Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Di Jebak


__ADS_3

🌷Mengandung adegan dewasa, bijak lah dalam memilih bacaan🌷


Di sebuah hotel berbintang lima.


Lenggak lenggok tubuh Aura berjalan melewati koridor hotel, sambil melihat-lihat angka pada pintu yang ada pada kamar hotel, setelah menemukan kamar yang ia maksudkan, ia pun berhenti dan mendekati pintu tersebut kemudian menekan bell.


Beberapa waktu berlalu, seorang pria gagah berumur sekitar empat puluh lima tahun membukakan pintu untuknya.


Krek pintu terbuka.


Dengan santai Laura masuk ke kamar hotel tersebut, dengan langkah gemulainya.


Setelah mendapati sofa empuk, Laura pun duduk dengan anggun sambil menyilangkan kedua kaki jenjangnya.


"Ada apa Om? menyuruhku datang ke mari," ucap Laura sambil menyalakan rokok yang melekat pada bibir sensualnya.


"Apa lagi Laura selain_" Hendro mendaratkan punggungnya sambil menaik turunkan alisnya.


Aura melempar matches keatas meja kaca yang ada di hadapanya, kemudian menghisap rokok yang baru saja ia bakar.


"Berapa Om berani bayar per Rondenya?"tanya laura sambil membuang asap rokok melalui mulutnya.


He he he..Hendro tertawa terkekeh.


"Kamu maunya berapa?"tanya Hendro kembali, sambil meraih gelas seloki di atas meja, kemudian meneguknya.


Ehm,.Aura melempar senyum smirk nya kearah Hendro.


"Lima puluh juta, untuk satu Ronde,"ucapnya serius.


"Ha ha, its okay."Hendro.


Hendo tersenyum senang, tubuhnya ia tegakkan kembali sambil meraih handphonenya.


"Berapa nomor rekening kamu? Aku langsung transper seratus lima puluh juta, untuk tiga ronde di malam ini," ucap Hendro.


Uhuk..uhuk..uhukk,.laura tersedak.


"Hah, dari mana Om punya uang sebanyak itu?.bukanya pengelolahan keuangan Om selalu di jaga oleh tante Rita?"tanya Aura sambil membuang puntung rokok pada asbak.


"Itu dulu, sekarang aku bebas menggunakan uang ku," ucapnya sambil tertawa kecil.


"Karna aku sudah menyingkirkan si dungu Rita tersebut kedalam penjara." Hendro.


"Hah Tante Rita di penjara?"tanya Aura syok.


"Iya kenapa?"tanya Hendro sambil berdiri dan mendekati Aura.


Aura melirik tangan Hendro yang mengelus pa*ha mulusnya tersebut, Hendro menggigit bibir bagian bawahnya karna merasa berhasrat melihat kecantikan dan keindahan tubuh gadis yang ada di hadapanya.


Sementara Aura merasa risih dengan tatapan Hendro.


Aura menepis tangan Hendro.


"Entalah Om, aku sudah berhenti melayani pria hidung belang, sejak aku jatuh cinta pada seorang pria," ucap Aura.


Ha ha ha," Siapa pria itu? Aldi?" Terka Hendro.


"Iya, siapa lagi, kalau bukan dia, aku hanya menginginkan nya untuk saat ini, aku bahkan tak menerima job ber*len*dir itu lagi sejak aku merasakan perasaan cintaku terhadapnya," ucap Aura sambil membuang wajahnya.


Ha ha ha, Hendro tertawa semakin besar.


"Kurasa sudah terlambat Aura, apa yang terjadi jika Aldi sampai tahu jika kau seorang pe*la*cur, He he he" Hendro.


"Sudalah layani saja aku, aku bisa memuaskan kan mu, selain itu kau bisa dapat uang dengan cepat." bujuknya lagi.


"Aku ngak mau Om, aku mau pulang saja," ucap Aura sambil berdiri.


"Ops,Ops, sini dulu, aku punya tawaran menarik untuk mu,"ucap Hendro sambil menarik tangan Aura.


Aura duduk kembali sambil menyilangkan kedua tanganya di dada.


"Apa tawaranya?"tanya Aura.


"He he he, layani aku sekarang, kau akan dapat uang seratus lima puluh juta, kepuasan dan juga Aldi," ucap Hendro sambil meneguk botol minuman keras tersebut, ia sudah tak tahan jika harus menunggu lebih lama untuk menikmati tubuh gadis tersebut.


