Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Di Balik Pintu


__ADS_3

Kini Bagas dan Alia berada dalam satu pelaminan, bukan sebagai pasangan pengantin seperti yang mereka impikan sebelumnya, Bagas hadir hanya sebagai tamu undangan.


Suasana terasa mencengram dan begitu kaku, sejenak semuanya hening.


Untuk mencairkan suasanya Alita segera menyodorkan tanganya ke arah Ghael, ia pun tersenyum kearah Ghael, "Selamat ya Bang, "ucap Alita tulus.


Ghael melirik ke arah Bagas beberapa saat.


"Terima kasih Lit, semoga kalian cepat menyusul,"ucap Ghael seraya tersenyum.


Alita tersenyum simpul, ia pun menghampiri Alia yang tertunduk", Alia selamat ya semoga rumah tangga kalian jadi rumah tangga yang sakina mawardha worohma, di anugrahi keturunan sholeh," ucap Alita sambil memeluk sahabatnya tersebut.


Alia mencoba menahan air matanya hingga tubuhnya sedikikit terguncang," Terima kasih Lit."


Beberapa saat mereka habiskan untuk berpelukan, melarutkan rasa harunya.


Kemudian keduanya mengurai pelukkan mereka.


Kini giliran Bagas menghampiri Ghael dan menjabat tangannya," Selamat ya," ucap Bagas dengan hati yang berat' bibirnya pun terlihat bergetar karna menahan air matanya.


"Terima kasih," ucap Ghael dengan senyum sumringahnya.


Hiks hiks, tubuh Alia gemetar ketika Bagas menghampirinya dan menyodorkan tangannya, Keduanya tertunduk enggan saling menatap.


"Alia selamat Ya," ucap Bagas sambil menyodorkan tangannya, tak hanya tangan nya yang gemeteran bola matanya pun memerah menahan tangis.


Waktu separti berhenti, suasan menjadi hening seketika, ketengangan pun terjadi di atas pelaminan tersebut.


Hiks hiks. Alia yang tertunduk coba mengangkat wajahnya menatap lawan bicaranya.


Bulir bening perlahan menetes pada kedua mata mereka ketika kedua pasang netra tersebut beradu, saling bertentang mata.


Tubuh Alia masih bergetar menahan gejolak emosinya," Terima kasih, "ucap Alia menyambut uluran tangan Bagas.


"Semoga kamu bahagia selalu Alia, ucap Bagas, kali ini bulir bening tersebut lebih deras mengalir.


Bagas menatap Alia dengan bola mata yang berpendar.


"Semoga kamu juga bahagia selalu Gas," ucap Alia dengan bibir gemetar, seketika tubuhnya terasa lemas.


Alia menggunakan sarung tangan hingga ia tak merasakan betapa dingin nya telapak tangan Bagas saat itu.


Dengan berat hati Bagas melepas jabatan tangan Alia, sekali lagi netra mereka beradu menggungkapkan perasaan cinta yang masih tersisa.


Bagas pun berlalu dari keduanya, karna tangannya di tarik pelan oleh Alita.


Alita tak ingin terjadi sesuatu di pelaminan makanya ia segera menarik Bagss agar segera menjauh.


Hiks hiks hiks, masih ada sisa isak tangis pada Alia, tubuhnya pun sedikit berguncang.


Ghael merangkul pinggang Alia menyodorkannya tisue dan membersihkan sisa airmatanya.


Ia pun membantu Alia untuk duduk sambil menyambut tamu yang lain.


Ghael mengusap punggung pengantinnya, memberinya minum untuk nenenangkannya.


"Tenanglah Alia, ucap Ghael yang juga nenenangkan hatinya, hatinya terasa sakit melihat semua itu, bagaimana tidak setelah menjadi istri sahnya saja, Alia masih belum bisa melupakan perasaannya terhadap Bagas.


Ghael mencoba bersikaf tenang menghadapi sikaf Alia, memangg susah merebut hati seseorang yang sudah tertambat pada pria lain.


Suasana tegang terjadi di atas pelaminan tersebut selama beberapa saat.

__ADS_1


Aira dan Aldi menarik napas lega karna tak sampai teejadi sesuatu di pelaminan tersebut.


Setelah bersalaman dengan Tari dan Romeo Bagas meninggalkan pelaminan tersebut, dengan wajah yang tertunduk dan menahan tangisnya, Bagas berjalan cepat meninggalkan Alita yang harus sedikit berlari mengejarnya.


Bahkan Bagas tak menyalami penyambut tamu di pintu keluar.


Edo melihat sendiri Bagas yang berjalan tertunduk tak memperhatikan siapa pun.


Beruntung kejadian tersebut tak di lihat oleh Doni dan Dasti yang sibuk melayani tamu, jika tidak mereka bertanya apa yang telah terjadi pada calon pacar putri mereka.


Bagas berjalan lebih cepat menuju mobilnya rasanya ia sudah tak tahan untuk menumpahkan semua genanggan air matanya.


Bagas membuka pintu mobilnya dengan kasar kemudian ia segera masuk melipat kedua lengannya di atas strir dan menungkupkan wajahnya kemudian menangis sepuasnyanya.


Alita baru saja sampai di parkiran mobil mereka, ia pun membuka pintu mobil pada sisi yang lainya, Alita masuk dan menemukan Bagas dengan wajah yang tertungkup dan tubuh yang sedikit bergetar menangis pilu.


Alita terdiam, ada rasa miris di hatinya, 'Kenapa Bagas sulit sekali melupakan Alia, padahal aku begitu menyukainya, tak bisa kah ia membuka sedikit saja hatinya untuk ku' batin Alita.


