
Tari sedang mempersiapkan makan malam untuk dirinya dan Romeo namun tiba ia merasakan sakit pada pinggangnya.
Tari menarik napas panjang ia pun menhelanya dengan berat, sembari mendaratkan bokongnya diatas kursi.
Dengan perutnya yang sudah mulai membesar, ia sering merasa sakit pinggang jika ia terlalu lelah atau pun terlalu lama berdiri.
Apalagi sejak mereka pindah dari rumah tersebut beberapa hari yang lalu, sebagai seorang istri Tari harus siap menjalani kehidupan sederhananya bersama sang suami.
Tak ada pembatu yang akan membantu pekerjaan rumahnya, semua harus di lakukanya sendiri.
Untung saja Romeo mengerti keadaanya, ia tak pernah mencuci pakaian dan melakukan hal yang berat lainya, setelah pulang bekerja, Romeo selalu membantunya mencuci pakaian mereka.
Air mata Tari menetes ketika ia mengupas kulit bawang, hidungnya pun meleleh akibat sensasi pedas yang ia rasakan melalui hidung dan matanya.
Trutt tut..
Suara klakson mobil Romeo, secepatnya Tari menghapus air matanya dan bergegas membuka pintu untuk suaminya.
Krek....pintu di buka oleh Tari, Romeo yang berada di muka pintu heran melihat mata dan hidung Tari yang memerah.
"Kamu kenapa Tar?"tanya Romeo seraya menilik wajah Tari yang tertunduk.
"Kamu nangis?"tanya Romeo.
"Ngak kok, mata ku pedih karna mengupas bawang," jawabnya.
"Ehm, Ya sudah, kamu mandi saja," ujar Romeo yang langsung masuk kedalam rumah mereka.
"Nanti saja, aku masak dulu,"sahut Tari seraya menyapu matanya dengan tissu.
"Ngak usah masak, karna hari ini aku gajian, aku mau ngajak kamu makan diluar," ucap Romeo seraya membuka pakaian kerjanya.
Tari mendekati Romeo,"Kamu juga mau mandikan? Kalau gitu sekalian saja, aku juga mau di mandikan sama kamu, " tuturnya sambil melingkarkan lenganya keleher Romeo.
"Jangan ngaco kamu, rumah kita ngak ada bathubnya."
"Ya sudah, setor tunainya di sini saja," ucap Tari seraya menyunggingkan senyum mesumnya.
"Dasar modus!"dengus seraya tersemnyum simpul, ia mengerti apa yang di inginkan istrinya.
Romeo menarik pelan lengan Tari, kemudian langsung merebahkan tubuh Tari di atas tempat tidur.
Romeo melepas pakaian yang menutupi tubuh istrinya sampai polos.
Dengan lembut ia mendarakan kecupan pada perut buncit sang istri.
"Papa jenguk lagi ya dek," ucapnya kemudian melepaskan penutup akhir tubuhnya.
"Iya papa peyan-peyan ya papa," sahut Tari dengan nada bicara cadel.
Romeo pun tersenyum, seraya menggelengkan kepalanya.
Tubuh Romeo sudah berada di atas tubuh Tari, dengan lembut ia memulai kecupanya pada kening Tari seraya memasukan benda pusakanya kedalam lubang sempit milik istrinya.
Tari memejamkan mata menikamati permainan Romeo yang slow motion tersebut.
Dengan teratur senjata Romeo bergerak keluar masuk dari lubang yang selalu terasa hangat dan sempit, meski hampir tiap hari di terobos dengan senjata miliknya.
Suara lengkuhan dan ******* pun terdengar lirih sepanjang permainan mereka.
Tari menyapu lembut lengan dan bahu sang suami, saat Romeo bergerak turun naik di atas tubuhnya.
Sebuah senyuman kebanggaan dan kebahagian terbit di bibir Tari saat melihat ekspresi kepuasan pada wajah Romeo.
Satu lengkuhan keluar dari mulut Romeo ketika ia kembali menyemprotkan kembali larva hangatnya kedalam rahim sang istri.
Romeo menarik senjatanya seraya mencium perut sang istri dengan lembut, kemudian ia merebahkan tubuhnya di samping sang istri.
