
Brum...suara kasar mobil Aldi terdengar masuk dalam garasi, setelah beberapa saat, ia pun keluar dari mobil dan langsung menuju ruang tengah melalui garasinya.
Satria dan Maya masih mengobrol di ruang keluarga, mereka kaget karna melihat keadaan Aldi yang terlihat berantakan, Aldi berlari kecil menuju tangga, tapi langkahnya terhenti karna Satria menanggilnya
"Aldi !" Seru Satria.Kenapa kamu ter_"
"Nanti saja pa, dimana Mas Heru?"
"Ya di kamarnya lah, biasa pengantin baru,"sahut Satria.
Mendengar penuturan Satria Aldi mempercepat langkahnya, menaiki anak tangga suara hentakan sepatu nya yang menggema di ruang tertutup tersebut membuat sedikit terdengar berisik.
"Aldi kamu kenapa sih?" Tanya Satria yang khawatir melihat keanehan pada Aldi, ia pun mengukutinya.
Mendengar derap langkah suaminya, Aira yang sudah bersiap menyambut Aldi dengan pakaian seksinya, keluar menuju pintu, tak lupa ia memakai kimono untuk menutupi pakaian seksinya, saat membuka pintu Aira melihat Aldi yang tampak kacau berlalu begitu saja melewatinya, tanpa sepatah kata, Aldi terlihat panik, sesampainya di depan pintu kamar Heru, ia langsung menggedor pintu dengan kencang.
Tok...tok ...tok..tok suara pintu di gedor bertalu talu oleh Aldi, ia tak berhenti sampai Heru membuka pintu kamarnya.
Melihat tingkah Aldi, Satria menghampirinya dengan emosi.
"Aldi apa-apaan sih kamu, kamu mau merusak malam pertama kakak kamu?"
Tok..tok..tok.. Aldi tak berhenti, tubuhnya sudah gemetar, air mata mengalir membasahi pipinya.
Aldi merasa terlambat karna Heru tak langsung membuka pintunya, Aldi menjadi panik ia menggedor pintu tersebut semakin kencang.
"Mas Heru!...Mas Heru buka pintunya!" Teriak Aldi sekencang-kencangnya.
"Aldi apaan sih kamu!" Bentak Satria.
Aldi hanya menangis dan terus mengetuk pintu, ia sendiri tak punya waktu untuk menjelaslanya pada Satria yang terpenting baginya adalah mencegah Heru dan Tari agar tak sampai berhubungan.
Suasana keributan memancing seluruh penghuni rumah untuk berkumpul di depan pintu kamar Heru.
Aira dan Maya juga berada di sana, mereka juga binggung melihat keadaan Aldi.
"Aldi kamu mabuk ya?" Tanya Satria sambil membalik tubuh Aldi dengan kencang.
Sementata Aldi terus mengetuk pintu tersebut sampai seseorang membuka pintunya.
"Aldi," Satria mendorong tubuh Aldi dengan keras dan membuat Aldi terpental.
Aldi pun jatuh dengan bokong yang mendarat duluan di lantai.
Tubuh Aldi terasa lemas untuk bangkit, tanganya gemetaran hingga membuat semua orang penasaran dengan apa yang terjadi padanya.
"Tolong pa, tolong hentikan mas Heru, jangan sampai_"
Aldi nenelan salivanya, lidahnya tak sanggup melanjutkan kata-kata.
Aldi terduduk lesu ia pun menangis.
"Mas Heru, mas Heru dan_"
Kreak... pintu terbuka dan betapa kagetnya Heru melihat semua orang berkumpul di depan pintu kamarnya.
Aldi menelan salivanya, karna tak mampu berdiri lagi, ia pun merangkak memasuki kamar Heru dan melewati Heru.
__ADS_1
"Aldi!" Teriak Satria.
Heru pun heran melihat keanehan Aldi, sesaat ia tergaman melihat Aldi yang menghampiri Tari dengan merangkak.
Tari kaget melihat Aldi yang mendekatinya dengan merangkak, keringat mengucur seluruh tubuh Aldi, rasanya ia ingin segera menjangkau Tari.
Setelah merasa tenang Aldi menghampiri Tari dengan sedikit berlari
Tari panik karna pakaiannya sedikit terbuka saat itu, ia meraih selimut untuk menutupi tubuhnya.
Tari tetap di atas tempat tidur dan menatap aneh Aldi.
Aldi sudah berada di hadapan Tari,
"Tari kamu ngak apa-apa kan?" Tanya Aldi yang terlihat panik ia pun memeriksa tubuh Tari dengan menyikap selimut yang menutupi tubuhnya.
Plak... satu tamparan mendarat di pipi Aldi.
"Apa-apaan loh Di, main singkap aja." Ucap Tari seraya menampar pipi Aldi.
Karna merasa lemas, tubuh Aldi terhuyung, ia pun menerpa Tari dengan perasaan bahagia, Tari yang tak siap itu pun terlentang diatas kasur dengan tubuh Aldi yang berada di atas tubuhnya.
"Aldi!" Teriak semua orang menyaksikan Aldi yang menindih tubuh Tari.
Sementara Tari memberotak berusaha menahan tubuh Aldi dengan tangan.
"Di lo apa-apaan sih? lepasin gue, Lo mau perkosa gue?! teriak Tari meronta sambil menendang nendang kesegala arah.
