Cinta Si Gadis Pendek

Cinta Si Gadis Pendek
Kejahilan Raehan


__ADS_3

...321...


Usai makan malam seluruh peserta masuk ke dalam tenda masing-masing. Raehan dan Kiara duduk dengan tatapan saling bermusuhan. Yah, dengan sialnya mereka mendapat satu tenda bersama. Sungguh nasib malang atau sebuah karma bagi mereka.


Raehan tidak percaya jika Dewan Guru akan memilih musuh untuk menjadi patner tidurnya. Bagaimana kalau saat ia tidur Kiara malah menindih kepalanya dengan bantal? Bisa-bisa ia mati secara konyol.


Begitu pula dengan Kiara yang juga merasa sangat sial. Kenapa patner tidurnya adalah Raehan? Gadia bar-bar berhati iblis. Jujur, ia merasa sangat takut hanya berdua dengan gadis kejam ini. Ia masih ingat dengan jelas, ketika Raehan mematahkan jari manisnya. Lalu sekarang, bagaimana jika Raehan mematahkan seluruh tulangnya saat ia tidur?


Raehan dan Kiara langsung menggelengkan kepala mereka bersamaan, menyingkirkan pikiran negatif yang membuat mereka semakin takut.


"Heh, ngapain ikut-ikutan geleng-geleng kepala?" ketus Raehan yang merasa aneh dengan Kiara. Bagaimana bisa mereka menggelengkan kepala secara bersamaan seperti itu?


Apa yang sedang di pikirkan oleh Kiara? Batin Raehan menatap Kiara penuh selidik.


"Jangan sok tahu deh, kamu. Aku geleng-geleng kepala karena ada nyamuk, dan kamu? Aku tahu kamu pasti merencakan sesuatu kan?" bantah Kiara memasang wajah tidak takut. Padahal, ia sudah ketakutan setengah mati.


"Tumben kamu pinter. Emang sih, aku lagi mikirin rencana untuk membuat kamu---" Raehan menghentikan ucapannya bersamaan dengan tangannya yang ditarik, memperagakan leher yang diputus sembari tersenyum devil.


Glek!


Kiara menelan salivanya bulat-bulat. Seluruh tubuhnya mulai lemas dengan tangan yang gemetar. Embun-embun keringat mulai terbentuk di pelipisnya. Ia bena-benar sangat ketakutan. Raehan terlihat sangat menyeramkan dengan tatapan siap ingin menghabisi dirinya.


Sial, Dewan Guru bodoh. Bagaimana bisa mereka menempatkanku dalam satu tenda dengan gadis iblis seperti dia. Batin Kiara tanpa sadar mengusap lehernya.


Raehan tersenyum tipis penuh kelicikan melihat gelagat Kiara. Ternyata, gadis di depannya sangat penakut jika sendiri. Dia hanya berani menyerang dirinya saat bersama dengan kacung-kacung bodoh yang selalu berada di belakang Kiara. Akan tetapi lihatlah sekarang, ia hanya hanya menggertak Kiara tapi sepertinya sebentar lagi celana gadis itu akan basah karena mengompol.

__ADS_1


"Kamu tahu Kiara? Aku tidak suka berbagi tempat tidur dengan siapa pun. Saat aku tertidur, aku bisa melakukan apapun. Siapa yang akan menduga jika nanti saat aku tidur, aku bermimpi sedang menghajar penjahat dan mematahkan lehernya. Mungkin, tanpa sadar aku akan menghancurkan sesuatu yang ada di dekatku," ujar Raehan semakin memprovokasi Kiara agar gadis itu semakin takut. Yah, itung-itung balas dendam akan perbuatan Kiara padanya. Akan tetapi jangan salah, ini hanya permulaan. Ia akan membuat Kiara menderita selama acara ini. Siapa suruh gadis itu selalu mengganggu dirinya, maka dengan senang hati ia akan meladeni permainan Kiara dengan membalas gadis itu berkali-kali lipat.


"A--aku tidak takut padamu, dasar gadis bar-bar. Kau tahu? Aku bisa melakukan hal yang lebih mengerikan dari pada dirimu," balas Kiara dengan terbata-bata. Ia mengontrol mimik wajahnya agar tidak terlihat ketakutan. Egonya terlalu tinggi untuk dipatahkan. Kiara merebahkan tubuhnya dengan posisi telentang, lalu menarik selimut menutupi hingga ke bagian dadanya.


