
Mobil Satria melaju membelah jalan Raya yang lenggang, sedari tadi ia hanya diam merenunggi apa yang telah terjadi di kehidupannya saat ini.
Satria sadar, polygami bukanlah hal yang mudah, hingga ia harus memilih satu diantara dua wanita yang begitu mencintainya.
Hati bukan lah sesuatu yang mudah untuk di bagi, akan ada yang merasa tidak adil dan merasa cemburu meski Satria telah berusaha berlaku adil.
Sebenarnya ia juga tak berniat menduakan atau pun menceraikan Rita, keadaan lah yang memaksanya untuk melakukan hal yang demikian.
Di dalam mobil Satria terlihat begitu gelisah, namun ia berusaha untuk tetap konsentrasi dalam berkendara.
Deru mobil melintas membelah jalan raya, dan di sampingnya kini ada wanita yang telah merelakan dua puluh lima tahun waktunya dihabiskan sebagai pendamping hidup dirinya.
Satria melirik Maya yang fokus menatap jalan raya yang sedikit lenggang, tiba-tiba saja Maya membuka suaranya memecah kesunyian diantara mereka.
"Pa,bagaimana keadaan mbak Rita?"tanya Maya ketika menyadari netra Satria melirik kearahnya.
Satria bungkam seribu bahasa, namun bulir bening perlahan menetes membasahi pelupuk matanya.
Satria buru-buru menghapus titik air matanya agar Maya tak menyadari jika hatinya saat itu sedang terluka.
"Pa, kenapa sih?"tanya Maya lirih, ia menangkap ada kesedihan yang terpancar dari wajah sang suami.
"Papa prihatin Ma, melihat keadaan Rita, keadaanya sungguh mengenaskan, papa sama sekali tak menyangka, jika seorang wanita kuat yang mampu menaklukkan dunia dengan prestasinya, kini justru terpuruk dan hanya bisa menghabiskan hari-harinya sebagai pasien rumah sakit jiwa,"papar Satria sambil mengedipkan matanya sekali, agar air mata tersebut tak lagi menggenang.
"Mama juga merasa prihatin Pa, tapi mama ngak bisa berbuat apa-apa selain mendoakanya, mama yakin jika Mbak Rita melihat mama, dia pasti akan mengamuk,"ungkap Maya.
"Papa mengerti Ma, hanya saja papa mengkwatirkan Aldi, apa yang akan papa katakan pada Aldi nanti, bagaimana reaksi Aldi jika tahu mamanya berada di rumah sakit jiwa." ungkap Satri sedih.
"Saran mama, sebaiknya tunggu sampai kesehatan Aldi pulih Pa, jangan beritahu apa pun tentang mbak Rita, mama yakin Aldi pasti sedih mendengar kabar ini, apalagi tiga bulan belakangan ini Aldi belum pernah sekalipun bertemu dengan mamanya."
"Iya Ma, menurut papa juga begitu," sahut Satria.
Beberapa lama dalam perjalanan akhirnya mereka pun sampai di rumah sakit.
Satria membawa tas yang berisi keperluan Aldi, ia juga membawa jus dari buah asli yang di buat sendiri oleh Maya.
Aldi kembali terlelap di tempat tidurnya sementara Aira, ia tetap setia berada di samping Aldi, mengusap rambutnya agar pria tersebut semakin lelap di buai mimpi.
Satria dan Maya mendekat kearah Aldi yang terbaring dengan mata terpejamnya, dengan hati-hati ia mengusap kepala Aldi kemudian mencium keningnya.
"Bagaimana kondisi Aldi, Aira?"tanya Satria sambil menarik kursi dengan pelan.
"Sudah mendingan Pa, hanya saja tubuhnya masih lemas dan mas Aldi juga sering merasakan sakit pada lambungnya."
"Besok akan di lakukan endescopi untuk melihat keadaan lambungnya," papar Aira.
Satria merasa iba melihat keadaan putranya tersebut, diraih jemari Aldi kemudian diusapnya lembut, ia merasa sangat khawatir dengan keadaan Aldi,
Ya Tuhan semoga racun tersebut tak sampai merusak organ dalam putraku,Aldi adalah korban dari perceraian ku dan Rita, hingga membuatnya harus kehilangan kasih sayang dari mamanya di usia remaja, apa yang terjadi jika Aldi mengetahui mamanya kini mengalami gangguan kejiwaan yang parah, berikan lah kesembuhan pada putra ku, serta kuatkan lah hatinya dalam menghadapi cobaan ini.
