
Didalam mobil ketiga nya hanya diam, melihat Aira yang sepertinya bersedih, Aldi merasa bersalah.
"Aira, kamu tenang saja, aku ngak akan berbuat sesuatu yang jahat pada mu," katanya pada Aira.
"Iya Aira, mas Aldi orangnya baik, rajin menabung, dan tidak sombong," sahut Doni.
Tapi bukanya tertawa dari candaan Doni, Aira semakin menunduk, air matanya menetes perlahan.
"Woi makin nangis dia, aduh ngak diapa-apain juga nangis, gimana kalau di apa-apain," cetus Aldi sedikit panik.
"Tenang saja Aira, Mas Aldi ngak gigit kok, singanya ngak hidup, karna impotensi habis di kebiri," sahut Romeo lagi.
Mendengar itu, dengan geram Aldi melepas sepatunya dan melempar kan ke arah Romeo yang sedang menyetir.
"Anjiriiit loh Al, sepatu loh nimpuk palak gue lagi, nih gue balikin," ia pun kembali melempar sepatu kearah Aldi, tapi mengenai siku Aira.
"Siallan loh Rom, nanti anak orang makin nangis, ntar kita di kiranya nya menculik dia lagi," sahut Romeo.
"Ehh, maaf kan bang Romeo ya Aira," ujarnya meminta maaf kepada Aira.
Hampir setengah jam bersama ketiga lelaki itu, tapi tak sedikit pun mereka bersikaf kurang ajar terhadapnya, Aira pun perlahan berhenti menangis, ketakutanya perlahan memudar.
Mereka sudah sampai di depam rumah mewah milik keluarga Aldi.
Mereka pun menurun kan Aldi dan Aira di depan pintu gerbang.
"Eh loh, bedua ngak masuk dulu?" tanya Aldi.
"Ngak kita langsung cabut saja, kita ngak mau gangguin loh berdua," jawab Doni.
"Ya sukur kalau gitu, gue masuk dulu"Aldi.
Mereka pun langsung meluncur meninggalkan Aldi.
Aira takjub melihat rumah yang ada di hadapanya, begitu besar, begitu mewah, seperti istana, tak pernah terbayang sedikit pun di benak Aira, ia akan tinggal di rumah semewah ini, meski hanya dalam mimpi.
Aira berjalan perlahan mengikuti langkah Aldi yang menarik tangganya, sewaktu kecil ia pernah memimpikan jadi cinderella, di mana seorang pangeran akan menuntunya masuk kedalam istana dan memakaikanya sepatu kaca.
Seperti kisah di dongeng, seperti itu lah hidupnya kini. sebentar lagi ia akan menjadi istri dari pangeran bernama Aldi, hanya sayangnya, ia sudah bisa membayangkan kisah kehidupanya yang tak kan seindah negri dongeng, karna sang pangeran yang mempersuntingnya kini, bukan karna pangeran tersebut mencintainya, tapi hanya karna kalah dalam taruhan, miris nya, Ayahnya tak keberatan sedikit pun, tak pula bertanya atas dasar apa ia menikahi Aira.
Aira sudah pasrah dalam hidupnya, meski dia hanya di jadikan pembantu di rumah ini, tak masalah baginya, ia memang tak bearti apa pun, dan tak kan ada yang menganggapnya berharga.
Aira sangat sadar ia dan Aldi, ada jarak yang terbentang sangat tinggi, di antara mereka, seperti bumi dan langit, jadi kau jangan berharap terlalu banyak Aira, batinya.
Mereka masuk kedalam rumah dan tanggan Aldi menarik tanggan Aira yang ada di belangkang nya, saat mereka naik menuju lantai atas, mereka berpapasan dengan Heru.
Heru heran melihat gadis yang di bawa Aldi.
"Aldi, siapa gadis itu ?" tanya Heru, sambil menghadang langkah Aldi yang menaiki anak tangga.
"Oh, dia....," melihat kearah Aira.
"Dia calon bini gue, kenapa?" tanyanya sinis.
"Haaa, calon istri kamu? kamu serius Di? Kok kamu ngak ijin sama aku terlebih dahulu sih, " tanya Heru.
"Ha.., emang lo siapa?" hingga gue harus ijin, ini juga rumah gue, jadi suka-suka gue," cetus Aldi, ia pun langsung melanjutkan langkahnya.
__ADS_1
Heru membiarkan Aldi membawa gadis itu ke lantai atas, ia pun membuntutinya, sekilas Heru melihat gadis itu bersedih.
Ia berusaha mencari tahu, tapi rasanya percuma bertanya pada Aldi, karna Aldi tak pernah menilai baik dirinya, padahal Heru sendiri menyayangi Aldi, meski mereka beda ibu, tapi mereka berdua adalah saudara kandung, dan hanya Aldi saudaranya satu-satunya.
Aldi membawa Aira masuk kedalam sebuah kamar yang sudah di bersihkan oleh mbok Jum.
"Aira, ini kamar kamu, kamu istirahat di sini, setelah kita menikah baru kamu akan tidur sama aku," papar Aldi.
Heru hanya memperhatikan mereka berdua.
"Sekarang kamu istirahat Aira, jika butuh sesuatu, panggil saja Mbok Jum, jika kamu lapar, atau pingin sesuatu, kamu tinggal bilang, atau kamu ambil sendiri, anggap saja ini rumah kamu, kamu bebas di sini, tapi jangan sampai mengusik penghuni lainya," jelas Aldi kepada Aira.
"Kamu mengerti Aira?" tanya Aldi.
"Mengerti Mas," jawabnya patuh, terlihat sekali kepolosan pada nya.
"Sekarang aku mau kembali kekamar, dan satu lagi, kamu ngak boleh keluar tanpa seijn ku," tambahnya lagi.
