
Bebera jam yang lalu,
Clarisa membuka pintu kamar apartemen karna mengira Heru kembali untuk menemuinya.
Klik, Pintu terbuka otomatis, mata Clarisa membulat dengan sempurna melihat lelaki yang ada du hadapannya saat itu.
"Mas Ghani,"ucap Clarisa dengan sangat lirih.
Detak jantungnya berdetak kencang, seketika rasa takut mulai menghampirinya, Clarisa sempat tak bergerak dalam beberapa saat lamanya.
"Tol_" Clarisa mencoba berteriak namun tanganya di bungkam oleh tangan lelaki kekar tersebut.
Dhani membekat mulut Clarisa seraya menarik tubuhnya masuk kedalam kamar, dan pintu pun tertutup secara otomatis.
Clarisa berusaha memberontak, agar Dhani melepaskan cengkramanya.
Dhani yang emosi langsung menghempas tubuh Clarisa di atas sofa.
Bruk.
"Akh!" Clarisa meringis ia menahan sakot pada area bokongnya yang terhempas, belum sempat Clarisa bangkit.
Dhani kebali menampar pipinya hingga membuat Clarisa kebali terhuyung.
"Akh, ampun mas," ringis Clarisa seraya menyentuh pipinya yang terasa pedas.
"Beraninya kau berselingkuh dengan lelaki lain, di belakang ku!" Dhani meradang ia pun mencekik leher Clarisa.
"Ammmpun Mas," Clarisa meronta berusa melepaskan jerat yang mencekik lehernya, namun tanganya tak berdaya.
"Perempuan seperti mu pantas mati! aku sudah membantu keluarga mu dari kebangkrutan, sekarang kau malah berkhianat pada ku," ucapnya seraya mencekik lebih kuat.
"Tolllong lepaaas kan Mas, "pinta Clarisa, wajahnya sedikit membiru.
Melihat wajah Clarisa yang membiru ia pun melepaskan Clarisa.
"Miranda," ucap Dhani ketika melihat Clarisa berupaya mencari napasnya.
Dhani menggangkat tubuh Clarisa,"Miranda maafkan aku, aku terlalu mencintaimu hingga aku menjadi cemburu, aku tak terima jika kau mencintai pria lain," ucapnya seraya memeluk tubuh Clarisa yang tak berdaya.
Dhani pun menangis, memeluk istrinya.
"Aku mencintai mu Miranda, sangat mencintaimu," ucapnya menangis terisak.
"Mas jika kau mencintaiku, tolong lepaskan aku, biarkan aku memilih jalan hidupku sendiri," pinta Clarisa mengiba.
__ADS_1
"Apa?!jika aku tak bisa memiliki mu, maka tak ada satupun yang bisa memiliki mu," ucap Dhani.
"Kau mencintai pria itu kan? dia yang bernama Heru? namanya selalu ada di buku diarymu kan? kenapa kau tak bisa menerima ku sebagai suami mu?! kenapa?!" teriak Dhani.
"Iya Mas, aku mencintainya, kami sudah lama saling mencintai sejak masa SMA, maaf Mas aku sudah berusaha untuk mencintai mu, tapi aku tak bisa," ucap Clarisa.
Clarisa berharap jika ia jujur dengan perasaanya saat itu, Dhani bisa mengerti dan melepaskanya, tapi bukanya merasa iba, Dhani justru semakin berang dengan ungkapan Clarisa.
Bola mata Dhani memerah, tatapanya tajam kearah depan," Baiklah, akan ku habisi saja mantan pacar mu itu, "ucap Dhani bangkit, seraya melepaskan cengramannya pada Clarisa.
Dhani terlihat emosi tatapan matanya nanar, ia pun bermaksud segera menghampiri Heru dan menghabisinya.
Tunggu Mas, jangan sakiti Heru Mas!" Clarisa bangkit untuk mengejar Dhani, ia pun menarik tangan Dhani agar bisa menahanya.
"Lepaskan!" Dhani menepis tangan Clarisa, ia tetap berkekad menghabisi Heru.
"Tolong Mas jangan sakiti Heru Mas, dia tak tahu menahu, dia hanya membantuku karna aku yang menemuinya dan memunta bantuan padanya," ucap Clarisa seraya memeluk Dhani agar tak mengejar Heru.
Clarisa memohon sambil menangis, namun Dhani merasa semakin emosi, ia pun mendorong tubuh Clarisa sekuat tenaganya, hingga Claris jatuh terlentang di atas lantai.
Bruk
"Akh !"Clarisa menjerit menahan sakit pada kepala dan bokongnya, ia pun mulai merasakan sakit pada bagian perutnya, tak tahan menahan semua itu, seketika itu Clarisa pingsan.
