Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Kau Yang Memulai duluan


__ADS_3

🚫Warning!!! Area dewasa, khusus untuk yang sudah menikah ya, yg belum menikah skip aja ya, tinggalin jejak nya, awas basah sendiri,🚫


Waktu semakin merangkak naik, keduanya sama-sama gelisah karna menahan gejolak hasrat mereka masing-masing.


Tari meremas spey ingin sekali ia menghambur memeluk Romeo saat itu,


Sama halnya dengan Romeo tongkat jahanam miliknya juga sudah berada di tegangan tinggi.


Untuk mengurangi rasa gelisahnya, ia pun meraih handphone yang ada di nakasnya, kemudian mengirim pesan ke Aira untuk meminta solusi dari sesepuhnya tersebut.


💌Aira,gimana nih, mbak udah ngak tahan, apa mbak hajar aja ya?


Tari menggigit bibir nya, ia semakin kuat meremas sprey, aroma tubuh Romeo semakin menyerbak di indra penciumanya, bayangan kehangatan pun mulai menari nari di pikirannya..


Trutt.


Notifikasi pesan masuk,


Tari segera membuka pesan dari Aira.


💌Sabar mbak!!, mode mesumnya di nonaktifkan dulu ya, udah mbak nguitung domba aja dari satu sampai seratus kalau perlu sampai seribu 😆 . Tulisan Aira ditambah dengan emotikon nyengir.


"Hah!"Tari diam sejanak, ia pun mengatur napasnya agar menjadi lebih rilek.


Sementara kasur yang mereka gunakan terasa berguncang, karna Romeo juga tengah gelisah menahan syahwatnya.


Jantung Tari berdegup kencang, ia benar benar tak sanggup lagi untuk menahan.


Tari mencoba menghitung domba dalam pikiranya, tapi terbayangkan olehnya malah tubuh bugil Romeo dengan senjatanya panjang dan besar,tak ayal semua itu membuatnya menjadi gelisah.


Tari meraih kembali handphone miliknya, kemudian ia kembali mengirim pesan ke Aira.


💌Aira mbak ngak kuat lagi😭, plus emogi menangis.


💌Sabar mbak,.orang sabar di sayang Tuhan, tahan aja ya, anggap aja hari ini mbak puasa lagi, sudah jangan gangguin Aira lagi, Aira sama mas Aldi mau mencoba gaya terbaru, gaya lambung he he, good luck mbak,😊.


Aira terkekeh sendirian sambil membalas pesan dari Tari, ia sengaja mengerjai Tari,padahal ia dan Aldi belum bisa melakukan pergulatan mereka, di karenana kondisi Aldi setelah operasi kecilnya.


Gleg,


Bukanya memberi solusi, Aira justru membuat Tari semakin di landa gegana (gelisah galau merana)


Tari mencoba untuk menggambil napas panjang, ia pun menarik selimutnya untuk menghangatkan tubuhnya yang kedinginan karna menggunakan pakaian transparant.


Dengan berat Tari haru iklas jika hari ini ia harus kembali puasa.


Tari menarik selimutnya hingga menutupi tubuhnya namun saat selimut itu mulai menutupi dadanya, tiba-tiba ada tangan yang menghalanginya.


Romeo menahan selimut tersebut agar tak menutupi tubuh istrinya dengan perlahan ia menggeser tubuhnya semakin mendekati Tari.


Deg dag dig dug,


Jantung Tari berdetak kencang tak kala ia merasakan hembusan napas Romeo yang hangat menyapu lembut di lehernya.


Tangan Romeo perlahan merayap menuju bukit kembar milik Tari kemudian mere*masnya dengan lembut.


Sementara wajah Romeo sudah berada di ceruk leher jenjang miliknya.


Romeo menyesap lembut bagian lehernya hingga membuat Tari mengelinjang merasakan panas dingin karna menahan hasrat yang sudah tak tertahan kan.


Romeo membalik kan tubuh Tari agar menghadap kearahnya.


Jantung mereka berdetak kencang saat kedua netra tersebut beradu, tatapan penuh damba terlihat dari keduanya.


Romeo mengulas senyum manisnya,.netranya serus menatap mahluk Tuhan yang paling seksi tersebut.


Hatinya mengagumi pemilik paras cantik yang ada di hadapanya," Tar kamu cantik malam ini," cetus Romeo sambil membelai anak rambut Tari yang menempel dahinya.


Sukma Tari seperti melayang menuju langit tertinggi.

__ADS_1


Tak mampu mengelek, senyum kebahagian langsung terbit di wajah Tari, hatinya berbunga bunga mendapat sanjungan dan pujian untuk yang pertama kalinya dari seseorang yang biasanya bersikaf dingin terhadapnya.


Romeo menatap Tari dengan mata yang berembun, begitupun Tari, suatu kebahagiaan yang tak terlukiskan saat Romeo memintanya.


Setelah saling menatap dan melempar senyuman, Romeo langsung mendaratkan bibirnya pada bibir sensual milik Tari, dengan lembut ia mengulumnya, menyesap bahkan menggigitnya dengan lembut.


