
Pagi hari yang cerah, di mana matahari masih berada di kaki langit, namun Aira sudah terbangun dari mimpi indahnya, setelah menerjab nerjabkan matanya dan melihat kearah sekeliling kamar, ia pun langsung bangkit kemudian berjalan perlahan membuka jendela kamarnya untuk menghirup udara segar di pagi hari, setelah meliuk-liukan tubuhnya sebentar, ia kembali berjalan perlahan membuka pintu untuk menuju balkon kamarnya.
Aira kembali melakukan ritual yoga yang ia ikuti dan pelajari dari sebuah channel di internet.
Setengah jam berlalu, ia pun merasa hangat pada suhu tubuhnya, pertanda metabolisme pada tubuhnya mulai bekerja.
Setelah melakukan beberapa gerakan pendinginan, ia pun kembali masuk menuju kamar.
Mata Aira tertuju pada sosok tampan yang terlelap di atas ranjang empuk yang ada di depannya, Aira tersenyum simpul melihat sang suami yang tidur begitu lelap.
Sudah hampir tiga hari mereka tak pernah bersentuhan langsung, Aldi selalu terlihat sibuk belakangan ini, sering kali Aira terbangun saat malam hari, tapi tak menemui Aldi di sampingnya.
Meski merasa ada yang aneh, tapi Aira tak mau berburuk sangka terhadap suaminya.
Ia sendiri tahu kesibukam Aldi di kantor dan di pabrik yang tengah bermasalah dengan pemerintah setempat, akibat kerusakan saluran limbah dari pabrik mereka yang bocor hingga mengalir ke permukiman warga sekitar.
Meski merasa rindu untuk bercengrama, tapi Aira tak ingin memintanya pada Aldi, ia mengerti jika suaminya tersebut dalam keadaan letih, baik tubuh maupin pikiran.
Aira mendekati Aldi perlahan, kemudian ia duduk di samping tubuh Aldi seraya mencium pipi suaminya.
Aira sedang berbahagia menikmati waktu bersama Aldi, setelah melalui banyak ujian dalam rumah tangga mereka, kini mereka tengah berusaha untuk saling mengerti dan saling menjaga keharmonisan rumah tangganya.
Aira melirik petunjuk waktu yang berada pada pukul enam tepat, waktu baginya untuk memulai ritual mandi paginya.
Sebelum ia berjalan menuju kamar mandi, Aira sempat melihat panggilan masuk dari handphone Aldi.
Ia meraih handphone tersebut dan melihat siapa yang se-pagi ini menelpon suaminya.
Nama Hilman tertera pada layar handphone milik Aldi, karna tak ingin Aldi terbangun ia pun menekan ikon merah untuk menolak panggilan tersebut.
Setelah menolak panggilan dari pak Hilman, Aira mematikan nada deringnya, agar Aldi bisa istirahat dengan tenang, ia tak ingin karna kesibukan Aldi membuat suami nya kurang waktu untuk beristirahat.
Aira bergegas menuju kekamar mandi dan menuntaskan ritual mandi paginya.
Dengan bathrobe ia keluar dari kamar mandi dan saat itu ia kaget karna melihat Aldi yang sudah terbangun dengan menggutak katik handphonenya.
Wajah Aldi terlihat tegang, saat mendekatkan handphone pada daun telinganya.
"Kenapa mas Aldi sudah terbangun, padahal aku sudah silent panggilan handphone nya, agar ia bisa beristirahat dengan tenang," guman Aira.
Aira perlahan mendekati Aldi yang terlihat tegang, saat itu Aldi langsung berdiri dan berjalan kearah balkon seolah menghindari dirinya.
Dan yang lebih parah lagi Aldi menutup pintu kamar yang menuju balkon saat ia bicara pada seseorang, hingga membuat kecurigaan Aira terhadap Aldi semakin jadi.
Ada apa ini apa yang terjadi pada mas Aldi? Batinya.
Aira terus memperhatikan ekspresi Aldi dari jauh, tampak sekali saat itu Aldi terlihat kesal.
Setelah berbicara pada seseorang di telpon, Aldi kembali membuka pintu balkon ia pun masuk ke dalam kamarnya kembali.
Aldi berjalan longkai menuju tempat tidur yang empuk bak gumpalan awan di angkasa tersebut, kemudian menghempaskan tubuhnya begitu saja di atas kasur tersebut.
