
Bruk, tubuh Aira tergeletak di lantai karna tak sanggup membayangkan sesuatu yang buruk terhadap suaminya.
"Aira!" Tari dan Romeo segera menghampirinya.
Romeo langsung mengangkat tubuh Aira dan mengevakuasinya kesalah satu bangku tunggu yang ada di depan ruang UGD.
"Aira!" Romeo menepuk pipi Aira pelan setelah membaringkanya di pangkuan Tari.
Aira belum juga sadar, Romeo pun berinisiatif memanggil petugas medis.
Beberapa saat kemudian petugas medis datang bersamaan dengan Romeo.
Mereka memeriksa denyut nadi Aira yang teraba lemah.
"Ada apa dengannya Sus?"tanya Tari panik, sesaat setelah Suster tersebut memeriksa.
"Bawa dia ke ruangan UGD sepertinya ia juga terkena racun yang sama," ucap petugas tersebut.
Hah, keduanya pun syok.
Romeo kembali mengangkat tubuh Aira menuju salah satu tempat tidur di ruang UGD tersebut.
Dengan segera petugas medis memasang ventilator alat bantu pernapasan kepada Aira dan melakukan pertolongan pertamanya.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Aira juga terkena racun tersebut?"tanya Romeo, ia terlihat sangat panik.
"Aira menghisap udara melalui mulut Aldi secara langsung, jadi Ada kemungkinan Aira juga ikut tertelan racun yang keluar dari mulut Aldi," papar Tari.
"Tidak bisa di biarkan!" Dengus Romeo kesal, ia merogoh saku celananya dan meraih handphonenya, kemudian Romeo berjalan menjauhi ruang tersebut seraya melakukan panggilan.
Beberapa saat kemudian Aira membuka matanya, ia menerjab-nerjab kemudian mengedar pandangannya kesekeliling ruang tersebut tak ada seseorang pun di sampingnya, sementara Tari di panggil oleh salah seorang suster.
Aira membuka alat medis yang terpasang di bagian mulut dan hidung.
"Aira kamu sudah sadar?"tanya Tari yang bahagia melihat Aira siuman.
"Mbak Tari bagaimana keadaan mas Aldi?" tanya Aira, ia langsung bangkit dari pembaringannya.
"Kamu jangan khawatirkan Aldi Aira, dia sudah di tangani, kamu juga pikirkan tentang dirimu, kamu juga terkena racun saat kau menghisap udara dari dalam mulut Aldi," terang Tari.
Aira kembali menangis, "Aira ngak sanggup membayangkan jika terjadi sesuatu pada mas Aldi, Mbak," tangisnya lagi.
"Sudah kamu tenang saja, kita bawa Aldi kerumah sakit dengan fasilitas lengkap, tapi kamu harus kuat, kalau kamu lemah, siapayang akan memberi Aldi kekuatan untuk kembali siuman." Tari.
Romeo kembali menemui mereka.
Melihat Aira yang sudah siuman hatinya pun merasa tenang.
Romeo duduk di samping Aira yang sedang menangis memeluk Tari.
"Aira, abang sudah hubungi pihak berwajib dan mereka langsung bergerak menuju TKP, pasti ada yang sengaja menjebak Aldi dan dengan sengaja meracuninya, sepertinya ini perbuatan orang terdekat tante Rita," papar Romeo.
Aira melirik ke arah Romeo, "Apa Laura yang melakukan semua ini?"tanya Aira sambil menghapus air matanya.
"Ehm entahlah, Abang rasa ia juga korban, atau dia juga tak sengaja terminum racun tersebut, namun yang paling parah adalah Aldi, racun tersebut sudah masuk ke lambung dan merusak beberapa pembuluh darahnya," papa Romeo.
Aira kembali menangis di pelukan Tari.
"Mas Aldi," tangisnya terisak kembali.
"Sudalah Aira, kamu harus kuat, karna kita harus secepatnya membawa Aldi kerumah sakit dengan peralatan dan dokter yang lebih berpengalaman, " saran Romeo.
Aira menggangguk dan menghapus air matanya,ia pun melepas selang oksigen yang membelit di tubuhnya dan menggantinya dengan oksigen fortable yang di bawa Romeo.
__ADS_1
***
Dengan peralatan seadanya, Aldi di bawa menggunakan mobil ambulan dengan dua petugas medis profesional untuk berjaga-jaga
Aira juga ikut masuk kedalam ambulan,kemudian di ikuti kedua petugas yang juga ikut membawa Aldi.
