
Setelah sah menjadi suami istri, Bagas di persilakan menghampiri Alita di kamarnya.
Di tuntun kedua ibunya ia pun memasuki kamar pengantin yang nanti malam akan di tempatinya.
Bagas dan Alita terlihat sama-sama canggung, apalagi Bagas, ia tak tahu apa yang harus ia katakan pada Alita untuk saat ini.
Mereka berdua pun kini bertemu dan saling bertatap muka.
Sejenak keduanya hening dan hanya saling melempar senyum malu-malu.
"Gas! ngomong dong Gas, bicara pada istri mu," ucap Nina seraya menyenggol lengan Bagas.
"Ngomong apa Bu?"tanya Bagas, ia sendiri memang bukan type orang yang suka berbasa-basi, ngomong seperlunya saja.
"Ajak istri kamu ke pelaminan Gas," Nina.
Bagas tersenyum malu, begitupun Dasti dan Alita yang melihat Bagas begitu kikuk.
"Aduh ngomong aja mau di ajarin Gas, bukannya sudah di ajari oleh ayah kamu sebelumnya?" dengus Nina.
"Lupa Bu," sahut Bagas tersenyum.
Alita sumringah ketika melihat sang suami yang tersenyum, karna merupakan hal yang langkah baginya melihat Bagas yang tersenyum.
"Ih gitu saja malu, gimana malam pertama kalian?" dengus Nina.
Membuat Bagas dan Alita semakin malu.
"Ayo ajak istri kamu ke pelaminan," desak Nina.
"Iya," jawab Bagas singkat.
Alita dan Dasti pun tersenyum melihat Bagas yang terlihat kikuk.
Bagas menghampiri Alita.
"Yuk Lit kita ke pelaminan," ucapnya asal.
"Aduh Gas. kamu ngajak istri ke pelaminan seperti ngajak anak kecil beli permen saja," omel Nina.
Mereka pun tersenyum melihat betapa kakunya Bagas.
"Sudahlah Bu! ngak usah banyak drama!"ucap Bagas ia pun menarik lembut tangan Alita.
"Ayo Lit, kita sudah di tunggu,"ajak Bagas.
Alita pun berdiri dengan hati yang senang, dengan menggandeng Bagas yang kini telah resmi menjadi miliknya.
Keduanya saling melempar senyum menuruni anak tangga dengan bergandengan mesra.
mereka pun menuju meja kecil, untuk menandatangani buku nikah.
Bagas dan Alita pun menandatangani buku nikah dan menunjukan kehadapan hadirin yang hadir.
Setelah serangkaian acara akad nikah, keduanya di persilahkan untuk istirahat selama beberapa saat sebelum kembali di rias.
Bagas dan Alita berada di kamar berdua saja, meski saat acara ijab qabul mereka terlihat mesra, tetapi jika keduanya berada di satu ruangan yang sama justru malah terlihat kaku.
Keduanya masih sama-sama sungkan dan acu, bahkan sudah setengah jam mereka berada di satu ruangan pribadi, tapi tak ada satu pun di antara mereka yang berani untuk membuka suara.
Alita berada di meja rias sedang melepaskan beberapa aksesoris yang terpasang di sanggulnya.
Sesekali ia melirik Bagas yang hanya duduk seraya mengkutak-katik handphonenya, kemudian ia berbaring di atas tempat tidur.
Setelah melepas sanggul, Alita segera menuju kamar mandi dan membawa pakaian ganti.
Masih ada sekitar dua jam untuk beristirahat, dan kesempatan tersebut di mamfaatkan oleh Bagas untuk tidur siang.
Begitu pun Alita, karna mengira Bagas tertidur, ia pun dengan lenggang melepas pakaiannya.
Alita pun hampir bugil dan hanya menyisakan segi tiga dan kaca mata pengamannya.
Bagas tanpa sengaja membalikan tubuhnya dan melihat lekuk tubuh sang istri yang terlihat begitu menggiurkan.
