Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Episode istimewa


__ADS_3

Gemuruh guntur sahut menyahut membelah langit hitam nan pekat diangkasa, seketika deru angin membawa hujan lebat hingga membasahi bumi yang sebelumnya tandus.


Cuaca yang sangat pas di hari yang dingin, bagi sepasang insan yang sedang bergulat di kamar pengantin.


Sepulangnya dari resepsi pernikahan, Aira langsung menuju kamarnya, sementara Aldi masih berbincang-bincang dengan beberapa sanak saudara mereka.


Aldi penasaran dengan pesan yang dikirim oleh Rita ke Aura, ia pun mencoba mengirim pesan kembali ke mamanya.


💌Ma, Mama di mana? Aldi kangen.


Pesan singkat yang menyatakan perasaanya.


Tak lama kemudian Aldi mendapat balasan dari pesan yang ia kirim.


💌Mama ngak akan pernah menemui kamu Aldi, sebelum kamu menceraikan istri kamu, kemudian menyetujui rencana pernikahan kamu dan Aura.


Isi pesan tersebut membuat Aldi kesal, ia pun menekan tombol hijau pada nomor kontak tersebut.


Panggilan tersebut tersambung, namun tak di angkat oleh Rita.


Aldi kembali menerima pesan,


💌 Jangan hubungi mama Aldi, jika kamu mau menemui mama, kamu datang sendiri, nanti mama akan hubungi kamu kembali.


Aldi merasa kesal sekaligus menjadi curiga saat mendapat pesan tersebut, tapi ia harus tahu kenapa Rita memintanya untuk menemuinya sendiri, bukannya ia bisa datang ke apartment mereka.


Aldi menarik nafas panjang dan menghempaskan dengan kasar,ia mengusap rahangnya dengan kasar.


Aldi terlihat sangat gelisah dan hanya satu yang bisa menghiburnya saat itu.


Aldi menuju lantai atas tapi langkahnya tercekal oleh panggilan Satria.


"Aldi!" Aldi berhenti sambil menunggu Satria menghampirinya.


"Ada apa Pa?"tanya Aldi kepada Satria.


"Papa kok ngak lihat mama kamu datang ke pesta, mama kamu lagi sibuk ya ?"tanya Satria sambil berjalan beriringan dengan Aldi.


"Aldi sudah lebih dari tiga bulan ngak bertemu mama Pa, sejak terakhir kalinya Aldi bertemu mama." Aldi


"Loh emang kenapa?"tanya Satria.


"Mama marah Pa, ia bersikukuh untuk menjodohkan Aldi dengan Aura."


"Hah ada ada saja Rita,.sebaiknya kamu periksa kejiwaan mama kamu Di,sepertinya kejiwaannya sedikit terganggu," guman Satria.


"Maksud Papa, Mama sudah ngak waras?"sahut Aldi ketus.


"Aldi,orang yang mengalami gangguan kejiwaan bukan bearti ngak waras, tapi biasanya ada sesuatu sebab yang membuat prilakunya jadi menyimpang, sebelum mama kamu semakin parah," saran Satria ia pun berjalan mendahui Aldi.


Aldi berpikir sejenak, ada benarnya apa yang dikatakan oleh papanya, sampai sekarang masih belum jelas kenapa mamanya tak menyukai Aira, bahkan terkesan membenci istrinya tersebut.


***


Aura tersenyum puas setelah mengirim pesan kepada Aldi melalui handphone Rita, ia tersenyum puas karna sebentar lagi Aldi berada di genggamanya, seperti handphone Rita yang kini ada di tanganya, ia bisa meminta Aldi untuk melakukan apa saja dengan mengatas namakan Rita.


"Bagaimana Aura?"tanya Hendro.


"Sepertinya berhasil Om, besok aku akan minta Aldi mememui ku di sebuah kamar hotel, aku akan memberinya obat perangsang dosis tinggi dan menggodanya di sana." ujar Aura sambil tersenyum menyeringai.


"He he,,apa kau yakin?"tanya Hendro dengan tawa sinisnya.


