
Bagas berada di teras rumahnya menatap hampa langit malam yang gelap tanpa secercah sinar pun di angkasa.
Langit malam yang gelap dengan awan yang menggumpal pekat di angkasa.
Suara guntur saling sambar menyambar memecah kesunyian angkasa.
Angin berhembus kencang, dinginnya menerpa seperti menusuk hingga ke tulang, seperti yang terjadi pada malam ini, seperti itulah, gambaran hati Bagas saat itu.
Gemuruh di dadanya membuatnya berkali-kali menarik napas panjang, seraya bertanya di dalam hatinya, 'Ini kah takdir yang sudah di gariskan Tuhan untuknya, ia hanya bisa mencintai tanpa bisa memiliki.
Kepulan asap rokok menemani kesunyian dan kesepiannya saat ini, menatap terpaku dengan tatapan lurus yang hampa.
Entah berapa puntung rokok yang berserakan di atas lantai, terkadang ia melempar puntung rokok tersebut sejauh-jauhnya, ada pula yang ia injak meski puntung tersebut masih membara.
Tak ada rasa sakit di kakinya, ketika api di puntung rokok membakar telapak kakinya meninggalkan jejak berupa luka-luka bakar.
Karna yang lebih terasa sakit adalah hatinya.
Kreakk... kreak... Retakan langit membela angkasa dengan dentuman guntur terdengar hampir memekakak kan telinga, seketika bumi menjadi basah dengan curah hujan yang deras.
Tempias air hujan yang terbawa angin terasa senjuk menyapu hingga ke tulang, namun Bagas tetap tak beranjak dari tempatnya.
Kreak jedar...
Sekali lagi dentuman tersebut terdengar hingga membangunkan Nina yang tertidur pulas di kamarnya.
Nina tersadar dan langsung bangkit, ia pun memeriksa pintu dan jendela, ketika melihat ke arah luar, ia melihat daun pintu yang masih terbuka.
"Bagas,"gumannya.
Nina berjalan menghampiri Bagas di teras rumah mereka, di kesunyian malam ia masih sendiri meski waktu sudah menunjukan pukul tiga pagi.
Nina kaget melihat pakaian Bagas setengah basah, mungkin terkena tempias angin kencang yang membawa air hujan.
"Bagas!"seru Nina kembali, karna ia tetap mematung.
Nina melangkah semakin mendekati Bagas di lihatnya putranya tersebut terpaku dengan sisa air mata yang mengalir.
"Bagas!"seru Nina lirih, ia pun langsung memeluk putranya tersebut.
Seketika Bagas kembali menangis di pelukan Nina sang ibunda.
"Ibu! Bagas masih masih belum bisa terima kenyataan ini Bu! hiks hiks," serunya seraya memebamkan wajah semakin dalam di pelukan Nina, untuk meredam suara jeritan tangisannya.
Nina pun memeluknya semakin erat.
"Sudalah Sayang, kamu harus bisa iklas, karna esok hari Alia sudah menjadi milik orang lain, dan kamu tak boleh lagi memikirkan tentang dia,"ucap Nina sembari memeluk Bagas semakin erat.
Tak ada suara yang keluar dari mulu Bagas, hanya tubuh yang terguncang dan air mata yang mengalir deras, Bagas menangis tanpa suara kala itu.
Detik detit berlalu, ia biarkan Bagas larut dalam emosinya, Nina tetap tak beranjak memeluk putranya dengan erat, meski dinginnya angin malam terasa menusuk hingga ketulang.
Air mata Bagas sama derasnya dengan curah hujan yang mengalir saat itu, ia tetap menangis hingga air matanya kering sendiri, setelah beberapa lama keduanya merenggangkan pelukkan mereka.
Nina menatap wajah Bagas yang terlihat sembab dengan sisa-sisa bulir bening yang menetes.
__ADS_1
Dengan lembut Nina menyapu air mata putranya tersebut seraya tersenyum.
Wajah Bagas yang tertunduk perlahan mulai tegak.
"Iya Bu, sekarang Bagas sudah bisa iklas, hiks," ucapnya seraya menarik cairan yang hampir meleleh di hidungnya.
"Alhamdullilah." Nina pun memeluk putranya untuk beberapa saat, kemudian menuntunnya untuk masuk kedalam rumah mereka.
Pintu rumah di kunci dengan rapat, tapi Bagas mencoba membuka pintu hatinya dengan lebar untuk belajar iklas.
Setelah mengganti pakaian, Bagas berbaring menutup mata, setelah badai yang terjadi di gelapnya malam, semoga saja hari berganti pagi dengan sinar mentari yang cerah menerangi dunia.
***
Mentari tersenyum ramah menyapa setiap insan yang merasakan hangatnya pancaran sinarannya.
Suasan rumah calon mempelai pria terdengar cukup gaduh karna suara musik yang akan menjadi arak-arakan pengantin.
Ghael mengenakan stelan pakaian pengantin pria, dengan kemeja dan jas bescap serta blangkon putih yang membuatnya semakin tampan.
Tari sendiri yang membantu mengenakan pakaian pengantin untuk Ghael.
"Wah kamu terlihat ganteng sekali Bang, persi seperti papa kamu dulu," ucap Tari seraya merapikan jas yang di kenakan Ghael.
