Cinta Si Gadis Pendek

Cinta Si Gadis Pendek
Danau...


__ADS_3

...9...


"Aku punya tugas untuk mu.... Sekarang kamu harus mengisi Tangki Air itu sampai penuh..." Ujar Dion dengan seringgai licik nya. Dengan telunjuk nya menunjuk ke arah tangki air.


"Hah..."


Mulut mungil Raehan langsung terbuka lebar, membentuk huruf O. Saat ke dua netra nya menangkap tangki air dengan ukuran 15 liter.


Felix menyeringgai senang, melihat wajah terkejut Raehan, yang seratus persen mirip ikan ******.


"Kenapa??" Tanya Dion dengan menaikkan ke dua alis nya.


Ekspresi wajah Raehan saat ini sangat lucu di mata Dion. Jika bisa, ia pasti sudah mencubit- cubit ke dua pipi Raehan yang terlihat cubby dengan mulut yang terbuka lebar.


"Kakak pikir aku wonder women apa... Atau Hullk... Yang bisa mengangkat beban dengan semudah mereka bernafas... " Papar Raehan dengan memanyunkan bibir nya kesal. Jika tahu Dion akan memerintah nya seperti ini. Ia tadi seharus nya kabur saja, dari pada memenuhi panggilan Cowok tukang suruh ini.


"Terus apa hubungan nya dengan ku... Kamu tidak perlu menjadi wonder women atau hullk untuk mengisi tangki air itu... Pokok nya kamu harus mengisi tangki itu hingga penuh..." Putu Dion mutlak, tidak bisa terbantah kan lagi.


"Berhenti lah membantah... Dan kerjakan perintah Dion.. Kamu tahu kan dia ketua osis di sini... Ingat dia bisa mengeluarkan mu dari sekolah ini jika dia mau..." Ancam Felix ikut- ikutan menekan Raehan.


Darah Raehan saat ini terasa mendidih sampai ke ubun- ubun.


Rasa nya saat ini ia ingin menghilangkan dua pria menyebalkan ini dari dunia ini. Menenggelamkan mereka ke dalam tangki air sekalian.


"Kenapa masih di sini.? Apa perintah ku kurang jelas..??" Ucap Dion dengan memandangi wajah kesal Raehan.


"Cih.." Decih Raehan, dan menghentak kan kaki kirinya keras ke lantai. Lalu berlalu meninggalkan Dion dan Felix.


Tanpa sadar ke dua sudut bibir Dion tertarik ke atas, menyunggingkan sebuah senyum samar yang tidak terlihat oleh siapa pun.


"Rasaain kamu,,, Bocah tengil..." Batin Felix dengan sumpah serapah nya. Ia sangat senang, melihat Raehan menderita seperti itu, dengan wajah yang merah padam hampir meledak. Tapi Raehan tidak bisa meluapkan kemarahan.


"Seharus nya, kamu tidak perlu mengatakan hal kasar itu pada Raehan...." Ujar Dion tiba - tiba dengan ekspresi wajah dingin dan menusuk ke arah Felix.


Felix mengerjit kan dahi nya, melihat sikap Dion yang berubah drastis setelah kepergian Raehan.


"Apa maksud mu??? Bukan nya tadi kamu juga menekan dan mengancam gadis pendek itu...??" Cecar Felix tidak suka dengan sikap plin- plan sang ketua osis.


"Hanya aku yang boleh mengancam atau menekan diri nya... Jangan pernah lakukan hal itu lagi... Atau kamu akan berurusan dengan ku...." Timpal Dion dan berlalu pergi, dengan tangan mengepal sempurna.


"Ada apa dengan nya??? Untuk apa dia membela bocah tengil itu... Hhhh... Aku tidak akan pernah membiarkan gadis pendek itu, sekolah dengan tenang di sini... Aku sama sekali tidak takut dengan ancaman mu... Malah sekarang aku semakin tertantang untuk mengganggu ketenangan nya..." Batin Felix dengan seringai devil nya.


...----------------...


Raehan berjalan dengan lunglai, keluar dari area toilet. Sementara tangan kanan nya menenteng sebuah ember.

__ADS_1


"Huhhhh... Kenapa sih, air di toilet juga ngak bisa nyala... Kalau begini gimana cara nya cobak mau penuhi tangki air... Hhhhh" Dengus Raehan dengan kesal.


Anet melangkah dengan beberapa bungkus makanan ringan di tangan nya.


Langkah nya berhenti ketika melihat mantan anak gugus nya yang terlihat murung.


"Raehan....!!" Panggil Anet mendekat. Ia sudah mengenal Raehan selama tiga hari ini. Karna Raehan sering membantu osis untuk melakukan pekerjaan mereka.


Raehan menengadah kan kepalanya. Di depan nya sudah ada Anet yang memandangi nya dengan wajah seolah- olah sedang bertanya ada apa.


"Kak... Anet..."Jawab Raehan dengan lesu.