Melihat keadaan suaminya yang sedang sedih, Aira mencoba mendekati, tapi baru beberapa langkah Aldi kembali mendapati panggilan masuk, Aldi yang sedang tengkurap kemudian meraih handphonenya dan menatap layar smartphone nya tersebut.
"Hallo," sapa Aldi yang langsung menggangkat telponnya di depan Aira.
"Hallo, Pak Aldi hari ini juga kita akan menyerahkan duplikat flash disk dan beberapa bukti lainya yang akan di kumpulkan di hadapan penyidik, kita juga harus membawa serta nyonya Aira untuk di lakukan penyidikan secara langsung oleh pihak kepolisin," papar Hilman.
"Apa?!.apa itu bearti istri saya akan di tahan Pak?"tanya Aldi panik.
"Bisa jadi pak, karna nantinya saat penyelidikan berlangsung istri anda akan di dampingi lembaga sosial milik pemerintah yang sudah di tunjuk, selama masa penahanan, beliau akan di mintai keterangan dan akan melakukan visum untuk memperkuat bukti keterlibatan Retno dalam bisnis human trafiking,"papar Hilman kembali.
Aldi langsung berdiri dengan wajah yang kembali tegang.
"Tapi pak, apa tidak bisa istri saja tak di tahan selama penyidikan berlangsung?"tanya nya lagi mencoba bernegosiasi,
"Tak bisa pak, semua sesuai aturan yang berlaku, anda tenang saja, penahanan tak kan berlangsung lama, setelah pemeriksaan selesai, nyonya Aira bisa kembali bebas sambil menunggu persidangan," ucap Hilman.
"Apa? Tapi kenapa tidak bisa?!"tanya Aldi sedikit emosi.
"Kita harus mengikuti prosedur pak, agar kasus tersebut tidak berlalut-larut, karna bukti yang kita dapat dan kumpulkan saat ini telah memasuki ranah hukum yang berbeda, istri anda juga menjadi saksi atas keterlibatan Retno dan bisnis haramnya tersebut,"papar Hilman.
"Iya tapi_"
__ADS_1
"Tidak bisa Pak, ini kasus besar dan baru mencuat setelah kita membeberkan fakta baru tentang Retno, jika semua terbukti maka selain istri anda bisa mendapat kebebesan mutlak, kita juga bisa menyelamatkan para korban penjualan manusia, lakukan lah semua ini demi kebenaran dan demi tegaknya nya hukum, jangan sampai korban terus bertambah dan penjualan gadis bawah umur bisa di hentikan," ucap Hilman.
Ehm, Aldi berfikir sejenak, " Baik lah nanti saya langsung menemui anda di tempat yang sudah kita tentukan," ucap Aldi sambil menutup handphonenya.
Aldi kembali menghempaskan bokongnya seraya melemparkan handphonenya tersebut di atas kasur.
Aldi duduk dengan sedikit membungkuk sambil menakup kedua telapak tanganya.
Melihat suaminya terlihat gusar, Aira menghampirinya dengan duduk di samping suaminya tersebut.
"Mas kenapa sih? Kok sepertinya mas Aldi tegang sekali?" tanya Aira sambil mengusap punggung sang suami.
Aldi mendengus, ia menarik nafas panjang dan menghempaskanya.
"Sayang hari ini kamu harus menjalani penyidikan terhadap kasus kamu, mas harap kamu tetap tenang dalam menjawab setiap pertanyaan dari tim penyidik," ucap Aldi sambil menatap sendu sang istri.
Ia merasa tak tega membiarkan Aira sendiri saat di intrograsi.
Aira teesenyum simpul, "Ngak usah khawatir Mas, Aira baik-baik saja, sekarang Aira yakin jika Aira tak bersalah, Aira hanya membela diri dan Aira akan ungkap semua di depan pihak penyidik bagaimana kehidupan Aira seperti di teror saat si keparat Retno masih hidup," ucap Aira tegas.
Aldi tersenyum simpul, "Tapi saat penyidikan mas Aldi tak bisa mendampingi kamu sayang, kamu akan di dampingi dari dinas sosial yang di tunjuk oleh pihak kepolisian," papar Aldi.
"Ehm, Ngak apa Mas, Aira sekarang sudah dewasa Mas, dan Aira ngak takut pada siapa pun, Aira cuma takut kehilangan Mas Aldi," ucap Aira sambil menatap Aldi dengan mata berbinar.
Aldi merangkul tubuh Aira agar jatuh dalam pelukkanya kemudian mencium pucuk kepala sang istri dengan sepenuh hati.
