
βMengandung adegan dewasa, yang masih gadis, yang lagi LDR-an, dilarang mendekat, skip aja. nekad tanggung sendiri akibatnya β
Alia meraih bathrobenya kemudianΒ segera membuka pintu, jantungnya berdetak kencang saat itu, ia masih gugup jika harus berduaan bersama Ghael dalam satu kamar apalagi jika harus tidur seranjang dengannya.
Kreak...
Pintu di buka dan ternyata Bundanya yang mengetuk pintu.
"Bunda ada apa?"tanya Alia yang mengintip di balik pintu.
"Bunda ada tertinggal sesuatu Kak, sebentar."
Aira masuk ke kamar Alia untuk mengambil goodie bagnya yang tertinggal di atas nakas.
Setelah meraih goodie bag nya tersebut ia pun segera keluar dari kamar Alia.
"Hanya itu Bunda?"tanya Alia.
"Iya sayang, sudah tutup lagi pintunya," perintah Aira.
"Iya Bunda."
Setelah kepergian Aira, Alia kembali menutup pintunya, namun baru beberapa langkah suara gedoran pintu terdengar kembali.
Tok tok tok, tiga kali ketukan pintu.
"Aduh siapa lagi sih? aku belum ganti pakaian juga," dengusnya seraya membalikan badan untuk melangkah menuju pintu.
Kreaakkk... pintu terbuka dan Alia syok melihat Ghael yang ada di hadapannya sedang menatapnya dengan berbinar.
'Abang, aduh mana aku belum sempat ganti pakaian lagi, nanti di kiranya aku yang memancing-mancing dia lagi,' Batin Alia, ia pun memaku menghadang pintu.
"Abang ngak boleh masuk ya?"tanya Ghael seraya tersenyum manis karna tubuh Alia seperti menghadangnya.
Deg.
" Ehm ia Bang, lupa," jawab Alia seraya memperlebar daun pintunya.
Ghael pun masuk kedalam kamar mereka dan langsung mengganti pakaiannya.
Alia melangkah perlahan- lahan, kakinya gemetar membayangkan apa yang sebentar lagi Ghael lakukan terhadapnya.
Gael melepas jasnya kemudian menggantungnya di lemari gantung.
Sementara Alia melangah menuju salah satu sisi tempat tempat tidur, kemudian menyandarkan tubuhnya pada headboard.
Ghael membuka satu persatu kancing kemeja panjang berwarna putih tersebut.
Setelah kacing terbuka semua, ia pun menyibak kemejanya dan menaruhnya di dalam keranjang pakaian kotor.
Alia melirik ke arah dada bidang Ghael yang terlihat indah dalam pandangan kaum hawa. dengan tubuh yang tak terlalu besar tapi berotot, perutnya yang mencetak 6 kotak persegi empat membuat siapa pun yang melihat pasti tak akan meragukan ke perkasaanya.
Belum lagi kulitnya yang putih bersih tanpa cela dengan beberapa bulir keringat yang masih menempel pada tubuhnya.
Gleg
Alia menelan salivanya melihat bentuk tubuh Ghael yang nyaris sempurna.
__ADS_1
Setelah itu Ghael melorotkan celana putihnya dan hanya menyisakan celana boxernya saja.
Ghael langsung berjalan meraih handuk kemudian berjalan menuju kamar mandi.
Deg deg deg.
Jantung Alia berdetak semakin kencang, ia begitu gugup dan tak yakin apa dirinya mampu menyerahkan kegadisannya untuk seseorang yang tak ia cintai.
Alia pun segera berdiri mengganti linggerinya dengan piyamanya kembali.
Setelah mengganti pakaiannya Alia langsung berbaring di tempat tidur dan pura-pura tidur.
Beberapa saat kemudian Ghael keluar dari kamar mandi dalam keadaan yang rambut yang masih basah dan dengan liitan handuk sepinggang.
Ghael tersenyum melihat Alia yang berbaring dengan selimut tebal yang menutupi tubuhnya.
Ia pun menghampiri tempat tidur.
Alia merasa getaran pada tempat tidurnya ketika Ghael naik ke atas tempat tidur dengan lututnya.
Deg.
Alia menutup matanya semakin rapat berharap malam ini mereka tak sampai melakukannya.
Ghael mendekati Alia dengan perlahan merebahkan tubuhnya berbaring di samping Alia dan memeluknya.
Deg, Alia meremas sprei.
"Alia kamu susah tidur ya?tanya Ghael yang sedikit berbisik di telinganya.
Hembusan napas Ghael tercium segar di rongga penciuman Alia,belum lagi bau sampo yang harum dan menyeruak membuatnya Alia terpaku dengan ragu.
Setelah berbisik Ghael membenamkan wajahnya pada ceruk leher Alia, kemudian menyesap nya dengan lembut mebuat Alia mengelinjang dan hampir terbakar oleh hasrat.
Aroma khas yang keluar dari tubuh Alia semakin membangkitkan hasratnya.
Ia pun menarik pelan tubuh Alia agar ia terlentang.
