Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Sambungan episode sebelumnya


__ADS_3

"Aira"


"Aira bangun Aira," ucap Aldi sambil menepuk pelan pipi Aira, tubuhnya gemetaran karna syok melihat Aira yang belum juga sadar.


Mendengar sedikit keributan, Heru pun membuka matanya dan melihat kearah Aira yang terbaring tenang, sedangkan Aldi sudah panik membangunkanya.


Heru pun bangkit dan menghampiri Aldi yang gemetaran karna tak berhasil membuat Aira tersadar.


"Di Aira kenapa?" Tanya Heru yang juga merasa khawatir.


"Mas Aira ngak mau banggun mas, Aira kenapa mas?" tanya Aldi dengan nada frustasi, matanya tak beranjak sedikipun, pandanganya tetap lurus menatap wajah sang istri yang terlihat pucat.


Heru pun memencet tombol merah yang terletak di dinding di atas kepala Aira.


"Aira kamu jangan bikin mas Aldi khawatir Aira, bangun lah sayang, bangun Aira," ucap Aldi terus menerus, Air mata Aldi beguguran menetes mengenai wajah Aira.


Aldi sangat frustasi ia terus mengguncang tubuh Aira sambil memeluknya.


"Di sabar Di, tenang dulu Di," ucap Heru sambil menepuk pelan pundak Adiknya.


Tapi Aldi tak menggubris sedikit pun, ia seolah tak mendengar apa-apa lagi, rasa takut akan kehilangan istrinya, membuat Aldi seperti orang stress ia terus mengguncang tubuh Aira seraya memanggil namanya.


"Aira, bangun Aira, jangan tinggalkan nas Aldi Aira, mas Aldi ngak sanggup hidup tanpa kamu,"ucapnya lagi dengan mata yang berkaca-kaca.


"Aldi sabar Di, mas Yakin Aira ngak apa-apa, " ucap Heru menenangkan Aldi.


"Ngak mas, Aku takut kehilangan Aira untuk selamanya mas," ucap Aldi, ia pun menangis terpuruk tubuhnya terasa lemas membayangkan hal buruk yang akan menimpa istrinya.


"Baru dua hari kita bertemu Aira, mas Aldi ngak rela kamu pergi lagi," ucap Aldi terisak, ia bangkit kembali dan mencium kening Aira.


"Bangun lah sayang, Aira boleh marah sama Mas Aldi atau apa saja tapi buka mata Aira sekarang, mas Aldi ingin melihat senyum kamu Aira, sekali saja, bangunlah Aira, bangun," ucap Aldi sambil kembali mengguncang tubuh Aira.


"Di apa yang kamu lakukan Di, itu sama saja kamu menyakiti dia Di, sabar Di, kita tunggu perawat untuk memeriksanya Di," ucap Heru sambil menarik tubuh Aldi agar menjauh dari Aira.


Aira ngak mau bangun mas, apa dia masih marah sama aku mas?" Tanya Aldi dengan terisak


"Hiks, Hiks, gue emang ngak berguna mas," Aldi pun memukul dadanya dengan tinjuannya sendiri.


"Astagfirullah Di, Jangan menyakiti diri sendiri Di, kamu harus belajar mengendalikan emosi kamu Di," ucap Heru sambil memeluk Aldi.

__ADS_1


Keadaan Aldi memang terlihat sangat kacau, Aldi merasa begitu bersalah.


"Tolong Aira mas, aku ngak akan memaafkan diri ku sendiri jika terjadi sesuatu padanya, "ucap Aldi dengan tubuh yang berguncang menahan tangisnya.


Tak berapa lama dua orang perawat datang nemeriksa Aira, agar Aldi tak membuat kekacauan lagi, Heru menarik tubuh Aldi agar membiarkan kedua petugas kesehatan tersebut menjalan kan tugasnya tanpa gangguan dari Aldi.


Aldi duduk di kursi tunggu dengan gelisah, wajah Aira yang pucat terus terbayang di pelupuk matanya, sambil sesekali menyeka air matanya, Aldi pun berdoa dengan suara yang lirih, agar istrinya selamat, Aldi juga berjanji pada dirinya, apapun kesalahan Aira ia bisa menerima nya, asalkan Aira tetap selamat.


Beberapa menit berlalu Heru dan Aldi sana-sama bungkam, mereka berdua juga khawatir dengan keadaan Aira.


Terdengar suara hospital bed di dorong keluar dan ternyata kedua suster tersebut yang mendorong hospital bed tersebut.


Aldi langsung beranjak melihat suster tersebut membawa istri keluar dari ruang perawatan.


