Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Seseorang dari masa lalu


__ADS_3

Setelah acara aqiqah selesai, Edo masih berada di rumah mbok Jum, hasrat untuk mengetahui apa yang terjadi pada Aira sebenarnya sudah tak mampu di bendung lagi.


Edo menyurur ajudannya untuk pulang terlebih dahulu, sementara ia masih ingin mengobrol dengan pemilik rumah.


Karna ini bukan merupakan safari dinas, ajudan tersebut menuruti.


Secara empat mata Aira dan Edo duduk saling berhadapan dengan meja panjang sebagai jarak dan pembatas antara mereka.


Aira sudah curiga jika Edo akan menanyakan keberadaannya di kampung ini.


Mereka duduk berdua dengan situasi yang cukup meneganggkan.


Edo menyerup kopinya yang terhidang di meja untuk menghilangkan rasa gugupnya.


Aira melirik kearah Edo, keduanya bungkam untuk beberapa menit.


"Ryanti, sebenarnya apa yang terjadi padamu?"tanya Edo yang memulai pembicaraannya.


"Berjanjilah mas untuk tidak memberitahu siapa pun tentang keberadaan ku dan anak ku," sahut Air ketus.


Ehm, Edo berguman sambil memijat pelipisnya dengan mata tak beranjak menatap Aira.


"Iya aku berjanji tak memberi tahu siapa pun tentang keberadaan mu dan putrimu," ucap Edo.


Aira menarik napas sebenarnya ia tak inggin membicarakan hal tersebut pada siapa pun, selain bisa membuatnya kembali terluka, ia juga tak ingin ada orang lain yang mencampuri urusannya.


"Aku dan Mas Aldi sudah bercerai sejak aku hamil sebulan, dan sekarang aku mencoba untuk membuka lembaran hidup baru, dengan tinggal di desa terpencil ini,"jawab Aira jujur.


Edo terdiam, entah kenapa ada perasaan bahagia timbul di hatinya saat mengetahui gadis yang dulu begitu ia idamkan kini menyandang status janda.


"Lalu apa Aldi tahu keberadaan mu di sini, apa dia tak mencari keberadaan mu?"tanya Edo.


"Ngak ada yang tahu keberadaan ku disini, jadi aku mohon dengan sangat, agar mas Edo tak memberitahu kepada siapa pun termasuk mas Aldi."


Edo menggangguk, ia coba menerka apa yang terjadi antara Aira dan Aldi dari keterangan singkat Aira.


"Jadi usaha kripik usus itu adalah usaha kamu?"tanya Edo.

__ADS_1


"Iya Mas, aku lihat penduduk di sini tuh pertumbuhan ekonominya lambat, kampung mereka menjadi sepi karna sebagian mereka memilih meninggalkan perkampungan mereka dan bekerja sebagai pemantu rumah tangga karna itu sudah seperti menjadi tradisi bagi mereka, jika keadaan ini terus berlanjut, kampung ini tak akan mengalami peningkatan sumber daya manusianya, hanya punya cita-cita untuk menjadi pembantu sebagai mata pencaharian mereka."


"Aku hanya ingin mereka berpkir untuk mandiri, mencari napkah bisa di mana saja meski di tempat yang terpencil sekalipun seperti kampung ini, aku mau menanamkan anggapan yang salah yang sudah turun menurun hingga kampung ini mendapat predikat kampung pembantu, karna sebagaian mereka hanya bekerja sebagai pembantu dan hal itu pun di turunkan ke generasi mereka selanjutnya, jika tak ada yang menggerakkan dan mensosialisasi mereka, maka selamanya predikat kampung pembantu akan terus melekat di kampung ini," papar Aira.


Eh, Edo melirik kearah Aira yang seolah berorasi kepadanya, kekaguman semakin muncul di hati Edo, Aira gadis yang baru saja berusia delapan belas tahun bisa berpikir ktitis seperti itu meski ia tak berpendidikan tinggi.


"Iya, kamu benar, nanti saya akan suruh kades di daerah masing-masing untuk membuat proposal berupa pembangunan sarana perkampungan ini, akses jalan akan di perbesar, dan beberapa swalayan juga pasar tradisional akan di adakan di lokasi tak jauh dari sini, bahkan saya sebagai bupati akan berusaha membantu dengan memasukan infestor asing dalam pembangunan beberapa pabrik disini, dengan demikian para warga juga bisa mendapat pekerjaan layak, sehingga pendapatan perkapita di daerah kita bisa meningkat dan di barengi semua itu desa ini akan menikmati sarana dan prasara karna pembangunan salah satu pabrik yang ada di sini, sehingga desa yang terpencil ini bisa lebih maju dan kesejahtreraan mereka pun meningkat.