Hal itu membuat Tari semakin terbakar gairah,


Tari memejamkan matanya menikmati permainan bibir suaminya, tanganya merayap menyapu lembuh punggung Romeo sementara tangan yang lainya mengusap wajah tampan suaminya tersebut.


Tari membuka mulutnya, mereka pun melakukan permainan lidah yang di ikuti dengan pertukaran saliva


Sudah tak ada jarak dan batasan lagi antara keduanya, karna memang mereka adalah pasangan halal yang telah saling memiliki.


Bibir Romeo masih beradu dengan lembut sementara tanganya merayap di atas punggung melepaskan tali pengaman lingerie tersebut.


Ia pun menarik lembut pakaian tersebut dan membebeskan dari tubuh istrinya.


Tubuh Tari hampir bugil, kini hanya tinggal segitiga pengaman yang menutupi tubuhnya tersebut.


Wajah Romeo berpindah menuju gumpalan kembar yang kenyal, bibirnya menyesap salah satu put*ing padat nan kenyal tersebut, sedangkan jemarinya meremas bagian yang lainya.


Akh, Tari mendesah, tubuhnya mengelinjang merasakan gairah yang memuncah.


Jemari Romeo kembali menyapu lembut bagian tubuhnya, dari bagian dada hingga bagian bawah tubuhn, jemari nakal Romeo mengait tali pengaman segitiga berenda tersebut, dengan perlahan ia menariknya.


Tari menggangkat sedikit bokongnya agar Romeo dengan mudah melepaskan cawat tersebut.


Dalam beberapa detik saja, segitiga tersebut terlepas dari tempatnya, dengan penuh semangat, Romeo mengacak dan menggetarkan kli*to*ris Tari sehingga membuatnya mengelinjang hebat, jari Romeo semakin cepat menari menggetarkan biji kecambah tersebut, sementara mulutnya menyesap salah satu pu*ting dari bukitnya.


Akh, ehm, eks, Romeo benar-benar membuat Tari menggila, tubuh Tari gemetar hebat seiring lengkuhan dan de*sahan yang lolos berkali kali dari bibinya.


"Eks, akh, Rom," panggil Tari lirih, ia benar tak kuat lagi menahannya, Tari membuka lebar ************ agar Romeo segera menghujamminya dengan meriam sakti yang besar dan panjang tersebut.


Romeo menegakkan tubuhnya, secepat kilat ia melepaskan semua penutup tubuhnya.


Hingga tombak tupul pun berdiri dengan gagah berani.


Setelah semua penutup tubuhnya terlepas, Romeo mendekatkan senjatanya kerawa basah milik istrinya.


"Rom, pelan-pelan, "guman Tari.


Ehm, Romeo membalas dengan deheman.


Romeo memasukan senjatanya yang besar dan panjang tersebut dengan perlahan dan hati-hati, matanya merem saat benda pusaka tersebut masuk kedalam lhbang sempit hangat dan berlendir.


Akh, guman Tari lirih, ketika senjata tumpul tersebut masuk kearea pribadi miliknya, tubuh bagian bawahnya bagai terbelah namun terbelah dengan cara yang nikmat.


Baru setengah tongkat tersebut masuk, Romeo kembali menariknya, ia pun memperlebar renggangan kedua pa*ha Tari agar senjata tersebut masuk dengan sempurna.


Akh! teriakan Tari tertahan, ia menggigit bibirnya saat merasakan senjata tumpul kembali menghujani bagian bawahnya.


Pusaka Romeo sudah masuk secara penuh dengan lembut ia menyodokan tongkat jahanam tersebut hingga bagian paling dalam dari daerah milik Tari.


Akh, esh ehm, keduanya saling melengkuh saat permukaan kulit mereka saling bergesek, tak hanya batang tersebut yang membuat Tari melengkuh hebat, sentuhan kedua telur burung tersebut semakin membuatnya merasa nikmat saat Romeo menghujaminya dengan senjata tumpul sakti mandraguna milikny.


Romeo memulai gerakanya dengan perlan, saat senjatanya terus menghujami serangan pada goa sempit tersebut bibir Romeo juga bergerelia menyesap dan menjilati salah satu dari kedua bukit kembarnya, sementara tangan yang satunya mere*mas dengan lembut dan mengelik puncak bukit.


Keduanya sama-sama tak bisa diam, mereka bergerak dengan irama tak beraturan.


Tari tak berdaya, ia hanya mampu melengkuh, mende*sah menikmati sensasi yang membuatnya hampir menggila.


Tubuhnya terkukung oleh tubuh kekar Romeo, sementara Alat gerak Romeo semua bekerja dengan agresif.


Kedua tangaanya meremas bukit kenyal tersebut, sementa bokongnya terus menghentak-hentak menghujami lawannya dengan senjatanya, hingga membuat lawanya hanya bisa pasrah seraya mendesah.


Romeo terus berayun di tubuh Tari, kudanya terus memacu dengan gerakan slow, namun setelah kurang lebih setengah jam, Romeo sudah tak mampu menahan, ia ingin menuntaskan pergulatan ronde pertama ini, agar bisa kembali dengan ronde keduanya.