"Maksud Om?"tanya Aura yang tertarik.


"Aku akan membantu mu untuk mendapatkan Aldi bahkan dengan cara yang licik, kau harus lakukan hubungan in*tim dengan ku, sampai kau hamil, setelah itu kita jebak Aldi, buat seolah-olah jika itu adalah anaknya," ucap Hendro.


"Tapi Om, bagaima jika Aldi curiga dan melakukan tes DNA?" Aura.

__ADS_1


"Kau tenang saja, semua akan beres, dengan uang kita bisa melakukan apa saja, ha ha ha." Hendro.


Aura memicingkan matanya," aku ngak yakin om,"ujar nya lagi.


"Ayolah Aura,kau akan dapat dua ke untungan sekaligus jika kau melayaniku sekarang, uang dan Aldi, tetapi kalau kau menolak ku, kau juga mendapat dua kerugian, yang pertama aku akan membongkar siapa kau di depan Aldi dan yang kedua kau kehilangan uang seratus lima puluh juta, di saat karir mu tengah meredup saat ini," ucap Hendro dengan senyum menyeringainya.


Aura tertegun, ia masih binggung untuk memilih.


Hendro semakin tak sabar melihat bibir merah yang menggiurkan tersebut.


"Ayo lah Aura, tinggal sebutkan nomor rekeningmu, melayani ku dan kau akan dapatkan uang dan juga Aldi, aku janji itu, karna kartu As Aldi ada di tangan ku," ucap Hendro sambil menggoyangkan kakinya.


Hendro semakin tak sabar, berkali-kali ia menelan salivanya.


"Atau aku telpon Aldi sekarang, agar ia tahu siapa kau? dengan begitu kau tak kan bisa lagi merayunya," ucap Hendro sambil menghidupkan matches nya kembali.


Aura semakin binggung untuk memilih, setelah beberapa saat mempertimbangkan keputusannya, akhirnya ia setuju.


"Baik lah Om, tapi Om janji akan membantu ku untuk mendapatkan Aldi, "ucap Aura.


"Oh itu gampang Aura, biarkan aku makan nangkanya dan biarlah Aldi yang mendapakan getahnya...ha.. getahnya," ha ha ha, Hendro menggelak tawa renyah nya.


Cuih..


"Jika saja bukan karna Aldi, aku tak mau melayani Om Hendro," guman Aura sambil memutar bola matanya keatas.


"Ayo Aura kau tunggu apa lagi, ujar Hendro sambil meneguk botol minuman yang sudah di campur dengan obat perang*sang tersebut.


"Sebutkan nomor mu saja,"


Setelah memberi nomor rekeningnya dan memastikan uang tersebut sudah di transfer secara penuh oleh Hendro, Aura pun menyimpan kembali handphonenya ke dalam tas.


Hendro menelan salivanya kembali, ia merasa sungguh bergai*rah.


Aira pun mendaratkan bokongnya di atas tempat tidur, kemudian ia berbaring dengan pasrah.


Sementara Hendro ia merangkat naik di atas kasur embuk sambil menjilat bibir bagian bawahnya, dengan rasa tak sabar untuk menikmati daun muda tersebut, ia langsung melicuti seluruh penutup tubuhnya.


Matanya membelalak sempurna melihat keindahan lekuk tubuh yang sangat kencang tersebut, tangan kekarnya perkahan melepaskan satu persatu penutup tubuh Aura.


Aura membuang wajahnya saat melihat Hendro yang berkali kali menelan salivanya tersebut.


"Ayo lah Aura, bayangkan saja jika aku ini Aldi, kau boleh menutup matamu dan membayangkan wajah muda dan tampannya si Aldi tersebut."


Hendro pun memulai aksinya,.ia mengecup bagian bawah tubuh Aura, hingga membuat Aura mengelinjang.


Akh, desis Aura.


Hendro yang sudah tak mampu menahan tersebut, perlahan naik di atas tubuh indah Aura yang tanpa cacat sedikit pun , secepat kilat ia memasukan meriam tempurnya dan menyerang lawanya dengan serangan brutal yang mematikan.


Tubuh Aura yang terguncang akibat seranganya brutalnya tersebut semakin membuat Hendro bergairah, berkali kali Aura melengkuh seiring variasi gerakan yang di lakukan Hendro.


