Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Ngak tahu apa judulnya


__ADS_3

Aldi memakai kembali pakaiannya, dengan panik ia keluar dari kamar dan menuruni anak tangga, waktu masih menunjukan pukul sebelas malam, dan beberapa orang masih sibuk membeteskan sisa pesta barusan.


Dengan mengendap-ngendap Aldi menemui si mbok yang masih berada di dapur.


"Mbok," seru Aldi yang berada di belakang simbok.


"Eh copot-copot," Simbok latah.


"Mas Aldi, ngagetin aja," gerutu si mbok sambil memukul pelan lengan anak asuhnya tersebut.


"Mbok ikut kekamar Aldi sekarang mbok," ajak Aldi sambil menarik tanggan si mbok.


"Ada apa sih Den, simbok bisa jalan sendiri,"ucapnya sambil menepis tangan Aldi yang menariknya.


"Shuuttt, diam-diam, jangan sampai ketahuan mbok," bisik Aldi.


"Ada apa sebenarnya Den?" tanya simbok pelan.


"Nanti saja mbok kalau sudah sampai di kamar," sahut Aldi.


Mereka pun menaiki anak tangga dan tanggan Aldi merangkul pundak simbok yang sudah mengasuhnya sejak ia bayi tersebut.


Aldi membuka pintu, simbok pun langsung masuk dan melihat Aira yang terlihat pucat.


"Non Aira kenapa Den?" tanya si mbok.


"Pingsan mbok," ucap Aldi ketus.


"Eala, mas Aldi apain dia?" tanya simbok sambil tersenyum.


"Ngak diapa-apain mbok, baru di celup-celup dikit sudah pingsan," ucapnya dengan menggerutu


Simbok meraba kening Aira.


"Panas lagi Den, seperti kemaren, kelihatanya non Aira masih belum bisa menghilangkan rasa trauma nya," papar simbok.


"Hah, trauma mbok, tapi Aldi ini suaminya, jangan salahin Aldi ya, jika Aldi menikah lagi," sahut Aldi.


"Eh Den Aldi bukannya mengobati istrinya yang trauma mala mau selingkuh, gimana sih" sahut simbok kesal.


"Den, itu tandanya Den Aldi harus sabar, mungkin non Aira seperti ini karna ia belum merasakan perasaan cinta terhadap Aden, harus sabar Den, buktikan pada non Aira jika Den Aldi mencintainya dan menyanyanginya, maka dengan sendirinya, ia akan membuka hatinya untuk Den Aldi, bukan nya malah cari perempuan lain," nasehat simbok.


Aldi terhenyak dengan penuturan simbok.


"Maksud mbok?"


"Den, non Aira itu sudah sering mendapat kekerasan dalam hidupnya, cobalah mengambil simpatynya dengan bersikaf lembut dan sabar, jangan pakai emosi,jika pakai emosi nanti non Aira malah makin trauma dan takut," papar si mbok lagi.


Simbok mengambil kompres dan meletakan ke kening Aira, ia pun menciumkan minyak kayu putih ke hidung Aira, agar Aira sadar.


Tak lama setelah itu, kelopak matanya bergerak-gerak secara perlahan dan membuka matanya.


Aira manatap sekelilingnya dengan nanar, dan mendapati si mbok.

__ADS_1


"Mbok," ucap Aira lirih.


"Iya Non, non Aira minum obat untuk meredakan panas non dulu ya," kata simbok sambil mengupas tablet parasetamol.


Aira pun meminum tablet tersebut.


Sementara Aldi mematung di sisi tempat tidur, syok, dan kecewa, bahkan si buyung ngambek dan bersembunyi dengan malu di sangkar segitiganya.


Setelah memastikan keadaan Aira membaik, simbok pun undur diri.


"Mas Aldi, istrinya di jaga ya, kalau ngak mau, ngak usah di paksa, nanti non Aira pingsan dan kejang-kejang, simbok ngak nanggung loh," ujar nya sambil terkekeh.


Simbok pun keluar dari kamar dan meninggalkan penganten baru itu.


"Aduh, ada-ada aja anak muda sekarang, mungkin kebanyakan makan micin jadi kayak begitu mereka," ucap simbok bedicik.


Aira menatap sayu kearah Aldi, ada perasaan bersalah di hati nya, tapi semua ini terjadi bukan karna sengaja, tapi rasa trauma itu belum dapat ia hilangkan sepenuhnya.


Aldi mendekati Aira.


"Maaf mas, Aira...," kata-katanya terputus.


"Udah, lain kali jangan di ulangi ya," sahut Aldi dengan ketus.


"Tapi tadi, sampai selesai ngak mas?" tanya Aira gemetar, karna tubunya masih menggigil.


"Selesai apanya, nanggung banget, mana tadi lagi semangat-semangatnya," gerutu Aldi.


