Cinta Si Gadis Pendek

Cinta Si Gadis Pendek
Bertengkar part 1


__ADS_3

...334...


"Ekhem," dehem Dion dengan tatapan tidak suka pada Agara. Lalu, menyodorkan sebotol minuman pada Raehan dengan wajah yang tersenyum. Sangat berbeda saat ia menatap Agara dengan tatapan bermusuhan.


"Terimakasih, Kak," ucap Raehan menerima minuman yang diberikan oleh Dion. Sementara Agara memutar bola matanya malas.


"Sama-sama, kamu pulang sama aku aja. Kita akan naik Bis pertama bersama para Anggota Osis lainnya. Di sana penumpangnya tidak terlalu ramai. Jadi, kamu bisa beristirahat dengan tenang."


"Baiklah, aku ikut apa kata kalian saja," kekeh Raehan dengan cengiran ala kuda.


Dion kembali duduk di depan kaki Raehan yang terjulur. Ia kembali mengompres kaki gadis yang sangat dicintainya itu. Agara yang melihat hal itu tentu saja sangat kesal. Ingin sekali rasanya ia mengatakan pada Dion jika dirinya dan Raehan sudah baikan. Supaya Dion berhenti untuk dekat-dekat dengan kekasihnya.


"Eh, Dion. Mending kamu pergi dari sini, Raehan biar aku yang urus!" sinis Agara dengan nada bermusuhan. Dion langsung menoleh ke arah Agara dengan kilatan mata yang tajam dan menghunus.


"Seharusnya kamu yang pergi karena kamu tidak memiliki kepentingan di sini. Kamu tidak lihat, aku sedang mengompres kaki Raehan yang terluka. Sementara kamu apa yang bisa kamu lakukan untuk Raehan? Tidak ada bukan, selain memberikan rasa sakit," sungut Dion dengan menyindir Agara. Tentu saja amarah Agara lansung terpancing oleh sindiran Dion yang selalu mengungkit kesalahan yang sudah ia lakukan.


Bruk!


Agara mendorong tubuh Dion hingga tubuh rivalnya itu tersungkur di tanah. Pakaian yang dikenakan oleh Dion menjadi kotor terkena tanah.


"Berani sekali kau!" teriak Dion yang lansung bangkit dan menarik kerah baju Agara.


"Kenapa? Ayo lawan aku secara jantan, jika kamu menang. Maka baiklah, aku yang akan pergi tapi jika aku yang menang maka kamu yang harus pergi," tantang Agara dengan kesombongan dan keangkuhannya. Hal itu, tentu saja membuat Dion semakin tersulut emosi dengan pria sombong di depannya. Ia pasti akan membuat Agara tidak bisa berjalan dengan benar.


"Baikalah, kamu pikir aku takut." Dion melepaskan kerah baju Agara dan mundur dua langkah. Tatapan tajam dan menghunus dari keduanya saling bertaut. Aura permusuhan menguar dengan begitu jelas dari keduanya. Terlihat tatapan ingin saling mengalahkan untuk bisa berada di sisi Raehan. Antara Dion dan Agara tidak ingin mengalah. Keduanya merasa lebih berhak pada diri Raehan. Bahkan, dari tatapan mereka terlihat aliran listrik yang sangat kuat yang tengah beradu kekuatan.


Atmosfer di sekitar mereka seketika berubah menjadi sedikit mencekam. Sementara Raehan yang melihat Agara dan Dion yang akan berkelahi karena dirinya, memijat kepalanya yang terasa pusing. Kedua pria di depannya sudah seperti kucing dan tikus yang akan bertengkar saat bertemu. Padahal, mereka bisa bekerja sama untuk merawat dirinya, tetapi keduanya sangat egois dan tidak ingin berbagi.


Astaga apa yang aku pikirkan? Tentu saja mereka tidak akan mau berbagi jika itu tentang gadis yang mereka cintai. Oh, aku memang gadis yang cantik. Kedua pria itu sampai bertengkar karena memperebutkan diriku. Seharusnya aku di nobatkan gadis dengan seribu pesona. Batin Raehan dengan ucapan-ucapannya sendiri yang malah membuat ia tertawa geli.

__ADS_1


"Raehan itu hanya milikku, jadi menyingkirkanlah dan berhenti ikut campur dalam hubungan kami!" seru Agara bersiap mengambil ancang-ancang dan melesatkan satu pukulan di wajah Dion. Akan tetapi, dengan sigap Dion mengelak sehingga pukulan Agara hanya mengenai udara kosong.