Hendo tak hanya menyerang bagian bawah gadis tersebut, ia juga menikmati setiap inci tubuh gadis itu dengan lidahnya, hingga beberapa tatto terpatri di tubuh mulusnya.


Awalnya Aura cukup menikmati permainanya bersama Hendro,.tapi lama-lama ia mulai merasa lelah karna setelah berjam-jam berada di atas tubuhnya, Hendro belum juga mengakhiri permainanya, tiga jam Aura di buat tak berkutik karna terkukung oleh tubuh besar Hendro.


" Hentikan Om, ini sudah berjam-jam," keluh Aura sambil meringis merasakan perih.


Tapi Hendro tak peduli, ia masih saja melancarkan aksinya.


"Udah Om,! "pinta Aura berkali-kali dengan mengiba, ia sudah lemas dan kehilangan tenaganya, namun Hendro semakin kuat menggempurnya hingga Aura merasa lemas dan tak berdaya ia pun pingsan karna kelelahan.


Bukanya berhenti Hendro terus melancarkan Aksinya, bahkan sesekali ia berhenti hanya untuk kembali meminum obat kuat yang bisa menambah tenaganya sambil merekam perbuatan bejatnya tersebut.


Hendro seperti kerasukan setan, entah berapa kali ia menembakan pelurunya pada rahim Aura, kejadian tersebut berlangsung dari malam hari hingga mendekati subuh.


Saat ia mulai lelah ia kembali meminum bir dan obat yang mengembalikan tenaganya.


Jam dinding sudah menunjukan pukul lima pagi, barulah Hendro berhenti menyerang, karna ia sudah lelah dan kehabisan tenaga, seluruh tubuhnya basah oleh keringat.


Tubuh Hendro tergeletak, saat tubuhnya tak mampu lagi melakukan penyerangan terhadap Aura, ia sendiri merasa lemas sekaligus puas.


Hendro terbaring mengatur nafasnya sambil tertawa puas.


"Aku sudah merekamnya Aura, hari ini aku membayarmu mahal, tapi besok kau akan memberi ku secara gratis," Ha ha ha, Hendro kembali mengelak tawanya.


Matahari mulai meninggi, pantulan sinar mentari masuk ke celah-celah jendela dengan gorden yang masih tertutup rapat.


Aura tersadar dan merasakan sakit pada sekujur tubuhnya, matanya menerjab-nerjab sambil mengedar pandanganya kearah sekitar.


Matanya melihat kearah jam dinding yang menunjukan pukul dua belas, ia mengira jika waktu saat itu masih tengah malam.

__ADS_1


Aura mencoba duduk dan bersandar pada headbord,tulangnya terasa remuk dan ia merasakan pedih sekaligus nyeri pada bagian bawah tubuhnya, seketika ia menangis dan meringis melihat noda yang ada pada bagian bawah tubuhnya, noda itu sangat banyak dan entah berapa lama Hendro menikmati tubuhnya.


Hiks...hiks..., Aura memukul tubuh kekar yang ada di sampingnya, namun tanganya yang lemah seolah tak berdaya, ia pun kembali menangis tergugu membayangkan seperti apa perlakuan Hendro terhadapnya saat ia tak sadar.


Aura mencoba bangkit, meski tubuhnya terhuyung, sesekali ia meringis merasakan sakit pada bagian bawah tubuhnya.


Aura berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya, mata nya membelalak membulat dengan sempurna karna kaget saat melihat tubuh polosnya di cermin, tato buatan Hendro hampir menyebar memenuhi seluruh tubuhnya.


Aura kembali menangis di depan cermin, "Lihat lah Aldi, pengorbanan ku untuk mendapatkan mu, apa pun yang terjadi, kau harus jadi miliku!!" ucap Aira sambil memukul cermin tersebut hingga pecah.


Aura pun kembali melanjutkan ritual mandinya, butuh waktu lama membersihkan semua noda yang menempel pada tubuhnya tersebut.


Aura masuk kedalam bathtub, dan merendam tubuhnya dengan air hangat, sesekali ia menitikan air matanya, menyesali pertemuanya dengan Hendro.


