
Aldi mengusap wajah Aira, seraya menatapnya dengan tatapan mata sendu, pelan pelan ia mendekat wajahnya, ke wajah Aira, Aira seperti tersihir oleh pesona sang mantan suami yang telah memberinya seorang anak tersebut.
Kemudia ia menempelkan bibirnya pada bibir Aira, namun tubuhnya terhuyung karna di dorong oleh Aira.
"Jangan bertindak di luar batas Mas," ucap Aira ia pun beranjak dari duduknya, sementara Alia baru keluar dari kamar mandi.
Aira membawa Alia ke kamar mandi dan memakaikan putrinya pakaian, karna sebentar lagi mereka akan ke Mall.
Sejak dulu Alia memang ingin mengunjungi Mall, maklum saja ia berada di kampung yang sangat terpencil, sama halnya dengan Aira, sebelum bertemu Aldi, ia juga tak pernah menginjakkan kakinya di Mall.
Jadi Aira merasakan apa yang di rasakan oleh Alia.
Meski merasa lelah, namun Aira tak ingin mengecewakan sang putri, lagi pula selama empat tahun ia menghabiskan waktunya untuk menjalani pendidikan dan meninggalkannya.
"Alia sudah siap Bunda," ayo kita jalan, ajak Alia ketika ia selesai menyisir rambutnya.
Aira memang mengajarkan putrinya untuk hidup mandiri sedari kecil.
"Iya sayang, "ucap Aira.
Mereka pun keluar dari kamar.
Aira mengenakan pakaian sederhana dengan celana kulot hitam dan baju kaos sederhana berwarna putih dengan make up tipis, namun masih terlihat cantik.
"Ayo ayah kami sudah siap,"ucap Alia.
"Ayo sayang." Aldi pun beranjak.
Aldi membuka pintu mobil bagian depan untuk Aira dan Alia, kemudian ia membuka pintu untuk dirinya sendiri.
Senyum terkembang di wajah tampan Aldi, meski hanya mengunjungi Mall, namun ia bahagia bisa bersama Aira dan anak mereka.
Betapa ia merindukan saat-saat ia dan Aira bersama.
Aira memangku Alia dan memeluknya.
Gadis kecil tersebut begitu antusias menikmati perjalanannya.
Saat keduanya tengah menikmati perjalanan dengan melihat pemandangan dari luar jendela, Aldi menarik tangan Aira dan meletakannya kepangkuannya, kemudian Aldi menarik pelan dan mengecupnya punggung tangan Aira tersebut.
Aira segera menarik tanganya, entah kenapa ia merasa tak nyaman dengan perlakuan Aldi.
Mungkin karna hatinya masih begitu sakit dan sulit untuk menerima Aldi, meski rasa cinta itu masih ada.
"Mas, jaga kelakuan kamu, sekarang hubungan kita hanya sebagai father dalam membesarkan Alia, "ucap Aira.
Aldi hanya tersenyum melirik kearah Aira, sembari menatap jalan di depannya.
__ADS_1
Mereka pun sampai di Mall, baru memasuki basement saja Aira sudah girang bukan kepalang.
Baru saja Aldi memakir kendaraannya Aira sudah ingin turun.
"Sabar sayang," ucap Aira.
Mereka pun turun dari mobil, Aldi langsung menggendong putrinya, ia merasa bangga karna telah memiliki anak di usia mudanya.
Aira dan Aldi berjalan beriringan meski tak bergandengan tangan.
Sikaf Aira berubah menjadi sangat dingin terhadapnya, namun itu tak membuat Aldi menjadi ilfil .
Setelah memasuki lift mereka pun sampai di lantai dasar, dan untuk menuju pusat permainan, mereka menggunakan ekskalator.
"Alia mau main apa sayang?" tanya Aldi.
Aira menujuk bianglala," Itu Yah!" serunya.
"Hm boleh, Ayo kita naik."Aldi menuruti keinginan Alia.
"Bunda, ayo ikut," ajak Aldi seraya merangkul Aira.
"Ngak bisa, itu hanya untuk dua orang," tolak Aira, ia pun menepis tangan Aldi.
"Alia sama Ayah saja ya, bunda tunggu di sini saja," usulnya.
Aira mengangguk, ia pun merekam kebersamaan Aldi dan Aira.
Suara teriakan Alia terdengar paling nyaring, meski berada di ketinggian namun Alia tak merasa takut sediki pun.
Setelah puas naik bianglala mereka pun memutuskan untuk naik rollercoaster, kali ini Aira juga ikut.
Mereka bertiga naik rollercoaster mini, keseruan dan keceriaan terasa ketika rollercoaster tersebut mulai meluncur, Aira tanpa sengaja memeluk lengan Aldi, karna ia sedikit merasa ngeri saat benda tersebut meluncur, begitupun dengan Alia yang berteriak kencang.
Aldi merangkul kedua orang yang ia cintai tersebut berupaya menjaga mereka dari segala bahaya.
