
Setelah satu bulan berlalu Aira tak lagi bisa menutupi perut buncitnya.
Kini ia dan Alia sama-sama mengandung tiga bulan.
Alia dan Ghael baru turun dari kamar mereka untuk sarapan.
Hampir satu bulan Alia tak pernah turun sarapan karna selalu merasa pusing.
Alia menggandeng tangan Ghael menuruni anak tangga.
"Selamat pagi Bunda,"ucap Alia seraya mencium pipi Aira.
"Selamat pagi Sayang,"ucap Aira.
Alia melihat wajah Aira yang tak biasa.
Wajah sang ibunda terlihat pucat sama seperti diri.
"Bunda. Bunda Kenapa?sakit Ya? " tanya Alia.
Aira dan Aldi saling melempar senyum.
"Selamat pagi Ayah-Bunda." Arsyad.
Arsyad duduk kemudian meraih roti dan molesnya dengan selai.
Begitupun Alia yang memoles selai pada roti untuk suaminya.
"Ayah mau mengabarkan berita baik untuk kalian semua, "ucap Aldi Seketika perhatian tertuju padanya.
"Berita apa Yah? "tanya Alia yang terlihat senang.
Ehm, sebentar lagi kalian akan punya adik baru.
Uhuk uhuk, seketika Arsyad yang tengah meminum susunya tersedak.
Alia dan Ghael pun saling memandang tak mengerti.
"Maksud Ayah, punya cucu? " tanya Alia mempertegas.
Aldi dan Aira kembali mengulum senyum.
"Saat ini Bunda sedang hamil," ucap Aldi.
Hah, Alia melongo ia begitu kaget mendengar penuturan Aldi.
"Yang bener Yah?" tanya Alia seperti tak percaya.
"Iya Kak, Bunda juga tengah mengandung tiga bulan, itulah Kenapa Bunda jarang menemui Kakak di kamar." Aldi
"Karna Bunda juga tengah ngidam."tambahnya lagi.
Ghael tersenyum simpul melirik nakal ke arah Aldi.
"Hm, Ayah ngak mau kalah Yah? " tanya Ghael dengan nada mengejek.
Aldi dan Aira tersenyum simpul.
"Jangan kan kalah, seri saja Ayah ngak mau kok, "Cetus Aldi.
"Hah jadi serius nih? aku bakalan jadi abang dan jadi paman sekaligus? " tanya Arsyad dengan mendengus.
"Ha ha, ngak jadi bungsu kamu dek!" ledek Alia.
Sebenarnya ia juga syok mendengar Berita tersebut.
"Ya, apa kata teman-teman Arsyad nantinya Yah, masa' udah segede gini Arsyad punya adik lagi? " protesnya.
"Lagi pula nanti anak kakak atau abang manggil adek aku apa? " keluh Arsyad.
"Ha ha, Kenapa juga malu, Ayah dan bunda masih muda kok, biarin saja mereka bilang apa." Aldi.
"Ehm, Jadi saat Alia melahirkan nanti bunda juga melahirkan? trus siapa yang mau mengurus Alia nanti melahirkan?" Alia
"Ya suami kamu dong! Harusnya kita bersyukur karna sebentar lagi rumah kita aksn semakin rame dengan suara tangis bayi," ucap Aldi .
"Iya ini Sebenarnya kabar bahagia, Bagaimana jika nanti sore kita ke klinik kandungan." Ghael.
__ADS_1
"Boleh tuh Bang," cetus Aldi setuju.
***
Sudah sebulan Alita resmi menjadi istri Bagas.Namun ia masih menjalankan tugas-tugasnya menjadi sekertaris suaminya sendiri.
Mereka pun semakin dekat.Karna selain berstatus suami istri dan rekan Kerja,mereka juga kuliah di kampus dan jurusan yang sama.
Meski Bagas baru mulai kuliah sedangkan Alita sedang menyusun skripsi.
Alita menghampiri suaminya di ruang kerja Bagas dengan membawa beberapa berkas.
"Mas, ini hasil laporan yang dikirim oleh pak Budi," ucap Alita yang berdiri di samping Bagas.
Ehm, Bagas melirik kearah propasal tersebut.
Alita tiba tiba meresa pusing, ia pun memijit pelan pelipisnya.
Sebenarnya sudah beberapa hari ini ia merasa pusing dan lelah akibat aktifitasnya yang padat.
Selain jadwal yang padat di luar rumah, di dalam rumahnya pun tak kalah padat.
Dimana hampir setiap hari nya ia lembur kerja karna melayani suaminya di atas ranjang.
Tapi kali ini Alita merasa pusing dan berkunang-kunang, ia tak mampu lagi menahan.
Bagas tengah asik memeriksa berkas yang di bawa oleh istrinya.
Tiba-tiba ia merasa pergerakan Alita yang mencurigakan.
Dengan cepat ia menyambar tubuh Alita yang hendak tumbang di sampingnya.
"Alita!" seru bagas panik.
Ia pun mengangkat tubuh istrinya menuju sofa yang ada di ruang kerjanya.
Bagas membaring kan tubuh istrinya dan memberinya bantal.
"Alita! Alita! " seru Bagas memanggil-manggilnya.