Setelah beberapa lama menghabiskan waktunya untuk mandi, Aura kembali berjalan menuju kamar dengan langkah gontai, ia kembali menghempaskan tubuhnya keatas tempat tidur, rasanya dengan tubuh yang sakit seperti ini, ia tak mungkin pulang.


Aura kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, di samping Hendro.


Melihat Hendro yang terbaring tanpa busana membuat Aura semakin merasa jijik dan muak terhadap lelaki tersebut.


Aura memejamkan matanya, karna merasa begitu lelah, ia pun kembali pingsan.


***


Keributan terjadi pada sel wanita, lagi lagi, Rita di bully dan di keroyok secara beramai-ramai oleh penghuni sel wanita.


Mereka tak menyukai Rita yang bersikaf arogan dan tak mau menuruti perintah bos penghuni lapas.


Keributan memancing sipir wanita untuk datang ketempat tersebut, melihat wajah Rita yang berantakan dan menangis membuat Sipir tersebut bertanya pada mereka.


"Apa yang terjadi?"tanya Sipir tersebut.


"Tidak terjadi apa-apa Bu, hanya saja wanita tersebut sepertinya sudah gila, ia terus membuat keributan dengan kami semua," dalih salah seorang mereka.


"Iya Bu, sejak kehadiran dia di sini selalu saja terjadi keributan," imbuh salah satu dari mereka lagi.


Rita seolah tak bisa membela diri, karna mereka semua sudah kompak, ia hanya bisa menangis tergugu.


Sipir tersebut mendekat kearah Rita, "Apa masalah mu?!"tanya Sipir tersebut kepada Rita.


Rita menggelengkan kepalanya, Ia mengdongkak kan kepalanya untuk bicara pada sipir tersebut.


"Tolong pertemukan saya dengan keluarga saya, mereka tak mengetahui keberadaan saya di sini," pinta Rita dengan mengiba.


"Baiklah akan ku hubungi suami mu, tapi karna kau sudah membuat ricuh, maka makan siang mu di tiadakan haru ini," ucap sipir tersebut sambil berlalu meninggalkan Rita.


Sepeninggalan sipir tersebut Rita menangis kembali, sementara penghuni lapas lainya malah mentertawakanya.


Rita duduk meringkuk di sudut dinding jeruji besi, perutnya terasa sakit, sehari ia hanya makan sekali, karna jatah makanya selalu di ambil penghuni yang lain.


hiks hiks, tetes air mata Rita meluncur hingga jatuh dilantai berubin dingin tersebut.


"Mas Satria, Aldi, dimana kalian?"gumanya sambil menangis.


Saat kesendirian dan kesedihanya tersebut, seorang laki-laki bertubuh tegap datang menghampirinya.


"Hallo sayang, "ucap Hendro sambil menunduk mensejajarkan dirinya dengan Rita.


"Keluarkan aku dari sini Hendro, akan ku berikan apapun yang kau mau," ucap Rita dengan wajah datarnya.


"Oh sayang, aku sudah mendapatkan semuanya selama kau disini, apa kau tahu sayang? dengan uang mu itu aku bebas menyewa wanita malam yang cantik dan muda, dan bahkan aku akan menikah dengan gadis belia, sayang," He he he, Hendro menggelak dengan tawa mengejek.


Rita menitikan air matanya,


"Cup..cup..,tenang sayang,jangan jealous gitu donk, bagi ku kau tetaplah istri pertama ku," ha ha ha.


"Ini sayang, aku bawa makanan enak untuk mu, kasihan kau terlihat sangat kurus dan tua...tua ...tua sayang, " Ha ha ha.


Hendro menyodorkan bungkusan hitam.


Rita memicingkankan matanya menatap laki-laki yang ada di hadapannya tersebut.


Cuih,...Rita meludahi wajah Hendro, dengan geram Hendro menarik rambut Rita, "Aku akan membuat mu lebih menderita,!" ucap Hendro, kemudian melepaskan cengraman tangannya.


Hendro meninggalkan Rita begitu saja.


"Aku ingin bertemu Aldi, Hendro! tolong beri tahu putra ku jika aku ada di sini!" teriak Rita sambil menangis.


Tapi Hendro terus berlalu tak sedikit pun ia menoleh, Rita kembali bersimpuh menangis, ia merasa begitu rindu pada Aldi.


Bersambung.

__ADS_1


Tinggalkan dukunganya, like, komen,vote dan hadiahnya, trims


__ADS_2