__ADS_1
Tari memiringkan tubuhnya menghadap Romeo, dengan lembut ia menyapu keringat yang membasahi kening sang Suami.
"Rom, sebentar lagi kandungan ku sudah berusia tujuh bulan, apa kamu sudah mempersiapkan nama untuk calon putra kita?"tanya Tari seraya menyapu keringat pada wajah Romeo.
"Belum Tar,.kita minta saran dari orang tua kita saja,.siapa tahu mereka sudah mempersiapkan nama untuk cucu mereka," jawab Romeo.
"Benar juga ya, orang tua ku pasti senang Rom, karna ini adalah cucu pertama mereka." Tari.
"Iya kita minta saja saja mereka menyumbangkan nama untuk putra kita,.trus kita satuin saja jadi sebuah nama, jadikan adil, kedua belah pihak ikut andil dalam pemberian nama anak kita," usul Romeo.
Tari tertawa kecil, "Sepertinya kali ini kita harus mengalah ya Rom, biar saja mereka yang memberi nama anak kita," ujar Tari.
"Ngak apalah yang terpenting mereka bahagia, bukannya jika mereka bahagia kita juga akan merasa bahagia," tutur Romeo seraya menatap langit-langit rumahnya.
"Kita ngak punya apa-apa Tar untuk membalas jasa mereka yang telah membesarkan kita, lagi pula mereka hidup serba kecukupan, jadi cara satu-satunya berbakti adalah dengan membahagiakan mereka, karna kebahagian tak kan bisa di beli dengan nominal uang berapa pun," ucap Romeo.
Tari tersenyum kearah Romeo, begitu banyak perubahan yang terjadi pada Romeo.
"Aku senang Rom, pemikiran kamu dewasa banget," ucap Tari.
"Harus itu, bukanya aku ini seorang kepala rumah tangga, dan sebentar lagi, aku akan punya anak." Romeo.
"Hah.. ternyata jadi orang tua itu membahagiakan ya Tar, rasanya kerja keras kita ngak sia-sia, pantas saja banyak orang tua yang rela melakukan apa saja demi anaknya," ucap Romeo.
"Iya Rom, aku juga merasakan betapa bahagianya punya anak, kebahagian terasa sempurna," sahut Tari.
"Ya sudah sekarang kita bersiap, katanya mau belanja untuk keperluan anak kita."
"Iya, ayuk Rom,.aku sudah ngak sabar melihat pakaian bayi yang lucu dan menggemeskan," ucap Tari.
Romeo pun bangkit kemudian ia menarik tangan Tari agar bisa bangkit, maklum saja perut Tari yang besar tersebut akan sangat menyulitkanya untuk berdiri.
***
Aira mengawasi Aldi yang sedang meracik bumbu di dapur.
"Aduh Yang, kamu nyiksa banget deh," keluh Aldi, matanya memerah karna terus saja berair.
"Ya sudah, kalau mas Aldi terus-terusan mengeluh Aira ngak mau makan," sahutnya seraya mengkerucutkan bibirnya.
"Iya, ya, sayang ngak ngeluh kok," sahut Aldi, ia pun melanjutkan mengupas bawang, kemudian menguleknya.
"Ya ampun, jika bukan karna kamu, mas Aldi ngak sudi berada di dapur, ribet banget," kelunya lagi.
"Makanya, masak itu ngak mudah, selama ini kan mas Aldi taunya cuma makan doang,"cetus Aira.
"Ayo mas Aldi, simbok juga mau makan masakan mas Aldi," ucap simbok yang duduk di samping Aira.
"Mbak Iyem! sini! "panggil Aira ketika melihat mbak Iyem keluar dari kamarnya.
Iyem mendekati Aira," Ada apa Non?"
"Duduk sini Mbak Iyem, Ini perdana loh tuan muda masak nasi goreng, kita santai saja biar mas Aldi yang masak." ujar Aira.
"Mas Aldi porsi nambah lagi nih! bumbu nya tambahin juga tuh, kami semua ingin merasakan masakan mas Aldi," ucap Aira.
"Aduh! ribet banget sih," keluh Aldi sembari mengupas bawangnya kembali.
:Mas Aldi kalau ngak enak, Aira ngak mau makan ya, biarin aja anak dan istrinya kelaperan," cetus Aira.
