Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Mandi wajib saat meriang


__ADS_3

Aira terbangun dan mendapati tubuhnya dalam keadaan bugil, bola matanya mengedar melihat sekelilingnya mencari sesuatu untuk digunakan sebagai penutup tubuhnya.


Saat pandangan nya mengarah ke samping sisi kanannya, ia mendapati Aldi yang tidur dalam keadaan tengkurap.


"Mas Aldi,"


" Berarti tadi malam itu, mas Aldi yang melakukanya," guman Aira


Ia pun menoleh ke lantai sisi kirinya, dan mendapati pakaiannya, Aira berdiri dan menggukan kembali pakaian tersebut untuk menutupi tubuh polosnya.


Sekujur tubuhnya terasa sakit dan pegal, di dadanya terdapat tatto yang berwarna  biru kemerahan dan ia tahu siapa yang meninggalkan jejak seperti itu di dadanya.


Aira berjalan menuju kamar mandi, perutnya terasa mual, ia pun memuntahkan yang bisa ia muntahkan, karna sejak sore harinya ia tak makan, tubuhnya terasa lemas, perutnya pun terasa pedih.


Aira mengguyur tubuhnya untuk mandi junub, ia merasa jika Aldi telah menyetubuhinya semalam.


Meski suhu tubuhnya terasa hangat dan menggigil, namun apa daya, ia harus tetap mandi wajib.


Aira langsung mengigil ketika guyuran air menyentuh tubuhnya, namun ia harus menuntaskan ritual mandi bersihnya.


Setelah menggunakan pakaian lengkap kembali, Aira menyisir rambut dan kini berada di depan cermin, keadaanya terlihat sangat kacau saat itu, wajahnya terlihat sangat pucat, dan untuk menyamarkan bibirnya yang terlihat pucat tersebut, ia menggunakan lip balm dengan warna yang sedikit cerah dan menaburkan bedak bayi di seluruh wajah dan tubuhnya.


Tatapan mata Aira jauh menerawang menghadap cermin, masih terngiang-giang di telinganya ucapan Aldi yang begitu menyakiti perasaannya, Aldi bahkan menghakiminya dan menuduhnya tanpa bertanya sedikit pun padanya, alasan di balik pelariaanya selama ini.


Hatirnya semakin getir, karna kini ternyata Aldi hanya menginginkan anak yang ada dalam kandunganya, bukan dirinya.


Terdengar suara ketukan pintu yang membuyarkan lamunan Aira, ia pun memutar tubuhnya sembari berjalan ke arah muka pintu.


Krek..., pintu terbuka dan di hadapan Aira adalah Heru.


"Mas Heru," sapa Aira.


"Aira,"


"Bagaimana keadaan mu?" Tanya Heru sambil menyentuh kening Aira.


"Masih hangat," guman Heru.


"Ada apa mas Heru?" Tanya Aira lagi.


"Bangunkan Aldi, Aira, kita berangkat secepatnya, mas Heru masih banyak urusan yang harus di selesaikan."


"Iya Mas, nanti Aira akan bangunkan mas Aldi."

__ADS_1


Aira menutup pintunya ketika Heru telah berlalu darinya, Aira menghampiri Aldi, karna merasa Aldi telah menyentuhnya, Aira merasa jika hubungan mereka akan kembali seperti sedia kala, ia pun tak sungkan untuk membangunkan Aldi.


"Mas Aldi, bangun mas," ucap Aira dengan suara yang lembut, seraya mengguncang pelan tubuh Aldi.


Aldi tak bereaksi, ia malah mengganti posisi tubuhnya kearah samping tepat di hadapan Aira, tak menyerah begitu saja Aira mengguncangkan tubuh Aldi kembali.


"Mas, ayo bangun mas." Aira mengulangi lagi ucapan dan gerakanya, setelah beberapa kali menggoyang tubuh Aldi, Aldi pun mengeliat kan tubuhnya.


Aldi membuka mata perlahan, matanya menerjab-nerjab, pandanganya nanar ke segala arah,  dan saat melihat Aira yang menyentuh tangan nya, ia langsung menepis tangan Aira dengan kasar.


"Jangan menyentuh ku," ucap Aldi dengan sarkas.


Aira langsung tergaman, untuk beberapa detik ia mematung sambil melihat kearah pria yang dulunya, selalu bersikaf lembut padanya tersebut.


Aldi bangkit dan langsung menuju kamar mandi, kemudian kembali lagi setelah beberapa saat dan langsung menuju pintu keluar, meninggalkan Aira tanpa sepatah kata pun.