"Om, apa pun yang terjadi, besok aku harus bisa mendapatkan dan berhubungan denganya, aku ingin dia yang menjadi ayah dari anak yang ku kandung," dengus Aura.


"He he, terserah kau saja, yang jelas berhasil atau tidak jebakan mu, kau harus tetap melayani aku Laura, karna semua rahasia mu ada di tangan ku," ucap Hendro dengan senyum menyeringai.


*Dasar tua bangka, lihat saja Hendro, setelah aku dapatkan apa yang ku mau, akan ku habisi dirimu,* batin Aura.


Hendro menaik turunkan alisnya, ia merasa tak sabar untuk menerima service gratis dari Aura.


Hendro berdiri, tatapanya penuh gairah dan hasrat saat itu.


"Ayo Aura, hari ini kau harus layani aku kembali, " ucap Hendro menyeringai sambil mencengram lengan Aura kuat.


"Aw! , ngak Om! hari ini aku lelah, " tolaknya sambil mendorong tubuh Hendro.

__ADS_1


Sebelum Aura melepaskan cengraman tanganya, Hendro sudah terlebih dahulu menarik tangan Aura dan langsung menghempaskanya keatas tempat tidur.


Aw!


Aura merasa kesakitan atas perlakuan kasar Hendro, namun ia hanya bisa pasrah saat Hendro menggerayangi tubuhnya dan menyerangnya secara brutal.


Dua jam berlalu, Hendro tumbang setelah memuaskan hasratnya, meski Aura terus menangis meronta, tak sedikit pun ia melepaskan cengramanya.


Aura menangis di atas tempat tidur, dengan tubuh yang gemetar ia mencoba meraih pakaianya.


Semenjak kejadian beberapa waktu yang lalu, Aura tak lagi bisa menolak Hendro, ia terpaksa melayani nafsu buas pria tersebut hampir setiap hari karna tak punya pilihan, hingga membuatnya kini tengah mengandung anak Hendro.


***


Suasana semakin panas saat ronde kedua di mulai, setelah bergulat di atas tubuh istrinya selama hampir satu jam, Romeo kembali tumbang di samping Tari.


Keringat yang bercucuran membuat basah kain yang menjadi alas, sekaligus saksi bisu pergulatan hangat pengantin baru tersebut.


Ssst, Tari meringis karna merasakan pedih bagian bawah tubuhnya.


Ia mencoba berdiri untuk membersihkan tubuhnya yang penuh lendir dan keringat.


Namun karna tubuhnya lemas, ia pun kehilangan keseimbangan dan terkulai.


Bruk, tubuh Tari jatuh di atas lantai.


Romeo yang baru saja mengatur nafasnya ia segera turun dari atas ranjang dan langsung menghampiri Tari yang tergeletak di lantai, sebelum itu ia kembali mengenakan handuknya terlebih dahulu.


"Loh kenapa Tar?"tanya Romeo ketika berada tepat di samping Tari.


"Akh, tubuh gue sakit semua Rom, kayak habis jatuh dari gedung bertingkat," keluhnya sambil meringis.


"Abisnya loh ganas banget, gue kan baru buka bungkus, udah di hajar aja tanpa ampun, kayak gebukin maling aja loh," seloroh Tari.


"Hm, bukanya loh yang nantangin gue, baru aja gue ngatur nafas, udah minta lagi, ya gue keluarin tuh jurus jetli,"sahut Romeo serius.


Tari mencoba berdiri kembali, namun Romeo yang merasa tak tega melihat istrinya yang meringis kesakitan ia pun menggangkat tubuh Tari ala bridal style menuju bathtub.


Tari melingkarkan tanganya pada leher Romeo, seraya terus menatap mata teduh sang suami, ia tersenyum bahagia sembari menatap wajah tanpan suaminya basah oleh keringat, apalagi kini ia merasa jika Romeo lebih bersikaf romantis terhadapnya.


Romeo pun tersenyum kearah Tari yang menatapnya dengan berbinar.


"Terima kasih suami ku,"ucap Tari sambil tersipu malu.


"Sama-sama istriku," sahut Romeo datar, sambil mengatur suhu air agar lebih hangat, setelah mengisi bathub Romeo juga ikut naik ke dalam bathub.


