
...180โฃ...
Agara menelan ludah nya paksa, sebelum bibir nya bergerak.
"Aku... Aku..."
Raehan menunggu pernyataan cinta Agara.
"Iya.."
"Aku.. sebenar nya.."
"Iya sebenar nya apa.?"
"Aku sebenar nya sangat lapar.. He..."
Krak...
"Hah ?"
Mulut Raehan terbuka mendengar perkataan Agara tanpa rasa bersalah.
Hancur sudah tangga harapan yang di bangun Raehan hingga menyentuh langit.
Dengan mudah Agara mematah tangga harapan nya, dan dengan sangat polos Agara mengata kan jika diri nya lapar.
Raehan pikir Agara akan mengungkap kan perasaan nya , mengata kan tiga kata legendaris itu malam ini.
Tapi seperti nya diri nya terlalu berharap dan bermimpi.
Astaga semua nya terlihat konyol.
Raehan mendesah kecewa, lalu mengangguk kan kepala nya tanpa tenaga.
"Kak Aga tunggu di sini... Aku akan membawa kan sesuatu...." Ujar Raehan yang langsung melenggang pergi masuk ke dalan dapur mini nya.
Raehan berdecak frustasi, sambil memijat pelipis nya, di mana kepala nya terasa pusing.
Ia kesal dengan diri nya sendiri, kenapa ia bisa memikir kan hal seperti itu, di saat situasi seperti ini.
"Hhhh... Kenapa sih aku harus berharap seperti itu..? Apa semua yang di lakukan kak Aga tidak cukup untuk menjelas kan semua nya... Dia mengecup ku bahkan memeluk ku.. Itu arti nya dia mencintai ku.. Oke..."
"Seorang pria mencium kening seorang gadis bukan berarti ia mencintai gadis itu , Mengungkap kan perasaan itu sangat penting, jangan mau di gantung. Mungkin saja ia mengecup kening seorang gadis karna ingin mengambil kesempatan.. Jaman sekarang pria dan gadis bisa berbagi ranjang..." Bayangan wajah melotot sang momsy langsung terbayang di atas kepala Raehan, saat ia berusaha mensugesti diri nya untuk yakin jika Agara mencintai diri nya meski pria tampan itu tidak mengata kan nya.
Belum lagi bayangan Felix serta perkataan bibir nya yang beracun ikut membuat kepala Raehan semakin pusing.
Raehan mengibas- ngibas kan tangan nya di atas kepala. Agar bayangan ke dua orang yang tengah menganggu nya lenyap seketika.
"Huhhhhh Astaga apa yang harus aku lakukan pada kepala ini... Kak Aga juga kenapa tidak mengata kan cinta pada ku... Mana lagi dia sampai ke sini lagi... Siapa pun tolong beri tahu aku apa Kak Aga mencintai ku atau hanya modus icip- icip... Aaaaa..." Pekik Raehan meringgis sambil memukul kepala nya ringan. Untuk menghilangkan pikiran yang benar- benar membuat kepala nya terasa berat.
Tanpa Raehan sadari, dari balik tembok, Agara sejak tadi terkekeh melihak aksi kocak Raehan.
__ADS_1
Terlihat seperti cacing kepanasan yang terus bergeliat tanpa henti.
Ia sebenar nya tahu apa yang membuat gadis imut nya gelisah, tapi entah dari mana sifat kejahilan nya muncul membuat diri nya mengata kan hal konyol tersebut pada Raehan.
Dan tentu saja apa yang di ingin kan nya terjadi, wajah Raehan berubah kecewa. Namun ia sangat salut meski gadis imut itu begitu mengharap kan kata cinta dari nya tetap saja ia memasang wajah ceria dan baik- baik saja di hadapan nya.
Raehan sangat mahir menyembunyi kan rasa kecewa nya, dan mengganti kan nya dengan wajah bahagia tanpa beban.
"Dia manis sekali ketika seperti itu..." Lirih Agara yang langsung melangkah kan kaki nya masuk ke dalam dapur dan mendekati Raehan.
Raehan berjalan mendekati lemari pendingin mini, di mana biasa ia menyimpan bahan makanan.
Raehan membuka lemari es, namun seketika rasa menyayat tiba- tiba langsung menyambar hati nya.