"Tar, kamu temani Aira di ambulan, biar aku bawa mobil sendiri," ujar Romeo yang berjalan beriringan dengan Tari.
"Iya Rom hati-hati, jangan terlalu ngebut ya, aku khawatir sama kamu," ucap Tari seraya berjinjit untuk mengecup bibir suaminya yang berada tepat di depanya kini.
"Iya kamu juga hati-hati ya." Balas Romeo sambil mencium pucuk kepala Tari.
Semua sudah siap sedia, Tari pun ikut masuk kedalam ambulan yang membawa Aldi, suara sirene pun terdengar saat mobil mulai bergerak lambat keluar dari rumah sakit.
Aira masih terlihat sedih, sesekali ia menghirup oksigen fortabel untuk menghilangkan rasa sesak di dadanya, sementara jemarinya terus menggenggam erat tangan Aldi.
Dalam kesedihanya, Aira berdoa dengan lirih sepanjang perjalanannya, ia berharap agar masa kritis sang suami segera berlalu.
Bunyi sirene ambulan mengaung memecah kesunyian malam, selama kurang dari satu jam dengan kecepatan di atas rata-rata, mereka akhirnya sampai dan berhenti di sebuah rumah sakit bertaraf internasional.
Kedatangan Aldi langsung di sambut petugas medis profesional, Aldi langsung di tangani secara intensif dengan dokter yang sudah ahli di bidangnya.
Petugas medis memasukan selang ukuran kecil kedalam hidung Aldi yang menembus langsung kelambungnya.
Mereka pun membersih kan sisa sisa racun dengan obat anti toksin.
Setelah memastikan Aldi telah melewati masa kritisnya, mereka pun memindahkan Aldi di ruangan super VIP.
Aira selalu berada di samping Aldi meski tubuhnya sendiri lemas, nafasnya juga terasa sesak, harusnya ia juga di rawat, namun Aira tak mau mengeluh, ia hanya ingin tetap berada di sisi Aldi hingga sang suami tersadar.
***
Waktu merangkak naik dan kini sudah menunjukan pukul delapan malam, tepat tiga jam setelah Aldi di temukan tak sadarkan diri.
"Siapa yang membuat kamu seperti ini Nak?"tanya Satria dengan bulir air mata yang menggenang di kelopak matanya.
Dengan penuh perasaan Satria mencium kening putra bungsunya kesayangannya tersebut.
Satria menangis tergugu melihat wajah Aldi yang pucat pasi.
Ia kembali menciumi Aldi dengan segenap perasaannya, setelah melupkan rasa sayangnya terhadap putranya tersebut, Satria pun menghampiri Heru dengan emosi.
"Heru!, usut tuntas kasus ini, papa harus pastikan orang yang berencana melakukan percobaan pembunuhan terhadap adikmu, harus di hukum seberat-beratnya," ucap Satria dengan emosi yang tertahan.
"Sudah Pah, Polisi juga sudah menemukan siapa pelakunya," ucap Heru.
Ia dan Romeo sempat mendatangi kantor polisi untuk memberikan keterangan.
Selang beberapa jam, polisi pun menangkap tersangka tunggal dengan dua orang suruhan Aura.
"Siapa pelakunya?"tanya Satria menggeram, rahangnya seketika mengeras.
"Om Hendro pelakunya Pak,"cetus Heru.
"Hendro?!kenapa Rita tak mencegah suaminya untuk menyakiti putranya sendiri?apa Rita tidak mengetahuinya?!" Satria begitu geram mendengar kabar tersebut.
"Bunda tak mengetahuinya Pa,karna Bunda Rita sendiri sedang di rawat di rumah sakit jiwa, akibat gangguan jiwa yang dialaminya," terang Heru lagi.
Hah, mata Satria membulat dengan sempurna, ia tak percaya jika mantan istri, sekaligus ibu dari putranya tersebut menderita gangguan jiwa.
"Kamu tahu dari mana Heru?"tanya Satria.
"Dari Romeo Pa, ternyata bunda sudah hampir sebulan menjalani terapi kejiwaan di rumah sakit jiwa yang di pimpin oleh tante Suci, tante Suci baru memberi tahu Romeo, karna ia juga baru masuk kerja, setelah hampir sebulan berada di luar kota, di tambah ia mengambil cuti untuk mengurusi pernikahan Romeo," papar Heru.
__ADS_1
Satria syok, tak kuat menahan beban tubuhnya, ia pun memilih mendaratkan bokong di samping Heru.
"Heru, jangan beri tahu berita ini kepada Aldi, sebelum kesehatan Aldi benar-benar pulih." Satria
"Dan Satu lagi, kamu urus dengan pak Hilman untuk kasus Hendro, papa ingin ia mendapat hukuman berat!"imbuhnya lagi.