Kuda pacu Romeo terus menerjang mengesek-gesekan pedang tumpul tersebut pada daerah rawan milik Tari.

__ADS_1


Kecepatan pacuanya semakin bertambah hingga mengguncang arena pertempuran.


Tari mengeerang nikmat, tak kala kuda milik Romeo terus memacu dengan kecepatan tinggi.


"Rom, Akh,"de*sahnya, bibir Tari gemetar seiring tubuhnya terguncang.


Akh !nikmat banget," guman Romeo sambil menyentak-nyentak di lubang sempit dan berdenyut tersebut.


Akh!!, Romeo melengkuh, ia sudah tak bisa menahan larvanya untuk tumpah, kudanya semakin memacu cepat membuat keringat terus membanjiri tubuhnya.


"Tar, gue tembak sekarang ya?" tanya nya sambil mendesah.


Ehm, guman Tari.


Akh! Tari memekit tertahan, saat senjata Romeo menghentak untuk yang terakhir kalinya sebelum larva hangat tersa mengalir di dalam organ intimnya.


Hm, Romeo terus memacu kuda jantannya yang telah menciut tersebut.


Ia begitu puas menikmati lubang hangat dan sempit milik istrinya.


Romeo masih mengukung tubuh Tari, diatas tubuh gemulai istrinya tersebut ia mengatur napasnya, sementara kudanya yang menciut terus ia gesekan pada permukaan basah milik istrinya.


Tari begitu menikmati sentuhan Romeo, ia membiarkan tubuh kekar Romeo mengukungnya, bahkan tak masalah baginya jika tubuh tersebut semalaman mengukungnya.


Napas Romeo mulai teratur, suhu tubuhnya pun kembali mendingin namun ia tak mau beranjak dari kasur empuk dengan bantalan kenyal berupa dua bukit kembar tersebut.


Seperti bayi yang kehausan, dengan rakus Romeo menghisap pu*ting tersebut, hingga membuat, kuda jantannya kembali mengembang dengan ukuran yang lebih besar.


Romeo menegak kan tubuhnya,matanya menatap wajah wanita cantik yang ada di hadapanya.


Romeo tersenyum puas, dengan lembut ia menyapu keringat yang membasahi wajah Tari, dengan segenap perasaan dan rasa penghargaannya Romeo mengecup kening Tari kembali sebelum memulai pertempuran ronde keduanya.


"Tar, boleh aku pakai lagi?"tanya Romeo.


Tari tersenyum, tanganya yang gemetar meraba wajah Romeo yang terlihat lelah.


"Pakailah Rom, karna ini milik mu dan hanya untuk mu, ucap Tari dengan mata tang berembun haru.


Romeo tersenyum lagi, ia seperti mendapakan jawaban yang memuaskan.


Romeo memeluk tubuh Tari sejenak, sebelum kembali menancapkan senjatanya.


Kuda perang Romeo, telah siap di medan pertempuran.


Karna merasa medan tempurnya sudah becek, maka kali ini ia akan menggunakan strategi gencatan senjata.


Baru beberapa detik kuda tersebut menerobos lorong sempitnya, lubang tersebut kembali di hujani dengan serangan yang mematikan, kali ini irama permainan Romeo semakin cepat, kuda jantannya terus menacu menerobos dan membelah selah sempit tersebut hingga membuat sang pemilik mengerang seraya mengelinjang.


Medan tempur mereka sudah acak-acakan, serangan buas Romeo membuat tubuh keduanya memantul-mantul di atas kasur empuk tersebut.


Suara erangangan dan des*ahan kenikmatan, saling sahut menyahut, seiring goncangan gempa lokal di atas rangjang.


Akh! teriakkan tertahan serentak dari keluar dari mulut keduanya saat Romeo kembali berhasil menghujani lubang sempit tersebut dengan larva hangat nan nikmat.


Romeo menjatuhkan tubuhnya di samping tubuh sang istri.


Tubuhnya terasa lemas juga terasa letih, namun senyum kepuasan kembali terbit di bibirnya tak kala netra mereka kembali beradu.


Romeo mengulurkan tanganya untuk menjangkau tubuh Tari, ia pun merangkul tubuh yang basah tersebut sembari mengecup pucuk kepalanya.


"Terima kasih ya Tar, kau memang pasangan terbaik," ucap Romeo sambil mengecup pucuk kepala istrinya.


"Sama-sama Rom, kau adalah pasangan terbaik dan anugrah yang paling sempurna yang pernah aku miliki," ucap Tari seraya mempererat pelukanya.


Mereka pun saling merangkul dan tersenyum bahagia, hari ini adalah hari terindah sepanjang sejarah hidup Tari, ia begitu bahagia, karna hampir semua yang ingin kan dapat tercapai hari ini.


Hanya satu lagi ia harus menunggu, menunggu Romeo untuk berucap cinta padanya.


Aw, aw, kapan kah itu terjadi.

__ADS_1


Ah panas!!, please reader bagi vote like dan komentarnya dong reader, author untuk menyemangati author yg bergadang demi menyelesaikan bab ini.


__ADS_2