Untuk beberapa saat Bagas menangis, saking terlarut dalam haru ia pun tak menyadari kehadiran Alia di sampingnya.


Setelah air matanya kering, Bagas meraih tissu kemudian menyeka air mata dan membersih kan cairan yang menenuhi rongga hidungnya.


Baru Bagas menyadari jika Alita telah duduk di sampingnya.


Ehm Bagas melirik Alita, "Maaf Lit, aku_"


"Tak apa pak, menangislah, menangis itu bukan sebuah kelemahan hanya suatu ungkapan perasaan yang ketika kita sudah tak mampu lagi membendungnya," papar Alita


Hiks hiks, Bagas membersihkan wajahnya hingga bersih, setelah keadaannya tenang ia pun kembali menyetir membawa mobilnya keluar dari komplek tersebut.


***


Mereka pun kembali menyambut kehadiran para tamu yang datang memberi doa dan ucapan selamat untuk mereka.


***


Di mobil keduanya hanya diam sepanjang perjalanan.


Sesekali Alita melirik kearah Bagas yang terlihat konsentrasi menyetir.


Tinggal beberapa menit lagi Alita sampai di rumahnya, namun rasanya ia tak ingin segera berpisah dengan Bagas.


Entah kapan perasaan cinta itu tumbuh di hatinya, melihat besarnya cinta Bagas terhadap Alia justru membuatnya kagum, Bagas memang sosok yang mengganggumkan tak hanya dirinya, bayak karyawati di kantor mereka menganggumi sosok lelaki tersebut, diam dan dinginnya Bagas membuat mereka semakin penasan terhadap pria tampan yang memiliki senyum termanis tersebut


Mobil mereka sampai di depan rumah Alita.


Mobil pun berhenti, "Terima kasih Lit, karna sudah menemani saya hari ini, "ucap Bagas.


"Ehm sama-sama Pak," ucap Alita seraya melepas seatbelt-nya.


" Pak mau mampir dulu," biar saya buatin minum?" tawar Alita.


"Ngak usah Lit, terima kasih,"tolak Bagas.


Bagas bukan orang yang suka berbagi ia lebih senang menyendiri, mungkin karna itulah ia jadi sulit untuk move-on.


***


Resepsi telah pun selesai di gelar, kini hanya beberapa tamu yang hadir, Aira dan Tari membawa putri mereka menuju kamar pengantin.


Aira dan Tari membantu Alia melepas gaun pengantin yang begitu berat tersebut, meski terbuat dari satin dan tile yang ringan, namun taburan permata di seluruh permukaan gaun membuatnya terasa berat.

__ADS_1


"Ehm, setelah Alia yang pakai, siapa lagi ya mbak yang akan menggunakan gaun ini?"tanya Alia yang langsung menyemprot cairan pembersih khusus, karna gaun tersebut tak bisa di cuci layaknya pakaian biasa.


Mungkin cucu kita kali Aira, jawab Tari terkekeh.


Tari membuka sebuah goodie bag dan mengeluarkan sesuatu.


"Nih, menantu ku pasti semakin cantik jika menggunakan ini," ucapnya seraya merentangkan sebuah lingerie berwarna hitam indah terbuat dari satin dengan campuran tile membuat siapa saja yang menenakan lingeri tersebut akan terlihat Se*ksi.


Aira melihat lingeri tersebut seolah mengingatkanya pada malam pertama mereka.


"Waw untuk Aira ngak ada mbak?" canda Aira.


"Hus ada dong, mbak juga beli untuk kita berdua, kita kan abis dari pelaminan angap saja ya kita juga malam pertama," ucap Tari seraya menyodorkan satu goodie bag ke Aira.


"Es mau malam pertama juga ya?"tanya Aira pada Tari.


"Iya dong, loh juga mau kan merasa malam pertama lagi?"Tari.


"Mau dong," Aira.


"Tapi Punyanya Aldi masih enak ngak? he he," tanya Tari dengan maksud bercanda.


" Is itu sih masih dong Mbak, ha ha, " jawab Aira dengan bercanda.


**


Setelah mandi dan merasa segar Alia keluar dari kamar mandi kemudian menghampiri Aira dan Tari.


"Eh Alia nih kalau sudah mandi gunakan gaun ini untuk malam pertama kalian," ucap Tari seraya menyodorkan lingeri tersebut kepala Alia.


Alia meraih dan merentangkan lingeri tersebut.


"Hah, pakai lingerie ini?"tanya Alia kaget.


"Iya dong, ayo kamu pakai ya, kami berdua keluar dulu, selamat menikmati malam pengantin kamu sayang," ucap Tari.


"Ayo Aira tinggalin Alia sendiri, biar mereka bisa secepatnya bikin cucu untuk kita, " Ajak Tari.


Aira dan Alia pun keluar dari kamar dan meninggalkan Alia yang sendiri.


Alia meraih lingeri tersebut, ia coba memakainya dan melihat


bayangannya dari pantulan cermin.


"Ya ampun rasanya malu sekali klau aku kenakan pakaian ini di depan abang," ucapnya lirih.


Alia pun memutuskan untuk membuka linggeri tersebut dan menggantinya, namun tiba-tiba saja terdengar suara pintu di gedor dari luar.


Tok tok..tok..


Alia sedikit panik, ia belum sempat mengganti pakaiannya.


Tok... tok... tok...


Pintu di gedor lagi seolah yang di luar sudah tak sabar ingin masuk ke dalam.


Mau tak mau ia pun membuka pintu tanpa sempat mengganti pakaianya.


Aww siapatuh yang di balik pintu bikin deg deg kan aja nervous loh authornya he he


Besambung.

__ADS_1


__ADS_2