"Ngak akan sayang, setelah kasus kamu selesai, kita akan bina keluarga kita kembali dan mas janji tak kan membiarkan kamu sendiri lagi," ucap dengan mata yang berkaca-kaca.
Aira tersenyum sambil menatap wajah Aldi,
"Benar kah Mas? , kalau begitu apa lagi yang harus kita takuti dan kenapa juga mas Aldi harus bersedih, ini hanya ujian untuk mempererat hubungan kita, dan semua akan berlalu, Aira yakin perpisahan kita tak kan lama, Aira akan pergi sementara, dan akan kembali hanya untuk kembali kepada Mas Aldi?"ucap Aira sambil menghapus titik Air mata Aldi.
"Iya sayang," ucap Aldi seraya kembali memeluk erat tubuh munggil istrinya.
"Apa yang akan terjadi pada ku Aira, jika terlalu lama jauh dari kamu, mas ngak bisa bayang kan hari-hari yang harus mas lalui tanpa kamu sayang," ucap Aldi terbata-bata karna menahan isak tangisnya.
"Aira juga Mas, tapi percayalah semua akan indah pada waktunya," ucap Aira sambil menyapu lembut pundak Aldi.
Setelah beberapa saat dan keadaan kembali tenang, mereka pun saling melepaskan pelukan, untuk menyemangati Aldi, Aira berinisiatif untuk membuatkan sarapan untuk sang suami." Mas pagi ini mas Aldi ingin sarapan apa?"tanya Aira sambil menatap wajah suaminya yang sedang bersedih.
"Aira bikinin nasi goreng ya?"tanya Aira lagi.
Dan hanya di jawab anggukan oleh Aldi.
"Ya sudah Aira bersiap dulu ya," ucapnya kemudian beranjak dari tempat duduknya.
Aldi menggangguk pelan ia pun berjalan menuju kamar mandi untuk melakukan rutinitas paginya, sementara Aira langsung menuju lemari pakaian dan memilih pakaian yang akan ia kenakan.
Setelah siap, Aira turun menuju dapur, di sana ia melihat Tari yang tengah sibuk memotong sesuatu.
"Mbak lagi ngapain?"tanya Aira sambil menyendok susu bubuk ke dalam gelas.
"Lagi belajar masak," sahut Tari.
"Ehm, masak apa?"
"Mbak mau belajar masak makanan jepang," sahutnya kembali tanpa menoleh.
"Kenapa harus belajar masakan jepang mbak, masakan khas indonesia itu lebih kaya rasa dan lebih cocok di lidah kita," sahut Aira.
"Biarin deh, namanya juga usaha memanjakan lidah calon suami," sahut Tari.
"Tapi setahu Aira, bang Romeo ngak suka masakan jepang, justru ia suka dengan masakan padang yang bersantan dan pedas," papar Aira.
"Ih sok tahu kamu!" cetus Tari.
"Ya sudah kalau ngak percaya," balas Aira sambil membuka kulkas, ia mengambil beberapa bahan yang akan di gunakan untuk meracik nasi goreng kesukaan Aldi.
Tari terdiam sebentar memikir kan saran dari Aira, ia pun teringat saat ia membawa rendang dan tempe orak-arik, Romeo dan Doni terlihat menikmatinya.
"Tapi ia juga sih Aira, kemaren saat mbak bawa rendang dan tempe orak arik, Romeo itu makanya lahap banget," ungkap Tari dengan senyum sumringahnya.
"Tuh kan di bilangin ngak percaya, Aira perna bersama bang Romeo selama beberapa hari, jadi Aira tahu lah seleranya, oh ya satu lagi yang bang Romeo paling suka mbak, telur balado sama perkedel kentang, mbak coba masak itu saja, Aira jamin bang Romeo akan semakin cinta sama mbak Tari," papar Aira.
__ADS_1
"Telur balado sama perkedel kentang? Iya deh Aira, mbak masak itu saja deh untuk makan siang kami nanti," ucap Tari.
"Makasih ya Aira," ucap Tari sambil mencubit pipi Aira.
"Iya mbak," sahut Aira sambil tersenyum, ia merasa bahagia melihat Tari yang begitu bersemangat mengambil hati Romeo.
"Segala sesuatu memang harus di perjuangkan, karna tak ada yang instan di dunia ini,termasuk cinta dan kebebasan kita," guman Aira, ia pun kembali meracik nasi goreng.
