
Tangan Aldi meraba-raba kedalam selimut tebal miliknya dan tak mendapati Aira.
Terdengar suara air kran yang mengalir dari kamar mandi.
Aldi pun bangkit dan melirik jam dinding yang ada di kamar nya.
Baru pukul tujuh pagi, ia pun merenggangkan seluruh otot-ototnya.
Setelah beberapa saat melakukan gerakan senam ia pun menuju kamar mandi, dan melihat Aira sedang mencuci sprey yang mereka gunakan untuk pertarungan sengit semalam.
"Sayang kamu ngapai sih?" tanya Aldi yang menghampirinya.
Aira hanya diam, ia masih menyiram-nyiram air pada bagian noda darah yang mengering.
Aldi yang melihat noda tersebut langsung memeluk Aira dari belakang dan mencium tengkuk nya, ia ingat betapa hasratnya terpuaskan semalam.
"Udah sayang biarin saja, percuma dong di rumah ini ada asisten rumah tangga yang mengurusi semua ini, kalau harus nyonya Aldi sampai turun tangan"
"Tugas kamu cuma melayani aku sampai puas," ucap Aldi sambil menyambar leher Aira dan mencium nya, sementara tanganya merangkul pinggang Aira yang ramping dan menariknya hingga menempel pada tubuhnya.
Hati Aira terasa ngilu, saat Aldi mengatakan jika tugasnya hanya untuk melayani nya sampai puas.
Aldi masih masih mencumbu leher jenjang dengan wangi yang membuatnya mabuk kepayang.
Sontak si buyung pun bangun dan mengintip di balik sangkar segitiganya.
"Sayang masih pagi nih, itung-itung pemanasan sebelum bekerja," bisik Aldi di telinga Aira.
Aldi menyingkap rok yang di gunakan Aira, seketika tanganya merayap masuk kedalam segitiga pengaman, tanpa komando dan aba-aba, sibuyung tanpa sadar meneteskan air liur nya,tak hanya mengintip, kini kepalanya terjulur keluar dari balik sangkar segitiga tersebut.
Aldi mulai panas, dan mencoba melucuti segitiga pengaman tersebut, "Ayo sayang kita lakukan di sini saja," bisik Aldi sambil membalik kan tubuh Aira.
"Ngak mau mas aku capek," tolak Aira sambil mendorong tubuh Aldi.
Saat itu Aldi melihat wajah Aira yang sayu matanya pun terlihat sembab.
"Kamu kenapa Aira? masih marah ya?" tanya Aldi.
Aira tak menjawab, perlahan ia menitikan air matanya.
"Maaf Aira, mas Aldi cuma ingin jujur sama kamu, agar nanti kamu ngak salah paham."
"Aira, mama memang memaksa mas Aldi untuk menikah dengan Aura, tapi bukan bearti mas setuju, makanya mas ingin kamu cepat hamil, kalau kamu hamil, mas jadi punya sejuta alasan untuk mempertahan kan pernikahan kita ini."
Aldi maraih tangan Aira dan mencium punggung tangan nya.
"Maaf Aira, mas Aldi baru jujur sekarang," ucapnya sambil mengecup tangan Aira.
Aira meneteskan air matanya, ia sendiri binggung dengan sikaf Aldi.
"Mas, sayang sama kamu Aira, biar sama-sama kita pertahankan rumah tangga kita, tapi sekali lagi mas ingatkan sama kamu, ini semua ngak mudah, jika suatu saat mas khilaf, tolong kamu jangan langsung pergi meninggalkan mas Aldi, saat ini mas masih mencoba untuk menjadi suami yang baik, yang setia, mengingat begitu nanyak godaan di luar sana, termasuk dari mama mas sendiri, apalagi kita masih sama-sama muda, emosi masih sulit di kendalikan, kalau kita ngak saling menguatkan rumah tangga ini akan karam dalam beberapa bulan saja, sungguh mas hanya ingin kamu yang menjadi pendaping mas Aldi sampai mati," ucap Aldi bersungguh-sungguh.
Mendengar penuturan Aldi Aira pun terharu.
Ia pun memeluk Aldi dan menangis haru di pelukanya, Aldi mengusap rambut panjang Aira dengan lembut, ia sendiri merasa heran dengan perasaan nya, entah dari mana rasa itu tumbuh, cinta yang tak pernah hadir sebelumnya, kini ia sendiri merasa tak ingin di pisahkan dari Aira.
Mereka pun melepaskan pelukanya.