"Mengerti ?" tanya Aldi lagi.
"Mengerti Mas, " jawab Aira.
"Bagus kalau gitu aku balik ke kamar aku, sebentar lagi akan ada mbok jum yang datang kemari mempersiapkan kebutuhan kamu," ujarnya ia pun keluar dari kamar.
Setelah Aldi masuk kekamarnya, Heru pun mendekati Aira.
Aira kaget, saat ingin menutup pintu, Heru malah ada di hadapan nya.
"Hai Aira, boleh aku masuk?" tanya Heru.
"Silah kan Mas," jawab Aira sambil membuka pintu nya sedikit lebar.
Heru menyodorkan tanganya dan di sambut Aira.
"Saya Aira," jawabnya.
"Begini Aira, sebagai Kakaknya Aldi, saya ingin memastikan, apa benar kamu itu calon istrinya ?" tanya Heru sambil menatap mata teduh Aira.
"Sepertinya begitu," jawabnya ragu.
"Loh, kok kamu sendiri belum yakin ?" tanya Heru tak mengerti.
"Kata Mas Aldi, ia memang akan menikahi saya, ia juga sudah mendapat ijin dari bapak saya" paparnya.
"Trus kamu mau? kamu di paksa atau dengan suka rela ?" Heru semakin penasaran.
"Dengan suka rela Mas," jawabnya spontan.
"Kamu ngak berbohong Kan? tapi kelihatanya kamu sedih?" tanya Heru.
Aira hanya terdiam, ia menundukan kepalanya.Melihat Aira yang terdiam, Heru tak memaksanya menjawab pertanyaan nya.
"Berapa umur kamu Aira ?" tanya Heru.
"Tujuh belas tahun Mas," jawab Aira.
"Tujuh belas tahun? kamu masih sekolah?" tanya Heru lagi.
__ADS_1
Aira menggeleng kan kepalanya.
"Aira kalau kamu ngak mau menikah dengan Aldi, dan masih ingin sekolah, Mas Heru bisa bantu kamu."
"Kamu di paksa ya sama Aldi?"
"Ngak Mas, Aira suka kok sama Mas Aldi, Mas Aldi orangnya baik kok Mas," jawab nya.
"Trus kenapa kamu bersedih?" tanya Heru lagi.
Belum sempat Aira menjawab, Aldi keluar dari kamarnya, karna kamarnya berhadapan dengan kamar Aira, ia pun melihat Heru di sana, seketika Aldi merasa geram, bukanya ia cemburu, tapi ia merasa jika Heru selalu mencampuri urusanya.
"Eh, ngapain loh, di kamar calon bini gue ?" tanya Aldi dengan emosi.
Heru pun bangkit dan menarik tangan Aldi menjauh dari Aira.
"Eh Di, maksud kamu apa, mau menikahi Aira, aku tahu kamu menikahinya bukan karna kamu suka, atau cinta kan?" tanya Heru.
"Eh suka-suka gue, yang penting gue bertanggung jawab padanya, dan lo, siap-siap saja, karna setelah gue menikah, maka gue yang akan jadi presiden direktur, karna perusahan itu di bangun atas nama bokap dan nyokap gue, perusahan itu milik gue, bukan lo, atau nyokap lo," jawab Aldi.
"Eh Al, silahkan lo ambil, gue ngak keberatan sedikit pun, tapi jangan gara-gara lo pingin dapatin harta, kamu korban kan Aira"
"Eh, aku ngak ngorbanin dia, justru aku mau menyelamatkan dia, lo ngak percaya, lo lihat sendiri bekas luka di sekujur tubuhnya," papar Aldi, ia pun meninggalkan Heru dan turun ke bawah.
Heru penasaran dengan apa yang dikata kan Aldi, ia pun kembali ke kamar Aira, dan saat itu Aira tengah mengganti pakaianya dan lupa menutup pintu, karna Heru penasaran, ia langsung membuka pintu dan melihat sebagian luka di pundaknya, untung saja Aira masih menggunakan handuk.
Aira kaget karna pintunya terbuka.
"Mas Heru, ada apa?" tanya Aira.
Heru melihat di sekujur tubuh Aira penuh luka, seperti bekas cambukan, karna terlihat seperti garis yang melintang lintang, di area pundaknya.
Heru mendekati Aira, dan membalikan badan nya, dan di depan dada gadis itu, juga ada beberapa luka bakar, mungkin bekas sulutan Rokok.
"Aira kamu kenapa bisa luka seperti ini?" tanya Heru.
Seketika Aira menangis mengenang kejadian pahit yang menimpanya beberapa waktu yang lalu.
"Ayo cerita sama Mas Heru, kamu ngak perlu takut," paparnya.
"Aira pernah di paksa melayani pria hidung belang, karna Aira ngak mau, Aira di cambuk, sampai Aira tak sadar kan diri, Aira selalu memdapat perlakuan kasar, karna Aira selalu membangkang dan berusaha kabur," tutur nya haru, ia pun menangis.
Mendengar semua penuturan Aira, Heru langsung memeluknya.
"Kamu akan tetap di sini Aira, Mas Heru janji akan melindungi kamu, dan ngak akan ada yang berbuat kasar lagi terhadap kamu, ucap Heru sambil memeluk Aira.
Aira terharu mendengar kata-kata Heru, bahkan orang lain saja, perduli padanya, tapi kenapa keluarga sendiri tega menjualnya, seketika Aira pun menangis di pelukan Heru.
Jangan lupa
🍎like
🍎komen dan
🍎vote nya
Sambil nunggu autor up mampir di nobel author yang lain yg lebih seru dengan judul
__ADS_1
Ketika takdir menyatukan aku dan mereka