
Bagas menatap sedih kepergian Alia, melihatnya bersama dengan pria lain membuat hatinya terasa sakit, tanpa sadar Bagas berlutut melepaskan apa yang ia genggam saat ini.
Bagas menangis tertunduk, semudah itu ia jatuh cinta dan dengan semudah itu pula hubungan ini bearkhir.
Alita terdiam, rasa iba muncul di hatinya yang melihat Bagas tersimpuh menangis menatap kepergian Alia dan Ghael tapi ia juga tak bisa berbuat apa-apa.
***
Alia masih terisak, ketika tangan Ghael merangkulnya menuju mobil, tak sedikit pun ia menoleh, karna saat itu ia pun tak sanggup melihat Bagas yang terpuruk.
Ghael membukakan pintu mobil untuk Alia, kemudian ia masuk, sekali ini Alia memberanikan diri untuk melirik kearah Bagas sebelum ia masuk ke dalam mobil.
Bagas.
Dadanya kembali bergemuruh.
Ghael menuju sisi pintu lainnya, setelah menghidupkan mesin mobil, perlahan ia membawa mobilnya meninggalkan tempat tersebut.
Mobil berjalan sedikit lamban sebelum jauh meninggalkan tempat tersebut,Alia kembali menoleh ke arah Bagas yang menangis meringkuk, "Bagas," ucapnya lirih, Alia tetap menoleh ke belakang sampai Bagas menghilang di pandangannya.
Hiks hiks hiks, Alia kembali menangis seraya menutup wajahnya.
Hiks hiks hiks, hanya terdengar isak tangisan Alia saat itu.
Ada rasa iba di hati Ghael terhadap Alia, ia pun merentangkan tanganya menjangkau Alia kemudian menarik tubuh Alia agar bersandar pada bahunya.
Alia tak punya pilihan lain, saat itu hatinya seperti hancur berkeping-keping, tak ada lagi tempat bersandar kecuali Ghael.
Ghael mengusap bahu Alia dengan satu tangannya sesekali ia mendaratkan kecupan pada pucuk kepala Alia.
*Maaf Alia aku terpaksa lakukan ini, melihat mu seperti ini aku juga tersiksa, andai saja kau tahu perasaan ku padamu lebih dalam dari apa pun, bahkan aku sudah menyukaimu sejak kita beranjak remaja, aku pun tak pernah memberi kesempatan hatiku di isi orang lain selain untuk mu.
Kau saja tak pernah memberiku kesempatan untuk membuktikan cintaku pada mu,karna setiap kali aku ingin menyatakan perasaan ku terhadapmu,kau selalu bilang jika aku adalah saudaramu, abang bagi mu!
Karna itu aku berusahan menjauh dengan melanjutkan sekolah keluar negri, berharap bisa menemukan pengganti dirimu, aku pun mencoba menerima Alita, tapi nyatanya tetap saja hati ku tak pernah berpaling dari mu.
Tak bisakah kau beri aku sedikit waktu untuk membuktikan jika aku juga pantas untuk mu.*batin Ghael.
Beberapa waktu berlalu di perjalanan, tak ada obrolan apa pun, Ghael membiarkan Alia menangis dan bersandar pada bahunya, saat itu Alia terlihat begitu kacau.
Alia tetap menamgis sesampainya di rumah.
***
Beberapa saat berlalu, Alita terpaku menatap Bagas, ia binggung sendiri, tapi ia takut jika Bagas melakukan sesuatu yang nekad, jadi Alita pun memutuskan untuk menunggu Bagas sampai keadaan Bagas membaik.
Bagas berdiri beberapa saat setelah keterpurukannya.
Ia pun menuju dermaga duduk di tepian dermaga, termenung sendiri sembari bersandar pada tiang penyangga.
Hari sudah mendekati sore keduanya hanya mematung, ingin bicara keduanya tak pernah saling mengenal apalagi bicara.
Waktu demi waktu berlalu, Akhirnya Alita memutuskan untuk pamit dengan Bagas.
Alita mendekati Bagas,
__ADS_1
"Ehm, Gas aku pamit dulu ya," ucapnya sambil menyimpul kemeja yang ia kenakan.
Bagas menoleh kemudian kembali mengengenakan kaca matanya.
"Kalau gitu aku antar saja kau," ucap Bagas sambil beranjak.
"Ehm, jangan ngak usah repot, aku pulang naik taksi saja," ucap Alita sungkan.
"Tak apa, kau datang kesini bersama Alia kan? biar aku antar, aku juga ingin pulang," ucap Bagas dengan datar.
"Ehm, ya sudah kalau begitu."
Bagas naik ke motornya, setelah menggunakan sarung tangannya, ia pun menyodorkan helm pada Alita.
Ia sengaja membawa dua helm karna mengira bisa membawa Alia untuk jalan.
Alita pun naik diatas motor Bagas, karna jok motor yang terlalu tinggi, tanpa sengaja ia menyentuh pundak Bagas untuk naik.
"Maaf, aku tak sengaja," ucap Alita jengah.
"Tak apa," ucap Bagas.
Bagas menghidupkan kunci kontak, dan menekan tombol staters.
Brum, Alia sedikit terhetak kaget karna saat itu ia sedang melamun, bagaimana tidak, hampir tak ada jarak antara ia dan Bagas saat itu, sepertinya posisi jok motor memang di rancang untuk sepasang kekasih, hingga tak ada jarak yang membatasi mereka kecuali pakaian yang mereka kenakan.
