
Brum suara motor Bagas berhenti di garasi rumahnya, setelah menstandar motor Bagas langsung menyimpan helm kemudian membuka pintu.
Di ruang tamu sudah ada Edo dan Nina yang menunggunya.
"Bagas!" panggil Edo ketika,Bagas menyelonong begitu saja, wajahnya pun terlihat sembab.
Edo dan Nina menghampiri Bagas.
Bagas duduk tertunduk di kursi yang ada di ruang tamu.
"Gas kamu kenapa Nak?"tanya Nina.
Perlahan mata Bagas kembali memerah.
Nina dan Edo mulai menerka-nerka, apa yang membuat Bagas seperti itu.
"Gas, Ayah sengaja datang kemari untuk kamu, katanya kamu minta pada ayah untuk melamar Alia, " ucap Edo seraya menyentuh tangan Bagas.
Air mata Bagas mengalir dan menggantung di dagunya.
"Terlambat Yah, Alia sudah di jodohin sama sepupunya sendiri hiks hiks hiks."
Bagas menghapus titik air matanya.
"Aku ngak tahu kenapa orang tua Alia terkesan memaksakan perjodohan itu, padahal aku dan Alia saling mencintai Yah, hiks hiks hiks."
"Mereka seperti tak memberikan kesempatan kepada ku untuk membuktikan kalau aku juga pantas untuk Alia, hiks hiks,"
Tik tik tetes air mata pun jatuh luruh meluncur begitu saja di pipi Bagas.
__ADS_1
Bagas begitu sedih, semua impian dan harapannya sudah lenyap begitu saja.
Sesekali Bagas menyapu bulir bening yang menetes di pipinya dengan tangan yang gemetar.
Edo melepas sentuhan tangannya, tubuhnya ia sandarkan pada sandaran kursi, seraya menghela nafas panjang.
Sepertinya Bagas harus tahu semua rahasia ini, dia juga sudah dewasa, sekian tahun ia bertanya siapa ayahnya, mungkin saat inilah waktu yang tepat untuk mengatakannya kepada Bagas.
Nina mendekati Bagas, seraya merangkulnya dengan penuh kasih sayang.
"Nak, mungkin ini memang sudah takdirnya, kamu dan Alia mungkin tidak di gariskan bersama, tapi ibu percaya sekali jika suatu saat ada Alia-Alia yang lain yang akan kembali mengisi hati kamu," papar Nina.
Hiks hiks hiks, sisa isak tangis Bagas masih terdengar di pelukan Nina.
Edo menepuk pundak Bagas.
"Ibu kamu benar Gas, di balik kejadian pasti terselip hikmah yang bisa kita ambil pelajaran."
Bagas menyimak penuturan Ayahnya seraya menelan ludahnya untuk membasahi tenggorokannya.
Ia sangat menyadari jika yang di katakan Edo itu benar, tapi tak semudah itu ia bisa menerima kenyataan apalagi Alia adalah cinta pertamanya.
"Gas mungkin Alia bukanlah gadis yang terbaik untuk kamu, karna yang terbaik tak bearti yang tercantik juga yang terkaya dan sebagainya, bisa jadi yang terbaik untuk kamu adalah gadis yang bisa menerima kamu dan keluargamu, begitupun dengan keluarganya yang dapat menerima kamu dengan tulus dan apa adanya, karna menikah bukan hanya menyatukan dua orang tapi juga dua keluarga." Nina
"Bersabarlah kamu Nak, pasti ada jalan yang lebih baik untuk kamu dan Alia saat ini," papar Nina.
Bagas menyimak kata-kata dari kedua orang tuanya tersebut.
"Gas, patah hati dan putus cinta itu biasa Gas, kamu ngak usah ambil pusing, itu biasa terjadi di usia seperti kalian, pasti masih banyak gadis yang bisa menerima kamu," ucap Edo menyemangati Bagas.
__ADS_1
"Iya Nak,lihat lah tak ada satupun yang kurang dari diri kamu saat ini, wajah kamu ganteng dengan fisik yang sempurna, cinta bisa tumbuh seiringnya keringnya luka hati kamu,jadi kan ini pengalaman untuk kamu Gas, kamu sudah jadi lebih baik sekarang, jadi ibu minta jadilah kamu yang lebih baik lagi,"papar Nina.
"Gas ibu sayang sama kamu Nak, jangan sia-siakan hidup kamu lagi, masa depan kamu masih panjang, masih banyak cita dan cinta yang bisa kamu raih," ucap Nina seraya mengusap punggung putra sulungnya, ia pun kembali memeluk Bagas.
Bagas membalas pelukan sang ibunda, Sekarang ia bisa merasakan kasih sayang keluarganya, saat terpuruk seperti ini, ada ibu dan ayahnya yang selalu memberi support kepadanya.
"Gas, Besok kita ke kantor Ayah, mulai sekarang kamu harus belajar mengurus perusahaan tersebut, sebenarnya perusahaan tersebut memang Ayah kembangkan untuk kamu Gas, tapi saat itu seperti kamu tak bisa di andalkan, pergaulan kamu dan sikaf kamu membuat Ayah tak percaya untuk menyerahkan perusahaan tersebut kepada kamu,"papar Edo.
"Tapi sekarang Ayah yakin sama kamu Gas, kamu bisa melanjutkan kepemimpinan perusahaan tersebut, buktikan pada dunia, jika kamu bisa berhasil di tengah cemoohan orang tentang kamu, agar tak lagi ada yang meremah kan dan memandang kamu dengan sebelah mata," ucap Edo berapi-rapi untuk menyemangati Bagas.
Edo memang sudah mengira jika kedua orang tua Alia tak akan pernah merestui hubungan mereka,namun ia tak ingin mengecewakan Bagas, biarlah rasa sakit yang dialami Bagas saat ini menjadi suatu proses yang akan membuat perubahan besar dalam hidupnya.
Nina tersenyum mendengan penuturan dari Edo, ia pun mengangkat sedikit dagu Bagas yang tertunduk.
"Iya Nak, kamu harus terima apa yang Ayah kamu berikan, kamu harus bangkit dari keterpurukan kamu hari ini, jadilah orang yang sukses, karna semua kebaikan yang kamu lakukan pasti akan berbuah kebaikan untuk dirimu sendiri, tetaplah jadi Bagas seperti ini, karna jika cinta datang kembali hadir di hidupmu, kau tak perlu merubah apapun karna kau pasti layak untuk gadis mana pun," ucap Nina.
Bagas sedikit mengerti meski luka itu masih terasa, namun suppot dan dukungan dari kedua orang tuanya mampu membuat Bagas mengerti akan hikmah yang bisa di ambilnya hari ini.
***Katakan selamat tinggal pada masa lalu mu yang suram, karna hari ini kau telah bangkit kembali menjadi jiwa yang baru.
Mimpi akan tetap jadi mimpi, jika kita tak pernah berusaha mewujudkannya.
Untuk apa Tuhan memberi kita mimpi? bukan untuk terlarut dan terbuai di dalamnya, tapi sebagai gambaran agar kita bersemangat untuk meraihnya***.
Bersambung, berikan semangat untuk Bagas dong di kolom komentar.
Go Bagas !Go Bagas Go!
Ha ha ha takdir emang kejam tapi author lebih kejam,
__ADS_1
Gimana guys lanjut ngak nih !!! fithing dulu otor nya !!!!!