Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Masalah baru


__ADS_3

Sinar bagaskara perlahan masuk melewati jendela, menyadarkan insan yang sedang terlelap.


Romeo menerjabkan matanya melihat sekeliling, tubuh dan wajahnya masih terasa sakit, namun ia paksakan untuk bangkit.


Setelah menuntaskan ritual mandi paginya, Romeo turun menemui Doni.


"Eh Rom, sudah bangun? gimana keadaan loh?" tanya Doni sambil menyodorkan secangkir teh hangat, ketika Romeo duduk di atas kursi.


"Sudah mendingan Don," ucapnya sambil menyerup secangkir teh.


"Loh tahu ngak Rom, Tari khawatir banget sama lo, dari pagi dia nungguin loh sampai sore, udah gitu malam-malam dia beberapa kali menghubungi gue, hanya untuk menanyakan kabar loh Rom," papar Doni.


Romeo meletakan cangkir tehnya di atas meja.


"Gue bukan nya mau ikut campur dengan urusan pribadi loh, tapi sebagai sahabat, gue mengingatkan loh, loh jangan sia-sia orang yang mencintai loh dengan tulus, hanya untuk mengejar sesuatu yang tak pasti Rom, tapi itu seterah loh, gue hanya cuma memberi nasehat saja," ujar Doni dengan menepuk pundak Romeo.


Romeo hanya menggangguk lemah, "Iya gue sudah memutuskan untuk menerima perjodohan itu, "papar Romeo.


Doni tersenyum sumringah.


"Bagus lah, semoga loh bisa bahagia Rom, dengan membahagiakan orang lain, lo juga pasti akan merasa bahagia."


"Ya semoga saja," sahut Romeo datar.


***


Aldi keluar dari kamarnya dengan siulan yang bersenandung, saat itu ia sedang berpapasan dengan Tari.


Tari melirik Aldi dengan tajam kemudian membuang mukanya, tapi Aldi membalasnya dengan senyum, ia menghampiri Tari dan memeluknya dari belakang.


"Ish apaan loh Di, pakai sok romantis, kita tuh udah lama putus tau!" segahnya sambil melepaskan rangkulan tangan Aldi.


"Iye tapi kan gue tetap sayang sama loh, dan tali persaudaraan itu ngak akan terputus sampai kapan pun," sahut Aldi sambil merangkul pundak Tari agar mereka berjalan beriringan.


Tari memasang wajah yang cemberut, ia begitu kesal dengan Aldi.


"Udah ngak usah cemberut gitu, ntar lo ngak cantik lagi," sanjung Aldi sambil mencium pipi kanan Tari.


"Biarin muka-muka gue," loh yang sewot.


"Lagian loh keterlaluan Di, lo udah nyakitin Romeo, itu sama saja lo menyakitin perasaan gue, " dengusnya.


"Eh Tar, gue ngak suka saja lo sama Romeo, cowok lain tuh masih banyak kenapa harus dia? Lagian muka lo ngak jelek-jelek amat, masih banyak yang mau lah," selorohnya.


"Apa loh bilang ngak jelek? Gue itu cantik tau! seluruh dunia juga tahu hm..," ucap Tari sambil menyibak rambut panjangnya yang terurai.


"Justru karna lo cantik, ngapain loh ngejar-ngejar Romeo, lo tahu sendiri kan Romeo bagaimana."


"Terserah gue lah Di, loh ngak merasa aja jadi gue, hidup gue seperti di permainkan oleh Takdir, bertahun-tahun menjalin cinta dengan lo, hingga gue merasa jika loh adalah jodoh gue bahkan gue juga sempat menikah dengan abang gue sendiri, nyesek banget jadi gue, " keluh Tari.


"Lo ngak mikir seperti apa bagaimana perasaan gue saat ini, karna loh ngak mengalami apa yang gue alami, Di! lo bisa mendapatkan apa yang loh inginkan, sedangkan gue?" ucap Tari dengan bulir bening yang menetes perlahan.

__ADS_1


Aldi terperangah, tubuhnya terpaku sejenak, ia terus membuntuti Tari dengam matanya.


"Gue sudah terlanjur sakit, sudah terlalu sering kecewa, tapi gue ngak mau menyerah untuk mendapakan sesuatu yang gue dambakan."


"Terserah loh mau bilang apa, gue tetap pada pendirian gue," sahut Tari ketus.


Aldi melepaskan rangkulanya dan menahan langkah Tari.


"Tapi Tar, gue itu sayang sama lo, gue ngak mau lo disakitin, Romeo itu mencintai Aira, jadi apa yang akan terjadi jika Romeo hadir di antara kita hah?!" Aldi.


Tari membalikan tubuhnya, "Oh ya Di, kalau gitu loh saja lepasin Aira, demi gue! sanggup ngak lo?"


"Hah lo gila? Aira itu istri gue, sedangkan Romeo bukan siapa-siapa loh Tar! Lo pikir baik-baik jangan sampai jika kalian menikah, lo justru ngak merasa bahagia bersama dia Tar!"


"Terserah Di, gue yakin suatu saat gue bisa merebut hatinya dia!,"


Tari menatap mata Aldi dengan lekat, kemudian ia pun berlalu meninggalkannya.


Aldi masih mematung menatap kepergian Tari, "Bagaimana caranya gue ngasi pengertian ke loh sih Tar? Gue ingin yang terbaik untuk lo, dasar keras kepala!" gumannya, ia pun turun menuju meja makan untuk sarapan.


Tari menuju Dapur dan disana sudah ada Aira yang tengah berbincang dengan mbok Jum, melihat kedatangan Tari, Aira pun bergegas menghampirinya.


Wajah Tari masih terlihat kesal, saat itu ia sedang mencari sesuatu di dapur.