Setelah mengobrol tak kurang dari satu jam, Edo pun pamit undur diri dari rumah mbok Jum.


Edo keluar dari rumah tersebut di antar oleh Mbok Jum dan Aira, kepulanganya pun masih menjadi pusat perhatian masyarat setempat.


Edo menyetir sendiri mobilnya, dengan kecepatan sedang mobil tersebut keluar dari gang rumah mbok Jum.


Pikiran Edo mulai kacau, melihat Aira yang kini sudah menjanda, terbesit keinginan nya untuk segera melamar janda satu anak tersebut.


Edo tak ingin ada yang mendahuinya seperti yang terjadi di masa lalunya, hingga Aira kembali di miliki oleh orang lain.


Setelah memikirkan dengan seksama akhirnya Edo memutuskan untuk membicarakan hal ini kepada kedua istri sirihnya, yakni Nina dan Dewi.


Edo langsung menuju ke kediaman kedua istrinya, bermaksud untuk meminta ijin dan menyatakan maksudnya untuk mempersunting Aira.


Hampir dua jam waktu yang Edo tempuh untuk sampai ke kediamamnya.


Dewi dan Nina memang tak tinggal seatap, mereka diam di dua rumah yang berbeda namun berhimpitan.


Kedatangan Edo di sambut bahagia oleh kedua istrinya apalagi kini, Nina tengah mengandung anak ketiga darinya.


Saat itu kebetulan Nina dan Dewi sedang main bersama di halaman rumah.


Keduanya menggunakan stroler masing-masing untuk membawa jalan anak-anak mereka yang berusia setahun lebih tersebut.


"Yey ayah pulang!" seru Nina dan Dewi menyambut kedatangan suaminya yang sekarang jarang hadir di antara mereka, karna kesibukannya menjadi pemimpin salah satu daerah tinggkat dua.


Begitupun Bagas, yang berusia hampir tiga tahun tersebut berlari menghampiri abang sekaligus ayah sambungnya.


Melihat penyambutan hangat dari keluarga nya, ada rasa ragu di hati Edo untuk merusak kebahagiaan mereka.

__ADS_1


Edo keluar dari mobil, kemudian mencium satu persatu anak dan istrinya, kebahagian terpancar dari kedua istri yang hampir sebulan ia tinggalkan tersebut.


Sebagai kepala daerah, Edo tak boleh berpoligami, makanya Nina dan Dewi status mereka tetap sebagai istri sirih.


Keluarganya berkumpul di ruang tamu, sebelum sampai di rumah, Edo menyempat kan diri untuk membeli oleh-oleh keluarganya.


Mereka pun ngobrol beberapa saat, sebelum ia memulai mengungkapkan keinginannya untuk menikah lagi.


"Nina, Dewi, ada sesuatu hal yang ingin mas ungkapkan kepada kalian." Edo.


Keduanya pun menyimak dengan antusias karna mereka begitu menghormati Edo sebagai seorang suami.


"Ada apa Mas?"tanya Nina yang melihat Edo terlihat ragu mengatakkanya.


Kedua wanita tersebut menatap kearah pria gagah yang ada dihadapannya.


Edo menelan ludahnya mengatur napasnya, meski berat ia harus mengatakan hal itu secepatnya karna ia tak ingin kembali di dahului orang lain.


"Mas ingin menikah lagi," ucap Edo secara singkat, padat dan jelas.


Jregggg.


Bagai tersambar petir di siang bolong, berita tersebut sungguh membuat mereka syok sekaligus terluka.


Bagaima tidak saat ini saja mereka sudah bersusah payah menahan hati karna harus membagi cinta mereka.


Kini suaminya kembali ingin membagi tiga cinta mereka.


Sejenak mereka terdiam saling memandang, air mata coba mereka tahan meski sangat sulit.


Edo melihat kedua istrinya secara bergantian.


Nina dan Dewi menghapus air matanya, mencoba untuk bersikaf tenang.


"Siapa wanita yang ingin merebut mu dari kami Mas?" tanya Nina.


Bersambung.tinggalkan like komen, votenya ya untuk mendukung author.

__ADS_1


__ADS_2