Cinta Si Gadis Pendek

Cinta Si Gadis Pendek
AGARA 2 !!


__ADS_3

...6...


" Kenapa tidak papa saja yang menemani nya untuk bermain... Papa tidak lihat mama lagi kerja...!!" Bantah sang istri dengan berteriak karna kesal


"Apa kamu tidak lihat aku sedang kelelahan habis pulang kerja... Kamu seharus nya mengurus nya dengan benar... Ingat kodrat mu sebagai wanita mengurus anak kita... Berhenti lah bekerja.. Apa uang ku tidak cukup untuk mu...!!!?..." Timpal Papa Aga langsung berdiri dan juga berteriak.


"Dia juga anak mu... Anak mu... Aku sudah mengatakan jika aku tidak ingin hamil dulu.. Aku ingin mengejar karirku.. Ingat janji mu jika kamu tidak akan menghalangi ku untuk berkarir...!!!" Teriak mama Aga meledak- ledak. Dengan menatap sang suami dengan kemarahan.


Agara kecil menatap nanar, ke dua orang tua nya yang tengah bertengkar hebat. Melontar kan kata- kata pahit dengan berteriak. Bahkan saling melempar kan perabotan rumah sembarang arah hingga pecah dan berserakan.


Agara mengepal kan tangan nya erat. hingga buku- buku tangan nya memutih sempurna. Sementara air mata nya menetes begitu deras menyaksikan pertengkaran hebat antara orang tua nya.


Agara kecil berlari masuk ke dalam kamar. Dan menutup pintu rapat. Kesedihan yang di rasakan benar- benar mencekiknya.


Diri nya selalu berpikir, kenapa orang tua nya tidak seperti orang tua teman- teman sebaya nya yang lain. Yang bermain dan menyempat kan waktu untuk anak- anak nya. Berbeda dengan diri nya yang hanya sendiri di temani dengan kesepian. Orang tua nya selalu sibuk dengan pekerjaan hingga tidak memperhatikan tumbuh kembang diri nya.


Agara begitu iri dengan anak lain. Ia hanya ingin merasakan kasih sayang orang tua nya. Tapi kini ia tahu kehadiran nya di dunia tidak di ingin kan. Jika ia bisa memilih. Ia memilih untuk tidak pernah terlahir di dunia ini.


Kebutuhan nya selalu di penuhi oleh orang tua nya. Tapi hanya materi. Diri nya tidak menerima kasih sayang yang bisa memupuk mental nya. Keluarga nya adalah keluarga yang kaya raya. Tapi keluarga nya tidak bisa memberikan apa itu kasih sayang. Ia hidup dalam kesendirian dan kesepian. Hingga diri nya tidak tahu apa itu arti kasih sayang.


Sejak pertengkaran hebat itu, orang tua Agara tidak pernah terlihat di rumah. Mereka hanya pulang satu kali sebulan hanya untuk menjenguk Agara. Hingga Agara beranjak berusia 15 tahun.


Tak...


Suara ranting yang patah, mengejutkan Agara.


Agara tersentak, dan membuat nya tersadar dari lamunan nya.


Lamunan yang kembali membuka luka yang mungkin tidak akan sembuh sampai kapan pun.


Tangan Agara mengepal keras, saat mengingat masa kecil nya yang begitu kelam dan di penuhi dengan kesepian.


"Kasih sayang???" Lirih Agara dengan menyunggingkan senyum pahit penuh penderitaan bercampur kebencian. Dengan mata menatap lurus ke arah danau, yang masih tenang.


...----------------...


Jam begitu cepat berlalu, tanpa di sadari matahari sudah hampir tenggelam.


Raehan memarkirkan vespa orange nya di sebuah rumah kontrakan kecil. Yang ayah nya sewakan untuk tempat tinggal nya selama di kota.


"Huhhhh..." Dengus Raehan membuang nafasnya kasar. Lalu membuka helm. dan berjalan membuka pintu lalu masuk ke dalam kontrakan kecil tersebut. Yang hanya terdiri dari satu kamar tidur berserta kamar mandi, Satu dapur kecil. Dan sisanya adalah ruang tamu yang hanya cukup tiga orang.

__ADS_1


Klek...


Raehan menyalakan saklar lampu. Ruangan yang mulai gelap tersebut berubah menjadi terang benderang.


Sepi...


Pikir Raehan, saat menyadari ayah nya pasti sudah berangkat pulang ke desa. Dan kini hanya tinggal diri nya seorang. Ia harus terbiasa untuk hidup sendiri mulai sekarang dan untuk tiga tahun ke depan.


Raehan menyeret kaki nya masuk ke dalam kamar nya. Yang bernuansa dengan warna orange. Dengan ranjang tidur yang sebagian di penuhi boneka berbagai macam rupa. Yang berjejer rapi. Tepat nya Kamar Raehan lebih mirip kamar anak kecil.