"Mbak! Bagaimana keadaan bang Romeo?" tanya Aira.


Tari membalikan tubuhnya berhadapan langsung dengan Aira." Karna pukulan Aldi, Romeo sampai sakit, karna pukulan tersebut mengenai luka pada jahitannya, semalam saja saat gue tinggalin, dia masih demam, gimana gue ngak kesal sama Aldi," dengusnya.


"Hah." Aira syok.


"Iya loh yang kegenitan, udah punya laki juga, main peluk-peluk aja! Gue aja cemburu, apalagi si Aldi, dasar!" cecar Tari yang juga kesal terhadap Aira.


"Maaf mbak, habisnya Aira terlalu senang sih, karna bang Romeo mau menerima perjodohan itu mbak, maka nya Aira melompat dan sampai khilaf hingga meluk dia, he he he." papar Aira.


"Ha, serius kamu Aira! Beneran dia mau?"tanya Tari semangat ia pun melompat memeluk Aira.


"Makasih Aira, " cup...cup Tari mencium pipi Aira.


"Hm biasa aja keles, tuh kan mbak Tari aja klau terlalu senang melompat pakai meluk Aira lagi, sama lah seperti Aira ngak ada maksud apa-apa juga." kilahnya lagi.


"Eh beda lah, kita itu sama-sama perempuan, nah kamu sama Romeo kan mantan pacar, rasanya gimana gitu.."


"Alah, mbak Tari sama mas Aldi juga peluk-pelukan di depan Aira, Aira ngak cemburu kok, santuy aja."


"Ih gue sama Aldi itu saudara, mahram, selama batas wajar ngak apa-apa juga."


"Eh, tapi kan kalian juga mantan pacar, he he, " sahut Aira tak mau kalah.


"Ih dasar kamu ya? bisa aja balikin omongan."


"Bis_" kata-kata Aira terhenti.

__ADS_1


"Aira sayang!! Sarapan mas Aldi mana?" Suara Aldi terdengar dari meja makan.


"Sebentar ya mas Aldi sayang!" Sahut Aira yang masih berada di dapur.


Aira membawa nampan berisi susu coklat dan sandwich menuju meja maka.


"Ngobrol nya nanti saja ya mbak, Aira mau hantar ke mas Aldi dulu, setelah mas Aldi berangkat, nanti kita lanjutin lagi ngobrolnya."


"Iya udah sana buruan!, nanti bayi besar loh ngamuk lagi," sahut Tari.


Aira berjalan dengan membawa nampan menuju meja makan, tapi ia tak menemui Aldi, setelah meletakan nampan di atas meja makan, ia pun mencari keberadaan Aldi.


Dan ternyata Aldi sedang bicara dengan seseorang di telpon, Aira merasa penasaran melihat Aldi yang terlihat tegang saat bicara di telpon, ia pun mendekatinya dan sedikit mendengar pembicaraan Aldi.


"Tapi pak Hilman, apa tidak bisa di usahakan agar selama sidang, istri saya tidak di penjara?" Tanya Aldi sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


Wajah Aldi semakin tegang, entah apa yang di bicarakan oleh pengacaranya tersebut kepada Aldi.


-


-Huh, Aldi menghempaskan nafas kasarnya.


"Apa saja pak! yang terpenting istri saya tidak di tahan," pungkasnya sambil menutup telpon.


Aira memperhatikan Aldi yang terlihat gelisah, Aldi duduk dan menghempaskan bokongnya di atas sofa, sambil menyapu wajahnya dengan kasar.


Aira mendekati Aldi yang sedang menunduk dengan menakup ledua telapak tanggan pada wajahnya.


Huh, nafas itu di hembukan secara kasar oleh Aldi.


Aira mendekatinya dan duduk di sebelahnya, melihat suaminya yang terlihat gelisah, ia pun menyandarkan kepalanya pada pundak Aldi.


"Mas kenapa lagi sih?"tanya Aira lirih.


Aldi menengadah dan menarik napas panjang, serta menghempaskanya dengan kasar.


"Ngak apa-apa sayang, yuk kita sarapan, setelah itu kamu bersiap ikut mas kekantor," ucap Aldi yang beranjak menuju meja makan.


Aira memperhatikan Aldi yang berjalan di depanya,ia merasa iba terhadap suaminya tersebut, Aldi berusaha menyelesaikan masalah hukum yang membelit istrinya, namun tanpa melibatkan Aira sedikit pun.


Akhir akhir ini mas Aldi seperti tertekan, wajar saja jika ia mudah tersulut emosi, guman Aira.


Aira mengikuti Aldi dari belakang, setelah duduk di meja makan, Aldi hanya menyerup Susu coklat hangatnya tanpa menyentuh sandwich yang sudah di persiapkan Aira.


"Mas, mas tolong beri tahu Aira apa yang terjadi sebenarnya? bagaimana dengan hasil autopsinya mas?" tanya Aira yang duduk di samping Aldi.


Aldi menarik nafas panjang kembali, seraya menghempaskanya dengan kasar.


"Hasilnya sudah keluar sayang, dan tiga hari lagi persidangan kembali di akan di gelar," ucap Aldi lirih.


Aira tersenyun simpul," Mas ngak usah khawatir Aira, sudah siap kok," ucapnya dengan yakin.

__ADS_1


"Tapi sayang, selama sidang di gelar hingga putusan hakim, kamu harus tetap berada di penjara," papar Aldi lirih, ia kembali menghempaskan nafas kasar nya.


terima kasih sudah membaca ya, maaf karna hari ini author mendapat musibah dan ngak bisa fokus, jadi up dikit, terima kasih atas dukungan kalian selama ini 😚😘😙


__ADS_2