Setelah beberapa lama berkutat di dapur dua piring nasi goreng pun telah siap di atas meja yang ada di dapur, kemudian Aira mengaduk dua gelas susu coklat hangat.
"Eh Aira kok kamu bikin dua sih? satunya untuk siapa?"tanya Tari.
"Satunya lagi untuk mas Heru mbak, kan kasihan mas Heru ngak ada yang ngurusin, adiknya aja ngak peduli," sindir Aira.
"Eh gue bukan nya ngak peduli, tapi ngak enak kalau dekat-dekat mas Heru," masih sungkan papar Tari dengan sedikit berbisik.
"Oh kalau mas Heru, ngak enak? kalau mas Aldi kenapa mbak biasa saja?" tanya Aira heran.
"Eh kalau sama Aldi gue enak-enak aja ngak ada masalah." cetus Tari.
"Ih tau dari mana mas Aldi enak?" tanya Aira dengan nada bercanda
"Hehe kan udah gue cicipin duluan," balas Tari dengan bercanda pula.
"Is kok kedengaranya seperti pelakor ya? giliran laki orang enak-enak saja," dengus Aira.
"Ish sembarangan loh, lagian siapa lagi yang ingin merebut Aldi dari loh, orang kita bersaudara." Tari.
"Iya tapi mas Heru kan juga saudara mbak, Aira kasihan saja lihat mas Heru, harusnya mbak Tari bersikaf biasa saja sama mas Heru seperti sikaf mbak terhadap mas Aldi," nasehat Aira.
"Ngak semuda itu Aira, biarin deh, biar saja waktu yang akan menjawab semua nya," papar Tari.
***
Aldi turun ketika nasi gorengnya sudah tertata di atas meja, dua piring nasi goreng untuk dirinya dan Heru.
Heru juga baru tiba di meja makan melihat nasi goreng yang tersedia di meja," Ini pasti masakan Aira," ucap Heru yang tersenyum sambil menghirup aroma harum dari masakan tersebut.
"Ia mas, Aira masak khusus untuk mas Aldi dan mas Heru saja, " sahut Aira sambil membawa dua gelas susu coklat.
"Oh terima kasih Aira," sahut Heru ia pun langsung menyendok nasi goreng buatan Aira dan memakanya dengan lahap.
Aira mendekati Aldi yang masih terlihat melamu.
"Mas Aldi kenapa sih?" tanya Aira yang melihat Aldi melamun," Ayo sarapannya di habiskan, kita sudah di tunggu loh," ucap nya sambil menarik kursi di samping Aldi.
"Iya sayang," ucap Aldi ia pun menyendok nasi goreng tersebut, melihat Aldi yang tak berselera, Aira membantunya untuk menghabiskan nasi goreng tersebut.
Selesai sarapan mereka pun berangkat menuju kantor polisi.
***
Waktu menunjukan pukul sebelas siang, karna tak ingin terlambat mengantar makan siang untuk Romeo dan Doni, seperti yang terjadi kemaren, untuk itu kali ini sebelum pukul dua belas siang Tari sudah siap dengan rantang makan siang mereka.
Setelah meminta mang ujang menyiapkan mobil untuknya, Tari menenteng rantang tersebut membawanya keluar.
Saat yang bersamaan ketika hendak menuju pintu keluar, ia mendengar bell berbunyi beberapa kali, dengan sedikit memperceoat langkah kakinya, Tari menuju pintu dan langsung membukanya.
Hah..., Tari syok ketika melihat siapa yang ada di hadapanya saat ini, jantungnya seakan berhenti berdetak sepersekian detik hingga membuatnya terbungkam.
"Hai Tar," sapa Romeo yang mengejutkan Tari kembali.
"Hai Rom, aku baru saja mau mengantar makan siang ini kebengkel, " ucap Tari.
"Oh..Tapi kedatangan ku ke sini untuk menjemput kamu," ucap Romeo.
"Menjemput? kemana Rom?" tanya Tari dengan senyum sumringahnya.
"Kita akan pergi fitting baju pernikahan Tar," jawab Romeo.
Apa?.fitting baju, oh MG gue ngak sedang bermimpikan?
Tari terdiam sejenak, jiwa seolah terbawa terbang kealam nirwana, semua yang di impikanya kini secara perlahan menjadi kenyataan.
__ADS_1
cie-cie Tari, fitting baju ni ye,...
Bersambung guys, di tunggu like komen vote dan hadiahnya ya, hehe ngak maksa kok, maaf ya jika masih bnyk typo.