Raehan mencebikkan bibirnya dan menggendikkan bahunya. Sepertinya, Kiara cukup berani setelah ditakut-takuti seperti tadi, tapi sampai kapan? Karena ia akan membuat Kiara tidak akan tidur dengan nyenyak malam ini.


"Waw, kamu memang seorang pemberani," puji Raehan dengan nada terkesan mengejek. Ia meraih ranselnya yang ada di sudut tenda. Lalu, merogoh sesuatu dan mengeluarkan sebuah pisau kecil yang memang selalu Raehan bawa kemana-mana. Raehan memainkan pisau tersebut ditangannya.


Kedua mata Kiara membulat dengan sempurna melihat kilatan pisau kecil yang terkena sinar senter dalam tenda. Tubuh Kiara semakin gemetar ketakutan, ia yakin Raehan akan melakukan sesuatu dengan pisau itu.


D--dia sikopat, dia akan menusuk jantungku saat aku tidur. Ohhh, tidak! Aku tidak bisa di sini lagi. Aku tidak mau di lenyapkan oleh gadis bar-bar. Batin Kiara dengan ketakutan.


Tanpa basa-basi dan permisi, Kiara segera berlari dengan cepat keluar dari tenda meninggalkan Raehan yang langsung tertawa terbahak-bahak.


Ia benar-benar sangat puas mengerjai Kiara. Sekarang ia tidur sendiri di dalam tenda tanpa harus berbagi. Kiara tidak berarti apa-apa saat ia sendiri.


Padahal ia hanya iseng memainkan pisau kecil yang selalu ia bawa. Ia tidak menduga jika dengan melihat pisau ini Kiara akan berpikir ia akan melukai gadis itu. Sungguh pikiran yang sangat konyol dan naif.


Raehan menghentikan tawanya. Ia memegang pipinya dengan kedua tangan. Rahangnga terasa pegal karena tertawa dengan keras. Bahkan, air matanya sampai keluar.


"Huh, sungguh sangat lucu, tadi bilangnya ngak takut. Sok-sokan berani. Eh, baru liat pisau aja udah ngacir, ha ...," gumam Raehan.


Raehan menghela nafasnnya panjang. Ia mengangkat pisau kecil tajam yang ada di tanganya. Pisau kecil tersebut terlihat mengkilap dan sangat tajam. Raehan menyentuh pinggiran pisau tersebut.


Srak!

__ADS_1


Jari mungil Raehan terluka dengan darah yang merembes keluar. Pisau kecil tersebut sangat tajam, hanya dengan menekannya saja jarinya langsung terluka dan berdarah.


Pisau dengan gagang berukiran ular melingkar itu hanya seukuran telapak tangan Raehan. Sangat nyaman untuk di genggam. Raehan sebenarnya masih bertanya-tanya akan asal usul pisau ini. Kedua orang tuanya mengatakan jika pisau ini adalah hadiah saat kelahirannya. Akan tetapi, yang menjadi pertanyaan dikepalanya hingga sampai sekarang, siapa yang memberikan pisau ini? Pasalnya, pisau ini tidak bisa berkarat atau menjadi tumpul. Bentuk dan ketajamannya selalu sama sejak ia masih kecil, tidak berubah sedikitpun.


"Sekali lempar, maka leher musuh bisa putus dengan pisau ini. Memang menarik tapi siapa yang memberiku pisau ini. Bahkan, ukirannya seperti menyimpan sebuah misteri? Yah, sudahlah tapi pisau ini selalu berhasil melindungiku dari orang jahat." Raehan memasukkan kembali pisau tersebut ke dalam sarungnya. Lalu memasukkan benda tersebut itu ke dalam ranselnya.


Raehan merentangkan ke dua tangannya dan menggerakkan tangannya naik turun. Malam ini, ia akan tidur sendiri di dalam tenda. Terserah dengan nasib Kiara, anggap aja ini adalah pembalasan awal dari dirinya. Ini belum berakhir karena ia akan membuat Kiara menjerit dan meminta maaf padanya.


Yah, terkesan jahat bukan? Tapi gadis seperti Kiara memang harus mendapat pelajaran yang setimpal. Raehan memejamkan kedua matanya. Perjalanan hari ini cukup melelahkan sehingga membuat ia begitu cepat memasuki dunia mimpi.


...----------------...


...****************...


Jangan lupa


like


koment


gift


vote


tips

__ADS_1


__ADS_2