"Astaga kenapa aku bisa lupa membeli bahan makanan... Kulkas nya kosong..." Cicit Raehan panik saat mendapati lemari penyimpanan makanan nya ternyata kosong. Hanya tertinggal sabu buah selada dan dua batang sosis.
Sungguh miris nasib nya, entah kemana pikiran nya sampai ia lupa untuk membeli bahan makanan.
Bahkan makanan yang ia dapat kan dari penggemar nya juga ludes.
Lalu sekarang apa yang akan ia berikan pada Agara.?
Tidak mungkin ia menyajikan sepiring tanah dengan lauk batu bukan.
Nasib sial benar- benar menimpa nya di saat genting seperti ini.
"Apa makanan nya sudah jadi?" Suara Agara yang tiba- tiba dengan derap langkah kaki yang mendekat membuat Raehan tersentak.
Dengan kecepatan super tangan nya langsung menutup pintu kulkas. Lalu memutar tubuh nya di mana kini Agara sudah berada di hadapan nya.
Astaga kenapa ia mengata kan hal tidak masuk akal itu, bagaimana bisa ia membuat makanan jika bahan nya saja tidak ada.
Mulut nya benar- benar kelewatan, selalu menjawab asal saat diri nya merasa cemas.
Demi apa pun, seperti nya ia harus segera mengganti mulut nya dengan mulut yang bisa di kontrol.
"Benar kah? Bagaimana bisa makanan nya akan siap jika bahan nya saja tidak ada..."
Tubuh Raehan langsung melemas, ternyata Agara tahu jika sekarang diri nya sedang berada dalam mode miskin.
"Maaf..."
"Jangan berbohong untuk menutupi sesuatu... Mengerti..." Ujar Agara dengan sedikit tegas, karna merasa tidak suka dengan sikap Raehan yang berbohong.
Raehan mengangguk patuh, seperti anak anjing penurut.
"Lebih baik kita makan di luar..."
"Hah?"
"Kenapa kamu tidak mau?"
__ADS_1
"Ta..pi..."
"Tidak ada tapi- tapian... Mulai sekarang kau harus patuh pada ku..."
"Kenapa ?"
"Tidak ada jawaban... Ayo pergi..." Agara meraih pergelangan tangan Raehan, menyeret tubuh mungil Raehan yang memilih untuk menurut.
...----------------...
Ruangan yang cukup besar yang berada di lantai tiga sekolah Milver High School terlihat masih terang, dengan sinar lampu yang menguar hingga keluar.
"Apa persiapan besok sudah selesai?" Seru Dion yang langsung menghempas kan tubuh nya di atas sofa, di mana bokong nya langsung di sapa oleh keempukan benda tersebut.
"Sudah..." Jawab Jessi singkat, dengan tatapan yang masih fokus dengan layar laptop nya.
Sementara Niel terlihat lesu dan letih, dengan penampilan berantakan, yang mirip seperti gelandangan. Sementara tangan nya terus sibuk merapi kan berkas- berkas yang berserakan di atas meja.
"Kapan kau akan memeriksa hasil seleksi tes tertulis ini Ion?" Tanya Niel tanpa bersemangat.
"Malam ini..."
"Bagaimana jika besok.. Aku rasa nya sudah ingin pingsan karna terlalu lelah..." Hela Niel kecewa saat mendengar jawaban Dion.
"Dasar lemah... Baru satu hari bekerja seperti itu sudah mau pingsan..." Ledek Jessi dengan nada sinis nya, yang langsung di sambut cebikan dari Niel.
"Aku begini karna aku manusia normal.. Bukan kayak kalian manusia robot yang gila kerja..." Balas Niel yang tak kalah pahit, di mana Jessi langsung melempar tatapan tajam ke arah nya.
"Ion kopi..." Seru Anet dengan menawar kan secangkir kopi pada Dion, tentu saja dengan wajah tersenyum.
...----------------...
...****************...
Pengen cubit si Raehan deh๐
Jangan bosan terus ya dengan karya othor๐๐๐
Terus pantangin cerita nya ya...
Like
koment.
Vote
gift.
Rak favorit.
Yuk dukung terus karya ini....!!!
__ADS_1
kalo ngak koment atau like atau kasi gift..
Kalian benar- benar kejam ama thor๐ญ๐ญ๐ญ???