
Romeo sampai di rumah dan langsung di sambut bahagia oleh sang ibunda.
"Gimana Rom?"Tanya Suci yang melihat kedatangan Romeo di depan pintu.
"Gimana apa nya Ma?"tanya Romeo.
Iya pun duduk di kursi ruang tamu.
"Maksud mama, bagaimana sudah dapat barang hantarannya?"Suci memperjelas.
"Sudah Ma,"ucap Romeo datar,
"Mana barang nya Rom? Mama ingin lihat pilihan calon istri kamu" Suci.
Suci merasa senang, karna akhirnya ia bisa membujuk Romeo untuk menikah.
"Ada di mobil Ma, semua barang tersebut pilihan Romeo, Tari yang menyuruh Romeo untuk memilih sendiri barang hantaran untuknya."
"Wah bagus kalau begitu Rom, tandanya dia akan jadi istri yang selalu patuh terhadap suaminya, " ucap Suci dengan bahagia.
"Tapi Rom, kenapa wajah kamu bertekuk seperti itu sih?" Tanya Suci yang melihat wajah putranya yang cemberut.
"Capek Ma," ucapnya dengan lesu, ia pun beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju tangga.
Suci menggelengkan kepala melihat tingkah putranya tersebut.
Baru beberapa langkah menaiki anak tangga, ia kembali lagi menemui Suci
"Ini kartu kredit Mama," ucapnya Romeo sambil menyodorkan benda tipis berbentuk persegi panjang tersebut.
"Rom, kamu yakin kamu tak apa-apa? tanya Suci sambil menarik tangan Anaknya untuk duduk kembali di sampingnya.
" Maaf Rom jika Mama sedikit memaksa kamu, tapi percayalah Rom, setiap orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya," ucap Suci sambil melirik kearah putranya.
"Mama itu sayang sama kamu Rom, ngak ada satu wanita pun yang mencintai kamu dan menyayangi kamu, sama seperti mama yang menyayangi kamu Rom , jadi kamu ngak perlu khawatir, apa yang mama berikan ini, semua demi kebaikan kamu Nak," imbuh Suci.
"Mama hanya ingin kamu bisa melupakan perasaan sesaat kamu Rom, jika kamu sudah menikah dan hidup bersama dengan istri mu, maka dengan sendirinya cinta itu akan hadir di antara kalian, apalagi jika kalian sudah punya anak," papar Suci sambil mengusap kepala Romeo yang duduk di sampingnya.
Romeo tetap diam menyimak kata-kata yang di ucapkan oleh mamanya.
Dengan lembut Suci merentangkan lengan tanganya meraih pundak Romeo.
"Rom, Mama baru saja dapat kabar bahagia dengan kehamilan kakak kamu, dan Mama berharap setelah menikah nanti, kamu juga bisa secepatnya memberi kabar bahagia yang sama," ungkap Suci.
Romeo bersandar pada bahu sang ibunda, ia memang bukan anak yang manja, tapi siapa yang bisa menolak sentuhan hangat penuh kasih sayang dari seorang ibu.
Suci meraih telapak tangan anaknya, dan mengusapnya dengan lembut.
"Mama ngak pernah berharap semua yang mama berikan kepada kamu, harus kamu balas, mama hanya ingin melihat kamu bahagia Rom, dan di hari tua Mama nanti, mama bisa beristirahat dengan tenang karna tak perlu lagi memikirkan tentang kamu Nak, Melihat putranya berumah tangga dan bahagia adalah impian setiap orang tua Rom, apalagi kamu putra mama satu-satunya," ucap Suci dengan lirih.
Titik air mata perlahan menetes di pipi wanita parohbaya yang masih terlihat muda dan cantik tersebut.
Romeo bangkit dan melihat kearah mamanya yang menitikan air mata.
"Kenapa harus menangis sih Ma?"tanya nya sambil menghapus air mata di pipi Suci.
"Bukan kah Romeo sudah melakukan apa yang mama inginkan, meski pun tak mudah, tapi Romeo sedang mencoba Ma, dan untuk membuka hati kepada seseorang itu butuh waktu Ma, ngak gampang,"
"Iya Nak, Mama mengerti paling tidak kamu sudah mencoba dan mama senang sekali, karna sebentar lagi mama akan kembali menerima menantu," ucap Suci dengan senyum cerianya.
Romeo membalas dengan senyum simpul.
__ADS_1
"Ma Romeo ke kamar ya, Mau istirahat," ucapnya yang memutus obrolan mereka. Romeo kemudian mencium pipi kanan dan kiri Suci secara bergantian.
Romeo beranjak dan kembali menuju kamarnya, Suci menyunggingkan senyum tipisnya saat menatapi kepergian putranya.
"Romeo...,tak terasa sekarang kamu sudah besar, padahal baru saja rasanya mama mengantar kamu saat kamu pertama masuk sekolah dasar, aku masih ingat di mana aku harus bolak-balik seminggu tiga kali di panggil pihak sekolah, karna kenakalan kamu Rom, dan tiba-tiba kamu sudah dewasa dan sebentar lagi akan menikah, " guman Suci yang tersenyum saat mengenang kenakalan putranya tersebut.
Romeo menghempaskan tubuhnya di kasur empuk beralas kain putih tersebut.
Tubuhnya terasa letih karna pikiranya yang masih saja galau, melihat Tari yang begitu tulus mencintainya, ia jadi semakin tak tega untuk menyakitinya.
Romeo terlentang sambil meliat langit-langit yang ada di kamarnya, mencoba untuk menutup mata.