"Kamu kenapa Rae,,, kok wajah mu kusut banget, kek kertas abis di remas..?"


"Ini semua gara- gara kak Dion..." Wajah Raehan semakin kesal saat menyebut nama Dion.


"Ha... Ha... ha...." Gelak tawa Anet, saat mendengar jawaban Raehan.


Jik begini, ia sangat tahu. Pasti Dion menyuruh- nyuruh Raehan lagi yang membuat nya sangat kesal.


"Kak Anet....!!!" Panggil Raehan dengan nada tidak suka. Sudah di suruh- suruh dan sekarang malah di tertawakan. Apa tidak ada apa yang mengerti diri nya. Pikir Raehan.


"Oke oke... aku berhenti tertawa...." Anet berusaha menetralisir tawa nya. Meski sebenar nya perut nya masih tergelitik geli dan ingin tertawa.


"Katakan... Apa yang Dion perintahkan sampai kamu sangat kesal begitu...??? Tunggu- tunggu, dan ember itu?" Cecar Anet dengan pertanyaan - pertanyaan nya.


"Dan ember ini, Untuk mengangkut air... Tapi sayang nya, air di toilet juga tidak ada... Jika seperti ini aku harus mengambil air kemana???" Lanjut Raehan dengan nada putus asa.


Jika diri nya tidak melakukan apa yang di perintah kan ketua osis tukang suruh itu. Pasti dia akan mendapatkan ganjaran dua kali lipat dari pada ini.


"Ooooooo...." Ujar Anet mengerti dengan membunyikan suara O yang panjang.


"Aku tahu, kamu mending ambil air dari danau sekolah deh Rae...." Usul Anet memberika solusi.


Kerutan di kening Raehan bertambah, mendengar jawaban dari Anet. Ia tidak menyangka jika sekolah ini bahkan memiliki sebuah danau.


"Danau???" Papar Raehan tidak percaya.


"I.. Iya danau... Sekolah kita punya danau selain kolam renang... Tapi danau nya cukup jauh.. dari sini... Dan di sana juga sepi, siswa yang lain lebih jarang pergi ke sana... Tapi aku tahu tempat nya... Jadi aku akan membantu mu mengisi air tangki itu deh..." Ujar Anet menawarkan bantuan.


Seperti menemukan Oase di tengah gurun pasir, Raehan benar- benar merasa senang. Kakak tingkat nya ini benar- benar sangat baik, bahkan mau membantu nya.


Setidak nya tangki air akan cepat penuh jika di isi oleh dua orang kan.


Tapi di sisi lain, ia masih belum percaya jika sekolah ini juga punya danau sendiri. Jiwa penasaran nya meronta- ronta ingin segera pergi ke tempat itu.

__ADS_1


"Benar kah kak??? Kamu akan membantu ku mengisi tangki itu...!!" Ujar Raehan dengan antusia, bahkan ia bicara hampir berteriak karna saking senang nya.


Anet mengangguk cepat. Mengiyakan pertanyaan adik tingkat nya ini.


"Tapi ini benar kan kak jika sekolah kita punya danau?? Aku masih belum percaya..." Cicit Raehan lagi.


"Apa aku harus mengatakan nya seribu kali... Aku mengatakan apa ada nya. Ini sekolah favorit semua fasilitas ada di sini... Sekolah juga membangun tempat seperti itu, supaya bisa membuat siswa- siswa menjadi betah bersekolah di sini... Sudah lah... Ayo kita ke sana.. Sebelum aku berubah pikiran dan tidak jadi membantu mu.."


Anet meraih pergelangan tangan Raehan, dan menarik nya pelan.


...----------------...


Raehan menatap pemandangan keindahan danau dengan takjub.


Ia sungguh masih tidak percaya jika sekolah nya memiliki danau seindah nya.


Ia yakin diri nya akan semakin betah bersekolah di sini, dengan fasilitas yang di berikan.


"Rae... Aku pergi bentar ya.. Aku ada urusan bentar... Kamu tunggu sini, ntar aku balik lagi..."Ujar Anet, lalu meletak kan ember yang di bawa nya.


Raehan mengangguk pelan, sebagai jawaban bahwa dia akan menunggu di sini. Sementara pandangan nya masih mengedar. Menikmati suasana yang begitu hening dan sejuk, di tambah pemandangan danau yang indah.


Namun, saat ekor mata Raehan menatap ke arah sebuah pohon besar dan rindang. Mata nya tidak bisa berkedip. Jantung nya berdetak lebih kencang.


Ribuan kupu- kupu seakan terbang mengelilingi diri nya.


Di bawah pohon itu, tengah duduk sambil berseder, seorang pria yang sangat di kenal Raehan.


Wajah tampan dan rambut coklat nya, tidak akan pernah bisa Raehan lupakan. Meski mata nya tertutup saat tidur.


...----------------...


...****************...


Terus pantangin cerita nya ya...


Like


koment.


Vote


gift.


Rak favorit.

__ADS_1


Yuk dukung terus karya ini....!!!


__ADS_2