"Iya sayang, tapi jangan panggil orang lagi dong, kan ribet nambahin bumbu lagi," dengus Aldi.
"Oh benar juga ya, Mbok, mang ujang mana? sama pak Satpam juga, bilangin mas Aldi masak nasi goreng spesial, panggil aja mbok," usul Aira.
"Ah! ngak kelar-kelar ini kalau begini Yank! "teriak Aldi.
"Eh jangan gitu mas Aldi, masak kita makan, yang lain cuma lihatin," sahut simbok.
__ADS_1
"Udah bikinin saja, nasi gorengnya jangan kebanyakan protes, ntar istrinya ngambek," ucap simbok dengan maksud mengompori.
Simbok dan Aira pun toss, sementara Aldi sibuk memasak nasik goreng membolak-balikannya dengan spantula.
Sesekali ia mengelap keringat yang keluar dari wajahnya.
Keringat Aldi bercucuran, wajah tampannya pun memerah, karna tak biasa menghadap kompor.
Dari kejauhan, simbok menginstruksikan bahan dan takaran yang sesuai, Aldi hanya mengikuti istruksi tersebut.
"Lapar! lapar! makan! makan!" tok tok tok, ucap Aira dan simbok sambil memukulkan sendok ke piring, sementara yang lain hanya diam, mereka tak berani berkutik.
Heru datang menghampiri mereka karna mendengar keributan di dapur.
"Wah ada apa nih? rame-rame kayak mau arisan, "ucap Heru seraya duduk di samping mbok.
"Ini, Den Aldi masak spesial untuk kita semua hari ini," ucap Simbok.
"Wah ikut juga ah, "ucap Heru seraya mengambil piring dan sendok.
Kelantang, kentung, bunyi spantula Aldi terdengar saat ia membolak balikan nasi goreng tersebut.
"Udah ya nih mbok?!"tanya Aldi sedikit emosi.
"Udah Den, bawa sini sajikan, kalau kerja ngak usah setengah-setengah!" seru simbok.
Aldi pun menuruti, ia meletakan nasi goreng kedalam wadah yang cukup besar.
Kemudian memaburi toping diatas nasi goreng dan acar mentimun
"Sudah selesai!"ucap Aldi senang, ia pun meletakan nasi gorengnya diatas meja makan.
"Ayo semua silahkan,!"ucap Aldi seraya mengaut nasi goreng tersebut ke piring Aira.
Aira tersenyum kearah Aldi, di raihnya beberapa lembar tisu untuk mengelap keringat yang membasahi suaminya.
"Kasihan suami Aira yang ganteng ini, harus panas-panasan menghadap kompor, cium dulu ah, cup-cup,"ucap Aira seraya mencium pipi Aldi.
"Mbok lihat mereka mbok bikin iri, "ucap Heru dengan nada manja pada simbok.
"Udah mas Heru sini peluk simbok, moga-moga anak simbok ini cepat dapat jodoh juga," ucap Simbok seraya menepuk pundak Heru.
"Iya Mbok, doain aja," sahut Heru.
Aldi menyendok nasi di piring dan menyodorkannya kemulut Aira.
"Nih sayang, seumur-umur baru kali ini mas Aldi masak sendiri, ini semua demi kamu dan calon anak Kita, "ucapnya seraya menyuapi Aira.
"Ehm, enak mas, lain kali masak lagi ya," ucap Aira dengan mulut yang masih penuh.
"Iya tapi cuma untuk kamu saja ya, jangan panggil satu Rt lagi," keluhnya seraya menyuapi istrinya.
"Eh ngak bisa!" kalau si mbok ngak di ajak nanti si mbok ngambek, pulang kampung aja," cetus si mbok
"Nah denger tuh mas,"sahut Aira.
"Non Aira, lain kali suruh mas Aldi masak ayam bumbu rujak saja, enak banget tuh, ucap simbok sambil mengunyah makanan serta mengacungkan jempolnya."
"Benar tuh Mbok, besok beli ayamnya ya mbok, biar mas Aldi yang masak, "ucap Aira.
"Beres Non," sahut si mbok.
Aldi hanya bisa melirik keduanya secara bergantian.
Bersambung dulu ya guys, like, komen dan saran nya ya.
Ayo mas
__ADS_1