"Maaf sekali lagi mas, Aira belum bisa jadi istri yang baik untuk mas Aldi," ucap nya terbata-bata, sambil menahan tangisnya.


Melihat Aira yang sedih, Aldi pun langsung memeluknya.


"Iya Aira, nanti kita obati rasa trauma pada Aira ya, mas Aldi akan pilih phisikolog terbaik, agar Aira bisa sembuh total," ucapnya sambil memeluk Aira.


"Dan kita akan lakukan lagi jika Aira benar-benar sudah siap," tambah Aldi lagi.


"Terima kasih Mas atas pengertiannya," ucap Aira haru.


"Iya, sekarang kamu istirahat saja, besok saja kita cari solusinya," ucapnya sambil merebahkan tubuh Aira kembali.


Aldi pun mencium kening Aira dengan lembut, serta mengusap kepalanya hingga Aira kembali terlelap.


Aira terridur sambil memeluk boneka beruang nya, sedangkan Aldi memeluk nya dari belakang.


Meski merasa kecewa pada Aira, tapi entah mengapa Aldi tak tega jika harus memarahinya.


Mereka pun terlelap hingga pagi.


Aira terbangun dan perlahan membuka matanya, ia merasakan pelukan hangat dari Aldi.


Melihat Aldi yang terlelap, kembali rasa bersalah itu muncul di hatinya.


Aira mencium pipi dan kening Aldi, kemudian ia pun menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.

__ADS_1


Seperti nasehat simbok, untuk menjadi istri yang baik, ia harus bangun lebih awal dan berdandan yang cantik, sebelum suaminya bangun dari tidur.


Setelah dari kamar mandi, ia pun berhias diri.


***


Doni terbangun dari tidur nya dan melihat tak ada Romeo di sampingnya.


Doni terpaksa tidur menemani Romeo, malam ini karna sahabatnya tersebut terlihat begitu sedih.


Sesaat kemudian ia melihat Romeo keluar dari kamar mandi kemudian menghampirinya.


" Baru bangun lo Don?" Tanya Romeo.


"Iya, masih ngantuk gue, habis nya si Tari nelponin gue malam-malam, ya karna lo udah tidur teraksa gue meladeni nya, gue takut aja terjadi sesuatu pada Tari."


"Eh lo Rom, mendingan lo sama Tari aja Rom, kalian kan sama-sama jomblo, ya itung-itung biar bisa cepat move on aja," saran Doni.


"Ah ngak gue, cewek bocor kayak dia, udah bocor halus, keliling jadi susah nampalnya," sahut Romeo.


"Haha, lo kira Tari ban dalam truk apa?" tanya Doni nyengir.


"Masa gue kasih nafas buatan buat dia saat dia pingsan, dia kira gue mau cium dia," Romeo.


"Trus dia marah sama loh?" tanya Doni.


"Iya dia marah, tapi marahnya bukan karna gue cium dia, tapi karna gue cium dia saat dia ngak sadar, trus dia bilang gini Don, kalau mau cium gue nunggu gue sadar dong, kan gue juga bisa menikmatinya, bar-bar banget ngak cewek kayak gitu," ucap Romeo dengan tertawa terkeke.


Doni pun tersenyum mendengar cerita Romeo.


"Itu tanda nya dia minta perhatian sama lo Rom, dah lanjutin saja lah, gue tunggu kabar burung nya," ucap Doni sambil meneput pundak Romeo.


"Kabar burung? kabar baik kali maksud lo?" tanya Romeo memperjelas.


"Emang kabar burung sama kabar baik, beda ya artinya, kan sama sama kabar,? tanya Doni sok begok.


"Ya bedalah begok, kabar burung itu isu, masak udah smester akhir kuliah lo ngak tahu bedanya."Romeo


"Tahu, cuma gue mau ngetes loh aja, takut nya lo kena down syndrom lagi," sanggah Doni.


"Emang down syndrom apaan Don?" kali ini Romeo yang memancing Doni.


"Menurut lo apa artinya?" tanya Doni balik


"Down artinya turun, syndrom itu apa ya? bukan yang tipis tipis yang di gunakan untuk sarung si buyung ya?" tanya Romeo berlaga bego.


"Itu ****** begok, dari mana lo belajar syndrom itu sama dengan ******, jauh banget artinya," sahut Doni tertawa terkekeh.


Mereka pun tertawa bersama.


Mereka pun kembali ceria, setelah melihat beberapa hari ini Romeo bersedih, akhirnya dengan obrolan ngaco mereka, Doni bisa membuat Romeo tertawa lagi.


Di tunggu ya reader, like, komen dan vote sebanyak-banyak nya biar author makin semangat up nya.

__ADS_1


I lop u All.


__ADS_2