
*Hampa hati mendekap waktu,
Menelisik langit biru yang perlahan mengabu,
Mencintai mu bukan lah sesuatu yang terencanakan, dan kehilangan mu adalah sesuatu yang tak pernah ku harapkan.
Kau dan aku sesuatu yang berbeda, tapi kita punya tujuan dan mimpi yang sama,
Bangkitlah sayang, aku menunggu mu di sini, dengan segenap rasa yang tak lagi bersisa, kehadiranmu bak mentari yang menyinari dunia.
Kau adalah...
Bintang yang paling terang,
Purnama di kala gelapnya malam,
Udara yang membuat ku bernafas,
Dan jantung yang berdetak hingga membuat ku tetap hidup.
Kau adalah segala yang ku pikirkan dan yang ku inginkan,*Puisi by: Author meylani putri, pontianak 18-nov-2021.
Aldi tersadar karna merasakan sakit pada bagian perutnya.
Es,
"Aw, kenapa perut ku terasa pedih?"Aldi.
"Kenapa Di?"tanya Heru yang saat itu berada di samping Aldi.
"Kenapa perut ku terasa sakit Mas?"tanya Aldi yang meraba bagian perutnya.
Aira yang baru saja keluar dari kamar buru-buru menghampirinya, ia sudah menyiapkan baskom yang berisi air hangat untuk menyeka Aldi.
"Ada apa Mas?"tanya Aira menghampirinya dengan tergesa-gesa.
"Perut mas Aldi sakit sekali Aira," keluh Aldi sambil menyentuh bagian perutnya.
"Aira panggil suster ya Mas, "ucap Aira sambil menekan tombol merah pada panel yang ada di dinding di atas nakas.
Aira mendekatkan baskom ke tempat tidur Aldi.
"Mas Aldi, Aira lap tubuhnya dulu,biar segar," ucap Aira.
Aldi pun setuju dengan mengganggukan kepalanya.
Aira membuka penutup bagian atas tubuh Aldi, kemudian ia membasahi handuk kecil dan menyeka keseluruh tubuh Aldi, di mulai dari wajah turun hingga kebawah.
Aira merasa sedih saat melihat wajah suaminya yang masih terlihat pucat, dengan lembut ia menyapu kain tersebut pada wajah Aldi seraya mencium pipinya.
Aldi hanya tersenyum, "Terima kasih sayang,"ucap Aldi lirih.
Aira hanya membalas dengan senyuman kearah Aldi.
Setelah menyeka dan mengeringkan tubuh Aldi, Aira juga menabur baby powder keseluruh tubuhnya hingga membuatnya merasa segar kembali.
Setelah itu Aira kembali ke kamar mandi untuk menyimpan baskom.
Suster datang hampir bersamaan dengan datangnya Romeo dan juga Tari.
Suster tersebut langsung menanyakan keluhan Aldi.
"Sakit di mana Mas?"tanya suster tersebut
"Sakit di bagian perut Sus, "jawab Aldi.
"Oh itu mungkin asam lambung naik, karna kemaren kami memasukan selang dari hidung hingga lambung anda untuk mengeluarkan sisa racun, jadi untuk sementara makan bubur saja ya," ucap suster tersebut yang kemudian berlalu dari mereka.
"Nah kebetulan Di, gue bawa bubur ayam untuk loh, " ucap Tari sambil menyodorkan bunguksan yang terbuat dari Styrofoam.
Dengan tangan yang masih gemetar Aldi meraih bungkusan Tari, tapi di tarik Tari kembali.
"Ehs, bilang apa dulu," ucap Tari sambil menggantung isi bungkusan dengan jari tengahnya.
"Iya, terima kasih Tari, "ucap Aldi ketus.
__ADS_1
"Bukan! Salah!" Sanggah Tari.
"Uh ribet banget sih, loh iklas ngak sih?"gerutu Aldi.
"He he iklas, tapi loh harus bilang gue cantik dulu, he he,"Ucapnya sambil cengengesan.
"Dasar haus pujian," dengus Romeo sambil melirik ke Tari.
"Biarin, loh juga ngak pernah muji gue," sahutnya.