"Iyalah Ma, Kan Abang anaknya, " jawab Ghael seraya tersenyum, ia merasa begitu bahagia.
"Sudah siap Bang,Ayo berangkat jangan sampai terlambat, "ucap Tari seraya menggandeng tangan putranya.
"Iya Ma," jawab Ghael yang tersenyum manis.
"Gimana Pa anak Mu?"tanya Tari yang menghampiri Romeo.
Romeo menoleh kearah Ghael.
"Duh anak Papa memang paling ganteng di seluruh dunia," sanjungnya dengan bangga.
"Ehm, biasa saja," sahut Ghael tersenyum.
"Ayo Bang, kita berangkat sekarang, "ajak Romeo.
" Iya Pa,"Ghael.
Sebelum berangkat mereka berdoa untuk keselamatan pengantin dan pengiringnya di jalan, setelah itu calon pengantin pria masuk kedalam mobil pengantin yang sudah di hias sedemikian rupa
Dengan perlahan mobil tersebut meninggakan halaman parkir rumah mereka di iringi suara musik arakan pengantin.
***
Di tempat yang berbeda, Alia sedang di rias oleh MUA profesional, begitu pun rambutnya di tata langsung oleh penata rambut profesional.
Tubuhnya yang langsing membuat kebaya yang di pakainya menampakan lekukan tubuhnya yang sempurna.
Aira berada di kamar menunggu Alia hingga selesai berhias, ia juga tengah mengenakan kebaya dengan warna senada dengan sang putri, sementara Aldi sedang sibuk menyambut kedatangan tamu dan calon besan yang masih bersaudara kandung dengannya tersebut.
Rumah besar tersebut mendadak ramai di penuhi oleh tamu undangan.
__ADS_1
Aira tersenyum melihat kecantikan putrinya ketika mengenakan kebaya.
"Wah Kakak cantik sekali, persis seperti Bunda dulu," sanjungnya sambil mengangkat dagu Alia.
Alia hanya tersenyum simpul kearah Aira, Alia memang tak banyak bicara saat itu.
Selain Aira, Alita sang sahabat juga setia menemani Alia yang sedang di rias.
Alita keluar dari kamar Alia untuk kembali menghubungi Bagas.
Sudah beberapa kali Alita coba menghubungi Bagas, namun telponnya tak di angkat olehnya.
Dan ini yang ketiga kalinya ia mencoba akhirnya tersambung juga.
"Hallo!" sapa Bagas dengan suara paraunya, karna ia pun baru bangun dari tidur.
"Ehm, selamat pagi Pak, saya cuma mau ingatin jika pagi ini_" kata-kata Alita terputus.
"Iya saya tahu! jam tiga sore saya jemput kamu di rumah, "ucap Bagas kemudian sambungan telponnya terputus.
"Eis belum selesai sudah di putus saja," dengus Alita seraya menatap layar smartphonenya.
"Ehm, kalau begitu setelah akad nikah selesai aku harus pulang kerumah dulu, sepertinya Bagas cuma mau menghadiri resepsinya saja," guman Alita, ia pun menyimpan smartphone nya kembali.
Di luar rumah sudah terdengar riuh oleh musik pengiring pengantin.
Itu tandanya pengantin pria sudah tiba dan acara penyambutan pun segera di mulai.
Tahapan demi tahapan acara sudah pun di lalui kini tibalah acara utamanya, yaitu akad nikah.
MC mengambil alih acara, suaranya terdengar hingga ke ke kamar Alia.
"Setelah serangkaian acara, kini kita segera memasuki acara utama yaitu pengucapan ijab qabul antara mempelai pria dengan wali dari pengantin wanita, yaitu bapak Reynaldi Afian selaku ayah kandung dari mempelai wanita."MC
"Untuk mempersingkat waktu kita mulai saja, saya persilahkan wali dan calon mempelai pria berhadapan di depan meja."
Aldi dan Ghael pun duduk berhadap hadapan dengan meja kecil berada di hadapan mereka.
Aldi menjabat menyodorkan tanganya kearah Ghael yang langsung di sambut semangat oleh Ghael.
Ghael dan Aldi sama-sama gugup.
Ikrar ijab qabul pun di mulai.
" Ehm, ananda Ghazanfar Elhadi Satria, saya nikah dan kawinkan kamu dengan putri saya yang bernama Reyna Alia Satria Hadi Kusuma binti Reynaldi Alfian dengan mahar seperangkat alat sholat di bayar tunai." Aldi.
Sebelumnya Ghael menarik nafas dan menghembuskannya perlahan kemudian menyentak pelan tangan Aldi.
"Saya terima nikah dan kawinnya Reyna Alia Satria Hadi Kusuma binti Reynaldi Alfian dengan mahar seperangkat alat sholat di bayar tunai!" Ghael
hah.. Ghael menarik napas sesaat, setelah menahan napas yang lumayan lama karna menyebut nama calon istrinya yang begitu panjang.
Suasana hening beberapa detik.
"Sah?"tanya penghulu.
__ADS_1
Bersambung, mumpung hari senin siapa tahu ada yang mau sedekah vote untuk kedua calon pengantin