Bulir bening kembali menetes di pipi Satria, di perhatikanya wajah Aldi yang masih terlihat pucat tersebut, kemudian ia kembali mencium kening Aldi seraya mengusap rambut yang menempel di dahinya.
Air mata Satria menetes mengenai permukaan kulit Aldi, seketika itu dia tersadar.
"Papa, "sapa Aldi ketika melihat Satria berada di sampingnya.
"Kamu sudah sadar Nak, bagaimana? masih ada yang terasa sakit?"tanya Satria dengan penuh perhatian.
Aldi tersenyum simpul, "Papa tenang saja Pa, selama ada bidadari yang menjaga Aldi, Aldi akan baik-baik saja,"ucap Aldi seraya melirik kearah Aira.
"Iya Nak, Papa tahu kamu sedang berbahagia dengan pernikahan kamu, makanya Papa ingin kamu segera sembuh, untuk sementara jangan pikirkan sesuatu yang berat ya, kamu jaga kondisi kesehatan kamu,"papar Satria.
"Iya Pa, tapi ada satu hal yang membuat Aldi selalu gelisah hingga terbawa kealam mimpi," ujar Aldi.
"Apa itu Nak?"tanya Satria sambil menatap putranya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Aldi rindu sama Mama Pa, setiap hari Aldi selalu bermimpi tentang Mama, Aldi takut sesuatu yang buruk sedang terjadi pada Mama, Pa."ungkapnya dengan mata yang berembun
Satria menghela nafas panjang dan menghembuskannya dengan berat, kini semua menjadi dilema baginya, jika tidak memberi tahu keadaan Rita kepada Aldi, anaknya tersebut pasti tidak akan tenang, namun jika di beri tahu, kesehatan Aldi bisa kembali menurun.
"Aldi, kamu pikirkan saja kesehatan kamu, jika kamu sudah sembuh, baru kita cari mama kamu ya,"bujuk Satria.
Aldi terdiam beberapa saat, kemudian ia menggangguk, pertanda setuju dengan usulan Satria.
"Pa, boleh ngak Aldi minta satu hal, "ucap Aldi lirih.
"Apa itu Nak?"tanya Satria sambil mengusap kepala Aldi lembut.
__ADS_1
"Pa, tolong maafkan mama, dan Aldi juga mohon kepada Papa, agar papa menarik semua tuntutan hukum ke mama Pa," ucap Aldi sambil menitikan air matanya.
Satria terdiam sejenak, ia menundukan wajahnya seraya menghapus titik air mata yang perlahan menetes di pipinya.
"Pa, Aldi ngak bisa melihat mama menderita Pa, menyakiti mama sama saja menyakiti Aldi, Aldi tahu kesalahan mama sangat lah besar, tapi bukan kah di balik semua ini ada hikmah yang bisa kita ambil Pa," tutur Aldi dengan mata yang berkaca-kaca.
"Pa, kita pernah jadi satu keluarga dan Mama pernah jadi bagian dari hidup Papa, semua sudah berlalu pa, Aldi harap masalah ini jangan sampai membuat mama menghindar dari Aldi Pa, Aldi kangen sama Mama Pa, Aldi sangan rindu untuk bertemu dengan Mama, " ucapnya dengan air mata yang berlinang.
Tak hanya Satria, semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut ikut haru, termasuk Maya dan Tari.
Maya mendekati Aldi dan mengusap kepalanya, "Kamu tenang saja Aldi, Kami semua sudah berlapang dada untuk memaafkan mama kamu, yang terpenting sekarang kamu jaga kesehatan kamu ya."
"Banyak orang yang menyayangi dan mengkhawatirkan kamu Nak, termasuk Bunda dan kedua saudara kamu, kita adalah satu keluarga, kesedihan kamu juga akan jadi kesedihan bagi kami, kamu ngak usah sungkan meminta sesuatu dari Bunda Aldi, karna dari dulu sampai saat ini bunda selalu menyayangi kamu, sama seperti bunda menyayangi Heru dan Tari," ucap Maya.
Iya pun mencium kening Aldi.
Aldi tersenyum, "Terima kasih bunda, semoga saja Aldi segera bisa bertemu dengan Mama,"ucap Aldi bahagia.
"Iya Nak," balas Maya sambil mengusap kepala Aldi.
