
Setelah dari pantai Bagas membawa Alia menuju rumahnya, untuk bertemu dengan ibunya.
Brum suara motor Bagas berhenti di depan rumahnya.
Bagas turun dari motor dan membuka pagar rumah, kemudian mendorong motornya.
"Maaf ya Alia beginilah keadaan rumah ku,"ucap Bagas.
"Ngak apa kok Gas,"Alia ikut masuk kedalam halaman rumah Bagas.
Alia memperhatikan sekeliling rumah Bagas yang cukup asri, di mana ada pohon mangga yang berbuah masak.
"Gas ada buah mangga masak, mau ngak ambilin untuk aku,"pinta Alia tanpa basa-basi.
Ia memang senang dengan buah-buahan yang langsung masak di atas pohon.
"Oh ini," tunjuk Bagas pada buah mangga.
"Jangankan buah mangga, bintang di langit juga akan aku petik untuk kamu kalau kamu mau," ucap Bagas merayu.
"Ngak lah, aku ngak butuh bintang di langit, kamu juga sudah jadi bintang di hati ku " ucap Alia malu-malu.
"Cie, Abang di gombalin nih Neng, " ucap Bagas seraya tersenyum.
"Yah udah aku ambilin semua, untuk kamu."Bagas.
Bagas pun memanjat dan memetik buah mangga tersebut kemudian di berikan langsung pada Alia.
"Terima kasih Bagas," ucap Alia senang.
"Sama-sama sayang," sahut Bagas.
Alia tersenyum mendengar Bagas memanggilnya dengan sebutan sayang, seteh itu ia pun turun.
***
Nina membuka pintu depan rumahnya karna mendengar suara seperti orang yang sedang berbicara.
Krek... pintu di buka seketika Alia melempar senyum kearah Nina.
"Eh ada tamu?"ucap Nina, ia pun pangling melihat wajah cantik yang ada di hadapannya.
"Selamat siang ibu, Assalammualaikum." Alia mengucap salam seraya mencium punggung tangan Nina.
"Waalaikum salam?"jawab Nina.
"Ehm pasti ini yang bernama Alia ya?"tanya Nina memastikan.
"Hm iya Bu,Bagas cerita ya Bu." Alia masih tampak malu.
"Iya, Ayo silahkan masuk?"ajak Nina.
Alia masuk ke dalam rumah sementara Bagas kembali memetik beberapa buah mangga kemudian membawanya masuk.
Alia duduk dengan sopan di atas kursi tamu.
"Duduk dulu ya Alia, ibu bikin minum,"ucap Nina.
"Ngak usah repot Bu," ucap Alia sungkan.
Alia mengamati sekeliling ruangan tersebut dan menemukan foto Bagas ketika ia masih berseragam merah putih.
Alia mengulum senyum.
"Ehm ternyata benar,kamu Bagas yang dulu sering gangguin aku waktu kecil?"gumanya.
Bagas keluar membawa beberapa mangga sebuah mangkok dan piring serta pisau.
Bagas duduk di samping Alia kemudian mengupas buah mangga.
__ADS_1
"Nih Alia," ucap Bagas seraya menyodorkan potongan buah tersebut kepada Alia.
Alia meraih dan menjemput kemudian memakannya.
"Hm manis Gas, kayak kamu?"ucap Alia. seraya tersenyum melirik ke arah Bagas.
"Masak sih?"ucap Bagas tersenyum.
"Gas aku jadi kesel kalau lihat foto itu," tunjuk Alia pada foto masa kecil Bagas."jadi ingat sama anak cowok yang ngesilin baget deh."
Bagas tersenyum kearah Alia seraya mencolet dagunya, kemudian bersandar seraya merentangkan tangannya pada sandaran sofa.
"Mungkin itu cara aku buat ngambil perhatian kamu kali Alia,
Karna diantara anak-anak TK yang lain, kamu paling lucu dan menggemaskan, dan sampai sekarang aku ngak nyangka jika bisa pacaran sama kamu," ucap Bagas,ia pun tersenyum.
Alia melirik ke arahnya ia selalu terpesona dengan senyum Bagas yang memperlihatkan dua ginsulnya.
Bagas memang berbeda, dengan senyumnya ia bahkan bisa menundukan gadis sekelas Alia.
"Gas kamu jangan senyum terus dong, aku jadi gemes,"ucap Alia.
"Hm masa' sini aku peluk biar gemesnya ilang," Bagas merentangkan tangannya, namun beberapa lama kemudian Nina datang membawa minuman segar kepadanya.
Bagas pun tak jadi merangkul Alia.
"Silahkan di minum Nak," ucap Nina.
"Iya Bu," jawab Alia ia pun meminum air yang ada di dalam gelas.
Nina duduk berhadapan dengan Alia.
"Alia kamu tinggal di mana?"tanya Nina memulai obrolan.
Sementara Bagas memotong buah mangga untuk Alia.
"Alia tinggal di komplek Puri Kencana Bu,"jawab Alia santai.
Nina terdiam karna syok mendengar penuturan Alia.