Aldi menatap mata istrinya yang telah basah oleh air mata, ia pun menghampus air mata tersebut.
"Sudalah Aira jangan bersedih lagi, sekarang kamu siapkan baju mas Aldi ya," ucapnya sambil mengecup kening Aira.
Aira pun mengganguk dan langsung kembali ke kamar mereka.
Melihat sprey putih yang penuh noda tersebut, Aldi berinisiatif membersihkan nya sendiri, ia pun menabur detergen dan konsentrat penghilang noda, setelah itu ia menyikat pada bada bagian yang bernoda, setelah noda tersebut terlihat samar, ia pun menyimpan nya kembali di tempat cucian kotor.
Aira tersenyum saat mendengar Aldi sendiri yang membersih kan spey tersebut.
Setelah menyiapkan pakaian suaminya, Aira mencuci wajahnya di wastafel, setelah itu ia merapi kan riasan wajahnya.
Meski menggunakan bedak yang tebal namun tetap saja tak mampu menutupi mata sembab nya, Aira pun malu untuk turun dan sarapan bersama anggota keluarga yang lain.
Setelah mandi Aldi menemukan Aira duduk melamun di tepi tempat tidur.
"Baju mas Aldi sudah siap Aira?"
"Sudah Mas," sahut Aira sambil menunjuk pakaian yang bergantung di lemari.
"Aira dasi mas Aldi mana?"
"Mau pakai dasi Mas?"katanya ngak suka terlihat formal, sahut Aira.
"Karna hari ini ada rapat saja, makanya mas Aldi pakai dasi."
"Kamu bisa bantu mas Aldi memakaikan dasi Aira?"
"Bisa mas," Aira pun beranjak dan memakai kan dasi pada Aldi.
Aldi memperhatikan wajah Aira saat ia memakain dasi, ia pun tersenyum, di sambarnya kembali bibir sensual yang berwarna soft pink dan mengecupnya pelan.
"Sudah selesai mas," ucap Aira sambil melingkarkan tangganya ke leher Aldi.
"Jangan jajan sembarangan ya Mas, pulang harus tepat waktu, kalau ngak, nanti malam ngak Aira kasi jatah," ucap Aira dengan nafa manja.
"Iya, ayo kita turun sekarang," ucap Aldi sambil menarik pelan hidung istrinya.
"Aira istirahat di kamar saja ya Mas, Aira capek."
"Iya sayang ngak apa-apa, nanti mas minta sama mbok untuk mengantar sarapan ke kamar, kamu istirahat saja ya, biar nanti sore kamu bisa fit lagi, dan lanjutin bikin dedeknya," ucap Aldi sambil mengecup kening istrinya.
Aldi turun dari lantai atas menuju meja makan.
"Loh, sendiri aja Di?" tanya Satria.
__ADS_1
"Iya Pa, Aira sedang ngak enak badan," jawab Aldi sambil memoles selai di atas roti.
"Kecapean kali, berapa ronde semalam Di?" tanya Satria dengan tawa terkekeh.
"Bisa ngak sih ngak usah ngomong gituan di meja makan," protes Heru.
"Heehe, ada yang iri tuh," sahut Satria.
"Makanya kawin tuh, enak, iya ngak Di?" tanya Satria dengan tawa terkekehnya, sementara maya hanya geleng-geleng kepala.
***
Pukul empat sore, Aldi sudah berada di kamarnya, ia membawa seikat bunga untuk istrinya, Aira menggunakan handuk dan keluar dari kamar mandi, saat itu ia melihat Aldi sudah duduk di atas ranjang dan tanpa benang selembar pun.
Aira pun kaget," Sejak kapan mas pulang?" Tanya Aira kaget, ia pun menghampiri Aldi.
"Baru saja,"
Aldi langsung menarik tanggan Aira, hingga Aira terhempas si tempat tidur empuk itu, tanpa basa-basi lagi Aldi menarik handuk Aira dan melemparnya sembarangan.
Aldi pun kembali memulai gencatan senjata nya.
Pertempuran sengit itu berlangsung lebih kurang setengah jam, sebelum tubuh Aldi ambruk di samping Aira.
Aldi mengatur nafasnya, tiba-tiba saja suara dering telpon terdengar.
Dengan malas Aldi meraih ponselnya dan menggangkat panggilan yang ternyata dari mamanya.
"Hallo Ma,"
-
-
"Iya ma Aldi kesana sekarang," Aldi menutup telponya.
Entah apa yang di bicarakan oleh ibu dan anak itu, yang jelas ia hanya mendengar jika Aldi akan menemui ibunya.