Alia terlentang dengan jantung yang berdetak kencang apalagi kedua netra tersebut saling bertentangan.
Ghael tersenyum menatap dampa pada istrinya.
Deg
Deg
Jantung Alia semakin berdetak kencang ketika bibirnya langsung di sambar oleh Ghael.
Dengan gerakan lembut Ghael menyesap bibir Alia melu*matnya dengan pelan.
Alia hampir kehilangan napas, karna bibir Ghael yang terus mencumbuinya, semakin lama ciuman tersebut semakin dalam.
Lidah dan bibir Gharl terasa lembut dan kenyal, begitupun salivanya yang terasa manis.
Mereka berdua memang tak pernah berpengalaman sekali, apalagi Alia, meski ia dan Bagas saling mencintai, mereka tak pernah bercumbu sekalipun, keduanya saling menjaga batasan mereka.
Alia masih mematung, ia biarkan saja Ghael melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan.
__ADS_1
Ciuman Ghael semakin dalam, meski Alia tak pernah membalasnya.
Jemarinya mengusap kening hingga keubun-ubun Alia dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Beberapa lama melakukan permainan pada bibir Alia hingga membuat Alia hampir kehabisan nafas.
Ghael melepas pangutannya seraya tersenyum, ia begitu puas menjejali bibir Alia yang terasa manis tersebut karna belum terjamah siapa pun.
Ghael memberi kesempatan bagi Alia untuk bernapas dengan lega, karna kini kecupan tersebut mendarat lembut pada kening dan seluruh wajah Alia pada setiap jengkalnya.
Salah satu telapak tanganya menggenggam erat telapak tangan Alia.
Tubuh Ghael masih berada di samping tubuh Alia.
Satu jarinya yang lain mencoba melepas satu persatu kancing piyama Alia.
Sementara wajah Ghael kembali membenam di ceruk leher Alia.
Akh!! Alia menahan erangannya, saat bibir Ghael lembut menyesap bagian lehernya memberikan beberapa jejak ke pemilikan.
Alia memejamkan matanya, dirinya hampir tak bisa menguasai diri, matanya merem melek menikmati sapuan lembut bibir Ghael yang perlahan turun menuju bukit kembarnya.
Satu tangannya melepaskan pengait kaca mata berenda hitam yang melindungi puncak bukit yang berwarna terang.
Nafas Ghael memburu ketika bibirnya perlahan menyentuh puncak bukit, tanpa sadar ia menyesapnya sementara tangan yang lainya meremas lembut.
Alia merasakan guncangan hasrat yang luar biasa, matanya merem melek menikmati sentuhan yang tak pernah terbayang akan seperti ini jadinya.
Ghael sudah terbakar gairah yang begitu membara, ia pun tak ingin berlama-lama untuk melakukan pertempuran perdananya.
Ghael menarik celana kain Alia hingga menampakan segitiga bermuda milik Alia yang indah karna tertutupi kain tipis dengan renda hitam.
Ehm, Ghael menggeram, ia benar-benar tak lagi mampu menahan, ia pun melepas handuk yang melilit pada pingganya.
Sebuah benda berbentuk rudal mengeras dan mengembang berkali-kali lipat dari ukuran sebelumnya.
Alia menutup matanya melihat senjata suaminya yang terlihat gagah perksa yang siap merobek pertahanannya.
Rasa ngeri pun muncul dan kembali membuatnya Ragu.
Ghael memposisikan tubuhnya di atas tubuh Alia, sebelum memasukan senjatanya, Ghael kembali menciumi bibir Alia dengan mesra, agar membuatnya rilex.
Kedua bibir itu saling bertaut dengan napas yang memburu, dengan perlan jemari Ghael menyusuri lekuk tubuh Alia hingga sampailah pada lembah segitiga bermuda
Tangan menarik lembut penutup akhir tubuh Alia, sementara bibirnya masih mencumbui Alia dengan mesra.
Streettt begitu mudahnya kain tersebut terlepas.
Ghael memberanikan diri, jemarinya menyusuri lembah tandus yang tak di tumbuhi sehelai rerumputan pun, "Ehm lembut," Ghael mengguman.
Alia memejamkan matanya berusaha pasrah, meski ia tak menginginkan melakukanya bersama Ghael, Alia pun menitikan air matanya, dengan tubuh sedikit terguncang.
Ghael menarik tubuhnya untuk memasukan meriam saktinya ke dalam telaga kenikmatan.
Alia merasakan senjata Ghael yang berada di tepi bibir mulut goanya, Ghael hendak mendorong benda tersebut masuk, namun tertahan oleh teriakan Alia.
"Tidak Bang! jangan lakukan, hiks hiks hik."
__ADS_1
Ghael tercekak melihat tubuh Alia yang terguncang karna menahan tangisannya.
Bersambung, haduh deg-deg-an sabar ya abang ghael, readernya juga sabar ya terkadang readernya yang ngak sabaran π π π mungkin karna Alia ya, jadi move on-nya susah, coba klau author hajar wae,kapan lagi dapat laki yang kayak begitu π π π