"Aku akan selalu ikut campur jika itu tentang Raehan," balas Dion kini dengan melayangkan satu tendangan lebar pada wajah Agara. Tidak kalah sigap, Agara segera menunduk sehingga tendangan lebar dari Dion tidak mengenai kepalanya.


"Hentikan!" teriak Raehan dengan suara yang melengking, menembus gendang telinga Agara dan Dion. Kedua fokus pria itu lansung pecah dengan kedua tangan menutup daun telinga masing-masing.


Burung-burung yang ada di sekitar mereka langsung berterbangan karena lengkingan suara teriakan Raehan yang sangat cempreng dan menusuk.


"Kenapa kalian selalu bertengkar? Aku sangat bosan melihat hal itu. Tidak bisakah kalian bekerja sama dalam mengurusku? Dewan Guru memerintahkan kalian berdua untuk menjagaku sampai di kota. Bukanya mengurus dan menjagaku, malah kalian asik ribut dan bertengkar. Jika seperti ini, aku lebih baik mengurus diriku sendiri," oceh Raehan dengan omelan yang super panjang, persis seperti emak-emak yang sedang menawar panci di pasar.


"Tidak boleh!" seru Agara dan Dion bersamaan. Keduanya saling menatap dengan tajam. Tidak sudi rasanya mereka mengatakan hal yang sama dengan kompak.


"Lihat, kalian sangat kompak. Kalian bisa jadi teman yang akrab."


"Itu tidak akan terjadi!" Lagi-lagi Agara dan Dion mengatakan hal yang sama dengan serempak.


"Kamu yang tutup mulutmu!" hardik Agara dengan rahang mengetat.


Raehan menghembuskan nafasnya kasar. Belum juga selesai apa yang baru saja ia katakan. Sekarang keduanya kembali bertengkar. Rasanya kepala Raehan mau pecah melihat dua pria yang sudah seperti anak kecil yang sedang memperebutkan sebuah mainan.


"Kalian berhentilah untuk bertengkar seperti kucing dan tikus. Kucing dan Anjing sana bisa berteman kenapa kalian tidak," dengus Raehan dengan menghembuskan nafasnya kasar.


"Tentu saja Anjing dan Kucing bisa berteman, Rae. Akan tetapi, Kucing dan tikus tidak akan bisa berteman," celetuk Niel yang tiba-tiba datang dan menghampiri Raehan.


Raehan menepuk jidatnya sendiri. Sepertinya kebodohan sedang melanda kepalanya karena melihat Agara dan Dion yang terus bertengkar membuat kepalanya menjadi pusing hingga ia salah menyebut nama binatang.


"Lihat karena kalian selalu bertengkar membuat lidahku keseleo," ujar Raehan melemparkan kesalahan pada Dion dan Agara yang lansung melongo tidak terima.


"Jika, Agara dan Dion tidak becus mengurusmu. Biar aku saja yang mengurusmu," ucap Niel lagi dengan melirik ke arah dua pria yang lansung panik setengah mati.

__ADS_1


"Tidak, kamu tidak bisa mengurus gadisku," sanggah Agara dengan cepat dan segera mendekat ke arah Raehan.


"Iya, biar aku yang mengurus Raehan. Kamu lebih baik pergi dan urus yang lain," titah Dion dengan mendorong tubuh Niel yang berjongkok hingga tersungkur ke tanah. Niel mendengus kesal, Dion benar-benar sangat menyebalkan. Sedangkan Raehan yang melihat wajah Niel yang kesal tertawa ringan.


"Rae, kamu tega menertawi kakakmu," celoteh Niel dengan ocehhan kekesalan.


"Dengar Rae, maafkan aku. Aku janji akan mengendalikan emosiku," pinta Agara dengan memelas sembari menggengam tangan Raehan. Dion yang melihat hal itu segera menepis tangan Agara sehingga tangan Raehan terlepas.


"Iya, aku janji, aku dan Agara akan akur dan bekerja sama. Jadi, biarkan aku mengurusmu---"


"Tidak, bukan kamu tapi kalian berdua," sosor Raehan dengan cepat sebelum Dion menyelesaikan kalimatnya.


Dengan wajah terpaksa dan tidak setuju Agara dan Dion akhirnya pasrah dan mengikuti keinginan Raehan untuk tidak bertengkar dan mengendalikan emosi mereka masing-masing.


...----------------...


...****************...


Jangan lupa


like


komen


gift


vote


tips

__ADS_1


__ADS_2