"Mau di bawa kemana istri saya suster?" tanya Aldi.


"Pasien mengalami tingkat penurunan kesadaraan Pak, tekanan darahnya turun drastis, untuk menghindari hal yang lebih buruk kami akan memindahkan pasien keruangan intensif," jawab salah seorang perawat kepada Aldi, mereka pun berlalu dengan mendorong hospital bed.


Aldi melihat Aira yang berlalu, wajahnya masih saja pucat, Aldi semakin merasa khawatir, ia pun mengikuti kemana arah suster tersebut membawa istrinya.


Kedua suster tersebut membawa Aira kesebuah ruangan tertutup,Aldi pun mengikutinya dari belakang.


"Pak, " sapa salah seorang suster,


"Iya suster saya mengeri," sahut Aldi.


Mereka pun masuk kesebuah ruangan yang tak terlalu besar yang di kelilinggi sekat dinding-dinding kaca.


Setelah sampai di ruangan tersebut, petugas medis memasang Ekg dan selang oksigen pada Aira.


Setelah semua alat yang di butuh kan tubuh Aira terpasang dengan baik, kedua suster tersebut meninggalkan Aira dan Aldi.


Aldi duduk di kursi plastik di samping Aira berbaring, matanya kembali berkaca-kaca saat melihat kearah wajah Aira yang terlihat tenang dalam lelapnya.


Aldi menggenggam tangan istrinya dan merebahkan kepala di samping tubuh Aira yang tertidur, sebisa mungkin ia menjaga kesadaranya.


Meski di dalam ruangan tersebut keadaan Aira di pantau dengan kamera pengawas dan suster akan melakukan pemeriksaan secara berkala, tapi Aldi masih tak bisa tenang, ia terus terjaga semalaman menjaga Aira.


Pagi harinya,

__ADS_1


Aira belum juga sadar, Aldi memutuskan untuk menemui Heru di luar.


"Bagaimana Aira Di?" tanya Heru yang bangkit dari baringnya ketika melihat Aldi keluar dari ruang ICU.


"Masih belum sadar mas, Oh ya mas, aku butuh baju ganti untuk aku dan Aira," ungkap Aldi.


"Iya nanti mas suruh simbok siapkan, mas harus pulang kerumah dulu, sebelum kekantor nanti mas singgah kesini untuk mengatar pakaian kamu."


"Kamu mau mas bawakan sesuatu Di, sarapan mungkin?"


"Ngak mas, aku ngak bisa makan sebelum aku yakin Aira baik-baik saja," ungkap Aldi.


Wajah tampan Aldi tertutupi oleh matanya yang sembab, selain karna menangis, semalaman Aldi terus terjaga.


***


Heru tiba di rumahnya dan langsung di sambut haru oleh mbok jum.


"Den Heru," ucap Mbok Jum menghambur memeluk Heru.


Heru membalas pelukan si mbok dengan perasaan heran.


"Ada apa mbok?" tanya Heru sambil mengusap pundak wanita tua yang telah mengasuhnya dari ia masih bayi.


"Non Aira Den," ucap Mbok Jum terisak.


"Aira ngak apa-apa, ada Aldi yang menjaganya," papar Heru.


"Tapi Den, bukan itu," ucap Mbok Jum semakin lirih, ia pun kembali menangis.


"Ada apa sih Mbok, coba tenangin dulu perasaan mbok baru bicara, ayo atur nafasnya mbok."


Mbok Jum melepaskan pelukanya, ia pun menarik nafas panjang dan menghembuskanya dengan pelan.


Setelah beberapa kali mengatur nafasnya, si mbok pun bisa mengontrol emosinya.


Heru melihat kearah simbok dengan isyarat menanyakan kembali hal yang merisaukan si mbok.


"Non Aira Den, Non Aira sedang di cari polisi, dengan kasus penganiyayaan hingga korbanya meninggal," ucap Mbok Jum denga terisak, ia pun kembali meneluk Heru.

__ADS_1


Seperti di sambar petir di pagi hari yang cerah, bola mata Heru membulat dengan sempurna, seperti mimpi, ingin sekali ia tersadar dari kenyataan ini.


Bersambung dulu guys, semoga kalian tetap setia dengan cerita receh yang author yang author tulis dengan tulus dari lubuk hati hati author yang terdalam ini ( lebay 😆😆😆😆) jangan lupa berikan komentar kalian dan dukungan kalian, di jamin gratis guyss, ngak nguras dompet apa lagi isi atm kalian 😃😃, salam sayang selalu dari author 💙❤💖


__ADS_2