Tapi bagaimana lagi. Ini lah style nya. Ini lah yang membuat nya nyaman.


Raehan meletakkan tas nya di atas meja belajar. Dan langsung menghempaskan tubuh nya yang sudah merasa remuk semua.


Bagaimana tidak, tadi di sekolah setelah diri nya di angkat menjadi asisten ketua osis. Diri nya di siksa habis- habisan oleh Dion.


Dion menyuruh nya, membersihkan ruang osis yang luas nya hampir seluas lapangan basket. Lalu di suruh untuk menempel jadwal MPLS di setiap kelas. Belum lagi di suruh membelikan makanan untuk semua anggota osis yang bertugas. Benar - benar sangat menguras tenaganya.


Lebih tepat nya dia di angkat menjadi pembantu tapi dengan mengatas namakan asisten.


Raehan menelentang kan badan nya dengan cepat. Menatap plapon atap kamarnya.


Ingatan nya mengingat sesuatu yang membuat degupan jantung nya semakin cepat.


Wajah nya tertekuk dalam, dengan pertanyaan - pertanyaan tentang si pemilik wajah tampan.


Dring...


Dring...


Dring...


Deringan telpon Raehan, membuat Raehan langsung menyabet benda pipih itu. Wajah nya sangat berbinar melihat nama kontak pada layar ponsel nya. Rasa nya rasa letih yang mendera nya, menguap hilang seketika dengan panggilan masuk tersebut.


Raehan menggeser tombol hijau tersebut, yang langsung memperdengarkan suara bariton laki- laki yang sangat khas dan sangat di kenali oleh Raehan.


"Popsy....!!!" Panggil Raehan langsung bangun dari baringan nya. Entah kenapa ia sangat bahagia melihat telpon dari ayah nya.


"Bagaimana kabar mu sayang??" Tanya pak Levi dari seberang telpon.


"Aaaa... Popsy bertanya seperti itu, seolah kita sudah berpisah selama bertahun- tahun. Padahal belum aja beberapa minggu..."

__ADS_1


"Apa salah nya Rae... Popsy sudah sangat merindukan mu sekarang... Tidak butuh waktu bertahun- tahun hanya untuk menanyakan kabar kan..? Apa sekarang kamu sudah makan..?"


"Iya iya popsy aku tahu... Aku juga sangat merindukan popsy... Aku baik- baik saja. Popsy tidak perlu khawatir oke... Hmmm dan aku sudah makan kok..." Bohong Raehan dengan menggigit ujung lidah nya. Jika ia mengatakan diri nya belum makan. Bahkan melewatkan makan siang. Maka popsy nya pasti akan marah, dan memberikan ceramah yang super panjang tentang kesehatan.


"Baguslah... Jangan sampai kamu lupa makan, ingat kamu punya penyakit magh, yang artinya kamu tidak boleh telat makan mengerti...!!" Pesan sang ayah yang sedang mengkhawatirkan putri nya.


"Iya popsy bawel,, lama- lama popsy sama kayak momsy... O ya,, Apa popsy sudah sampai rumah?"


"Iya Rae... Popsy udah sampai setengah jam yang lalu. Tapi popsy sengaja ngumpet- ngumpet telpon kamu biar momsy ngak tahu... Bisa- bisa momsy mu tidak memberikan popsy bicara dengan mu, karna dia yang akan berbicara panjang lebar dengan mu..."


"Ha... ha... Popsy... " Tawa riang Raehan pecah seketika. Mendengar alasan sang ayah. Ia tahu persis, jika mama nya Ibu Marisa sangat cerewet. Jadi tidak mengejutkan jika sifat nya menurun kepada Raehan.


"Tapi aku kangen dengan momsy..." Renggek Raehan dengan menggoyang- goyang kan tubuh nya.


"Besok saja... ya sayang.. ini sudah malam kamu istirahat dulu... Lagi pula popsy sudah memberi alasan pulsa habis biar momsy mu tidak mengomel- ngomel terus ingin menelpon mu..."


"Siap popsy.. Ya sudah.. Rae tutup telpon nya ya..."


Tut...


Tut...


Panggilan tersebut terputus. Raehan menatap layar ponsel nya dan memeluk benda pipih itu erat di depan dadanya.


Diri nya sangat bersyukur terlahir di tengah- tengah keluarga yang begitu harmonis. Yang membuat nya tidak pernah merasakan kekurangan kasih sayang.


...----------------...


...****************...


Terus pantangin cerita nya ya...


Like


koment.


Vote


gift.


Rak favorit.

__ADS_1


Yuk dukung terus karya ini....!!!


__ADS_2