Tari menyandarkan kepalanya pada dada bidang Romeo, sambil menikmati aroma teraphy dari busa sabun yang merendam mereka.


"Rom, badan gue pegal semua," ucap Tari memijit pundaknya sendiri.


Romeo mendorong pelan tubuh Tari agar memberi jarak bagi mereka, dengan lembut ia pun memijit pelan tubuh Tari.


"Ah enak banget Rom, pijitan loh serasa sampai ke hati, " ucapnya sambil menikmati sentuhan Romeo.


"Bisa banget loh ngebucin ya," sahut Romeo sambil tetap memijit pelan di tubuh istrinya.


Beberapa menit berlalu,


"Udah Tar, yuk selesaikan mandinya, kelamaan berendam nanti masuk angin lagi," cetus Romeo.


Mereka pun menyelesaikan ritual mandinya.


"Seger banget Rom, setelah di pijit sama loh," ucapnya menoleh kearah Romeo sambil mengenakan bathrobesnya.


Tari tersenyum simpul kearah Romeo, begitupun Romeo yang tanpa sengaja melirik kearah nya, tatapan matanya seolah kembali mendambakan penyatuan mereka kembali.


"Kenapa Tar? mau di hajar lagi?" tanya Romeo sambil menaik turunkan alisnya sebelah.


"Ah ampun Rom, nanti saja lah, bisa gempor badan gue, kita masih punya banyak waktu kok, bahkan sekarang kita bisa melakukanya setiap hari," ucap Tari sambil menyentuh wajah suaminya yang terlihat lelah.


Romeo tersenyum simpul, "Kirain loh masih ngak jera," cetusnya seraya mengacak-ngacak rambut Tari yang setengah basah.


Setelah mandi keduanya pun menuju tempat tidur, karna terlalu lelah, mereka langsung terlelap tak lama setelah menghempaskan tubuhnya di atas kasur.


Lain pengantin baru lain pula dengan pengantin lama, Aira duduk berselonjor di atas tempat tidur.

__ADS_1


Hari yang melelahkan baginya dimana hampir seharian ia berdiri dengan menggunakan high heel.


Aldi masuk ke kamar dan langsung menghempaskan tubuhnya di atas kasur, "Sayang," Aldi menaik turunkan alisnya meberi kode kepada Aira.


"Apaan sih mas, hari ini Aira cuti ya?"


"Oh iya deh, "jawab Aldi lesu, kemudian ia merebahkan kepalanya di pangkuan Aira.


Dengan lembut Aira mengusap rambut sang suami, "Terima kasih mas atas pengertianya, " ucap Aira sambil mengecup pipi Aldi.


Aira menyandarkan kepalanya pada headboard seraya menarik nafas panjang karna merasa lelah.


Namun tiba-tiba saja ia menggigit bibir bagian bawah nya karena merasakan sensasi yang merenggangkan bulu romanya.


Aks, Aira mendesa*h lembut merasakan nikmat, yang kembali mengguncang imanya, rasa letih hilang seketika saat pikiranya traveling akibat jari nakal Aldi yang mengelitik biji kacang miliknya.


Auw, Esh, Aira melengkuh panjang saat jari Aldi semakin liar, sementara Aldi tersenyum mengintip di balik bantal saat melihat wajah istrinya yang memerah akibat terbakar gairah.


Tanpa di beri aba-aba Aira langsung merebahkan tubuhnya berbaring di samping Aldi, jari Aldi semakin nakal merayap dan masuk kedalam goa yang tadinya kering, seketika mendadak banjir akibat kenakalanya.


"Mas udah, Aira ngak kuat," ucapnya lirih sambil menahan syahwatnya, ia meminta Aldi untuk menyelesaikan misinya.


"Ah ngak sayang, mas Aldi capek," kilah Aldi, tapi jarinya terus menguncang biji kecambah yang membuat Aira tak mampu menahan hasratnya.


"Ayo dong mas,"rengeknya lagi, tapi Aldi memang sengaja membuat Aira semakin terbakar oleh gairah.


