Cinta Si Gadis Pendek

Cinta Si Gadis Pendek
Serangan jantung.


__ADS_3

...93...


Plakkkkk....


Satu tamparan keras mendarat tepat di pipi kiri Agara. Bahkan kepala Agara menoleh hingga ke samping.


Pipi nya terasa kebas dan panas, karna tamparan tersebut. Tapi tetap saja wajah nya menampil kan senyum miring mengejek.


Wajah Mr. Vinsion sudah berada tepat di wajah nya. Menampil kan sosok menyeram kan dengan mata melotot dan tatapan penuh amarah.


"Berani sekali kamu mempermain kan ku..!" Gertak Mr. Vinsion yang sudah tidak bisa menahan penghinaan sekaligus penipuan yang di lakukan Agara.


Meski kini dada nya terasa sedikit sakit, namun rasa itu tertutupi oleh api kemarahan yang sudah siap di ledak kan.


"Tidak ada yang mempermain kan mu Mr. Vinsion..." Sarkas Agara dengan tajam, memasang aura kejam yang menekan orang- orang sekeliling nya.


Bahkan wajah Lessia sedikit berubah pias. Diri nya pun juga tidak menyangka jika Agara adalah pria licik. Sungguh menarik. Pikir Lessia.


"Pertunangan mu akan tetap di lakukan.. Kamu sudah mendapat kan apa yang kamu ingin kan jangan menjilat ucapan yang kamu ucap kan sendiri Aga..." Ujar Mr. Vinsion dengan nafas yang sedikit tercekat namun terus ia paksa kan.


"Bukan kah buah tidak jatuh jauh dari pohon nya..? Dan aku belajar dari mu.."


"Kau...!! Assshhhhh... " Tubuh Mr. Vinsion linglung dan hampir merosot ke lantai, namun segera di tanggap oleh pria berjas yang tak lain adalah sekertaris alias tangan kanan nya.


"Om...!" Teriak Lessia panik, melihat Mr. Vinsion yang hampir jatuh dengan tangan memegang dada kirinya.


"Aaarrrkkhh.." Pekik Mr. Vinsion kesakitan , merasakan ada ribuan belati yang menghantam dan menghentikan kinerja jantung nya.


Rasa nya benar- benar sakit, bahkan nafas nya semakin memburu berat dengan rasa kebas yang menjalar ke seluruh tubuh nya.


"Tuan..." Panggil sang sekertaris panik melihat wajah Mr. Vinsion yang memucat dengan nafas tersekat.


Dengan sigap sang sekertaris membopong Mr. Vinsion masuk ke dalam kamar pribadi milik nya.


Sementara Agara memasanga wajah yang sangat puas. Tidak ada belas kasih sedikit pun yang ia tunjuk kan kepada Mr. Vinsion meski hubungan darah antara mereka tetap mengalir di tubuh nya.


"Seperti nya karma datang di waktu yang tepat.. Nikmati lah masa kehancuran mu..." Sinis Agara lalu melangkah dengan sombong meninggal kan Lessia yang memasang raut wajah marah dan kesal.


Lessia meninju udara kosong, sebelum akhir nya berlari menuju kamar Mr. Vinsion.


Ia tidak bisa kehilangan Mr. Vinsion sekarang, karna ia masih membutuh kan orang tua itu untuk membantu nya menakluk kan Agara.

__ADS_1


Air tidak akan pernah kental seperti darah, pikir Lessia. Seperti nya ia harus menyusun cara yang lebih ampuh untuk membuat Agara berlutut di kaki nya.


...----------------...


Malam yang panjang dengan kisah- kisah yang berbeda akhir nya berakhir.


Meninggal kan sebaris cahaya bulan di balik terang nya cahaya matahari yang begitu menyilau kan.


Seperti biasa, Milver High School terlihat telah ramai dengan para siswa maupun siswi yang mulai berdatangan.


Begitu juga dengan Raehan yang baru saja memarkir kan vespa orange kesayangan nya.


Wajah Raehan terlihat sedikit gugup, dengan hodie kebesaran yang membalut tubuh mungil nya, serta tudung hodie yang sengaja ia kenakan untuk menutupi wajah nya.


Hari libur berakhir begitu cepat bagi nya, bahkan ia belum siap untuk kembali bersekolah dengan gaya rambut terbaru nya.