Tanpa sengaja sang junior pun berdiri tanpa di minta.
Bagas menutup matanya seraya mengontrol gairahnya.
Alita memang tak mengira jika suaminya tersebut melihat.
__ADS_1
Tanpa sungkan ia melepas semua pelindung tubuhnya dan tampaklah tubuh putih mulus tanpa cacat dengan lekukan sempurna.
Bagas semakin erat menutup wajahnya.
Sementara Si junior semakin tegak berdiri.
Beberapa menit mendebarkan bagi Bagas, ia tak pernah melihat aurat wanita sebelumnya.
Bagas memang pernah jadi anak nakal, tapi ia selalu menghindari hal-hal yang bisa meningkatkan shawatnya, karna ia sendiri tak ingin seperti ayah biologisnya yang terlalu menuruti hawa nafsu.
Alita pun masuk ke kamar mandi dan meninggalkan suami yang sedang konak karna ulahnya tersebut.
Bagas mengelus si junior agar kembali tidur, setelah di bujuk dan di rayu akhirnya si junior pun kembali tidur begitupun dirinya yang juga kembali tidur.
***
Acara resepsi pun berlangsung.
Sang calon pengantin wanita tanpa cantik dan anggun bersanding di pelaminan.
Sejak melihat bentuk tubuh Alita, Bagas merasa malu pada dirinya, pasalnya pikirannya selalu traveling untuk pertama kali dalam hidupnya.
Sungguh sesuatu yang kini membuatnya penasaran.
Keduanya duduk di pelaminan menunggu tamu datang menghampiri.
***
Alia dan Ghael sedang dalam perjalanan menuju resepsi pernikahan Alita dan Bagas.
Keduanya menggunakan pakaian dengan warna senada hingga membuat pasangan tersebut begitu serasi.
Meski baru dua bulan, tapi perut Alia sudah terlihat berbeda, perutnya sedikit buncit, apalagi saat ini ia mengenakan gaun pesta yang pas membalut di tubuhnya.
Setelah sampai di resepsi, keduanya langsung menikmati hidangan pesta.Namun, tiba-tiba Alia merasa mual.
Melihat istrinya yang berasa hendak muntah, Ghael pun buka suara.
"Kenapa Sayang?"tanya Ghael.
"Bang, aku pingin muntah, kita langsung ke pelaminan saja yuk!" ajak Alia.
Keduanya pun langsung menuju pelaminan
Dengan mesra Alia mengandeng suaminya, menuju pelaminan menghampir kedua mempelai.
Bagas melirik ke arah Alia yang menghampiri Doni dan Dasti.
Seketika wajahnya tertunduk.
Alia dan Ghael berada di hadapan kedua orang tua Alita untuk mengucapkan selamat.
"Ma, selamat ya atas pernikahan Alita ," ucap Alia seraya menyalaminya.
"Iya terima kasih Ya Alia semoga pernikahan kalian juga langgeng ya," Dasti.
"Hey, sepertinya sudah ada isi ya ?"tanya Dasti yang melihat perut Alia seperti membuncit.
"Iya Ma, Alhamdullilah sudah dua bulan."Alia.
"Kalau begitu selamat, Mama juga ngak sabar jadi kakek dan Nenek, nih," ujar Dasti pada Alia.
"Ehm iya Ma, semoga Alita cepat menyusul ya."
"Aamiin," ucap Dasti.
Alia dan Ghael pun menghampiri Bagas dan Alita.
"Alita selamat ya, semoga pernikahan kalian langgeng sampai kakek Nenek" Alia
"Aamiin, kamu juga ya," sahut Alita.
"Tapi kelihatannya sudah ada baby-nya nih?"tanya Alita sambil mengelus perut Alia.
"Alhamdullilah, sudah dua bulan Alita. Aku elus perut kamu, Semoga kamu juga cepat hamil ya?"ucap Alia seraya memgelus perut Alita.
Alita dan Bagas tersenyum kecut.
