
Hari ini hari kelulusan bagi Arsyad dan Nisa. Di tempat terpisah mereka pun merayakan suka cita pengumuman kelulusan mereka.
Setelah beberapa kali bertemu phisikolog , keadaan Nisa pun kembali seperti sedia kala ia berubah menjadi gadis yang kembali ceria. Dengan perlahan, sedikit demi sedikit Nisa bisa iklas atas apa yang terjadi pada keluarganya.Dengan dukungan keluarga Arsyad Nisa bisa pulih dari traumanya. Ia pun bisa menikmati masa remajanya.
Dinda menghampiri Nisa yang tengah ngobrol bersama teman-temannya.
"Nis, bisa bicara sebentar."
"Hm, ada apa ya Din?" tanya Nisa karna tak biasanya ia dan Dinda bicara.
Paling-paling mereka hanya saling melempar senyum ketika bertemu.
"Sini Nis." Dinda mengajak Nisa kesebuah sudut Koridor yang jauh dari keramaian.
Mereka duduk di sebuah bangku panjang.
"Nis, bagaimana hubungan loh dengan Arsyad?" tanya Dinda.
"Alhamdullilah, Nanti malam gue dan Arsyad tunangan. Karna dalam beberapa hari kemudian Arsyad akan berangkat ke Belanda untuk melanjutkan kuliahnya."
Dinda tertunduk lesu.
"Ehm memangnya ada apa ya Din?"tanya Dinda yang melihat reaksi yang tidak biasa dari Dinda.
"Nis sebenarnya sebelum loh dan Arsyad itu punya hubungan, orang tua kami sudah menjodohkan kami terlebih dahulu. Kedua orang tua kami sudah bersahabat sejak dulu. Dan aku juga sebenarnya masih cinta sama Arsyad."
Nisa membelalakan matanya, melihat ke arah Dinda.
"Hah! Bukannya loh sama Arsel?"
"Ehm... sebenarnya gue dekat sama Arsel gue cuma ingin Arsyad beri perhatian lebih. Karna Arsyad selalu sibuk dengan kegiatan lombanya. Dan ngak pernah perhatian ke gue. Jadi gue coba dekatin Arsel agar Arsyad cemburu dan lebih perhatian sama gue."
Nisa semakin syok, tapi Dinda kembali melanjutkan penuturannya.
"Tapi lama-lama gue merasa nyaman dengan Arsel karna perhatiannya dia ke gue."
"Kami pun memutuskan untuk jadian.Aku pikir dengan jadian dengan Arsel aku bisa melupakan Arsyad. Tapi, setelah gue lihat loh dekat dengan Arsyad gue cemburu Nis," tutur Dinda dengan lirih.
"Trus maksud loh ngomong ke gitu dengan gue apaan Din?"tanya Nisa sedikit emosi.
Dinda semakin mendekat, ia pun menggenggam tangan Nisa.
"Nis please, biarkan Arsyad jadi milik gue," pinta Dinda dengan sedikit memelas.
"Gue ngak bisa melupakan Arsyad Nis, semakin sering melihat loh dan Arsyad berdua. Gue semakin sakit Nis. "
Nisa melepas cengraman tangan Dinda.
"Ih ngak bisa gitulah. Aku juga sudah terlanjur sayang sama Arsyad dan keluarganya. Jadi maaf ya Din.Gue ngak.bisa penuhi ke inginan loh. Semoga loh dapat jodoh yang lebih baik," ucap Nisa seraya berdiri meninggalkan Dinda.
"Tapi Nis!"
Nisa tak lagi peduli dengan Dinda yang memanggilnya. Bahkan Dinda berlari kecil menghampirinya.
"Nis dengarkan aku dulu," pinta Dinda seraya menarik tangan Nisa agar Nisa berhenti.
"Apalagi sih Din?"tanya Nisa berhenti.
"Nis, gue rasa Arsyad itu hanya kasihan sama loh Nis. Dia ngak cinta sama loh."
Dinda coba pengaruhi Nisa.
"Terserah Din, gue sudah dewasa dan bisa melihat mana yang benar-benar tulus atau hanya pura-pura, "cetus Nisa Ia pun berlalu dari Dinda.