Perlahan lahan, Aira mulai menikmati waktu kebersaamaan mereka.
Setelah rollercoaster berhenti, barulah Aira sadar jika ia tengah memeluk lengan Aldi, wajahnya pun merona dan dengan cepat ia melepaskannya.
Karna merasa lelah, mereka pun memutuskan untuk beristirahat di sebuah stan es krim.
Aldi memesan satu mangkok es krim ukuran jumbo untuk mereka bertiga, ia sengaja hanya memesan satu mangkok agar bisa menyuapi Aira dan Alia.
"Nah es krimnya sudah datang," ucap Aldi seraya meletakan mangkok eskrim di atas meja.
"Wah, es krim, Alia mau yang rasa strawberry Ayah!"seru Alia.
__ADS_1
"Iya ini biar Ayah yang suapi," ucap Aldi seraya menyuapi Alia.
"Kalau bunda Ayah pasti tau, bunda suka es krim rasa macha dengan topping kacang Almond." Aldi pun menyuapi Aira.
Dengan pasrah Aira pun membuka mulutnya menerima suapan dari Aldi, tak bisa di pungkiri kebersamsan mereka sore itu membuat Aira ikut merasakan kebahagiannya.
Dengan sabar Aldi menyuapi kedua wanita beda generasi tersebut, Aldi berusaha menunjukan kepada Aira, jika mereka bertiga akan bersama-sama merasakan kebahagiaan jika bersatu dalam keluarga, mengingat tak orang ketiga di dalam rumah tangga mereka, hanya kesalah pahaman dan emosi sesaat yang membuat mereka harus terpisah.
Hari itu Alia benar-benar puas bermain, meski lelah namun ia tetap bersemangat.
"Bagaimana sayang? sudah puas, kalau sudah puas sekarang kita ke toko mainan, kamu boleh belanja mainan sebanyak apa pun yang kamu mau," ucap Aldi seraya menggendong putrinya.
"Asik! terima kasih Ayah " seru Alia ia pun mencium pipi ayah tampannya tersebut.
Ketiganya sempat menjadi pusat perhatian pengunjung mall yang melihat kebersamaan mereka, apalagi seorang Aldi yang jadi pusat perhatian ibu-ibu dan remaja putri, betapa tidak mereka mengagumi pria ganteng dan muda tersebut yang tanpa sungkan menggendong putrinya, membuat imeg hot daddy kini melekat pada Aldi.
Mereka berjalan beriringan, satu tangan Aldi menggendong Alia, sementara yang lainnya merangkul mesra Aira, meski Aira menolak dan menepisnya, tapi Aldi tak meneyerah, tangannya menggenggam erat jemari Aira.
Mereka melewati photo box, Aldi pun menarik tangan Aira agar masuk kedalam foto box.
"Ayah ini tempat apa?"tanya Alia.
"Ini photo box sayang, kita bisa berfoto instan di sini," jawab Aldi.
"Ayo kita mulai, kamu berpose yang bagus ya," ucap Aldi seraya menurunkan putrinya.
"Bunda juga, jangan cemberut terus dong mukanya, nanti Ayah gemes, Ayah cium loh."Aldi.
Aira melotot kearah Aldi.
Ketiganya pun memulai pose mereka, Awalnya Aira berfose biasa saja, hanya tersenyum melihat keduanya, sementara Aldi dan Alia berfoto senarsis narsisnya membuat Aira menjadi tertawa melihat tingkah konyol mereka.
Setelah mendapat enam gambar mereka, kembali lagi melakukan take photonya.
Mereka pun kembali mengatur posisi.
Kali ini Aldi berada di belakang Aira, tanganya melingkar di perut ramping Aira seraya berbisik, "Sayang apa kamu tidak merindukan saat-saat kita bersama seperti ini," ucap Aldi mesra, seraya mencium pipi Aira.
Aira langsung menoleh kearah Aldi seraya menatap mata Aldi yang berembun," Aku hanya mencintai mu, sayang, " ucap Aldi dengan mata yang berkaca-kaca, ia pun mencoba menyambar bibir Aira yang termangu di hadapannya.
Aira sendiri sulit menolak, karna rasa cinta nya yang sangat besar terhadap Aldi, matanya terpejam mencoba menikmati sentuhan bibir Aldi.
Sementara Alia sibuk berfose di depan kamera, ia melihat ayah dan bunda seperti hendak berciuman dari camera, karna malu Alia pun berteriak
"Ayah!Bunda! Alia malu,!" serunya sambil menutup wajahnya, karna malu melihat orang dewasa yang berciuman.
Sontak keduanya yang hampir kebablasan di depan anak mereka tersebut melepaskan pelukan mereka, kemudian keduanya jadi salah tingkah.
__ADS_1
Bersambun ya, sebenarnya ini tuh sambungan episode sebelumnya, berhubung author ngantuk lanjutnya pagi ini saja semoga tetap semangat ya, semangat juga buat Aldi yang mengejar cintanya.