Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Menjelang pernikahan


__ADS_3


Aira melamun memikir hadiah apa yang akan di berikanya pada calon kakak iparnya.


Setelah menimbang-nimbang, akhirnya ia pun menemukan ide.


Aira berdiri dari duduknya, kemudian berjalan menghampiri Aldi yang sedang berkutat dengan laptopnya.


"Mas Aldi, pulang nanti antar Aira belanja ya!" ucap Aira sambil memijat pelan bahu Aldi.


"Ngantar? Emangnya mas Aldi supir apa?" tanya Aldi sambil tetap mengkutat laptopnya.


"Ish, maksud nya temani Aira belanja, Aira mau beli hadiah untuk calon kakak ipar."


"Iya deh, sebentar lagi Mas Aldi selesai, nanti kita ke Mall saja ya?"


"Kamu mau beli hadiah apa untuk Tari?" tanya Aldi tanpa melihat wajah Aira.


"Ehm Aira mau beli gaun tidur yang indah dan seksi, seperti yang di hadiahkan bunda Maya pada Aira waktu kita menikah Mas."


"Hm," Aldi tersenyum pesimis.


"Kenapa? salah ya?" tanya Aira binggung karna melihat senyum pesimis dari Aldi.


"Tari itu tomboy, mana suka dia pakai pakaian seperti itu," sahut Aldi.


"Ihs kayak tahu aja Mas, selera mbak Tari? mentang-mentang mantan pacarnya!" sahut Aira jutek.


Wajahnya seketika menjadi cemberut dengan bibir yang mengkerucut.


Melihat istrinya yang ngambek, Aldi buru-buru menjelaskan pada Aira.


Aldi menghentikan kesibukanya ia menarik tangan Aira dan mendudukan Aira di pangkuanya.


"Bukan begitu sayang, tapi memang Tari itu ngak suka pakai gaun dan sebagainya, paling juga kalau terpaksa atau acara tertentu," papar Aldi sambil menggigit lembut lengan atas Aira.


"Biarin saja! yang jelas Aira mau beli lingerie sebagai hadiah untuk mbak Tari."


" Untuk mas Heru, Aira mau kasih hadiah apa ya?"guman Aira sambil memijat pelan keningnya.


"Mas Aldi mau beri hadiah apa untuk mereka?" tanya Aira sambil memainkan dasi Aldi.


"Mas Aldi mau hadiakan tiket bulan madu saja untuk mereka, terserah mereka mau bulan madu kemana," ujar Aldi sambil menutup loptopnya.


"Ehm, mereka di hadiahkan tiket bulan madu? kenapa kita ngak bulan madu juga Mas?" tanya Aira dengan bibir yang mengkerucut.


"Kita nanti saja ya sayang ? bulan madu di rumah saja sudah asik, setelah masalah kita selesai, mas Aldi janji akan bawa kamu bulan madu kemana saja kamu Mau," ucap sambil mencubit lembut pipi sang istri.


"Ehm iya deh,"sahut Aira sambil bergelayut manja di pangkuan Aldi, tanganya melingkar di di leher suaminya.


Aldi semakin gemes melihat istrinya yang bermanja-manja di pangkuanya, pikiran nakal mulai mengusik ketenangan jiwanya.


Tangan nakal Aldi mulai menyusup di balik rok mini istrinya, tapi langsung di tepis oleh Aira, "Jangan nakal Mas, nanti mas Aldi khilaf lagi, Aira ngak mau di ledekin terus sama Mas Heru." tepis Aira.


"Emangnya kenapa? kita suami istri kok, biarin saja mas Heru, ntar kalau dia udah merasa punya istri, jangan-jangan justru dia lebih gila dari mas Aldi, orang pendiam seperti mas Heru itu biasanya hasratnya lebih besar loh," bisik Aldi di telinga Aira.


"Ayok sayang, ntar di rumah langsung istirahat saja," bujuk Aldi sambil tetap menggerayani bagian bawah tubuh Aira.


"Ish ngak ah, di rumah saja, kita main kuda-kudaan di atas tempat tidur Mas, seperti kemaren," bisik Aira di telinga Aldi sejurus kemudian ia melempar senyum nakal kearah Aldi dengan mengedipkan sebelah matanya.


Bukan main senangnya hati Aldi saat mengetahui istrinya ketagihan karna fose baru dari permainan mereka kemaren.

__ADS_1


"Iya ayo kita langsung belanja saja, Mas Aldi udah ngak sabar pulang kerumah," ucapnya sambil menggigit lembut dagu Aira kemudian beralih pada bibir seksi milik sang istri, beberapa saat mereka melakukan adegan ciuman panas.


Tangan Aldi mulai menyuri kemeja Aira untuk membuka kancing kemejanya, tapi di tepis Aira.Aira melepas panggutan Aldi dan melepas tanganya ya melingkar di leher Aldi.