"Iya, akak cantek, akak cantek, akak kite orang paling can...tek...," ucap Aldi dengan menirukan gaya kartun upin-ipin namun dengan nada ketus.
He he he, hm
"Eh bagus,"ucap Tari dengan senyum sumringah, ia pun membuka bungkusan tersebut.
Romeo juga menyerahkan tentengangan berupa sarapan mereka.
"Nih mas," sarapannya, ucap Romeo sambil menyodorkan bungkusan tersebut kepada Heru dan Aira.
"Yuk kita sarapan," ucap Heru, mereka pun membuka bungkusan mereka masing-masing seraya duduk bersila di lantai, kecuali Tari dan Aira.
"Aira, kamu sarapan saja, biar mbak yang menyuapkan Aldi," ujar Tari.
"Ehm,tapi mbak?"
"Sudahlah kamu dari kemaren belum makan, kamu juga terkena racun itukan? jadi ada baiknya kamu isi perut kamu dulu," sela Tari.
Aldi menoleh kearah Aira, "Kamu juga terkena racun itu sayang?"tanya Aldi yang khawatir.
Aira tak menjawab, ia hanya melihat kearah Aldi, kemudian tertunduk lagi.
"Iya Di, waktu melihat kamu pingsan karna keracunan, tanpa ragu Aira menghisap udara dalam mulut kamu, hingga kamu memuntahkan racun tersebut, dan itu dilakukan secara terus menerus oleh Aira, hingga kami membawanya kamu ke klinik" papar Tari.
Aldi kembali melirik Aira, ditariknya tangan Aira kemudian di rangkulnya tubuh istrinya tersebut lalu di peluknya dengan erat.
"Apa pun yang terjadi, kamu ngak boleh membahayakan diri kamu lagi ya, sayang, mas Aldi ngak bisa membayang apa jadinya mas Aldi, seandainya terjadi sesuatu sama kamu,"ucap Aldi sambil mencium pucuk kepala Aira lekat.
Aira menggangguk seraya melempar senyum kearah Aldi dan membalas dengan mencium pipi kiri Aldi.
"Makanya, mas Harus hati-hati, Aira akan lakukan segala cara, yang penting mas Aldi selamat, " balas Aira.
"Mas, di era modern ini gampang sekali menyadap nomor telpon seseorang, jadi mungkin ini sudah di rencanakan mereka dengan matang sebelumnya."
"Gadis itu ternyata berniat mencelakai mas Aldi," dengus Aira.
"Iya, kamu tenang saja, mas ngak akan tinggal diam, mas akan usut kasus ini sampai tuntas." Aldi.
Ehm,
"Kamu makan dulu ya, biar saja Tari yang menyuapi mas Aldi, itung-itung untuk menebus dosanya sama mas Aldi,"ucap Aldi sambil tersenyum kearah Tari dengan maksud bercanda.
"Ih, Dosa apaan, ini gue lagi baik aja karna loh udah bilang gue cantik barusan," sanggah Tari sambil mengaduk bubur ayam tersebut agar tercampur rata.
Aira menggangguk, tubuhnya memang terasa lemas, karna dari kemaren ia juga belum makan.
Aira pun bergabung bersama Heru dan Romeo yang duduk bersila di atas lantai.
Tari menyendok bubur kearah mulut Aldi dan saat Aldi menganga, ia menahan kembali suapanya," Eh sebelum makan loh bilang gue cantik dulu," ujar Tari dengan tawa terkekehnya.
Aldi mengkerucutkan bibirnya, "Iya loh cantik, " ucap Aldi dengan terpaksa.
"Bagus!"sahut Tari sambil menyuap bubur tersebut kemulut Aldi.
"Maksa banget sih loh,"dengus Aldi sambil menelan bubur yang ada di mulutnya.
"He he, suka-suka gue,"selorohnya.
Sementara mereka bertiga hanya menggelengkan kepalanya mendengar keduanya bercanda.
" Nih makan lagi, loh harus cepat sehat Di, kasihan Aira," ucap Tari sambil menyuap bubur kemulut Aldi hingga habis.
"Iya, mana ada orang yang betah sakit, gimana sih loh," sahut Aldi.
"Mereka berdua emang ngak pernah akur ya?"tanya Romeo di sela-sela makan nya.