Maya menjauh perlahan dari Aldi karna ia pun tak bisa membayangkan apa yang terjadi pada Aldi jika ia mengetahui jika Rita kini menderita gangguan jiwa.
Setelah beberapa jam menemani Aldi mereka memutuskan untuk pulang.
Satria dan Maya pamit pulang, kini hanya tinggal mereka bertiga, Tari,Aira dan Aldi, sementara Heru dan Tari akan bergiliran untuk menemani Aldi.
Sementara Aldi kembali terlelap, ia memang butuh banyak istirahat untuk memulihkan kondisinya.
"Aira, gue lagi gabut nih, enaknya kita makan apa ya, gue laper nih?"tanyanya pada Aira.
"Entalah mbak, Aira mana ada selera untuk makan melihat suami Aira hanya bisa makan bubur dan jus buah saja," sahut Aira.
"Iya Aira, tapi kamu juga harus jaga kesehatan, kamu lihatkan betapa Aldi mengkhawatirkan kamu,"saran Tari.
"Ya sudah,.mbak pesan capchai sama tongseng saja ya," ucap nya sambil memasan makanan lewat aplikasi online nya.
"Terserah mbak saja,deh."cetus Aira.
"Udah mbak pesan Aira, tinggal nunggu pesanan datang."
Tak lama berselang, seseorang mengedor pintu ruang perawatan Aldi.
"Masa'sih cepet banget," ucap Tari seraya berdiri dan berjalan mendekati pintu kemudian membukanya.
Tari merasa syok ketika melihat seseorang yang memegang rangkaian bunga berada di hadapannya.
"Permisi, bisa bertemu dengan mbak mentari ?"tanya kurir tersebut.
"Iya dengan saya sendiri," ucap Tari.
"Oh dengan mbak Mentari sendiri, maaf Mbak ini ada kiriman bunga untuk mbak Mentari, mohon di terima dan di tandatangi tanda terimanya," ucap kurir tersebut.
"Ini kiriman bunga dari siapa ya?"tanya Tari kepada kurir tersebut.
"Ehm, lihat saja mbak, mungkin ada kartu ucapan dan nama pengirimimnya", ucap kurir tersebut.
Tari masih melongo, matanya terus menatap kearah bouget bunga mawar dengan hiasan baby breath, sebagai pemanisnya.
Tari meraih bunga tersebut dalam keadaan syok sekaligus terharu.
Baru kali ini ia mendapat kiriman bunga.
Setelah menandatangai tanda terima, kurir tersebut pun pergi seraya mengucapkan terima kasih.
Dengan perasaan yang tak menentu, Tari membawa bouquet yang lumayan besar tersebut dan membawanya masuk.
"Dari siapa ya?"Tari memeriksa kartu yang berwarna merah hati yang menggantung di bouget tersebut.
Perhatian Aira tertuju pada Tari dengan bouget bunga besar yang ada di genggamannya.
"Wah, bang Romeo romantis juga ya mbak, belum sehari ngak bertemu, udah kirim-kirim bunga saja, Aira jadi iri," cetus Aira menggoda Tari.
"Ehm, sepertinya bukan dari Romeo Aira,: guman Tari sambil menelisik kartu ucapan yang menggantung di bouaet tersebut.
Yang tercantik, Mentari Senja Adinda prawesti.
Sudah lama aku memendam rasa ini, namun selalu ragu untuk ku mengatakan, sikaf mu yang acu membuat bibir ku membisu, matamu yang tajam membuka lidah ku merasa keluh, sebelumnya aku tak pernah yakin akan perasaan ini, tapi sekarang aku sedang mencoba menggungkapkan, perasaan ku dari hati yang terdalam, jika aku mencintai mu, salam cinta dari ku, Sandy.
__ADS_1
Bibir Tari komat kamit membaca isi dari kartu ucapan tersebut, seketika matanya kembali membulat sempurna melihat nama dari si pengirim bunga.
"Hah Sandy?"guman Tari.
"Siapa Sandy Mbak?"tanya Aira penasaran.
Aira menghitung kutum bunga yang ada di bouaet tersebut dan semuanya berjumlah dua puluh dua.
"Waw, dua puluh dua kuntum bunga mbak apa artinya?"tanya Aira sambil menyeritkan kening.
"Ehm, Dua puluh dua, bukannya umur gue saat ini?"guman Tari lagi.
"Ehm, ayo! Mbak Tari punya secret admired ya?"tanya Aira lagi.