Aldi bangkit dan langsung menuju kamar mandi, beberapa menit kemudian ia kembali dalam keadaan segar.
Aira hanya memperhatikan gerak-gerik suami nya, tanpa bertanya apa pun.
Setelah rapi, Aldi menghampiri Aira.
"Sayang, aku harus menemui mama dulu ya, katanya ada urusan penting," ia pun mengecup kening Aira.
Aira menatap punggung suaminya yang perlahan menghilang di balik pintu, hatinya terasa miris, Aldi meninggalkan nya sendiri, saat tubuhnya masih lemas dan lelah, setelah pelayanan yang ia berikan kepada Aldi.
Malam minggu Romeo sendiri bernyanyi di kamar nya waktu masih menunjukan pukul tujuh malam.
*Hancur hati ini,
melihat foto dan video,
Ku ingin saat ini,
Engkau ada di sini,
Tertawa bersama ku,
Seprti dulu lagi,
Walau hanya sekejap,
Tuhan tolong kabul kan lah,
Bukan nya diri ini tak terima kenyataan,
Hati ini hanya Rindu,* hanya rindu
Lagu sahdu tersebut semakin merdu di nyanyikan oleh Romeo dengan penghayatan, karna saat itu Romeo sendiri sedang merasakan rindu.
Sejak Aira menikah, Doni melarang Romeo untuk menghubungi Aira, meski hanya lewat pesan singkat.
Doni dan Tari berada di ruang tamu dan sedang ngobrol basa-basi bersama kedua orang tua Romeo.
Setelah cukup berbasa-basi, mereka berdua menuju lantai atas di mana kamar Romeo berada.
Lagu hanya rindu dari Anmesh itu masih terdengar di lantunkan oleh Romeo.
Doni langsung membuka pintu kamar Romeo yang tak di kunci tersebut, ia memang sudah biasa keluar masuk di rumah, bahkan di kamar Romeo.
"Hai Rom," sapa Doni yang mengangget kan Romeo.
"Ihs kaget gue njir," ucap Romeo yang kaget melihat kedatangan Doni dan Tari.
"Ada apa nih?" tumben banget malam minggu lo, malam minggu kemari?" tanya Romeo.
"Gue mau ngajak lo up date men," sahut Doni.
"Nge date kali maksud loh," sambung Romeo sambil tertawa kecil.
"Ya gitulah maksud nya, bukan gue sih tapi.., "kata Doni terhenti karna pinggangnya di cubit oleh Tari.
Romeo pun paham, ia sendiri tahu jika Tari lagi mencoba PDKT dengannya.
Karna hanya ada satu kursi di kamar Romeo, Doni membiarkan Tari duduk di meja belajar Romeo, sementara ia sendiri duduk di tempat tidur bersana Romeo.
Tari melihat sekeliling kamar Romeo, meski kamar itu tak begitu besar, tapi terlihat bersih dan rapi.
"Gue belum mandi Don, kenapa ngak telpon dulu?" tanya Romeo.
"Kalau gue bisa nelpon lo, gue ngak perlu sampai nyusul ke sini," sungut Doni kesal.
__ADS_1
Romeo meraih handphonenya dan melihat ternyata handphone nya mati.
"Oh iya handphone gue mati."
"Beberapa hari ini susah banget Rom, menghubungi lo, kenapa sih?"
"Gue malas aja, kalau buka hape lihat ada foto Aira di beranda,"
"Ya lo ganti dong pea' lagian punya muka ganteng, tapi otak malah gantung," cetus Doni.
"Ngak lah biarin aja," Romeo pun bangkit.
"Gue mandi dulu lah," ucap Romeo sambil berlalu meninggalkan mereka berdua.
Terdengar suara orang mandi.
"Eh, Tar gue tinggalin dulu ya, cewek gue udah nungguin nih, ntar dia ngambek lagi."
"Gue tinggal di sini sendirian?" tanya Tari dengan nada protes.
Doni menyunggingkan senyumnya," Alah belaga protes, bilang aja lo seneng gue tinggalin sendiri kan?"
Tari tersenyum malu," Iya tahu aja loh, dah buruan, ntar cewek lo ngambek lagi."
"Ingat pesan gue, kalian berdua jangan macam-macam ya," ucap Doni sebelum meninggalkan Tari.
"Iya"
Tari beranjak dan melihat-lihat di sekitar kamar Romeo, ada sebuah etalase kecil yang menarik perhatian Tari.
