
"Apa Gas jadi apa yang dibilang abangku itu benar? kamu_? "hiks hiks hiks Alia tak jadi melanjutkan kata-katanya, ia pun menangis.
Alia menatap Bagas dengan bola mata berpendar.
" Iya Alia, tapi itu dulu, sejak aku jatuh cinta sama kamu aku sudah meninggalkan barang haram tersebut, bahkan aku kemaren hampir sekarat karna menahan diri untuk tak menggonsumsi nya dan akhirnya aku bisa melepaskan diri ku dari jerat barang haram tersebut," papar Bagas.
Alia memicingkan matanya menatap Bagas sekilas kemudian membuang mukanya ke arah samping.
Bagas coba menarik tangan Alia, agar Alia kembali menatapnya dan melihat kesungguhan yang ada padanya.
"Alia berilah aku kesempatan untuk merubah diri ku menjadi lebih baik lagi, sekarang aku sedang mencoba untuk membuka lembaran baru hidup ku dan memperbaiki diri ku Alia," papar Bagas kembali
Alia masih bungkam,
Bagas menarik tangan Alia untuk menciumnya tapi di tarik Alia kembali Alia pun membuang wajahnya kembali.
"Aku tak menyangka Gas kamu senakal itu, apa yang harus ku katakan pada orang tua ku tentang kamu Gas! mereka pasti tak merestui hubungan kita, sebelum terlalu jauh lebih baik kita akhiri saja hubungan ini" Alia.
Bagas kaget mendengar penuturan Alia tersebut.
"Alia please jangan tinggalkan aku, kamu adalah semangat hidupku untuk berubah jadi lebih baik, tanpa kamu apalah arti semua ini bagiku Alia."
Bagas memohon dengan mata yang berpendar.
Bagas menarik tangan Alia menakupnya dan menciumnya.
"Please Alia, bantu aku untuk berubah jadi lebih baik." ucap nya dengan nada yang memelas.
Alia memalingkan wajahnya ke arah Bagas kembali, meski kecewa, tapi ia juga merasa khawatir jika Bagas akan kembali ke jalan yang keliru, ada kesungguhan di mata Bagas dan rasa iba pun timbul di hatinya ketika melihat netra Bagas yang telah basah oleh air mata.
"Iya Gas, aku bisa saja menerima kamu, tapi bagaimana dengan orang tua ku? apa mereka bisa menerima semua alasan mu?" Hiks hiks, Alia merasa sedih karna harus mengatakan itu.
"Aku akan segera menghapus tatto ini Alia, tapi tolong jangan tinggalkan aku, aku tak sanggup hidup tanpa mu, berilah aku kesempan Alia," ucap Bagas ia pun menangis seraya mencium lekat telapak tangan Alia.
Bagas tak perduli meski ia jadi pusat perhatian saat itu, Alia adalah semangat hidupnya, seperti cahaya yang menuntunnya keluar dari jalan kegelapan.
Bagas benar-benar menangis ia tak bisa membayangkan hidupnya tanpa Alia.
"Aku mencintai mu Alia, katakan saja apa yang kau ingin maka sebisa mungkin akan ku lakukan, aku akan berusaha, hiks hiks hiks, tapi aku mohon jangan pernah ucspkan kata perpisahaan hiks hiks hiks,"
Tubuh Bagas terguncang menahan tangisnya, ia tak ingin berpisah dari Alia.
Alia begitu haru melihat kesungguhan Bagas, ia pun ikut menangis.
"Iya Gas aku bisa menerima kamu asal kamu mau berubah tak masalah bagi ku," ucap Alia.
__ADS_1
Bagas menatap ke wajah Alia, "Terima kasih Alia," ucap Bagas ia pun berusaha menghentikan tangisannya.
"Iya Gas,"
Setelah dari warung bakso tersebut, Bagas mengantar Alia kembali ke kantornya kebetulan hujan juga sudah reda.
Sepanjang perjalanan keduanya tak banyak bicara, hanya saja Bagas terus menggenggam erat tangan Alia sesekali ia mengecupnya dan meletakannya di dada.
Alia memeluk Bagas dari arah belakang ia pun sebenarnya begitu berat untuk meninggalkan Bagas.
***
Ghael pulang dari kantor untuk menghampiri Alia, meski ia tahu Alia menolak cintanya tapi dia tak akan mudah menyerah begitu saja, seperti Bagas yang berjuang demi mendapatkan cinta Alia begitu pun dirinya.