"Mas," des*sahnya.


"Ngak" sahut Aldi sambil mengulum senyum.


"Mas, ayo!"Aira menarik kerah baju Aldi dengan sedikit memaksa, tapi Aldi tetap tak bergeming, ia sengaja membuat Aira tersiksa terlebih dahulu.


"Mas," ayo ucapnya tak sabar, saat tanggan Aldi masuk menuju lorong sempit tersebut.


Karna sudah tak kuat menahan syahwatnya.


Dengan emosi, Aira bangkit dan membalikkan tubuh Aldi hingga Aldi terlentang, secepat kilat ia melucuti pakaian yang menutupi tubuh sang suami hingga tubuh Aldi polos tanpa sehelai benang pun, Aldi pun memasang mode pasra dan seolah tak berdaya.


Tanpa basa basi Aira mencelupkan batang sakti mandra guna milik Aldi sehingga masuk dan membenam di celah sempit miliknya.


Akh, lengkuh Aldi tertahan, saat Aira menari dengan gaya bebas di atas tubuhnya.


Aira menambah kecepatan pacunya dan membuat Aldi mengerang, gerakan Aira terlalu cepat hingga menimbulkan sensai luar biasa yang akan mempersingkat durasi permainan mereka.


"Udah yank, ampun yank," des*ah Aldi saat tubuh munggil tersebut semakin cepat memacu, hingga membuat sibuyung tak bisa menahan lebih lama, hentakan terkhir membuat si buyung yang gagah perkasa tersebut menyerah dan harus memuntahkan laharnya dalam durasi yang sangat singkat kurang dari lima menit.


Akh....******* lirih keduanya saat mereka sam-sama mencapai kli*maks.


Aira tumbang dengan nafas memburu dan detak jantung yang berdetak cepat.


Aldi tersenyum sambil merangkul tubuh sang istri, ia mengusap keringat yang membasahi sekujur tubuh istrinya.


"Kamu curang sayang, padahal mas mau durasi yang lebih lama,"ucapnya seraya mengucup bibir raum sang istri.


"Makanya mas, jangan pancing Aira, Aira bisa lebih ganas loh," sahutnya sambil mengatur nafas.


"Hm, tapi mas suka lihat kamu seperti ini lebih menggemeskan," ucap Aldi sambil menggigit lembut bibir bawah sang istri.


"Hm, sekali-kali ngak apalah," he he. Aira.


Aldi kembali tersenyum sambil merangkul tubuh Aira, berkali kali ia mengecup pucuk kepala sang istri.


"Apa pun yang terjadi mas Aldi takkan rela jika harus berpisah dengan kamu," ucap Aldi di telinga Aira.


"Aira juga mas, Aira ngak rela jika ada perempuan yang dekat-dekat mas Aldi apalagi sampai merebut mas Aldi dari Aira," ujarnya sambil menyapu keringat yang membasahi kening Aldi.


"Harus gitu dong sayang," ucap Aldi sambil menatap istrinya dengan mata yang berbinar.


"Sudah cukup ujian menimpa rumah tangga kita, mas tak ingin kita kembali berpisah meski satu hari saja, kamu harus ada dimana pun setiap mas Aldi melihat,: ucapnya sambil meraih tangan Aira dan mengecup nya lekat.


"Apa itu tandanya Aira harus mengikuti kemana pun mas Aldi pergi?" tanya Aira memastikan.


"Ya, tentu saja." balas Aldi.


"Ah mas Aldi, Aira jadi tambah sayang," Aira pun menghambur memeluk suaminya.

__ADS_1


Tentu saja di balas dengan pelukan hangat dari Aldi, dan sepanjang malam mereka habiskan dengan saling merayu dan mengungkapkan perasaan cintanya hingga malam semakin larut dengan guyuran hujan semakin lebat, keduanya pun tidur dalam keadaan saling memeluk menghangatkan..


Uh, semoga saja ngak ada yang akan memisahkan mereka ya reader, terus dukung author dan ikuti terus kisah cinta mereka yang akan di bumbui kisah romantis, sedih dan juga lucu,.


__ADS_2