Nisa masuk ke kelasnya, mengambil tasnya kemudian keluar dari lingkngan sekolah karna Arsyad sudah menunggunya di depan.
__ADS_1
Arsyad tersenyum, melihat Nisa yang berlari dengan wajah yang gembira menghampiri Arsyad.
"Syad kamu lulus ngak?" tanya Nisa.
"Lulus dong! Kalau ngak lulus bisa-bisa batal tunangan kita."
Nisa tersenyum.
"Iya aku juga ngak mau punya calon suami yang goblok, ujian aja ngak lulus," cetus Nisa dengan maksud bercanda.
"lIs Aku masuk tiga besar Kok."
Arsyad memakaikan helm ke Nisa kemudian mrngkliknya.
"Kamu lulus ngak?"tanya Arsyad.
"Hm kalau aku ngak lulus, apa pertunangan kita akan batal?"
"Hm ngaklah. Lulus ngak lulus tetap ngak merubah perasaan aku terhadap kamu kok," ucap Arsyad seraya menggengam tangan Dinda.
"Hm kirain."
Dinda menyandarkan kepada pada pundak.Arsyad.Ia merasa bahagia, selain karna ke lulusannya. Nisa juga senang karna nanti malam akan ada acara pertunangan mereka.
Malam harinya keluarga Aldi mengadakan.acara pertunangan. Meski Nisa seorang anak yatim piatu. Aldi tetap melaksanakan acara lamaran secara sakral, dengan mengundang pamanya Nisa yakni sepupu dari Herman dan Nando untuk menghormati keluarga beliau.
Nisa terlihat cantik dengan kebaya berwarna peachnya.Kebaya yang sama yang Aira gunakan ketika di lamar oleh Aldi sembilan belas tahun yang lalu.
Karna kebaya tersebut berbahan sutra halus, testur kainya pun tak berubah sedikit pun. Bahkan gaun pengantin yang akan di gunakan ketika mereka akan menikah pun adalah gaun pengantin milik Aira yang juga di kenakan oleh Alia.
Dengan sanggul minimalis dan dandanan yang natural Nisa terlihat lebih cantik.
Begitupun Arsyad, pria tampan tersebut semakin memancarkan aura ketampanannya ketika menggunakan stelan kemeja dan jasnya, seperti eksekutif muda.
Aira masuk ke dalam kamar Arsyad.
Bulir bening menetes di pipinya ketika ia melihat Arsyad mengenakan jas yang di kenakan oleh Aldi ketika melamarnya dulu.
Arsyad semakin mirip dengan Aldi ketika muda. Hanya saja Arsyad tak memiliki sipat playboy seperti ayahnya.
Aira tersenyum menghampiri Arsyad ia pun membatu Arsyad merapi kan jasnya.
"Bunda lihat lah apa aku terlihat tampan?"tanya Arsyad dengan wajah yang berbinar.
Aira menakup telapak tangannya pada pipi putranya tersebut.
"Tentu saja, putra Bunda pasti tampan. Kamu semakin mirip dengan ayah mu," ucap Aira dengan senyum yang di kulum.
"Tentu saja mirip ayah.Kan Aneh kalau mirip Letnan Airlangga," Cetus Arsyad karna ia sering mendengar kedua orang tuanya tersebut bertengkar kecil, gara-gara Aldi yang sampai saat ini masih cemburu dengan letnan Airlangga.
Aira menutup mulut Arsyad dengan jari telunjuknya." Shut kalau ayah dengar, nanti dia ngambek lagi."
"Hm, benar juga Bun. Ayah kalau ngambekkan jelek."Arsyad.
"Hus Ayah kamu loh itu Dek." Aira.
"Ih Bunda jangan panggil Arsyad Dek lagi, Arsyad kan sudah gede, sudah mau tunangan lagi, "pintanya.
"Iya anak Bunda sudah gede," ucap Aira seraya mencium pipi putranya yang tinggi tersebut.Hinga Aira harus berjinjit.
"Ayo Bunda kita keluar, rasanya sudah tam sabar melihat kecantikan Nisa ketika mengenakan kebaya Bunda," ucap Arsyad seraya menarik tangan Aira agar berjalan lebih cepat.