Bagas semakin panik ketika wajah Alita terlihat pucat.
Bagas berjalan menuju meja kerjanya kemudia mencari sesuatu untuk membuat istrinya tersadar.
Ia pun menemukan minyak angin aroma terapy.
Bagas kembali menghampiri Alita kemudian menciumkan minyak angin aroma terapi tersebut pada Alita.
Bebera detik kemudian Alita tersadar.
Matanya menerjab nerjab melihat ke arah sekeliling.
"Alita kamu sudah sadar?" tanya Bagas yang terlihat panik.
"Hm, Mas aku Kenapa?" Alita balik bertanya.
"Kamu pingsan, kamu Kenapa? Sakit? " tanya Bagas bertubi tubi karna ia merasa khawatir.
"Ehm, aku pusing sekali Mas," ucapnya lirih.
"Ya sudah kamu mungkin lelah, aku antar kamu pulang, istirahat di rumah saja, "Bagas.
Ehm, Alita menggangguk.
Tiba-tiba Alita merasa perutnya bergejolak.
Alita bangkit. "Aku mau muntah Mas, " ucapnya sambil bangkit.
"Biar aku bantu," ucap Bagas sambil berdiri menopang tubuh istrinya.
Bagas menuntun Alita menuju kamar mandi, setibanya di sana Alita pun muntah-muntah hingga seisi perutnya ia keluarkan.
Bagas setia menunggu Alita, bahkan dengan lembut ia memijit pundak istrinya.
Setelah muntah Alita merasa semakin pusing.
"Akh, kepala ku sakit sekali" ringisnya.Seketika ia tumbang kembali.
__ADS_1
"Alita!" seru Bagas semakin panik.
Ia pun mengangkat tubuh Alita dan membawanya kembali ke sofa.
Setelah meletakan tubuh istrinya dengan hati hati, Bagas meraih hand phonenya untuk menghubungi pak Danu supirnya.
"Hallo Pak Danu, siapkan mobil." titah Bagas.
Bagas mengangkat tubuh Alita keluar dari ruangangan menuju lift.
Semua orang memandang heran kearah Bagas yang menggangkat tubuh Alita. Namun tak ada yang berani bertanya padanya.
Mereka semua merasa sungkan karna Bagas yang selalu terlihat dingin
Bagas memasuki lift ia tetap mengangkat tubuh istrinya seraya menyeru memanggil manggil nama Alita.
"Alita!Alita!" seru Bagas memanggil namanya.
Setelah keluar dari lift, Bagas menuju pintu keluar kantornya.
Ia kembali jadi pusat perhatian karyawannya di mana Bagas terlihat panik.
pintu mobil sudah terbuka, Bagas pun masuk ke dalam mobilnya membawa Alita ke rumah sakit.
Selama perjalanan ia terus memanggil-manggil nama Alita.
"Alita! Alita!" Panggil Bagas sambil mengusap kepala dan kening Alita.
Bagas merogoh saku celananya mengabari orang tua Alita.
Beberapa saat kemudian mereka pun tiba di klinik terdekat.
Sesampainya di klinik Bagas segera mengangkat tubuh istrinya menuju ruang UGD.
Alita pun mendapat penanganan.
Tim medis memasang selang infus pada lengan Alita yang terlihat lemah.
Tak berapa lama kemudian Dasti dan Doni buru-buru menghampiri Bagas.
"Bagas Alita Kenapa? " tanya Dasti khawatir.
"Tadi Alita pingsan Ma, aku ngak tahu Kenapa." Bagas.
Setelah di lakukan pemeriksaan dan pertolongan pertama Alita di bawa ke ruang perawatan.
Alita sudah sadar tapi terlihat lemah.
"Alita kamu Kenapa Nak?" tanya Dasti.
"Aku hanya sakit kepala Ma" jawab Alita lirih.
Suster meletakan brankar Alita di sebuah kamar perawatan ruang VIP.
Bagas menghampiri Suster tersebut.
"Suster istri saya Kenapa?" tanyanya.
Suster tersenyum.
"Istri anda hanya lelah, tekanan darahnya rendah, wanita yang sedang hamil sebaiknya lebih banyak istirahat dan makan makanan yang bergizi, apalagi di trimesters pertama kehamilannya." Suster
Bagas kaget sekaligus senang mendengar berita kehamilan Alita.
Begitupun Doni dan Dasti yang ikut bahagia.
Suster tersebut meninggalkan ruangan tersebut.
"Pa, kamu dengar ngak suster bilang apa? "tanya Dasti.
"Iya Ma, sebentar lagi kita akan punya cucu Pa," ucap Dasti kegirangan.
"Iya Ma, aku juga bahagia," ucap Doni.
Bagas menghampiri Alita yang tersenyum menatapnya.
"Sebentar lagi kita punya anak Alita, aku bahagia banget. Tak menyangka akan secepat ini, terima kasih ya," ucap Bagas sambil mencium kening Alita lekat.
__ADS_1
Alita tersenyum, selain bahagia atas berita kehamilannya, ia juga bahagia melihat Bagas yang terlihat bahagia.
Bersambung reader, Terima kasih atas dukungannya, semoga kita semua dalam keadaan sehat dan Bahagia Aamiin.