Brum... suara motor berbunyi dan tanpa sengaja Alita memeluk Bagas karna tarikan gas dan kopling Bagas.
Brum brum motor Bagas perlahan meninggalkan tempat tersebut.
Bagas sedikit menambah kecepatannya, ketika perseling dan kopling dimainkan tubuh Alita kembali terdorong ke depan dan tanpa sengaja lagi tubuhnya kebali menyentuh bagian belakang dari tubuh Bagas.
Brumm suara motor Bagas membelah jalan menyalip diantara beberapa pengendara motor dan mobil.
Alita begitu ketakutan.
Ya Ampun! Bagas mau bunuh diri apa ya? kenapa bawa motornya laju banget,bikin gue takut saja, kalau mau bunuh diri ngapain ajak gue.
Brummm Bagas tetap dalam kelajuan 90km/jam, menyalit di antara keramaian.
Alita yang ketakutan semakin memperat pelukannya, ia pun menutup mata.
Bagas memang mahir menggendarai motornya, hingga membuat jantung Alita berdetak tak karuan beberapa kali mereka hampir menabrak.
Alta yang ketakutan masih menggenggam jaket kulit yang bagas kenakan, beberapa saat dalam ketegangan, tiba-tiba Bagas menurunkan kecepatannya.
Alia pun mengusap dada dan melepaskan cengramannya pada jaket Bagas.
Bruk
"Aduh!" Aliata meringis ketika wajahnya menghantam pundak Bagas karna tiba-tiba saja Bagas berhenti di pertigaan lampu merah.
Bagas menoleh kearah Alita," Kamu ngak apa-apa?" tanya Bagas karna ia merasa wajah Alita menghantam punggungnya akibat pengereman mendadak yang di lakukan olehnya.
"Ah ngak apa-apa," ucap Alia sembari membetulkan posisi duduknya yang selalu melorot hingga selalu mendempet kearah Bagas.
__ADS_1
Beberapa detik mereka berhenti di pertigaan lampu merah.
"Oya lupa, rumah kamu di mana?"tanya Bagas, ia sampai lupa menanyakan alamat Alita.
"Jalan Mawar nomor lima belas," sahut Alita.
"Bearti kita sudah kelewatan dong? kenapa kamu ngak bilang?"
"Ehm, gimana aku mau bilang, kamu ngak nanya, lagian kamu bawa motornya laju amat, aku sampai ngak berani buka mata, sudah pasrah saja,"sahut Alita sedikit jengkel.
Bagas tersenyum simpul," Iya aku lupa nanya ke kamu, abisnya aku ingatnya ngantarin Alia saja lewat jalan ini," ucap Bagas sedih.
"Ehm, iya ngak apa-apa, tapi bisa ngak kamu bawa motornya yang slow aja,"usul Alita.
"Ehm, iya deh, ya sudah kamu berpegangan saja," ucap Bagas.
Alita menggangguk.
Mau pegangan di mana, masak mau meluk kamu sih Gas.
Alita memutar bola matanya malas, belum pun ia siap dengan posisinya, Bagas kembali tancap Gas, tubuh Alia yang belum seimbang terpaksa meruduk punggung Bagas kembali.
Akh, tak sakit hanya terasa desiran aneh didadanya ketika tanpa sengaja ia memeluk Bagas dari belakang.
"Ehm kenapa rasanya aneh gini sih, berkali-kali tanpa sengaja gue meluk Bagas, apa dia yang sengaja atau gue yang ke geeran, sumpah enak baget saat gue tanpa sengaja meluk Bagas," gumannya.
Astafillulah Alita insyaf, baru juga loh patah hati ini udah ada rasa, hus buang jauh-jauh deh perasaan itu.
Alita mengulum senyumnya, kali ini Bagas memperlambat kecepatannya dengan tetap fokus mengendari kendaraannya karna tak ingin terlewat lagi.
Alia tersenyum simpul lagi, karna Bagas mengendari motornya dengan kecepatan sedang ia jadi bisa sedikit menikmati perjalanannya.
Tapi memang asik juga di bonceng pakai motor, romantisnya terasa sampai ke dada.
Alia kembali mengulum senyumnya, melihat wajah Bagas yang cool dan tampan melalui kaca spion.
Beberapa menit berikutnya mereka pun tiba, di depan rumah Alita.
Alita pun turun dari motor Bagas.
"Gas, masuk dulu yuk,"ajak Alita basa-basi.
"Lain kali saja Lit,"jawab Bagas yang tertunduk menyembunyikan wajahnya.
"Ya sudah, terima kasih ya Gas," ucap Alita seraya menyodorkan helmnya.
"Aku yang terima kasih."
"Helmnya kamu simpan saja, aku beli helm itu untuk Alia dan sepertinya dia tak akan pernah menggunakannya lagi, menyimpanya hanya akan membuatku kembali teringat padanya,"papar Bagas sedih.
"Ehm kamu yang sabar ya Gas, aku yakin suatu saat kamu juga akan menemukan seseorang yang tepat dan membuat kamu bahagia,"ucap Alita tulus.
"Iya teria kasih," Bagas.
Bagas memutar motornya kemudian melaju kembali dan menghilang di ujung jalan.
__ADS_1
Bersambung
,