Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Waktu Yang Berlalu


__ADS_3

Lima belas tahun kemudian.


Waktu berlalu dengan cepat, hari-hari indah di lewati oleh keluarga Aldi dengan bahagia, kini putri mereka tumbuh menjadi gadis cantik, cerdas, berhati lembut serta memiliki prinsip hidup yang kuat.


Alia tak pernah sekali pun terlibat cinta dengan seorang pria, ia lebih banyak menghabiskan waktunya belajar dan berkumpul bersama keluarga.


Baginya keluarganya adalah tempat ternyaman dalam berbagi apa saja.


Alia dan Alita, masih bersahabat hingga saat ini, meski mereka kuliah di jurusan berbeda namun masih di universitas yang sama.


Alia kini berusia dua puluh dua tahun.


Hari ini adalah sidang skripsinya.


Alia merasa gugup menghadapi pertanyaan pertanyaan dari dosen penguji skipsinya.


Saat ini ia berada di tengah-tengah ruang sidang, meski gugup namun ia tetap tenang menunggu hasil keputusan sidang skipsinya tersebut.


"Dengan ini saya nyatakan saudara Reyna Alia resmi menyandang gelar sarjana hukum, dengan nilai terbaik tahun ini," ucap ketua penguji tersebut di akhir sesi.


Air mata Alia menetes haru, ia pun berdiri seraya menyalami satu-satu persatu dosen penguji skirpsinya.


"Alhamdullilah, Aku bisa mewujudkan cita-cita Bunda," ucap Alia.


Ia pun keluar dari ruang sidang dengan perasaan bahagia bercampur haru.


Ketiga orang tersayang menyambutnya dengan haru dan bangga.


Melihat senyum manis di bibir Alia, Ketiganya menghampiri Alia dan memeluknya dengan haru.


"Alia berhasil Bunda, Alia berhasil mewujudkan cita-cinta Bunda yang belum tersampaikan yakni menjadi sarjana hukum, Alia akan berusaha lagi agar suatu saat menjadi hakim yang adil,"ucapnya sambil memeluk Aira erat.


"Bunda bangga sama kamu sayang," ucap Aira.


Aldi tersenyum di hadapan Alia, "Peluk Ayah sayang, Ayah bangga sekarang Ayah sudah memiliki putri seorang yang berfropesi sebagai lawyers, " ucap Aldi. kemudian ia memeluknya.


"Ayah bagaimana sih, Wisuda saja belum," ucap Alia, sambil memeluk erat Ayahnya yang masih tetap tampan meski umurnya hampir setengah abad.


"Selamat Ya kak, Nanti Arsyad nyusul kok," ucap Arsyad yakin, pria tampan yang kini berusia lima belas tahun tersebut.


"Lah kalau semuanya ngikutin jejak Bunda, siapa yang akan menggantikan Ayah sebagai CEO?"tanya Aldi.


Kedua anaknya geleng-geleng, mereka pun toss ke bunda mereka.


"Ngak tertarik Yah," ucap Arsyad.


"Lalu kamu mau jadi apa?" tanya Aldi.


"Arsyad mau jadi polisi Yah, seperti Bunda," sahut Arsyad.


"Yah, perusahaan Ayah bagaimana nasibnya nak, masa Ayah harus kerja sampai tua sih," keluh Aldi.


"Pikirin saja sendiri," ucap Arsyad.


"Ayah cari saja jodoh untuk kakak Yah, biar menantu Ayah yang meneruskan usaha Ayah," sahut Arsyad.


"Ngak, Ayah ngak mau Kakak cepat menikah, nanti Kakak pasti di bawa kemana mana oleh suaminya," ucap Aldi.


"Ya ampun Yah, Alia sudah dewasa, sudah pantas menikah, apa Ayah ngak ingin menimang cucu?"tanya Aira.


"Ngak mau, kita buat anak lagi saja Bun, kamu masih bisa produksi kan Bun?" Aldi.


"Produksi bisa Yah, tapi malu ah, anak sudah gede-gede masih mau punya baby, sepatutnya sudah punya cucu juga," sahut Aira.


"Udah tanya Kakak, kakak mau di jodohin atau cari sendiri Kak?"tanya Aira kepada Alia.


"Terserah saja Bun, tapi Kakak belum mau nikah, benar kata Ayah, kalau kakak nikah trus di bawa kemana-mana sama suami kakak gimana, Kakak mau selamanya tinggal sama Ayah dan Bunda," ucap Alia sambil memeluk Aira dan Aldi.


"Iya sayang, tapi menikah itu salah satu sunah yang di anjurkan, sebagai penyempurna iman,"nasehat Aira.


"Kalau suami kamu mengijinkan kita bisa tinggal serumah Kok," ucap Aira memeluk putrinya.


