudah menggenang, meski merasa sakit, tapi ia tak ingin menunjukan betapa ia begitu terluka.
Aldi menenangkan pirlkiranya, ia berusaha bersikaf tenang, dan tak ingin terlihat lemah.
Suci makin menangis mendengar berita yang disampaikan oleh pria tersebut.
"Tenang dulu pak, jangan berprasangka buruk terlebih dahulu, mungkin saja mereka tak berbuat apapun," sahut Heru.
Hadi mengganggukan kepalanya,"Benar juga kata kamu."
"Bagaimana Pak, apakah keduanya langsung di gerbek?" tanya pria yang berbadan tinggi tersebut.
"Jangan, gegabah, mereka berada di daerah yang kita sendiri tak tahu bagaimana adat istiadat di sana, biasanya di daerah yang terpencil, mereka memberlakukan hukum adat, aku khawatir mereka terkena adat di kampung tersebut, karna telah tinggal seatap tanpa hubungan yang syah," papar Heru.
"Hukum adat?" tanya Doni sembari melirik ke arah Doni.
"Iya hukum adat, bisa jadi kita di haruskan membayar dalam jumlah tertentu, tapi biasanya juga mereka akan di arak berkeliling kampung, sambil di cambuk, bayangkan saja apa yang terjadi dengan mereka seandainya itu terjadi," papar Heru.
Mendengar pemaparan dari Heru Suci semakin menangis," Anak ku Romeo jangan di sakiti, ya Allah lindingilah Romeo," ucap Suci masih dalam keadaan menangis meneluk Nadira.
"Kalau begitu kami harus bagaimana?" tanya Mata-mata yang di sewa Heru.
"Suruh anak buahmu mengikuti mereka, awasi terus gerak geriknya, sambil menunggu kita tiba di sana." Heru
"Dan saya mohon jika kita menemukan mereka, saya harap kita semua tenang, dan kita tak berbuat main hakim sendiri, ingat mereka berada di wilayah kekuasaan orang lain, aku tak mau mereka terkena hukuman dari warga disana, kita selesaikan masalah ini di sini saja," papar Heru.
"Iya aku mengerti, kalau begitu kita berangkat sekarang saja," ucap Hadi.
"Ayo." Heru
Mereka pun berjalan menuju mobil masing-masing.
"Thomas berapa waktu yang di tempuh untuk menuju tempat tersebut?" tanya Heru kepada mata-mata yang ada di sampingnya sedang mengemudi.
"Kira-kira enam sampai tujuh jam perjalanan Pak, jawab Thomas.
"Jauh juga ya, apa tidak bisa di percepat?" tanya Heru lagi,
"Ngak bisa pak, itu sudah di hitung dengan kecepatan yang lumayan tinggi, area yang kita lewati ini tidak mudah, kita harus melewati tanjakan dan turunan yang eksrim, jadi harus berhati-hati."
Aldi dan Doni berada di kursi belakang, Aldi terus tertunduk, ia menutupi wajah sedih dan kecewanya, Doni sebelumnya tak pernah melihat Aldi sesedih itu, padahal iya sering mendengar Aldi putus cinta, tapi tak membuatnya merana seperti ini.
"Maaf Di, ini semua juga karna gue, gue yang bawa Aira kebengkel hingga dia bertemu Romeo, tapi gue binggung saat itu Dasty juga cemburu terhadap Aira, dan dia ngancam akan memutuskan hubungan kami, jika aku tetap ngotot mengantar Aira pulang, dengan terpaksa aku menyuruh Romeo dan Tari yang mengantar mereka."
Aldi hanya diam, matanya menatap tajam kearah lurus.
"Dan satu lagi Di, di malam saat kejadian Aira dan Romeo menghilang, mertua loh melakukan percobaan pembunuhan ke pada Pak Retno Di, sekarang mertua loh tuh di penjara," ungkap Doni.
"Gue ngak peduli sama Aira dan keluarganya, gue cuma mau mencari dia karna dia mengandung anak gue Don, setelah dia melahirkan, gue akan jatuh kan talaq ke dia," ucap berapi-api tanpa menoleh kearah Doni.
Doni dan Heru tergaman menatap Aldi, tapi mereka juga mengerti terhadap perasaan Aldi yang masih emosi.
Sampai di sini dulu ya, kira2 ketemu gak mereka ya, di tunggu like, komentar dan dukunganya.
Buat kamu yang lagi gabut, mampir di novel autor yang lainya yuk dengan judul:
Ketika takdir menyatukan aku dan mereka
Pernikahan Tiara dan Arie tinggal tiga bulan lagi, semua perencanaan sudah matang, tapi Tiara malah memilih lelaki yang memperkosanya, seorang presiden direktur yang bersikaf arogan.
__ADS_1
Tak pernah merasa kan kebahagian rumah tangganya, Tiara mencoba merajut kasih dengan Arie kembali, dan saat Tiara dan Riki memutuskan untuk berpisah, Tiara harus mendapatkan kabar buruk, Arie di jodohkan dengan gadis yang menderita kanker otak, dengan berat hati Tiara menerima semuanya dengan iklas, ia harus melepaskan Riki dan Arie sekaligus, namun saat Tiara mencoba membuka hati nya pada pria lain, Riki malah datang untuk rujuk padanya, kisah sedih, suka duka Tiara dan Arie dalam meraih cinta mereka yang mengharukan dan dibumbui kisah romantis.