Sejenak semua hening, ketika Alia dan Ghael mendekat ke arah Bagas.
__ADS_1
"Selamat menempuh hidup baru Gas, semoga kalian berdua bahagia," tutur Alia lirih dengan suara seraknya.
Meski ia telah menerima suaminya.Namun, sisa-sisa rasa itu masih ada untuk Bagas.
Alia berusaha mengontrol emosinya, tak ingin berlama-lama, ia pun menghampiri kedua orang tua Bagas.
Setelah hal yang cukup mendebarkan di atas pelaminan, Alia pun mensegerakan kepulangannya karna merasa perutnya semakin bergejolak.
Seusai pesta, Alita dan Bagas di tuntun menuju kamar pengantin.
Keduanya berada di kamar pengantin dengan beberapa orang yang membatu melepaskan pakaian dan aksesories yang mereka kenakan.
Setelah semuanya beres, mereka pun di tinggal berdua.
Suasana canggung masih kentara pada keduanya, apalagi setelah kejadian Bagas yang tanpa sengaja melihat sang istri yang tak berbusana.
Mau tapi malu, begitulah perasaan Bagas saat ini, lagi pula ia tak tahu harus memulainya dari mana.
Keduanya masih berdiam diri di sisi masing-masing tempat tidur.
Suasana hening terjadi di kamar pengantin baru tersebut, tak ada suara desaaahan atau pun decapan yang terjadi pada kamar pengantin umumnya.
Namun, suara gedoran pintu, membuat keduanya kaget.
tok tok tok
Alita pun berjalan menghampiri pintu kemudian membuka pintunya.
Krek di sana sudah ada Edo yang membawa botol air mineral.
"Ayah? ada apa?"tanya Alita.
"Ehm, ini Ayah bawa air minum yang sudah di bacakan doa untuk kelanggengan hubungan kalian, kalian minum ini sebagai salah satu ritual pernikahan," ucap Edo.
"Ehm terima kasih Yah," ucap Alita.
"Ingat Lita, kalian harus minum berdua Ya." Edo mengingatkan kembali.
"Iya Yah." Alita.
Ia pun segera menutup pintu kamarnya.
Alita menghampiri Bagas yang bersandar pada headboard tempat tidurnya.
"Mas ini ada air yang sudah di bacakan doa, kata ayah kita harus meminumnya."
Ehm, Bagas menggangguk.
Alita pun menuang minuman tersebut kedalam gelas kemudian menyodorkannya kepada Bagas.
Kebetulan saat itu Bagas haus, ia pun meneguk air mineral tersebut sampai tandas.
Setelah menuang minuman untuk Bagas, Alita kemudian menuang minuman untuknya.
Ia pun menghabiskan minuman tersebut, kemudian meletakannya di atas nakas.
Beberapa menit kemudian keduanya merasa sedikit pusing, dengan hasrat yang mulai terbakar.
Alita dan Bagas saling menatap sendu dengan tatapan penuh damba.
Sementara Edo tersenyum menyeringai, sebuah rencana di buat khusus untuk kedua pengantin tersebut, agar mereka tak saling canggung serta merasa percaya diri.
"Sayangnya ngak boleh di rekam, kalau di rekam apa yang di lakukan kedua pengantin tersebut pastinya seru tuh." guman Edo.
***
Di kamar pengantin keduanya merasa resah dan gelisah, tiba-tiba saja hasrat keduanya begitu bergelora.
Bagas yang terbaring di salah satu sisi tempat tidur, tiba-tiba mendekatkan dirinya hingga berada tepat di samping Alita.
Alita pun demikian, ia merasakan gelora hasratnya yang tak mampu di tahan.
Alita memalingkan wajahnya menatap ke arah Bagas yang menatapnya penuh damba.
Kedua netra tersebut bertemu hingga menimbulkan debar-debar asmara.
Apakah yang terjadi selanjutnya?
He he, episode berikutnya ya reader.
__ADS_1
Setelah berbasa basi dengan