Aldi menangis memeluk Tari, ia merasa bahagia karna bisa mencegah Tari dan Heru untuk tak berbuat yang lebih jauh, bahkan saking paniknya Aldi tak menyadari gerakan eksotiknya tersebut membuat pikiran negatif tentang perbuatanya terhadap Tari.
Mereka semua tergaman tak percaya Aldi berani melakukan hal tersebut secara terang-terangan, bahkan di hadapan semua orang.
"Aldi."Heru menarik tubuh Aldi dan menghempaskanya di atas tempat tidur.
"Kurang ajar kamu Di !" Heru hampir melayangkan pukulan ke wajah Aldi, tapi tertahan karna melihat keadaan Aldi yang terlihat kacau.
Aldi seketika bangkit dan memeluk Heru.
Aira, Satria dan Maya berjalan mendekati tempat tidur, di mana kejadian tersebut terjadi.
Tari bangkit dan membenahi pakainya.
"Maaf kan mama Mas Heru," ucap Aldi menangis terisak memeluk Heru.
Heru tergaman sungguh ia tak mengerti apa yang di ucapkan oleh Aldi.
Tak hanya Heru keempat orang yang menyaksikan peristiwa tersebut heran mendengar penuturan Aldi.
Heru memeluk Aldi, bagaimana pun emosinya ia terhadap Aldi, tetap saja ia menyayangi Aldi.
"Kamu tenang dulu Di, kenapa? Ada apa sebenarnya?" Tanya Heru yang mengusap punggung Aldi dengan lembut.
Aldi kembali menangis terisak di pelukan Heru, air matanya mengalir dengan deras, apa yang dikatanya sungguh sangat berat, sungguh sesuatu yang tabu dan akan melukai banyak orang.
Heru semakin erat memeluk Aldi, dengan penuh kasih sayang ia mengusap rambut Aldi.
"Maafkan atas kelakuan mama Mas," ucap Aldi yang sedikit tenang meski masih terdengar isak tangisnya.
__ADS_1
Keadaan hening, mereka semua bungkam karna penasaran apa yang membuat Aldi seperti itu.
"Iya, mas Maafkan, tapi bunda melakukan kesalahan apa Di? Sampai kamu seperti ini?"
Aldi menelan saliva, ia merasa sulit menerangkan yang sebenarnya, karna ia sendiri tak mengetahui kenapa sampai Tari terpisah dari kedua orang tua kandungnya.
"Pernikahan mas Heru dan Tari harus di batalkan Mas," ucap Aldi terbata-bata masih dalam pelukan Heru.
Deg,
Semua heran dan kaget mendengar penuturan Aldi begitu pun Heru, meski merasa emosi, tapi Heru berusaha untuk tetap tenang,karna Aldi punya alasan tersendiri.
"Batal?.kenapa Di?" tanya Heru yang berdebar menanti jawaban dari Aldi.
Semua orang disana merasa ketegangan yang luar biasa, namun mereka tetap tenang agar Aldi bisa melanjutkan ucapanya.
"Karna...karna kalian bersaudara Mas," pungkas Aldi.
Hiks..hiks
Aldi melepas pelukanya, karna merasa tubuh Heru terdiam seperti membatu.
Begitupun Satria dan Maya mata mereka membelalak kaget, mereka semua syok mendengar penuturan Aldi, termasuk Aira dan Tari sendiri.
Bulir bening perlahan menetes di pipi Maya, hatinya tersentak antara sedih dan bahagia.
"Heru membuyarkan lamunannya, Apa maksud kamu Di?" tanya Heru yang mewakili pertanyaan semua orang yang ada disana.
"Hiks..hiks.., aku ngak tahu secara pasti, tapi aku dengar sendiri jika mama sengaja menikahkan kamu dengan Tari, karna ingin membalas sakit hatinya pada bunda maya,.dan ternyata... Tari adalah saudara kandung mu, dan itu bearti Tari juga saudara ku mas," ucap Aldi terbata-bata.
Semua mata melotot mendengar ucapan Aldi, sesaat semua hening sebelum teriakan Maya terdengar histeris.
Hua huaaa, Maya menangis sambil berjalan memghampiri Tari, tubuhnya berguncang hebat, dengan gemetar ia meraba wajah Tari kemudian memeluknya.
Bulir bening menetes perlahan membasahi pipi Satria dan Heru.
Heru melirik kearah mama dan adiknya yang menangis saling memeluk, keduanya menangis haru sekaligus terluka.
Begitupun Satria yang syok, tubuhnya langsung roboh berlutut di atas lantai.
Sementara Aldi, ia juga terpuruk di pada sebuah sisi di atas tempat tidur tersebut.
Aira menghampiri suaminya, memeluknya dan menenangkan Aldi.
Sementara Heru, ia berkali-kali menarik nafas dan menelan saliva menahan amarah, kecewa dan kesedihan yang mengguncang hebat tubuhnya.
Fitnah keji tersebut membuatnya hampir saja melakukan hubungan suami istri terhadap adiknya sendiri.
Heru menjatuhkan tubuhnya keatas lantai, ia tak percaya jika Rita berbuat keji terhadap keluarganya, padahal selama ini, ia selalu mengganggap jika Rita sama seperti ibunya.
Heru bersimpuh menangis tergugut dan bersandar pada ranjang.
Suasan hati yang sebelumnya bahagia, mendadak sedih, dimana tangisan luka dan ratapan duka terdengar sahut menyahut di telinganya.
Bersambung guys.
beri dukunga pada author ya, like komen vote dan hadiah, semua gratis guys 😂
__ADS_1