Romeo membolak balikan tubuhnya untuk bisa terpejam, namun tak juga ia bisa terpejam, ia mengambil handphone nya di yang ada di atas nakas untuk memutar musik yang mungkin bisa menemaninya terlarut hingga ke alam mimpi.
Romeo terlentang dengan speker handphone di tepi telinganya, sebuah alunan musik dengan melodi indah menemaninya menutup mata.
🎶Tak pernah lepas kau dari ingatan ku,
Tak pernah bisa ...aku melupakan mu, ku jatuh cinta pada orang yang salah,.kau kekasih sahabat ku...
🎶🎶🎶
Rindu ku ini bagaikan di ujung hati,
Cinta ini bagai ilusi... yang tak bertepi
🎶🎶🎶
Cinta mengapa singgah di hatiku,
Kau salah memilih tempat dan waktu.
🎶🎶🎶🎶
🎶🎶🎶🎶🎶🎶
🎶🎶🎶
Oh cinta galau aku memiih...
Rasa aku atau sahabat ku, pantaskah aku mengabaikan rasa hati yang menangis menginginkanmu
🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶
🎶🎶🎶
Mendengar lagu tersebut justru membuat hatinya semakin tak tenang, ia membuka mata dan menuju pintu balkon kamarnya.
Romeo berdiri dengan tubuh bagian depannya bersandar pada pagar stainless steel, ia merogoh saku celana dan meraih sebungkus Rokok, kemudian menyalakan sebatang Rokok dan langsung menyesapnya.
Romeo menikmati racikan tembakau tersebut dengan menghisap dan mengeluarkan kepulan asapnya melalui hidung dan mulutnya.
Semilir angin malam yang tenang menemani nya, menikmati pantulan cahaya bulan purnama sambil melihat keadaan sekeliing.
Dengan beberapa kaleng minuman soda dan beberapa puntung rokok yang menyisakan filternya saja sisa yang terbuang.
Romeo menghabiskan malam panjangnya di bawah cahaya terang sang ratu malam.
Sepi menghiasi hatinya hanya lirik lirik lagu dan hembusan angin malam menemani kesendirianya.
Romeo duduk meringkuk menahan dingin angin malam yang menusuk hingga ke tulang.
__ADS_1
Meski waktu hampir dini hari, tapi ia tetap tak beranjak, malam semakin sunyi dengan hembusan angin yang semakin dingin menusuk hingga ketulang.
Satu tarikan panjang saat menghisap kepulan asap yang menuju paru-parunya berhasil membuat Romeo tersedak hingga batuk-batuk.
Seketika dadanya terasa panas hingga ia merasa sesak untuk beberapa saat.
Uhukk Uhukk,
Ia bergegas lari ke kamar mandinya untuk membuang dahak yang terasa masih menempel di tenggorokanya.
Uhuk...uhuk...Romeo batuk dan mengeluarkan sesuatu dari dalam tenggorokan nya yang ternyata adalah dahak bercampur darah.
Benda cair berwarna merah tersebut menyatu dengan cairan dahaknya.
Matanya membulat sempurna melihat apa yang baru saja di keluarkan dari dalam mulutnya tersebut
Meski masih syok, namun ia segera membersihkan tenggorokanya yang terasa sedikit kering tersebut dengan berkumur-kumur.
Romeo mencuci wajahnya dan membersihkan daerah sekitaran mulut.
Ia menatap dirinya pada cermin yang ada di wastafel.
"Ehm sepertinya loh benar-benar harus berhenti merokok Rom, jika umur loh mau panjang," gumannya ia pun kembali menuju tempat tidurnya.
Setelah mengganti pakainya, Romeo kembali keranjang dan menghempaskan tubuhnya,
Ia memaksa diri agar bisa secepatnya terlelap. hingga pukul dua tiga dini hari ia pun terlelap dengan sendirinya.
***
Bulan purnama masih menggantung anggun di langit malam yang semakin pekat.
Sang dewi malam menatap anggun bak lentera raksasa menerengi alam yang sunyi dan sepi.
Rembulan meredupkan sinarnya seolah menyanyikan senandung kesedihan di balik gumpalan awan yang menutupi nya kini.
Detik demi detik di lalui Aldi dengan kesendirian.
Hembusan sang bayu menyapanya ramah seolah bertanya apa yang membuatnya resah dan gundah gulana.
Aldi menatap langit yang bertabur cahaya bintang, ia menghitung hari untuk bertemu sang kekasih.
Dua hari sudah ia tak bertemu sang istri, seolah tak sabar menunggu datanngnya pagi, ia di tetap terpaku di sini dengan perasaan gelisah dan kerinduan yang memuncah.
Hari ini sidang Aira akan di gelar, itu bearti hari ini adalah hari keputusan apa kah Aira di nyatakan bersalah hingga sidang di lanjutkan atau ia di nyatakan bebas dari segala tuntutan.
Mata Aldi semakin sendu, ia pun menggelar tikar di balkon kamarnya,.sejak tak ada Aira di sisinya, Aldi tak pernah tidur di kasur super empuk dan nyaman tersebut.
Ia memilih tidur di balkon kamar di temani semilir angin sepoi- sepoi dan selimut tebal.
Hatinya menolak untuk tidur di ranjang emput tersebut, karna ia sendiri tahu jika sang istri saat ini hanya tidur di ubin dingin dan hanya beralaskan tikar.
Dingin semakin menerjabkan mata Aldi hingga membuat matanya lelah dan terlelap dengan sendirinya.
Bersambung dulu ya guys, mohon dukunganya untuk karya receh author ini
like
komen
vote
__ADS_1
hadiah