Sesampainya di kantor Alia,ia tak menemui orang yang di carinya tersebut, setelah di tanya dengan penjaga kantor, ternyata Alia pergi bersama Bagas namun berkas dan tas Alia masih ada di atas mejanya, itu bearti Alia akan kembali.
Karna kesal Ghael pun bermaksud untuk menunggu Alia di kantornya.
Hujan deras semakin membuat Ghael bete ia pun masuk kedalam mobil dan mendengarkan lagu-lagu yang ada di audio mobilnya.
Ghael memberani kan diri untuk menelpon Alita.
***
Alita baru saja pulang dari tempat kerjanya, ia pun meletakan tasnya di atas meja rias kemudian bermaksud mengganti pakaiannya.
"Kenapa gue masih berharap pada Ghael ya? padahal gue tahu jika dia ngak cinta sama gue," guman Alita.
Tak lama terdengar bunyi dari smartphones nya.
Alita meraba-raba nakasnya untuk menjangkau handphonenya tersebut.
Setelah di lihat ternyata panggilan tersebut dari Ghael, "Tumben dia nelpon gue, baru saja di omongin."
"Halo," Alita pun bangkit untuk duduk karna semangat menerima telpon Ghael.
"Hallo Alita, eh kamu apa kabar?"tanya Ghael berbasa-basi.
Kenapa Ghael tiba-tiba nanya kabar gue ya, pasti ia ngomong sesuatu tentang hubungan kami.
"Ehm baik," jawab Alita melemah, sepertinya ia bisa menebak dengan apa yang akan di katakan Ghael.
"Alita, aku mau bicara soal perjodohan kita, maaf ya Alita aku ngak bisa menerima perjodohan itu, karna jujur saja selama ini aku menganggap mu sebagai teman."
Sudah ku duga.
__ADS_1
Air mata Alita perlahan menetes mengalir membentuk garis vertical di wajahnya.
Alita berusaha tenang dan tidak gugup menghadapi Ghael.
"Ngak apa kok, kita juga belum resmi bertunangan, lagi pula aku juga menganggap kamu teman," sahut Alita seraya menggigit bibirnya, ia pun memejamkan matanya agar air mata tersebut tak lagi menggenang.
"Iya Alita aku harap kita bisa berteman setelah ini," ucap Ghael.
"Tentu," ucap Alita seraya menahan rasa sesak di dadanya.
"Dah selamat sore Alita," ucap Ghael.
"Selamat sore, Ghael." Alita pun memutus sambungan telponya, ia pun langsung menangis sejadi-jadinya.
Usai sudah harapannya untuk bersanding bersama pria pujaan hatinya.
***
Alia dan Bagas sampai di kantornya, Alia turun dari motor Bagas dan melihat mobil Ghael yang sudah terparkir di halaman kantornya, keduanya pun saling memandang.
Bagas merasa jika Ghael juga berusaha mendekati Alia.
"Gas aku masuk dulu ya, aku sudah di jemput sama abang."
"Iya sayang, hati-hati ya, i love you,"ucap Bagas.
"Kamu juga hati-hati ya, love you too."
Alia masuk kedalam kantornya untuk mengambil tasnya, kemudian ia keluar lagi.
Ghael baru menyadari kedatangan Alia yang terlihat kacau, wajahnya terlihat sembab seperti habis menangis.
Ghael membuka pintu dan melihat masih ada Bagas yang menunggunya di sana.
"Alia kamu kenapa? Apa Bagas menyakiti kamu?" tanya Ghael seraya memperhatikan wajah Alia yang tertunduk.
"Ngak Bang, Alia ngak apa-apa, Ayo kita pulang,"ucap Alia ia pun membuka pintu mobilnya.
Ghael menatap kearah Bagas yang seperti habis menangis.
Setelah menutup pintu dan menyalakan mesin mobil Ghael perlahan bergerak meninggalkan tempat tersebut.
Alia menurunkan kaca mobilnya.
"Gas! Aku pulang Ya!"teriak Alia dari dalam mobil.
__ADS_1
"Iya sayang, hati-hati!" ucap Bagas, setelah melihat mobil Alia yang keluar dari halaman parkir Bagas pun juga pergi dari tempat tersebut.
Bersambung.