"Iya Pa, Aldi pasti syok jika ia mengetahui kebenarannya." Heru.
"Iya, papa tak ingin beban Aldi bertambah, biar saja kesehatanya pulih dulu, besok biar papa yang menjengguk bunda mu, di rumah sakit jiwa,"ucap Satria.
"Iya, Pa," sahut Heru lagi.
***
Malam semakin larut, meski mengantuk Aira belum juga bisa terlelap, matanya mengedar ke sekeliling ruangan tersebut.
Romeo dan Heru sedang ngobrol di sofa, sementara Tari sudah terlelap dengan kepala berada di atas pangkuan Romeo.
Melihat Aira yang terlihat resah, Heru pun menghampirinya.
"Aira istirahatlah, biar mas Heru yang menjaga Aldi," usul Heru sambil menarik kursi untuk duduk di samping Aldi.
"Aira ngak bisa tidur mas, Mas Heru tidur duluan saja, biar Aira yang menjaga mas Aldi."
Heru menyeritkan dahi, melihat kearah Aira.
"Baiklah kalau begitu, jika butuh sesuatu, mas Heru ada di bawah," ucap Heru seraya bangkit dari duduknya.
Lewat tengah malam mereka semua pun terlelap dengan sendirinya, termasuk Aira sendiri, ia tidur dengan posisi memeluk Aldi, itu karna sudah menjadi kebiasaannya setiap malam dan ia tak akan bisa terlelap tanpa memeluk tubuh suaminya.
Maka dari itu, Aira menunggu semua orang terlelap, agar ia bisa mencium dan memeluk Aldi dengan leluasa, sebelum menutup matanya untuk tidur.
Waktu terus berlalu, petunjuk waktu sudah berada pada pukul dua dini hari.
Mata Aira bergerak-gerak, seketika ia tersadar dari tidurnya, karna merasa ada yang mencium dan mencumbui bibirnya
Aira tersadar dan membuka mata perlahan, senyum langsung terukir di bibirnya saat melihat siapa yang sedang mengecupnya dengan mesra.
"Mas Aldi,"ucapnya seraya tersenyum ketika melihat suaminya yang baru saja sadar dari koma langsung mencumbuinya.
Aldi tersenyum menghadap Aira" Iya sayang, mas Aldi gemes lihat kamu yang tertidur pulas,"ucapnya seraya merangkul tubuh sang istri agar semakin erat memeluknya.
"Aira senang sekali mas Aldi sudah sadar," ucap Aira, ia pun bangkit dan membalas kecupan Aldi dengan lebih ganas.
Aira lebih agresif, ia membuat Aldi hampir kehabisan nafas," Udah sayang, nanti mas Aldi kehabisan pasokan oksigen, " ucap Aldi seraya melepaskan pautan bibir Aira.
Ha ha, Aira sendiri hampir kehabisan nafas, ia begitu senang karna suaminya sudah sadar kembali.
"Habisnya Aira takut baget saat mas Aldi koma." Aira terlihat sedih.
" Mas, berjanjilah jangan pernah tinggalkan Aira," imbuhnya seraya membelai wajah Aldi yang masih terlihat pucat tersebut.
Sementara kelopak matanya sudah bergenang air mata.
Aldi tersenyum kearah Aira, tanganya yang masih gemetar mencoba meraih rambut sang istri seraya membelainya dengan penuh kasih sayang, "Tentu sayang! Mana bisa mas Aldi pergi meninggalkan kamu sendiri, mas Aldi ngak rela dong, kalau kamu menikah lagi, meski setelah mas Aldi mati," ujarnya seraya menatap istrinya dengan mata berembun.
"Iya mas, biar saja cinta kita, kita bawa sampai mati, "ucap Aira kemudian kembali mengulum bibir suaminya dengan lembut, mereka pun saling beradu untuk mengungkap kan rasa haru.
Heru tersadar saat mendengar suara berisik dari atas tempat tidur Aldi, ia pun bergegas bangun karna khawatir terjadi sesuatu pada adiknya.
Saat Heru berdiri, ia malah melihat pemandangan yang menyesakan hatinya.
Bagaimana tidak, Aldi dan Aira sedang bercumbu dengan keadaan saling memeluk erat.
__ADS_1
"Dasar ngak ada ahlaknya,bikin ngenes saja mereka, baru juga sadar dari koma, "dengus Heru, ia pun kembali berbaring dan menutup tubuhnya dengan selimut.