"Ehm, Sandy itu kakak kelas gue, baru tadi pagi gue ketemu dia, penampilanya berubah baget Aira, dulu dia itu cupu banget, iya dulu dia memang suka dekatin gue, tapi gue ngak suka sama dia, eh sekarang dia jadi seorang dokter, mana ganteng lagi," ucap Tari sambil meletakan bunga tersebut di atas sofa.
"Wah, baru saja dua hari menikah, bang Romeo udah punya rival saja," ucap Aira sambil duduk di dekat Tari.
"Rival apanya, palingan Romeo cuek bebek aja, mbak rasa dia juga ngak peduli dengan mbak Aira" cetus Tari.
"Ihs kok ngomong gitu sih? emangnya ada apa sih mbak, kok bisa ngomong seperti itu "tanya Aira.
"Kasih tau ngak ya?"guman Tari.
"Kasih tahu dong mbak, sama siapa lagi mbak Tari sharing kalau bukan sama Aira," bujuknya.
"Ih iya deh,"Tari pasrah ia pun kembali duduk di samping Aira.
"Mbak kesel Aira, Masak selama ini mbak Tari yang harus minta duluan ke Romeo," dengusnya.
"Hah minta apaan Mbak?" tanya Aira sambil tersenyum simpul.
"Ish kamu pura-pura ngak tahu aja," dengusnya.
Aira mengulum senyum menahan tawanya melihat kepolosan Tari.
"Ehm, kalian itu baru saja menikah, mungkin bang Romeo masih malu kali," ucap Aira di iringi tawa kecil.
"Romeo malu? setahu gue dia itu orang yang punya malu deh, tapi kenapa sejak dengan gue dia jadi pendiam ya?"
Aira mengangkat kedua pundaknya, "Mungkin hanya mbak Tari yang bisa merubah sikaf bang Romeo," sahutnya.
"Iya, tapi kalau dia diam gitukan, gue ngak tahu maunya apa," dengus Tari.
"Ah, kalau mbak ingin tahu perasaan bang Romeo, kenapa mbak ngak coba bikin dia cemburu saja sih, lihat bagaimana reaksinya jika bang Romeo tahu kalau mbak memiliki pengagum rahasia,"saran Aira.
"Ehm gitu ya?"
" Tapi ngak lah, biarin saja Aira, ntar malah merusak hubungan rumah tangga kami, mana susah lagi mendapatkannya"
" Ya terserah mbak lah, Aira yakin kok, bang Romeo sayang banget dengan mbak Tari,cuma dia ngak tahu saja cara mengungkapkannya." papar Aira.
Tak lama berselang, Romeo datang dengan menenteng sesuatu.
"Nih Tar, gue bawa ini untuk kalian," ucap Romeo sambil menyodorkan dua bungkusan.
Tari menyambut bungkusan tersebut kemudian melihat apa yang di bawa Romeo.
"Tongseng! kok loh tahu Rom, gue lagi pingin makan tongseng?"tanya Tari bahagia.
"Ehm, masak, ngak tahu juga gue, tapd gue lihat ada yang jual tongseng, jadi gue beli saja buat kalian berdua," sahut Romeo enteng.
"Ehm, tuh kan udah sehati, bang Romeo kok bisa tahu kalau mbak Tari pengen makan tongseng, atau jangan-jangan mbak Tari lagi proses ngidam kali," ucap Aira sedikit berbisik ketelinga Tari.
"Hm, semoga saja Aira, siapa tahu kalau mbak hamil, sikaf Romeo bisa berubah terhadap mbak,"balas Tari.
Romeo merebahkan bokongnya di atas sofa empuk ia menyandarkan bahunya seraya melonggarkan dasinya.
Matanya tertarik pada buket bunga yang terletak diatas meja.
Romeo memajukan tubuhnya agar bisa mengjangkau buket tersebut, kemudian tanpa sengaja ia melihat kartu yang menggantung di buket tersebut.
Romeo pun membacanya karna melihat nama si penerima yang ternyata adalah istrinya.
Dengan serius, ia membaca, bait demi bait puisi yang dikirim seseorang untuk istrinya,setelah selesai membaca puisi tersebut, mata Romeo pun beralih memicing kearah Tari yang sedang sibuk menyajikan makanan, kemudian ia meletakan bunga tersebut kembali ke tempat semulanya.
Wah apa yang terjadi selanjutnya ya?
__ADS_1
Ditunggu ya dukungannya reader,like komen, vote dan yg lainya ðŸ˜ðŸ˜.