Puri kencana itukan komplek paling elit yang ada di kota ini, Ya Tuhan apa keluarga Alia bisa menerima Bagas ya?kasihan Bagas jika sampai orang tua Alia tak merestui hubungan mereka, Bagas pasti akan kecewa.
"Kenapa Bu?"tanya Alia yang melihat Nina yang tiba-tiba terdiam.
"Ah ngak Kok,"jawab Nina,ia pun tersenyum.
"Nih sayang buah mangganya."Bagas menyodorkan buah mangganya tersebut kepada Alia.
Dengan senang hati ia menikmati buah mangga.
Nina melihat kesungguhan Bagas terhadap Alia ia pun meninggalkan kedua pasangan yang sedang dimabuk cinta tersebut.
Alia menyodorkan mangga itu ke mulut Bagas dan ke mulutnya juga, secara bergantian hingga buah tersebut habis.
Yang terakhir ia menyodorkan potongan mangga tersebut ke tepi mulut Bagas sebelum memasukan ke mulutnya, hingga mulut Bagas berlepotan.
"Sayang kamu nakal ya!"Bagas pun menarik pelan hidung Alia seraya tersenyum.
"Bersihin ngak!"pinta Bagas sambil menyodorkan pipinya.
"Maaf, sengaja sayang."
Alia pun meraih tissu, dan mengelap mulut Bagas.
"Sudah di bersihin." Alia.
"Terima kasih,"ucap Bagas seraya mencium pipi Alia.
Ser darah Alia mengalir cepat, ia langsung tertunduk malu, ia pun menyentuh pipi yang di cium Bagas.
__ADS_1
Mau marah tapi rasanya ia tak bisa marah, apa lagi melihat Bagas yang tersenyum manis kearahnya.
"Bagas kamu nakal," ucapnya sambil memukul paha Bagas.
Bagas menarik tangan Alia kemudian menciumnya dan meletakannya di pipinya.
"Tapi kamu suka kan sayang?"tanya Bagas seraya mengelus pipi Alia.
Alia tersenyum, "Iya Gas hanya saja aneh, ini pertama kalinya pipi ku di sentuh laki-laki selain ayah dan adikku," ucapnya.
"Kalau begitu aku sungguh beruntung mendapatkan kamu, ini juga pertama kalinya aku mencium cewek kok, meski aku brengsek tapi aku ngak mau melecehkan wanita, aku melakukannya karna aku bener-benar sayang sama kamu, tak bermaksud melecehkan," ucap Bagas seraya menatap Alia dengan matanya berembun, sementara kedua telapak tanganya menakup telapak tangan Alia.
Keduanya saling menatap penuh damba.
Saat yang bersamaan hand phone Alia berbunyi, mereka pun tersadar dan melepaskan genggaman tangan mereka.
Alia menatap layar hand phonenya dan melihat Ghael yang sedang memanggilnya.
"Dari siapa?"tanya Bagas curiga.
"Dari Abang,"jawab Alia, ia pun menjauh untuk mengangkat telpon tersebut.
"Hallo," Alia menyapa.
"Hallo Alia, kamu dimana?"tanya Ghael.
"Ehm Alia sama Bagas Bang, di rumahnya," jawab Alia jujur.
"Yah sudah, Abang ke sana jemput kamu, kamu Sher lock " Ghael.
"Ehm, Ngak Bang Alia pulang sekarang, biar Bagas yang antar saja," ucap Alia ia pun menutup telponnya.
Alia menghampiri Bagas, "Aku harus pulang Gas, sebentar lagi kedua orang tua ku sampai di rumah, mereka pasti nanyain aku."
"Iya kalau gitu ayo aku antar."
Setelah berpamitan pada Nina, Bagas langsung mengantar Alia pulang.
Setengah jam perjalanan, mereka pun sampai di komplek perumahan Alia.
"Berhenti di sini Gas,"ucap Alia ketika sampai di depan rumah Alia.
Bagas pun memberhentikan motornya.
"Ini rumah kamu?"tanya Bagas yang takjub melihat rumah Alia yang berkali-kali lipat lebih besar dan lebih megah dari rumahnya.
"Iya Gas, masuk yuk,"ajak Alia.
"Ehm kapan-kapan saja ya Al, aku pulang dulu," ucap Bagas.
Alia membuka helmya
"Nih Gas, " ucapnya seraya menyodorkan helm tersebut kepada Bagas.
"Ngak usah, kamu simpan saja, kapan-kapan kita jalan lagi ya."
"Iya," Alia tersenyum.
"Dah sayang aku pulang dulu ya."Bagas.
"Iya sayang hati-hati ya," ucap Alia.
"I love you,"Bagas.
"I love you too," Alia.
Bagas menghidupkan mesin motornya, berat rasa hatinya untuk pergi dari tempat itu.
Namun karna mereka memilih merahasia kan hubungan mereka untuk sementara waktu, Bagas tak ingin kedatangannya kepergok orang tua Alia.
__ADS_1
Brum motor Bagas melesat perlahan meninggalkan tempat tersebut, namun tiba di tinkungan seseorang menghadang jalannya hingga Bagas harus berhenti.
Bersambung