"Ya ampun Dek! Sabar kenapa sih? pasti bertemu kok dengan calon tunangan kamu."
Mereka pun keluar dari kamar tersebut hampir bersamaan dengan Alia yang menuntun calon adik iparnya keluar dari kamar.
__ADS_1
Wajah keduanya berbinar memancarkan senyum bahagia. Nisa mengagumi ketampanan pangerannya tersebut, ia semakin merasa beruntung mendapat calon suami yang mendekati sempurna. Selain tampan Arsyad juga mempunyai budi pekerti yang luhur dan yang penting keluarga Arsyad adalah orang-orang baik dan tulus.
Arsyad teresona melihat Nisa yang lebih cantik dari putri keraton. Gadis pujaannya tersebut terlihat semakin ayu dan anggun dengan mengunakan kebaya milik sang ibunda.
"Nisa kamu cantik sekali malam ini, "ucap Arsyad sambil mencubit pipi Nisa dengan mesra.
Melihat hal tersebut, Aira menarik tangan Arsyad. Meski bertubuh besar dan tinggi nyatanya sifat Arsyad terkadang masih ke kenakan.
"Adek apaan sih! nanti rusak loh Dek dandanan Nisa,"dengus Aira.
"Iya Nih, udah cape kakak dandaninya, kamu main cubit-cubit aja," timpal Alia, ia pun memeriksa riasan di pipi Nisa.
"Ih untung ngak berantkan," dengus Alia.
"Dek-dek, katanya udah gede." Aira
"Abisnya gemes Bun, pingin cium tapi belum halal. Ngak bisa apa malam ini di halalin saja, he he," tuturnya sambil nyengir.
"Hm, mulai nurun tuh sifat ayanhya," dengus Aira.
Sementara Nisa hanya tersenyum.
"Duh Nisa jangan senyum dong. Aku kan jadi gemes pingin gigit aja," Cetus Arsyad lagi.
"Trus kalau ngak senyum aku harus marah gitu." Nisa.
"Ah sudah Yuk, sudah di tungguin tuh!"Aira.
Mereka pun turun menuju lantai bawah yang sudah di hadiri oleh seluruh anggota keluarga Aldi.
Seluruh keluarga Aldi berkumpul, ada pula tamu undangan yang datang dari beberapa sahabat Aldi termasuk Doni yang datang dengan Rombongan anak cucunya.
Doni duduk dan ngobrol bersama Romeo dan Aldi.
Sebelum acara di mulai, Arsel datang dengan seorang wanita cantik yang membuat perhatian sebagian orang-orang tertuju padanya termasuk Dinda
"Papa kenalin ini pacar aku, Namanya Stella, " ucap Arsel memperkenalkan pacarnya.
Ketiganya pun saling memandang. Mereka tak mengira jika hubungan Arsel dan Dinda berhenti setengah jalan.
Dinda semakin cemburu, meski ia sadar semua ini adalah kesalahannya.
Setelah bersalaman dan memperkenalkan.pacarnya pada ketiga pria tersebut, Arsel membawa Stella menemui Tari dan Heru.
"Yah kayaknya kita batal berbesan lagi ya Don."
"Iya mereka yang menjalani hubungaan kok gue yang jadi delima, " dengus Doni sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
"Delima? Dilema kali maksud loh ?"Romeo.
"Hah, emng Delima sama dilema beda yah, perasaan gue sama aja," Imbuhnya lagi.
"Sama dari hongkong! Perasaan gue dari gue orok sampai gue tua gini Delima sama dilema itu bedalah."
"Oh gitu ya."
"Pura-pura bego loh, padahal emang iya begok," sahut Aldi.
"Dia ngak begok Al, cuma mesti di restart ulang, memorinya penuh. Maklum udah tua." Romeo.
"Ah udalah yuk, yang mau tunangan udah turun tuh, loh bedua jangan bertengkar lagi ya!" Aldi.
Aldi dan keduanya mendekat karna pertunangan Arsyad dan Nisa segera di mulai.
Bersambung dulu ya reader, terima kasih sudah mendukung dan selalu setia dengan karya ini 😍😘
__ADS_1