Sementara Aldi cemberut, seakan tak rela jika Alia di miliki oleh orang lain, ia tetap mengganggap jika Alia masih Alia yang kecil yang selalu di gendongnya kemana-mana.


Mereka pun pulang bersama.


****


Lima belas tahun berlalu begitu saja, keluarga mereka selalu di penuhi oleh kebahagiaan dan keceriaan.


Perusahaan Aldi berkembang pesat, selain usaha pengolahan kayu, perusahan tambang minyak warisan dari mendiang ibunda juga mengalami kesuksesan.

__ADS_1


Banyak juga yang terjadi selama lima belas tahun, kini Satria tak lagi bisa memimpin perusahaan, karna penyakit jantung yang di deritanya sejak sepuluh tahun yang lalu.


Mau tak mau, Romeo harus menggantikan ayah mertuanya sebagai presiden direktur sebuah perusahan pengolahan kayu di negri jiran.


Sepuluh tahun yang lalu, mereka hijrah dan menetap di kuala lumpur.


Karna memiliki tiga anak lelaki, tak membuat Romeo binggung mencari penerusnya kelak, berbeda dengan Aldi, kedua anaknya memilih untuk berkarir sesuai dengan cita-cita mereka dari pada meneruskan kerajaan bisnis Ayah mereka.


***


Siang ini Ghael mengepak pakaiannya, Ghael baru saja lulus dari salah satu universitas di Inggris dan berhasil menyandang gelar MBA.


Setelah terbang selama kurang lebih enam belas jam dari bandara jhon lennon Liverpool, akhirnya Ghael tiba di Kuala lumpur, Malaysia.


Tak ada saudara atau pun orang tua yang menjemputnya, karna ia sendiri sengaja tak memberi tahu orang tuanya atas kepulangannya.


Dengan menggunakan Taxi, Ghael pulang menyuju sebuah mention mewah mereka yang berada di kawasan elit di jantung kota kuala lumpur.


Setibanya di depan pintu rumahnya Ghael menekan Bell, ia tak sabar untuk segera bertemu dengan keluarganya.


Ting..tong..., suara Bell, Tari dan Romeo sedang berada di meja makan, berhubung hari tersebut hari minggu seluruh keluarga akan berkumpul untuk makan siang termasuk Maya dan Satria.


Seorang asisten rumah tangga, datang membuka pintu untuk Ghael.


"Eh tuan muda," ucap Asisten rumah tangga tersebut.


"Shut, dimana Mama dan Papa Bik?"tanya Ghael.


Meski mereka sudah sepuluh tahun menetap di Malaysia, namun bahasa sehari-hari mereka di rumah adalah bahasa Indonesia.


"Ada sedang makan siang, bersama tuan dan Nyonya besar, " ucap Assiten tersebut.


Ghael masuk kedalam rumah dengan mengendap ngendap, ia ingin memberi kejutan spesial untuk keluarganya.


Rasa bahagia dan rindu seketika menyeruak melihat keluarganya yang berkumpul di meja makan dan menikmati makan bersama, selama lima tahun ini, ia jarang sekali berkumpul, mungkin hanya setahun sekali, atau setahun dua kali pulang.


"Surprises!" seru Ghael mengagetkan mereka.


Mata mereka menoleh kearah asal suara.


"Abang, Ghael!"seru mereka menyambut bahagia kedatangan putra sulung keluarga itu.


"Mama," ucap Ghael haru memeluk Tari.


"Anak Mama, kenapa pulangnya ngak bilang-bilang, " ucap Tari.


"Sengaja Ma, besok kan anniversary pernikahan Mama dan Papa yang ke dua puluh empat tahun, " ucap Ghael.


Iya sayang, Mama bahagia mendengar kamu telah menjadi sarjana ekonomi di Liverpool university," ucap Tari.


Tak kalah haru, Romeo dan adik-adiknya datang menghampiri Ghael dan memeluknya.


"Papa, Ghael kangen,"ungkap Ghael memeluk Romeo.


"Papa juga kangen Nak, bagaimana sudah punya pacar di sana?"tanya Romeo.


"Ih papa bukannya nanya kuliah, malah tanya pacar,"dengus Ghael.


"Ngak Pa," Ghael mau cari orang pribumi, ucap Ghael.


"Kalau gitu Papa sudah punya calon untuk kamu, "ucap Romeo.


"Siapa Pa?"tanya Ghael penasaran.


"Alita," Romeo.


"Alita anaknya Om Doni Pa?" tanya Ghael mempertegas.


"Ih, anak baru datang sudah mau di jodohin saja, Ayo Nak duduk dulu, salam sama Oma dan Opa dulu."Tari.


Tari menuntun Ghael di meja makan, sebelum itu, Ghael bersalaman dengan Satria.