Karna tak bereaksi, Dhani menjadi semakin kalab, ia mengira jika Clarisa telah mati.
"Sialan!" bagaimana ini," Miranda, Miranda bangun." Dhani masih berupa menyadarkan Clarisa, namun Clarisa tetap tak bereaksi.
"Jika dia mati aku akan di penjara, sebaiknya aku kabur melarikan diri saja,." Dhani bermonolog, setelah mondar-mandir di depan tubuh Clarisa yang tergeletak, Dhani akhir memutuskan untuk melarikan diri.
Miranda maafkan aku, aku harus pergi, aku tak ingin di penjara seumur hidupku," ucap Dhani kemudian ia keluar dari pintu apartemen dan membiarkan Clarisa dalam keadaan kritis tanpa pertolongan medis.
Dhani mengemudikan mobilnya melaju dan melesat cepat, ia pun langsung menuju jalan trans antar propinsi.
***
Petugas pengelola apartemen segera menghubungi pihak berwajib, mereka pun mencari bukti melalu rekaman CCTV yang terpasang sepanjang koridor apartement.
Ambulan tiba beberapa saat kemudian, mereka pun membawa tubuh Clarisa.
"Clarisa bangun Clarisa!" ucap Heru seraya meraih jemari Clarisa dan menciumnya.
"Clarisa, maafkan aku, harusnya aku tak meninggalkan mu seorang diri, aku tak menyangka jika itu adalah pelukan perpisahan kita," ucap Heru dengan sisa tangisan terisaknya.
"Clarisa, aku mohon sadarlah, demi aku, demi cinta kita, aku berjanji akan menerima mu apa adanya," ucap Heru seraya menggenggam erat tangan Clarisa, ia pun menangis terisak.
__ADS_1
Di dalam mobil tersebut, Heru tanpa sungkan mencium dan memeluk Clarisa, ia baru tahu rasanya kehilangan orang yang ia cintai.
"Clarisa, bicara lah padaku sekali lagi," pinta Heru seraya mengguncang tubuh Clarisa, ia pun menangis, memeluk Clarisa.
Tiba-tiba Clarisa menggerakan tanganya kembali.
Heru pun beralih menatap Clarisa, "Hisk, hiks..hiks.., Clarisa kau sadar?" tanya Heru, ia pun menghapus titik air matanya.
"Heru say...ang ku, aku har...ap kau mengikl...askan kepergianku, aku ingin pergi..dengan tenang, Heru..sean..dai..nya tu..han..mengijinkan..boleh..kah aku menunggumu di kehidupan yang...abadi?" tanyanya terbata-bata, mata Clatisa sudah turun naik, mungkin saat itu malaikat mau sedang mencabut rohnya.
Iya Clarisa, tunggulah aku disana," sahut Heru," Aku iklaskan kau pergi."
hiks hiks hiks
"Aku menci...ntai mu Heru, biar...lah ..cinta ini ku ba..wa mati, " ucap Clarisa dengan nafas yang tersengal di kerongkonga.
Aku juga mencintaimu Clarisa, ucap Heru seraya menangis.
Clarisa, meraih wajah Heru dan menyentuhnya.
"Aku pamit Heru." Clarisa menghembus napas terakhirnya, seiring ia menutup matanya untuk terakhir kalinya, wajahnya terlihat bahagia karna pergi dengan damai di samping pria yang ia cintai.
"Clarisa!" teriak Heru seraya menangis.
Petugas medis yang berada bersama mereka pun memeriksa denyut nadi Clarisa.
" Innalilahi Wainnalilahi Rojiun, dia sudah meninggal, "ucap perawat tersebut seraya meletakan kedua tangan Clarissa di atas perutnya.
"Clarisa! "Heru tak bisa membendung kesedihannya, ia pun terus menangis seraya memeluk tubuh Clarisa untuk terakhir kali.
Clarisa pergi untuk selama-lamanya.
Sementara itu.
Dhani membawa laju mobilnya menuju jalan lintas propinsi, ia begitu merasa bersalah pada Clarisa karna meninggalkan nya sendiri.
"Maafkan aku miranda, maafkan aku," ucap Dhani sambil menghapus titik air matanya.
Dhani menambah laju kecepatan mobilnya, ia sudah tak konsentrasi dalam menyetir karna perasaan bersalah terus menghantuinya.
Dalam keadaan laju tiba-tiba saja di depannya, ada mobil container yang menyalip, Dhani berusaha menekan kelajuanya dengan mengerem mendadak, namun karna kendaraan tersebut sangat laju mobil pun terguling guling, dan kemudian menghantam pemnatas jalan.
Tubuh Dhani terhempas kemudian tertimpa bodi mobil yang penyok, Dhani pun seketika itu menghembuskan napas terakhirnya.
Bersambung minta dukungannya dong reader
__ADS_1