Aira bangkit dari pangkuan Aldi ia merapikan sedikit pakainya yang berantakan.


Aira sengaja membatasi gerakan Aldi agar mereka tak sampai melakukannya kembali di kantor, maklum Aldi tipe pria yang tak bisa menahan hasratnya, atau mungkin semua pria seperti itu ya? tanya author😆


"Ayo mas kita pergi belanja."rengek Aira.


Aira menarik tangan Aldi agar ia bangkit dari duduknya, tapi ternyata justru tubuhnya tertarik kembali.


"Ish Mas ayo dong," ucap Aira melepaskan cengraman tangan Aldi, namun apa daya tangan Aldi sudah menyusup pada bagian bawah tubuhnya, Aira merasakan ada yang menegang di balik celana hitam milik sang suami.


"Sebentar saja sayang, udah ngak kuat,"pinta Aldi dengan tatapan yang begitu mendambakan sang istri.


"Ish ngak mau lah Mas, Di rumah saja," tolak Aira dengan mendorong wajah Aldi yang kini mendekati wajahnya.


"Mas Aldi ngak bisa bergerak nih, kalau pelurunya belum di tembakan," kilah Aldi dengan tatapan mata sendunya, ia pun mengigit bibir bawahnya menandakan ia begitu ia menginginkanya.


Aira memutar bola matanya kesegalah arah, kemudian dia menghempaskan nafas beratnya.


Dengan terpaksa ia harus meladeni hasrat gila sang suami yang sudah tak peduli akan waktu dan tempat.


Mereka pun melucuti semua pakaian mereka dan kembali memaikan adegan panas tersebut di atas meja kerja Aldi.


***


Tari duduk di meja riasnya, hari ini adalah hari terakhirnya sebagai gadis lajang, karna esok pagi prosesi akad nikah akan berlangsung.


Tari mendengar suara kesibukan orang-orang yang sedang mendekorasi rumahnya untuk kepentingan acara akad nikah esok hari.


Merasa bosan karna harus berdiam diri sepanjang hari, ia pun kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil menatap layar ponselnya.


Ada beberapa foto Romeo di album fotonya, dan paling banyak adalah foto dirinya bersama Aldi.


Tari menatap foto Romeo yang ada di layar ponsel, ia menghembuskan nafas panjangnya," Loh benar Rom, sebesar apa pun rasa cinta yang kita milikinya nyatanya tak kan mampu mengubah takdir, mengubah jodoh yang di tetapkan oleh Tuhan,"guman Tari


Tari meletakan handphone tersebut di atas dadanya sambil menarik nafas panjang huh.


"Kenapa aku harus menikah dengan Heru?"gumannya lirih


"Padahal tak pernah terbesit dalam benak ku, untuk menikahi saudara dari mantan pacarku."


Tari menggeser layar ponselnya untuk melihat gambar yang lain, kali ini ia melihat foto kemesrraanya bersama Aldi, lelaki yang dulu sangat ia cintai, ia bakan hampir menyerahkan kehormatanya pada Aldi, untung saja semua tak sampai terjadi, andai saja Romeo ngak pernah mengerjai Aldi dan membuat Aldi seolah bukanlah pria sejati, pasti saat ini ia sangat menderita, karna telah merelakan kegadisannya pada pria yang bukan jodohnya.


"Untung juga ada loh Rom," guman Tari pelan, ia mendongkakkan kepalanya ke atas melihat lagit-langit sambil menerawakan pikiranya.


Kenapa takdir ku seperti ini, kini aku seperti terjerat cinta dua bersaudara, bertahun-tahun pacaran dengan Aldi tapi justru harus menikah dengan kakanya, ups.


Tari menyemburkan sedikit udara dengan bibinya, ia tak bisa membayangkan bagaimana pernikahanya kelak, menikahi pria yang bersikaf acu terhadapnya, sejak keluarga Heru melamarnya, ia dan Heru tak pernah berkomunikasi berdua, jangankan pergi berdua, komunikasi melalui sambungan telpon saja tak pernah, bagaimana ia akan menjalankan rumah tangga dengan pria kaku sepertinya, Tari pun tersenyum kecut saat membayangkan malam pertama yang akan mereka lalui .


***


Heru menatap sekelilingnya dengan aneh, sekaleng minuman soda dingin menemaninya, saat ini ia berada di balkon kamarnya melihat lampu taman dan kolam renang yang ada di bawah.