Etalase tersebut berisi miniatur dari beberapa karakter action figur."Mungkin ini koleksi Romeo" guman Tari, ia pun beralih melihat Foto metamorfosa Romeo dari mulai bayi hingga saat sekarang.
Tari tersenyum melihat foto Romeo kecil yang sedang tengkurap, lucu dan menggemaskan, pandangan Tari berpindah ke foto selanjut nya di mana bingkai tersebut memajang foto Romeo yang menggunakan seragam sekolah dari SD hingga SMA," Gue baru tahu kalau Romeo itu dari dulu itu ganteng, kok gue baru nyadar nya sekarang ya, sebelum ini bagi gue ngak ada cowok yang paling ganteng dan cool selain Aldi," gumannya.
Pandangan Tari berpindah ke Album foto yang ada di atas meja belajar nya, ia membuka Album foto tersebut dan mendapati banyak foto cewek.
"Lagi lihat apa Tar?" suara tersebut mengagetkan Tari.
Romeo keluar dari kamar mandi dan hanya menggunakan handuk, dengan rambut yang masih basah.
"Ush, macho," ucapnya lirih. ketika melihat tubuh Romeo yang bertelanjang dada tersebut.
Romeo menuju lemari dan memilih baju.
"Rom, di album ini kok foto cewek semua Rom?" tanya Tari.
"Oh, itu semua nya foto mantan gue tuh," sahut Romeo tanpa menoleh kearah Tari.
Tari melihat foto-foto cewek-cewek yang semuanya cantik-cantik, ia pun menelan salivanya, "Berat saingan gue," gumanya.
"Lo ngomong apa barusan Tar?" tanya Romeo yang kurang jelas mendengar ucapan Tari.
"Ngak gue heran aja, kok ngak ada foto gue," sahut Tari asal.
"Eh Tar, itu Album foto mantan gue, bukan mantan Aldi, ya jelas ngak ada foto loh, loh kan mantan Aldi bukan mantan gue," ucap Romeo dengan penekanan di kata-kata teakhir.
"Kalau gitu, mau dong di jadian mantan," cetus Tari sambil tersipu malu.
"Jadian aja belum," sungut Romeo sambil memakai kaosnya.
"Kalau gitu buruan dong tembak gue," memberi kode.
Menyadari kata-kata yang keluar dari mulutnya sendiri, ia pun menutup mulutnya karna malu.
Sementara Romeo hanya tersenyum miris, "Baru kali ini gue nemu cewek seperti lo Tar, gue jadi parno sendiri,"canda Romeo.
"Eh gue mau pakai celana nih, jangan ngintip ya." Romeo.
"Iya ngak ngintip, ngelirik dikit boleh dong ya?" cetus Tari bercanda
"Boleh aja, kalau lo pingsan dan kejang-kejang gue ngak nanggung ya?" Romeo pun memakai celananya.
"Eh si Doni tadi mana?" tanya Romeo sambil menarik resliting celananya
"Sudah pergi, jemput cewek nya," sahut Tari tanpa menoleh.
"Jadi kita pergi berdua aja nih?" tanya Romeo sambil menata rambutnya, Tari mencium bau wangi khas cowok di kamar itu, ia pun menghirup bau parfum maskulin namun tetap soft di hidung.
Semakin mengenal Romeo, rasanya ia semakin jatuh hati.
Mereka pun pergi menggunakan mobil Romeo.
"Kita kemana Tar?" tanya Romeo.
"Kekafe aja, kalau ngak nonton."
"Ngak kerestoran mewah aja tempat lo sama Aldi kencan?" tanya Romeo karna mereka hampir melewati restoran mewah tempat favorite Tari dan Aldi.
"Emang lo punya duit?" tanya Tari.
"Lagian kalau ke sana gue jadi ingat mantan," ucap Tari sambil memperhatikan sesuatu yang menarik hatinya.
"Berhenti Rom," ucap Tari.
Karna kaget, Romeo pun nge rem mendadak.
"Ada apa sih?" sungut Romeo kesal.
"Rom, loh lihat deh, bukanya itu Aldi dan super model itu?" Tari menunjuk kearah restoran.
Romeo pun memperhatikan dengan cermat, "Iya benar itu Aldi, apa hubungan Aldi dan super model itu ?" tanya Romeo emosi, ia pun mengepal kan tangan nya.
Bersambung dulu ya guys, tinggalkan like, komen nya ya, kira-kira apa yang terjadi selanjut nya ya guy, berikan komentar kalian ya.
__ADS_1