__ADS_1
"Ngak pernah Bang, berantem terus, "sahut Aira.
***
Setelah selesai sarapan, Tari mengantar Romeo hingga ke mobil.
"Rom, pulang kerja loh langsung jemput gue ya!" Tari.
"Iya, udah dua kali loh ngasih tau gue," sahut Romeo sambil membuka pintu mobilnya.
"Awas loh nakal di tempat kerja ya!" Ancam Tari.
"Ehm, jangan sampai deh, jangan sampai ketahuan," sahut Romeo ketus.
"Ihs, sampai ketahuan selingkuh, gue hancurin tulang tuh perempuan," ucapnya seraya mengacungkan kepakan tanganya kearah Romeo.
"Iya, ngak berani, udah gue jalan dulu," ucap Romeo sambil melaju keluar dari halaman parkir.
Setelah jejak suaminya tak terlihat lagi, Tari memutuskan untuk kembali ke ruang perawatan Aldi.
Tari berjalan berlenggok melewati koridor rumah sakit, dan tiba-tiba saja langkahnya tertahan ketika mendengar seseorang memanggilnya.
"Mentari!" seorang pria berjas putih menghampirinya.
Tari berhenti kemudian menoleh asal suara yang memanggilnya tersebut.
"Sandy, kamu jadi doter disini?"tanya Tari ketika melihat nametag di dada sebelah kirinya.
dr, Sandy Ryansyah.
"Iya, aku salah seorang dokter disini, kamu apa kabar?"tanya Sandy sambil mengulurkan tangan kearah Tari.
Tari menyambut uluran tangan Sandy.
"Baik,"
"Kamu dokter umum atau spesialis?"tanya Tari ketika mereka berjalan beriringan.
"Ehm dokter spesialis, spesialis bedah, "ucap Sandy sambil tersenyum simpul kearah Tari.
"Eh, spesialis bedah, bedah apa?"tanya Tari serius.
"Spesialis bedah hati kamu, " sahut Sandi sambil melempar senyum dengan sejuta makna.
"Ehm, bisa saja," ucap Tari sambil menggaruk garuk kepalanya yang tak gatal.
"Kamu makin cantik saja, Tar," cetus Sandy sambil menatap Tari dengan tatapan yang tak dapat diartikan dengan kata-kata.
Ehm, Tari pun sedikit menunduk karna malu.
Tari semakin salah tingkah, ia mencari cara agar tak terlihat baper di depan dokter muda yang ganteng tersebut.
"Kamu sudah berkeluarga San?"tanya Tari mengalihkan pembicaraan.
"Hah menikah, aku baru saja lulus dari universitas kedokteran setelah satu tahun mengambil program profesi kedokteran," paparnya.
"Aku juga nungguin kamu, semoga saja belum terlambat," timpal Sandy dengan nada serius.
Akh, ehm, Tari semakin gelalapan mendengar ucapan dari Sandy, ia tahu kemana arah pembicaraan mereka selanjutnya.
Tak ingin berlama-lama dengan dokter muda tersebut, Tari memutuskan untuk menghindarinya.
"Ehm, San, gue duluan ya,"ucapnya sambil mempercepat langkahnya.
"Eh Tar,tunggu dulu, kamu disini ada keperluan apa?"tanya Sandy sambil menarik tangan Tari.
"Eh, adik gue di rawat di sini," sahutnya singgkat.
"Di ruangan apa?"tanya Sandy lagi.
"Ehm, VVIP lantai 3, sudah dulu ya, " ucap Tari sambil menepis pelan tangan Sandy.
Sandy membiarkan Tari berlalu darinya seraya menatap punggung Tari yang menghilang di balik lift.
"Hm, ruang VVIP? apa orang tua Tari sekaya itu, perasaan gue, bokapnya cuma karyawan swasta, nyokapnya bidan, tapi kok_,"
__ADS_1
"Ya sudalah, kali ini gue harus berusaha lebih keras lagi untuk mendapat kan hatinya, huh, apa pun yang terjadi, walau badai menghadang, Mentari harus jadi milik gue," gumanya sambil tersenyum.
Autor up dikit dulu ya, tetap tinggalkan jejak, like, komentar, hadiah dan votenya.