Huh, Heru merasa tegang karna besok adalah hari pernikahanya dengan seorang wanita yang tak ia kenal, Heru menatap layar handphonenya dan melihat wallpapernya yang bergambar seorang gadis cantik yang hampir tiga tahun ini menjadi kekasihnya, meski setahun terakhir ia hilang kontak sama sekali pada Miranda, namun ada rasa bersalah pada Heru terhadap Miranda, ia terpaksa menikahi Tari, agar Rita mengalihkan pikiran dan kesibukanya untuk mengurus pernikah dirinya, dengan demikian Rita tak akan mengganggu rumah tangga Aldi dan Aira.


Aldi dan Aira adalah dua orang yang sangat ia sayangi, untuk kebahagian keduanya ia rela menerima perjodohan ini.


Tok...tok...

__ADS_1


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Heru dengan segera ia berjalan menuju pintu dan membuka kan pintu.


Krek pintu terbuka,


"Tradaa," ucap Aira ketika melihat wajah Heru di balik pintu.


"Aira ada apa?" tanya Heru yang melihat wajah Aira yang terlihat bahagia.


"Mas Aira punya hadiah nih, ini untuk kakak ipar," menujukan sebuah kotak hadiah persegi empat dengan hiasan pita merah.


"Dan yang ini untuk mas Heru,"ucap Aira sambil menunjukan kotak kecil yang juga di bungkus seperti kado.


Heru meraih kado tersebut dan menatapnya sebentar, ia memikirkan apa isi dalam bungkusan tersebut.


"Apa isinya nih?" tanya Heru sambil menguncang-guncang benda tersebut.


Aira tersenyum melihat Heru yang terlihat penasaran dengan hadiah darinya.


"Boleh buka sekarang ngak?" tanya Heru.


"Ngak boleh lah! bukanya pas malam pengantin, ayo sekarang kita turun untuk makan malam, papa sama bunda sudah menunggu mas Heru."


Aira menarik lengan Heru,mereka berdua bergandengan menuju meja makan.


"Mas Heru, nanti tidurnya di kamar tamu saja ya, karna kamar mas Heru mau Aira dekorasi jadi kamar pengantin," ucap Aira sambil menuruni anak tangga bersama Heru.


"Emang Aira bisa dekorasi kamar?" tanya Heru ragu.


"Ngak bisa, Aira cuma mau pesan bunga segar untuk kamar mas Heru saja, agar terlihat indah yang dekorasinya orang lain mas."


"Em, kirain."


Mereka pun sampai di meja makan, dan seluruh keluarga sudah menunggu ke datangan Heru dan Aira.


Maya mengulas senyum bahagianya, ketika melihat putranya, "Sini Heru, duduk dekat mama," ucap Maya sambil menarik kursi di sebelahnya.


Heru menghampiri Maya dan duduk tepat di sebelah mamanya.


Setelah duduk Maya mengaut nasi dan lauk pauk untuk Heru, dengan perasaan bahagia ia menyodorkan piring tesebut kepada Heru.


"Makan yang banyak sayang,"ucap Maya sambil mengusap lembut pundak Heru, setelah itu ia duduk kembali.


"Terima kasih Ma," ucap Heru sambil melempar senyum kearah mamanya.


"Rasanya sudah ngak sabar Pa, melihat pernikahan anak kita, apalagi menantu kita cantik," Maya.


"Aira juga ngak sabar Bunda memakai gaun yang Aira beli untuk acara besok, tapi Aira lebih ngak sabar lagi melihat reaksi mas Heru membuka hadiah dari Aira," ucap Aira sambil tertawa kecil.


Maya tersenyum kearah Aira, "Emangnya Aira kasih hadiah apa untuk mas Heru?" tanya Maya yang juga penasaran karna melihat ekspresi Aira yang terlihat bahagia.


"Ehm ada deh, kalau di beri tahu nanti ngak surprise lagi, yang jelas mas Heru ngak boleh buka hadiah tersebut sebelum malam pertamanya ya," ancam Aira.


Aldi melirik kearah Aira," Emang kamu kasih hadiah apaan sih sayang?" tanya Aldi.


"Ada deh," sahut Aldi sambil menyunggingkan senyum simpulnya membuat mereka semua penasaran.


Sebuah senyum kepuasan terbit dari bibir seorang wanita paruh baya.


"Akhirnya, aku bisa hidup tenang karna bisa membalas mu Maya," ucap seorang wanita yang kini berada di ruang remang-remang kamarnya, senyumnya menyeringai menandakan kelicikanya.


Ah hadiah apa ya? yang du berikan Aira untuk Heru, lalu akan kah Heru benar-benar menikahi Tari.

__ADS_1


Author sangat berterima kasih atas penghargaan yang kalian berikan kepada author dengan memberikan dukungan berupa like, komentar dan hadiah, karna hanya dukungan dari kalian lah popularitas novel author bertambah, dengan bertambahnya popularitas maka semakin sering di rekomendasikan dan semakin banyak yg membaca novel author, tanpa dukungan kalian apalah author ini, lope u all


__ADS_2