"Opa, apa kabarnya?"tanya Ghael yang memeluk dan mencium tangan Satria.


"Baik Ghael, Opa kangen sama kamu, " ucap Satria sambil memeluk dan mencium Ghael.


"Ghael juga Opa, Ghael selalu berdoa agar Opa selalu sehat,"ucap Ghael, mereka pun mengurai pelukannya.


Ghael menuju ke Maya kemudian memeluk dan menciumnya.


"Oma, Oma makin cantik saja," ucap Ghael.

__ADS_1


"Kamu bisa saja, Oma sudah peyot masih di bilang cantik," dengus Maya.


"Emang cantik Kok Oma, kalau Oma ngak cantik, mana mungkin mama bisa cantik," cetus Ghael.


"Ih kamu ini dasar, pinter banget merayunya,"ucap Maya seraya mencolet hidung Ghael.


"Ayo Nak, makan dulu, " ucap Tari.


"Wah masakan Mama the best," ucap Ghael.


Mereka pun menikmati makan siangnya.


"Dek, kamu bagaimana kuliahnya?"tanya Ghael ke Farel.


"Ya gitu deh Bang, tahun depan mungkin sudah nulis skripsi," jawab Farel.


"Kalau Arsel bagaimana?"tanya Ghael ke Arsel.


Masih sekolah Bang," ucap Arsel.


"Arsel sekolah di Indonesia, sama Oma dan Opa di sana, " sahut Arsel.


"Bearti sekarang kamu liburan?kebetulan sekali kita bisa kumpul," ucap Ghael bahagia.


Sebenarnya Ghael merupakan sosok yang cuek, dan tak terlalu dekat dekat dengan keluarga sebelumnya, namun sejak ia tinggal jauh dari orang tuanya lima tahun yang lalu, Ghael selalu merindukan untuk selalu berada dekat dengan orang tuanya, ia pun menyadari betapa indahnya kebersamaan dengan keluarga.


Selesai menikmati makan siang mereka kembali ngobrol, tiba-tiba saja Romeo mendapat telpon dari Aldi.


"Dari siapa Pa?"tanya Tari.


"Dari Aldi," jawab Romeo yang langsung menekan tombol hijau.


"Assalam'mualaikum,"ucap Romeo.


"Waalaikum salam," sahut Aldi.


"Eh Rom, Papa sama Bunda apa kabarnya?" tanya Aldi.


"Baik Alhamdullilah," ucap Romeo.


"Alhamdullilah, syukurlah kalau begitu." Aldi.


"Gue, mau bikin acara selamatan nih Rom, kalian semua datang Yah," pinta Aldi.


"Selamatan apa loh nikah lagi?"canda Romeo.


"Bisa saja loh Rom, selamatan karna Alia sudah lulus sidang skripsinya dan sekarang putri gue bergelar sarjana hukum," ucap Aldi bahagia.


"Kalau begitu aku juga mau merayakan, keberhasilan Ghael dalam meraih gelar MBAnya," ucap Romeo bangga.


"Ghael juga sudah selesai kuliah? dan dapat gelar MBA? wah selamat ya, bilang Ghael, bagaimana kalau dia kerja sama gue saja Rom, jadi salah satu direktur di perusahan gue," ucap Aldi.


"Enah saja loh, gue yang sekolahin, elo pula yang minta dia kerja sama loh, nah gue siapa yang bantuin?"Romeo.


"Anak loh kan laki semua Rom, banyak yang menggantikan loh, anak ngak ada yang mau berbisnis, mereka lebih memilih mengikuti jejak Bunda mereka," papar Aldi.


"Iya deh, nanti gue tanya anaknya," Romeo.


"Kapan loh ngadain selamatannya?"tanya Romeo.


"Minggu depan, gue mau kumpulin keluarga kita, sudah lama kita ngak kumpul, jangan ngak datang Ya, Papa sama Bunda juga di ajak, " papar Aldi.


"Iya, in sya Allah yah," Romeo.


"Kalau begitu Assalammualaikum," ucap Aldi menutup telponya.


"Waalaikum sallam," Romeo.


"Ada apa Pa?"tanya Tari.


"Si Aldi mau adain acara selamatan kelulusan Alia, mereka mengundang seluruh keluarga untuk berkumpul minggu depan," papar Romeo.


"Yah sudah kita semua pulang saja ke tanah air, udah lama banget ngak pulang ke kampung halaman," ucap Tari girang.


"Iya, Papa juga sudah lama ngak pulang, Papa dan mama ikut ya Rom," ucap Satria.


"Iya dong Pa, kita semua pulang kampung minggu depan," ucap Romeo.


"Yey, balek kampong," seru Farel dengan bahasa melayunya.


Bersambung dulu ya guys, Ke pulau rote naik odong-odong, bagi votenya dong 😊

__ADS_1


__ADS_2