Ia belum siap di bully.


Ia belum siap di ejek.


Bahkan ia belum siap untuk melihat reaksi yang sangat menyebal kan dari seluruh siswa atau pun siswi.


Terutama musuh satu- satu nya Lessia. Gadis penyihir hidung panjang itu pasti akan menertawakan nya dengan kata- kata mengejek dari bibir pahit nya.


Raehan mengepal kan tangan nya kuat, berusaha mengontrol rasa gugup yang sedang menyerang nya dengan bertubi- tubi.


Untuk pertama kali nya, kepercayaan diri nya benar- benar menciut, seperti kerupuk sapi yang terkena air.


"Ayo.. Jangan berpikir buruk atau itu semua akan terjadi... Masalah mu tidak sebesar orang lain. Hanya pengecut yang takut.." Gumam Raehan menguat kan mental nya. Mensugesti diri nya jika apa yang di pikir kan nya tidak akan terjadi.


Raehan memantap kan langkah nya. Kaki nya terayun dengan ayunan biasa, sementara kepala nya tertunduk untuk menyembunyikan wajah nya.


Perjalanan nya menuju kelas terasa biasa, tidak ada yang memperhatikan diri nya.


Semua siswa- siswi yang di lewati nya menatap acuh tidak peduli, membuat Raehan menghela nafas lega.


Setidak nya, jika ia berhasil masuk ke dalam kelas dengan kepala di tutupi. Sudah pasti tidak akan ada yang terjadi. Dan semua nya akan aman terkendali. Pikir Raehan yang mulai santai dengan kegugupan yang mengurang.


Raehan terus melangkah melewati beberapa lorong, dan tinggal dua kelas lagi maka ia bisa terbebas dan sampai di kelas nya.


Puk...

__ADS_1


Namun sebuah tangan tiba- tiba menempel di pundak nya langsung membuat Raehan terlonjak kaget. Bahkan ke dua mata nya melebar dengan sempurna di sertai dengan detakan jantung yang berdegup dengan kencang.


"Akhir nya mainan kita datang juga... " Ujar Kiara dengan nada senang sekaligus mengejek.


"Astaga kenapa harus sekarang...!" Cicit Raehan sedikit kesal. Mendengar suara orang yang telah menghentikan langkah nya.


Ayolah apa sekali saja hidup nya berjalan sesuai dengan keingingan nya.


Apa hal sederhana itu benar- benar tidak bisa terjadi pada diri nya satu kali saja.


Raehan memejam kan mata nya erat, sebelum kembali membuka nya lebar.


Raehan semakin menunduk kan kepala nya, tentu saja agar rambut nya tidak terlihat oleh Kiara yang sudah menjegal diri nya.


Seperti nya ia harus mengurus gadis menyebal kan ini di pagi buta.


"Hmmm seperti nya hal kemarin sudah membuat nya mati mental."


Deg...


Raehan sedikit terkejut saat mendengar suara yang baru saja menyapa gendang telinga nya.


Suara yang sangat Raehan kenal, dan suara yang sangat menyebalkan bagi diri nya.


Raehan membalik kan tubuh nya, terlihat kini di depan nya tengah berdiri empat orang gadis.


Yang tentu saja di kenal oleh Raehan.


Kiara dan ke dua antek nya , dan juga Lessia.


Raehan menggeleng pelan, seperti nya para musuh nya berkumpul dan bersatu untuk menyerang nya.


Bukan kah ini sangat pengecut.?


Dan apa yang ia duga juga benar, apa yang terjadi pada nya kemarin adalah ulah Lessia.


Ulah Lessia yang sudah membuat nya kehilangan rambut nya yang berharga dan Raehan akui mereka berhasil untuk itu.


"Aits... Kenapa kamu menyembunyikan wajah mu itu? aku yakin kamu tidak cukup percaya diri untuk menampilkan wajah jelek mu itu..." Ledek Kiara yang langsung di sahuti oleh tertawaan ke dua antek nya termasuk Lessia.


"Ck.. ck... Boncel boncel kamu sudah menyinggung orang yang salah , dan ini lah yang pantas kamu dapat kan.." Lanjut Lessia melipat tangan nya di depan dada dengan senang.

__ADS_1


...----------------...


...****************...


__ADS_2