Aira menggigit lembut bibirnya, ia pun menatap kearah depan dengan tatapan kosong, sama sekali ia tak menyangka jika Aldi akan bersikaf kasar seperti ini terhadapnya.


Aira menelan ludah untuk membasahi tenggorokanya yang terasa kering, sekeras mungkin ia menahan agar air mata tak lagi tumpah membasahi pipinya, ia sudah bosan dan lelah untuk menangis.


Aira merasa mungkin ini ujian pedewasaan baginya,di saat dirinya menginjak usia tujuh belas tahun, dan seperti yang lalu-lalu, meski berat dan sulit, ia sendiri yakin jika ia bisa mengatasi masalahnya, Aira juga merasa jika ia dan Aldi akan berpisah setelah ini.


Aira merasa dirinya harus tegar seperti batu karang yang di terjang ombak setiap saat.


Aira meraih tas slempangnya kemudian berjalan menuju pintu keluar, tatapan matanya masih kosong, seperti kakinya yang melangkah, pikirannya pun menerawang jauh entah kemana.


Aira menapaki anak tangga satu persatu dengan tatapan kosong, selangkah demi selangkah, tanpa sadar seseorang mendekat kearahnya.


"Aira!" seseorang memanggilnya.


Aira pun menoleh kearah suara yang memanggilnya.


"Mas Heru," sapa Aira ketika Heru mendekatinya.


"Kenapa kamu ngak bersama Aldi Aira?" Tanya Heru sambil berjalan beriringan dengan Aira.


"Aira ngak tahu di mana Mas Aldi mas, di sudah keluar duluan dari kamar.


"Oh, mungkin dia sudah menunggu di loby atau sudah menunggu di mobil."


Mereka pun berjalan beriringan menuju parkiran mobil dan memang benar Aldi sudah berada di sana.


"Cepetan sedikit,kenapa sih!" teriak Aldi

__ADS_1


Mendengar teriakan Aldi mereka pun mempercepat langkah kaki mereka.


Aira dan Heru berada pada barisan kedua jok mobil, sedangkan Aldi ia duduk di samping sopir.


Tak ada percakapan apapun yang terjadi diantara mereka, mereka semua memilih bungkam.


Aira tertidur dengan kepala bersandar pada jendela mobil, saat mobil mereka melewati jalan yang rusak, tiba-tiba saja Aira merasa seperti ada yang menggaduk-aduk perutnya.


Aira berasa hendak muntah.


"Pak tolong pinggirkan mobilnya," pinta Aira sambil menutup mulut nya dengan telapak tangannya.


Setelah mobil tersebut berhenti, dengan tergesa-gesa ia membuka pintu mobil, dan langsung menghambur keluar.


Setelah dirasa cukup jauh mobil, Aira pun muntah.


Melihat Aira yang muntah, Heru keluar dari mobil kemudian dengan setengah berlari ia menghampiri Aira.


Heru memijit lembut tengkuk Aira agar ia merasa nyaman, sudah dua kali dia muntah pagi ini, tubuhnya pun terasa lemas.


"Aira kita kerumah sakit saja ya,!" ucap Heru sambil merangkul tubuh Aira yang sempoyang untuk berjalan.


Aldi melihat gerak-gerik mereka melalui kaca spion, entah kenapa saat ini begitu membenci Aira, bahkan sudah tak ada rasa kepedulian sedikit pun terhadapnya saat itu.


Heru membukakan pintu mobil untuk Aira dan dirinya, kemudian mereka kembali masuk ke dalam mobil.


Heru mendekap tubuh Aira yang menggigil, sebenarnya Heru kesal dengan sikaf Aldi yang tak mau ambil perduli terhadap istrinya, tapi ia tak mau berdebat dengan Aldi, karna di rasanya percuma berdebat dengan Aldi, kata-kata Aldi hanya akan melukai hati Aira saja.


Bersambung dulu ya guys, hari ini Author akan up dua kali sebagai ganti Author yang ngak up kemaren.


Eh jangan di skip ya, info penting buat nambah reperensi bacaan kamu, ceritanya menarik loh, author juga suka nih.


Genks gimana sih rasanya kalo takdir baik tidak pernah mengikuti kita?


Sedih? Pasti. Kecewa? Iya.


Gintani, gadis cantik yg bertubi-tubi memiliki takdir yg menurutnya buruk setelah bertemu dgn pria arogan bernama Argha.


Dibalut dengan cerita romansa yang pasti bikin baper and gregetan.


Akankah angkuhnya hati Argha bisa diluluhkan oleh ketulusan seorang Gintani?


Yuk mampir

__ADS_1



__ADS_2